Publié par : EghaliterTheMusafir le : janvier 19, 2012
Kemeja putih, celana merah, dan dasi merah.
Bocah laki-laki yang diperkirakan masih duduk di bangku kelas 4 SD itu nampak buru-buru memasuki masjid ketika adzan ashar sudah menggema dari satu jam yang lalu.
Dengan gerakan cepat, ia menanggalkan tas punggung hitam besarnya, melepas jaket katunnya, dan menanggalkan ponsel yang tergantung di leher mungilnya tepat di atas karpet hijau di sebuah masjid yang berada tepat di sebelah gedung sekolahnya.
Dengan riang, ia berjalan sambil melompat-lompat menuju tempat wudhu. Tanpa beban.
Dan… Ia pun shalat dengan tenang sambil tersenyum.
Tak ada kerikil yang memarut dahinya menjadi kusut, karena yang terpancar hanyalah kegembiraan seorang bocah SD yang berangkat shalat menuju masjid, tepat sepulang sekolah. Lagi-lagi, tanpa beban.
Ia kembali memakai jaket katunnya yang terlipat rapi, kembali memanggul tas punggung yang disandarkan ke dinding, dan menggantungkan tali ponsel ke lehernya. Kini, ia telah selesai shalat dan bergegas pulang sambil melompat-lompat ke arah teras masjid. Girang. Meski tak ada orang yang menjemputnya pulang.
Sepintas, ia hanyalah seorang bocah laki-laki SD bertubuh mungil dan berwajah cerah. Orang-orang dewasa bisa memandangnya sebagai bocah ingusan yang hanya mampu bermain bola dan menodai baju seragam putih. Atau merengek saat meminta robot-robotan dan mobil remote control.
Tapi bagi dunia, ia bukanlah bocah ingusan seperti yang orang-orang dewasa sebutkan. Karena ia adalah seorang bocah yang masih mengingat waktu shalat di sela-sela waktu bermainnya. Ia adalah seorang bocah yang dengan riang gembira melompat menuju masjid dan melaksanakan shalat, tanpa beban.
Sekali lagi, ia bukanlah bocah ingusan.
Sebab masih ada setumpuk orang dewasa yang mengaku tidak ingusan namun masih saja lupa dengan waktu shalat dan berat langkah menuju masjid.
Bukankah justru sebutan yang realistis untuk saat ini adalah istilah “Orang Dewasa Ingusan” ?
Ya, Orang Dewasa Ingusan… Karena mereka malas untuk shalat!
Publié par : EghaliterTheMusafir le : octobre 18, 2011
“Kalau lagi hamil, kamu jangan pernah bunuh binatang ya! Nanti kaya orang di belakang sana. Lagi hamil bunuh ular. Jadi pas lahir, anaknya nggak punya tangan sebelah! Hati-hati!” celetuk tetangga di siang bolong saat kami duduk-duduk di gazebo reot miliknya.
Aku diam beberapa saat dan berusaha untuk menyambungkan antara logika dan cerita mistis. Memang sulit disambungkan karena memang tidak akan pernah nyambung. Aku tersenyum simpul.
“Memang kalau bunuh binatang tidak boleh, mau lagi hamil atau tidak.” Kata ku.
“Tapi kalau kata orang dulu begitu! Jadi kamu kalau di rumah jangan sendirian!”
“Kenapa?”
“Biar ada temennya kalau ada binatang masuk rumah, temen yang bunuh bukan kamu!”
Jidat ku mulai berkerut sambil menahan panas matahari yang hampir membakar kepala ku. Gazebo reot ini tidak cukup pandai menangkal cahaya menyengat matahari. Kelambu pink pucat di atas nya hanya mampu menjadi istana laba-laba dan tempat peristirahatan nyamuk-nyamuk lapar. Aku kembali menghela napas. Melihat suami dan mertuaku memaku beberapa bambu untuk dijadikan pagar sementara kami. Kebun tetangga inilah yang kami jadikan tempat beraktivitas “sementara” untuk menyulap bambu setengah lapuk menjadi sebuah pagar cantik persis seperti pagar kandang kambing yang super mewah.
“Nanti kamu kalau habis makan, piringnya dicuci. Jangan ditumpuk-tumpuk! Kalau bersihin ikan, ingat itu ikan! Jangan kepikiran yang lain. Dan jangan pernah kaget ya! Nanti kalau kaget jangan asal ucap!” Ujar si tetangga dengan semangat, sampai bibirnya maju dan tangannya diayun seperti orang sedang menari-nari.
Aku kembali menghela napas. Mencoba untuk tidak melemparkan senyum kecut sekecut rasa cuka dapur. Atau mencoba untuk tidak memasang wajah asam se-asam cuka apel. Aku hanya tersenyum. Datar.
“Lucu ya. Masyarakat di sini banyak pantangannya. Seperti pamali seorang gadis duduk di depan pintu. Padahal logikanya, duduk di depan pintu itu mengganggu mobilitas orang. Tapi orang-orang di sini menyebutnya pamali. Terlalu banyak pamali, tapi Insya Alloh saya hanya berserah diri kepada Alloh. Lagi pula keluarga saya tidak mengenal pamali. Murni berserah diri kepada Alloh, Bu.” Kata ku berusaha tenang.
“Tapi memang perkataan orang tua zaman dulu itu bener lho! Saya nurut, alhamdulillah nggak kenapa-kenapa! Oh ya, jangan mandi sore-sore yah kalau lagi hamil” Sanggahnya.
Saat itu saya hanya tersenyum dan menjelaskan padanya bahwa kalau tidak mandi badan akan menjadi kotor dan bau. Logis kah?
“Kamu suka nonton film kartun kan? Jangan ya! Nanti kamu ketawa-ketawa meledek si kartun itu bodoh, bahaya! Ingat kamu lagi hamil!” Timpal seorang ibu lain yang tak kalah semangatnya untuk mengajari ku aturan-aturan Pamali. Dia pun menyuruh si tetangga agar mengajari ku lebih detail mengenai aturan-aturan pamali. Sungguh luar biasa aksi para ibu-ibu pencinta pamali ini! Akan kah “pertarungan” ini terus berlanjut dan aku sebagai objek sasaran empuk mereka?
Rupanya fenomena ini cukup sampai di sini. Suami ku sadar akan obrolan kurang penting si tetangga dan si ibu lain yang menyergap ku bertubi-tubi. Suami ku menghampiri ku kemudian tersenyum. “Kamu belum shalat dhuha, ayo ke rumah dulu shalat dhuha.”
Saat itu aku merasa bersyukur suami ku menghindari ku dari perdebatan panjang dengan kaum ibu penganut pamali. Aku melangkah menjauhi gazebo reot dan masuk ke dalam rumah ku yang belum berpagar. Ketika mengambil air wudhu, seketika terik matahari yang sedari tadi membakar kepala ku mendadak hilang.
Di dalam kamar mandi yang tenang, aku berpikir, bersama air yang mengucur ke bawah membasahi organ-organ tubuhku. Siapakah mereka itu? Orang-orang animisme kah? Atau penganut setia agama Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya di masa pra-kemerdekaan kah? Atau, islam seperti yang tertera di KTP mereka? Kenapa mereka lebih takut dengan takhayul dari pada azab Sang Khalik? Berapa pantangan yang rela mereka jalankan demi sebuah kata bernama PAMALI ? Namun, seberapa jarangnya kah mereka mematuhi larangan-larangan dalam Islam? Begitu banyak dari mereka yang rela tidak mandi sore ketika mereka hamil, namun begitu sedikit dari mereka yang menutup aurat ketika berada di luar rumah.
Siang hari pun berlalu. Suami dan mertua ku telah berhasil menyulap bambu setengah lapuk menjadi sebuah pagar super mewah bak kandang kambing yang menawan. Rumah ku kini telah berpagar, Alhamudulillah. Dan semoga, hati ku pun juga berpagar dengan Tauhid, agar mampu melindungi hati, dari serangan tentara iblis yang mengiming-imingi pamali ketelinga kaum ibu. Sepertinya, pagar hati mereka sudah tertelan bulat-bulat oleh virus pamali ciptaan para sesepuh. Ironis.
Jika aku bisa melihatnya, mungkin, saat ini, iblis sedang tertawa puas melihat dagelan pamali yang dibuat nya melalui para sesepuh kaum ibu. Tapi, aku akan segera menghentikan tawa si iblis yang menggelegar! Mungkin dengan isolasi atau lakban??
-sekian- DIKUTIP DARI BLOG SAYA DI : http//megasarizki.tumblr.com/
Publié par : EghaliterTheMusafir le : octobre 7, 2011
Dengki. Bagi mu apa itu dengki ? Jika kau mencari arti kata dengki di berbagai media, kau akan dengan sangat mudah menemukannya di halaman KBBI, kamus google, atau mampu mendefinisikannya sendiri dengan pengalaman pribadi mu.
Dengki..
Di buku mana pun, atau di kamus mana pun, tidak ada satu orang pun yang menemukan arti kata dengki dalam makna yang indah. Semuanya buruk. Bahkan aku pun akan kelelahan mencari sumber referensi yang menyatakan makna dengki itu indah. Karena sudah dipastikan nihil.
Jika seorang ulama berkata arti kata dengki, maka beliau akan menyebutkan bahwa dengki itu perasaan tidak suka terhadap kebahagiaan orang lain. Tapi aku tidak akan membahas lebih lanjut apa yang dikatakan seorang ulama itu terkait dengan kata dengki. Karena semua orang sudah bisa menebak, dengki itu erat dengan dosa. Dan segala pendosa itu tempat peristirahatan terakhirnya di neraka. Kecuali dia bertobat sebelum maut mencekik lehernya.
Dengki..
Bagi ku, dengki bukan hanya sekedar kata. Tetapi suatu penyakit. Penyakit hati yang mampu menghancurkan sesuatu yang imortal, entah itu menghancurkan manusia atau menghancurkan benda-benda mati yang ada di sekelilingnya.
Dengki adalah ketika kau melihat adik mu berpakaian licin dan wangi sementara kau berpakaian kusut masai dan bau anyir, lalu kau merobek bajunya dan berkata “Kau tidak pantas memakai baju yang licin seperti ini!”
Dengki adalah ketika kau melihat kakak mu membawa nilai A untuk matematikanya sementara kau hanya membawa nilai C, lalu kau berkata dalam hati mu, “Cih ! Baru juga sekali dapat A sudah bangga!”
Dengki adalah ketika kau melihat sepupu mu mengenakan jilbab dan berangkat mengaji ke masjid, lalu kau yang berpakaian ketat seperti sarung guling berkata kepada sepupu yang lain, “Dia itu kolot dan kampungan, beda sama orang-orang modern!”
Dengki adalah ketika kau melihat teman mu mendapatkan pria tampan dan mapan, sementara kau hidup bersama pria tampan dan sederhana, kau berkata kepada teman yang lain, “Dia memang perempuan yang sukar hidup susah. Beda dengan saya yang mau hidup dari nol. Sangat materialistik perempuan seperti itu, bukan?”
Dengki adalah ketika kau melihat tetangga mu baru saja membeli mobil seharga ratusan juta dan mampu menyumbangkan beras setiap bulan kepada tetangga-tetangga miskin, sementara kau hanya memiliki sebuah sepeda motor cantik dan hanya mampu memberikan uang jajan kepada anak-anak yang suka menemani anak mu bermain, kau berkata kepada suami mu, “Kenapa hidup kita begini sekali? Tetangga itu sungguh menyebalkan!”
Dan..
Dengki adalah ketika kau hobi tertawa dan bersenang-senang, tetapi dada mu sesak karena terus memikirkan orang lain yang kau benci. Dengki adalah ketika kau sehat tetapi pikiran mu sakit. Dengki adalah ketika panca indera mu berfungsi tetapi mati rasa untuk kau gerakkan karena sangat sulit bagi kau tersenyum tulus dengan hati yang lapang.
Di sudut sana, segerombolan setan penghuni barak neraka sedang rapat untuk menemukan sasaran empuk, “Manusia lemah mana lagi yang mampu kita anugrahi penyakit dengki, wahai Raja Iblis?”
Dan iblis masih berpikir-pikir akan menunjukkan jemari hina nya ke wajah siapa.. dia? dia yang lain? atau kau?
(Dikutip dari blog saya yang lain di alamat : http://megasarizki.tumblr.com/ )
Publié par : EghaliterTheMusafir le : août 11, 2011
Publié par : EghaliterTheMusafir le : juillet 22, 2011
Dari Anas radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ
“Jika hamba sudah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya sudah pergi meninggalkannya, hingga dia (jenazah) mendengar suara langkah sandal-sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua malaikat. Keduanya lalu mendudukkannya seraya berkata kepadanya, “Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka jenazah itu menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat dudukmu di neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya bersabda, “Maka dia kemudian melihat keduanya”. Adapun (jenazah) orang kafir atau munafik, maka dia akan menjawab, “Aku tidak tahu, aku hanya berkata mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang.” Maka dikatakan kepadanya, “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Kemudian dia dipukul dengan palu godam besar yang terbuat dari besi dengan sekali pukulan di antara kedua telinganya, maka dia mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia).” (HR. Al-Bukhari no. 1338)Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat duduknya (di akhirat) setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka dia akan (melihat tempat duduknya) sebagai penduduk surga. Dan jika dia termasuk penduduk neraka, maka akan (melihat tempat duduknya) sebagai penduduk neraka. Lalu dikatakan kepadanya, “Inilah tempat dudukmu hingga nanti Allah membangkitkanmu pada hari kiamat”. (HR. Al-Bukhari no. 1290 dan Muslim no. 2866)
Laa ilaaha illalloh. Aku
bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Alloh semata yang tiada sekutu, tiada lawan, atau tandingan baginya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusannya, yang menyeru kepada tauhid, yang berusaha memberi nasehat kepada kerabat dan orang jauh, yang memberi peringatan kepada orang-orang durhaka kepada neraka yang menyala tersu menerus dan yang menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dengan negeri yang tidak akan pernah habis nikmat-nikmatnya (surga). (Kutipan kalimat ini saya nukil dari buku “Dahsyatnya Neraka karya Ibnu Rajab Al-Hambali, Pustaka At_Tazkia halaman 11-12).
Publié par : EghaliterTheMusafir le : juillet 4, 2011
Bismillah,
Senin pagi seperti biasanya saya mendengar radio rodja di 756 AM. Kajian pagi itu temanya kalau tidak salah “tanda-tanda akhir zaman”. Di situ diterangkan tentang beberapa ciri-ciri kiamat, yaitu diutusnya Muhammad sebagai seorang nabi dan rosul Alloh ‘azza wa jalla dan wafatnya Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam. (antara Rosululloh dan kiamat seperti jari tangah dan jari telunjuk yang dilekatkan). Lalu kemudian ciri-ciri lain yang saya dengar adalah banyaknya orang-orang yang mengaku sebagai nabi seperti yang terdapat di dalam hadits :
“Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan para dajjal (pendusta) yang berjumlah sekitar tiga puluh orang. Semuanya mengklaim bahwa dirinya adalah Rasul (utusan) Allah”. (HR: Al-Bukhari dan Muslim).
NABI PALSU SEBELUM ZAMAN ISLAM
NABI PALSU DI ZAMAN JAHILIYAH
NABI PALSU DI MASA RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM
NABI PALSU SETELAH MASA RASULULLAH SHALA-LAHU ALAIHI WASALLAM
Dan masih ada beberapa Dajjal yang mengaku Nabi dari berbagai negara lainnya seperti di Sudan, Saudi Arabia, Mesir, Libanon dan lainnya.
Sebelumnya di daerah ini masyarakat menganut animisme, dinamisme, dan mistik. Secara umum ajaran Alian Imamullah sama dengan Islam tetapi paham ini mempunyai dua penyimpangan pokok yakni kepercayaan terbukanya pintu kenabian setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW sehingga Ali Taetang menyebut diri nabi. Kedua, dia mengubah syahadat rasul.
________________________________
(Diambil dari buku “Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat” oleh Hartono Ahmad Jaiz. Printed by Maktabah Salman 2008)
Daftar Nama Para Dajjal Pendusta Yang Mengaku Sebagai Nabi – Indahnya hidup dalam naungan sunnah http://tentarakecilku.blogspot.com/2011/03/daftar-nama-para-dajjal-pendusta-yang.html#ixzz0sfgwXalq
Commentaires Récents