Are Indonesia-Malaysia The Victims of Devide et Impera Tactics?
Devide et Impera in Latin or Divide and Conquer is an ancient strategy. Thomas H. Henriksen explains how to adapt it to the war on terror, exploiting the ide
ological and religious differences of our enemies. Sowing divisions among enemies is as old as warfare. The old story told, it was related to Niccolò Machiavelli and cited the ancient political maxim Divide et Impera, the strategy of dividing to conquer had long been accepted in statecraft and warfare. U.S. military forces have not ignored the tactics associated with pitting one enemy against another. But those tactics have often been subordinated to the American way of war that relies on massive firepower. The global struggle against violent extremism is a highly political conflict where overwhelming combat “punch” is less applicable. By the same token, the extreme ideological and political divisions among the terrorists and insurgents open chinks to savvy and adaptable forces.
Devide et Impera has remained us to Indonesian imperalist, VOC that has existed for decades. And probably world war divided strategy in hundred years ago. However, today, in globalization era, people faces another apperance of Devide et Impera. For an exsist example, the members of ASEAN, Indonesia and Malaysia.
In fact, culminated hatred still happening between Indonesia and Malaysia lately. The controversy about Indonesian wealth and traditional art culture claimed by Malaysia has raised a great wall between them. Here we are, the Indonesian people who lived in the country which has the largest Muslim population. And here they are, the liberal country which has the Islamic Syari’ah (Islamic rules). Two clump countries are “disputing” today and suppose to be so on and on.
The controversy started by geopolitical issue, Sipadan and Ligitan islands. Both of the islands are located on the border of two countries. The condition heats after Malaysia determined even insisted to make Indonesian’s islands to be their properties. More tensions have been raised when Ambalat issue was sticking. For the second time, Malaysia claimed on Indonesian’s property.
In addition, lots of Indonesian traditional foods, dances, clothes, and folklore, were also claimed. Based on my survey in 2008, some Malaysian students of UiTM (Universiti Teknology Mara) told me that Both of Indonesia and Malaysia have the same culture. In case it was learned by the lineage, two countries came from a descendant, Malayan. The imigrants came from Indonesia to Malaysia and they developed some Indonesian cultures in their new place about hundred years ago. In 2004, a Malaysian told me that her grandmom was a javanese.
When some traditional foods are claimed, such as cakes from coconut milk, rendang, etc, I’ve realized that Minangkabau ethnic (West Sumatra, Indonesia) was one of the large population in Malaysia. That’s a government public relations’ remarked in 2008, and He’s Indonesian graduated from Padjadjaran University, Indonesia. Many Indonesian people come to Malaysia and introduced its culture.
There are many problems happened between Indonesia and Malaysia around culture, geopolitical, and labor. I’ve ever asked a chief of education division in Indonesian Embassy to Malaysia, Kuala Lumpur about what their effort to save our traditional culture after all of Indonesian nation realized there’re some things “captured” by another nation. And he said they have addressed internally and have visited some universities in Malaysia to introduced its culture. But I told him, they haven’t worked out. High tension raised when my question about Indonesian Labor wasn’t answered perfectly. He remarked that Indonesian Embassy had shortage information stock about some lost labors and faced constraints to fight Indonesian labors’ right were trampled.
Almost all of the media reported about this “fighting”. The more high tension come after suicide bombed J.W Marriot and Ritz Carlton Hotel which the suspected bomber, M. Noordin Top came from Malaysia. It’s aggravate the bilateral relation between Indonesia and Malaysia.
After re-review all the issues happened, there’s alleged that there’re some peoples playing this game. Likely as Chairman of the People’s Consultative Assembly Hidayat Nurwahid remarks. He argued that the government and Indonesian people, and so Malaysia need to be aware the possibility of a third party to contest the sheep until the relations between the two countries are often faced with some problems.He added that the most important do to solve the problems is, arising the awareness in both of the countries, including elements of the society and the press, due to some people may trying to disrupt relations between the two countries.
Antara Press Bureau quoted Hidayat Nurwahid, “It could be two countries drum dance on other people,” he said, adding Nurwahid, to anticipate problems that arise again in the future wathaniah ukhuwah needed improvement.
So, are Indonesia-Malaysia the victims of Devide et Impera tactics?
www.callmeai.wordpress.com
Maka kembalikan hati ku hanya kepada Mu…
Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa. Inilah yang di singgung nabi saw dalam beberapa haditsnya, bahwa iman manusia selalu fluktuatif. Berbeda dengan imannya para Malaikat yang stabil, dan tak pernah berubah. Atau berbeda pula dengan imannya para iblis yang selalu berada di tingkat yang paling rendah.
Pada saat manusia berada pada puncak keimanan, ia akan bisa melampaui keimanan para malaikat. Namun, ketika imannya rendah, ia bisa lebih re
ndah dari imannya para iblis. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman,
”Sesungguhnya Kami akan isi api neraka jahanam dengan kebanyakan jin dan manusia, karena mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf 7 : 179).
Ketika iman berada pada titik nadinya yang paling menghawatirkan, di sinilah dosa-dosa itu bermunculan, bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Pada saat seperti ini, Allah SWT menegur hamba-hamba-Nya untuk segera bertaubat.
Karena, dengan taubat itulah, seorang yang telah berdosa dijamin pasti akan diampuni, sehingga kembali lagi ke level iman tertingginya. ”Katakanlah [wahai Muhammad], ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian semuanya jika bertaubat. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Az-Zumar 39 : 53).
Iman bagi seorang hamba mempunyai kedudukan yang tinggi dan luhur. Setiap kebaikan dunia dan akhirat tergantung pada kebaikan dan kesempurnaan iman. Betapa banyak manfaat yang melimpah serta kebaikan yang mengalir tanpa henti karena keimanan. Dari sini kaum Muslimin berlomba-lomba untuk menjaga, memurnikan dan menyempurnakan imannya.
Dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw, banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang kondisi keimanan yang selalu fluktuatif. Allah SWT berfirman:
“Supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang sudah ada). (Q.S. Al-Fath 48 : 4).
Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang pezina itu berzina, ketika ia memiliki kesempurnaan iman. Dan tidaklah seorang pencuri itu mencuri, ketika ia memiliki kesempurnaan iman serta tidaklah seseorang itu meminum khamr, ketika ia memiliki kesempurnaan iman. Sedangkan pintu taubat masih terbuka setelah itu.” (H.R. Muslim).
Dari pemaparan diatas, Rasulullah selalu mengingatkan kita tentang keimanan yang selalu fluktuatif, terkadang naik terkadang pula turun. Terkadang kita berbuat baik kepada sesama, terkadang pula kita menyakiti sesama kita. Sehingga keimanan kita susah untuk stabil.
Lalu, bagaimanakah agar keimanan kita tetap stabil? Dalam haditnya, Rasulullah menasehati kita untuk selalu menjaga keimanan kita dari perbuatan dosa dan maksiat, sebagaimana sabdanya, ‘Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa. Dan kita harus menghindari dan berhati-hati terhadap ketiganya. (Pertama), Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, (Kedua) berhati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan (Ketiga) berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati.” (H.R. Ibn Asakir)
Selain ketiga nasehat Rasulullah saw yang disebutkan dalam hadits diatas, terdapat pula beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan keimanan kita selalu stabil, antara lain;
1. Memiliki Hati yang Bersih
Hati itu penguasa atau panglima untuk seluruh organ tubuh kita. Kalau hati bersih, insya Allah seluruh perbuatan kita akan lurus, namun kalau hati kita kotor, seluruh perbuatan akan menyimpang dari rel kebenaran.
Jadi, mulia atau hinanya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya, tapi dari performa batiniah atau hatinya. “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-harta kamu tapi melihat hati dan perbuatan¬mu.” (H.R. Muslim).
Ada kemungkinan di balik pekerjaan shaleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah SWT. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah SWT. memaafkannya.
Oleh karena itu, tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal shaleh, sebagai¬mana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat.”
Hati merupakan sumber kebahagiaan, jika kita mampu membersihkannya. Namun sebaliknya, hati juga merupakan sumber bencana, jika kita menodainya. Aktivitas badan sangat tergantung konsistennya hati. Abu Hurairah ra. pernah berkata, “Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu bagus, maka akan bagus pula tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya.” Hati bagaikan pemimpin atau raja yang membawahi prajurit. Ketika sang raja memiliki mental yang rapuh dan jiwa yag bobrok, maka prajuritnya pun akan bermental rapuh. Oleh karena itu, jagalah hati kita, jangan sampai gersang dari keimanan. Karena jika hati kita gersang dari keimanan, maka segala prilaku yang kita lakukan tidak akan bernilai ibadah.
2. Tidak diperbudak hawa nafsu
Hawa Hawa nafsu seringkali diidentikkan dengan ”syahwat”. Padahal hawa nafsu bukanlah ”syahwat”, tetapi keinginan untuk memiliki sesuatu. Misalnya keinginan memiliki harta yang banyak, keinginan untuk melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi. Namun yang dimaksud hawa nafsu di sini adalah keinginan untuk sesuatu yang negatif.
Misalnya keinginan untuk memiliki kekayaan yang berlimpah tanpa memperhatikan halal Sikap “diperbudak” hawa nafsu, tentu tidak selalu sepenuhnya seperti itu. Bila kesibukkan duniawinya telah melalaikan dari keimanannya, maka ia termasuk pada kategori “ diperbudak hawa nafsu”. Allah SWT sangat mencela hamba-Nya yang “ diperbudak hawa nafsu”, sebagaimana firman-Nya:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Jaatsiyah 45 : 23)
Marilah kita selalu berlindung kepada Allah SWT dari golongan manusia yang semacam ini. Karena, apalah artinya hidup di dunia jika Allah telah mengunci mata hati, pendengaran, dan penglihatan kita. Terlebih ingatlah ancaman Allah SWT dalam firman-Nya,“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 7)
3. Tidak diperbudak kehidupan dunia
Kita harus selalu mewaspadai kehidupan dunia. Jika tidak, maka kita akan mudah diperbudak oleh kehidupan dunia yang akan menyengsarakan kita di dunia hingga akherat. Jangan sampai prilaku hidup kita seperti kaum hedonisme, yaitu kaum yang selalu menjunjung tinggi budaya sekuler. Hidup mereka hanya mengejar kehidupan duniawi. Gaya hidup mereka diperbudak gengsi, sehingga yang ada dalam benaknya hanyalah materi semata.
Biasanya hedonisme bertambah subur, ketika keadaan ekonomi menjadi panglima. Derajat manusia diukur berdasarkan kekayaan, sehingga manusia yang dihargai hanyalah manusia yang tergolong kaya, yang memiliki kedudukan atau jabatan. Hukum Allah berupa halal atau haram sudah jauh dalam kehidupan mereka.
Falsafah hidup mereka adalah “nikmatilah hidup ini sepuas-puanya, sebelum kematian datang”.
Padahal, Allah SWT telah mengingatkan kita, bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan yang kekal adalah kehidupan akherat yang merupakan hasil kerja keras amal ketika hidup di dunia. Allah SWT berfirman, “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (Q.S. An-Nahl 16 : 107).
Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Tidak lain kehidupan dunia ini kecuali senda gurau dan main-main. dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya, kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut : 64)
Dalam sebuah hadits, Umar bin Abdul Aziz pernah memberikan nasehat dalam khitbahnya, ”Sesungguhnya dunia itu bukanlah tempat menetap buat kamu, Allah telah memutuskan bahwa dunia akan rusak. Dan Allah telah menetapkan buat penduduk dunia, bahwa mereka akan pergi meninggalkan dunia.
Maka berbuat baiklah kamu sekalian, semoga Allah merahmati kalian, dari dunia itulah akan berpindah menuju alam yang lebih baik yaitu kampung akhirat. Oleh sebab itu carilah bekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa kepada Allah.” Itulah hakikat kehidupan dunia.
Semoga Allah mengaruniakan pada kita nikmat hidup yang tak terbelenggu oleh kesenangan dunia.
by : http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&cID=527
Bewitching The Snow
It’s crazy how bewitching it is tonight
Everything’s frosted and still
The whole world is holding its breath
As we crunch through the softness
Hand in hand.
The purple-grey sky is a blan
ket
and the world sleeps underneath
with sugar-plum branches
and sugar-snow icing
that frosts everything
magical.
The powdered ice-sugar
sifts down
catching my eyelashes as I look up
the air turns your breath to frost as you lean in
and your hand is warm in mine.
It’s crazy how bewitching you are tonight
As we’re here so close and so still
I feel and I’m holding my breath
As we look to the future
Hand in hand.
Tangled here in this blanket
wrapped tight …
the scent of yours
suddenly everything’s
magical.
Graze mine
catching my eyelashes as I look down
the night dances with our breath as we lean in
and your heart is warm next to mine.
- July 30, 2009 -
O never say that I was false of heart
O, never say that I was false of heart,
Though absence seemed my flame to qualify.
As easy might I from my self depart
As from my soul which in thy breast doth lie.
That is my home of love; if I have ranged,
Like him that travels I return again,
Just to the time, not with the time exchanged,
So that myself bring water for my stain.
Never believe though in my nature reigned
All frailties that besiege all kinds of blood,
That it could so preposterously be stained
To leave for nothing all thy sum of good;
For nothing this wide universe I call
Save thou, my rose, in it thou art my all
O never say that I was false of heart
Sonnet 109
by William Shakespeare
Sebuah Teori Konspirasi Anak Negeri
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur: Manchester United dipastikan akan batal berlaga melawan Indonesian All Stars di Stadion Gelora Bung Karno, Senin 20/7). Hal ini diputuskan manajemen Setan Merah setelah dua ledakan mengguncang Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton.
Dua bom meledak dalam jangka waktu di Hotel J.W Mariott dan Ritz Carlton sekitar pukul 07.55 WIB. Akibat ledakan tersebut sekitar sembilan korban dilaporkan tewas dan 40 orang lainnya mengalami luka-luka.
Skuad Alex Fergusonm jadwalnya akan tiba di Kuala Lumpur hari ini. Mereka rencananya akan bertarung dengan tim Malaysia XI di Stadion Bukit Jalil, Sabtu (18/7).
Setelah berlaga di Malaysia, The Red Devils akan bertolak ke Jakarta. Fergie dijadwalkan akan membawa anak asuhnya bertarung dengan tim Indonesian All Stars di Gelora Bung Karno , Senin (20/7).
Setelah mempelajari faktor keamanan beberapa jam setelah ledakan, ofisial Mu memastikan membatalkan lawatannya ke Jakarta. “Terkait ledakan di Jakarta, di salah satu hotel yang rencananya menjadi tempat menginap tim dan berdasarkan nasihat yang kami dapatkan, direktur klub menyatakan kepada PSSI bahwa klub tidak bisa memenuhi janji bermain di Jakarta pada Tur Asia 2009,” kata pernyataan resmi Manchester
“Kami sedang merencanakan tetap mengunjungi negara di luar Indonesia dengan para promotor. Kami akan menyatakan pengumuman lanjutan.”
Dalam pernyataannya, MU menegaskan kecewa tidak bisa mengunjungi Indonesia. Mereka menyatakan terima kasih kepada suporter klub atas dukungan yang telah diberikan.
“Kami mengucapkan bela sungkawa terhadap keluarga korban ledakan,” tambah pernyataan resmi MU.
Kementerian Luar Negeri Inggris pernah menyampaikan kekhawtirannya jika warga negaranya mengunjungi Indoneisa, April lalu. “Masih terdapat ancaman dari teroris di indonesia. Kami akinteroris masih merencanakan serangan di tempat-tempat yang termasuk dikunjungi para ekspatriat dan pelancong asing,” sebut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Inggris.
Dampak yang begitu hebat dan nyata mengalir pasca ledakan bom di JW. Marriott dan hotel bintang lima milik Amerika Serikat, Ritz Carlton. Jumlah korban tewas masih terus diidentifikasi dan puluhan warga negara Indonesia dan asing bergelimpangan di beberapa rumah sakit swasta di Jakarta. Tak hanya itu, puluhan lainnya mengalami traumatik psikologis tersendiri, yang telah ditimbulkan akibat penghancuran tanpa ampun yang dilakukan sekelompok kawanan amoral yang mengkambinghitamkan jama’ah musli
m sebagai latar belakang aliansi perserikatan.
Tetes-tetes air mata mengalir dari kelopak mata para korban, para saksi, bahkan dari pemimpin negeri. Jeritan sejuta pertanyaan mengalir deras dari bibir-bibir mereka yang bergetar : “mengapa harus kami?” Bahkan, amarah dan geraman memburu adrenalin pemimpin negeri yang merasa, segala jerih payah pembangunan selama lima tahun terakhir terkesan sia-sia. Pada akhirnya, citra Indonesia kembali tercoreng di mata dunia. Dan citra islam, kembali terpuruk dan nyaris hancur dengan predikat “teroris”.
Berbagai asumsi dan prediksi datang dari sejumlah media asing yang tak jemu mengontrol perkembangan terakhir kasus bom di Jakarta. Berita BBC, Reuters, VOA, dan CNN tampak jelas menyajikan pendapat-pendapat para ahli dan pengamat non-muslim yang berkomentar, segala aktivitas teroris yang terjadi di Indonesia merupakan ulah dari Jama’ah Islamiyah (JI) atau Al-Qaeda. Pernyataan ini kental sekali dari corong Australia yang sangat gencar membuat opini publik, bahwa JI lah dalang tak berperikemanusiaan tersebut. Bahkan, CNN melaporkan, seorang ahli teologi asal sebuah negara di kawasan Asia Tenggara menganggap perbuatan teroris muslim itu dikarenakan mereka menginginkan sebuah tempat tersendiri, atau katakanlah negara islam yang berdiri sendiri, untuk kepentingan mereka. Benar-benar ironis.
Selang sekian jam, nama NMT asal Malaysia tersebar luas di media lokal dan internasional sebagai dalang dari pengeboman JW Marriott dan hotel Ritz Carlton. Padahal, sebelumnya, warga Indonesia telah kecewa dengan kegagalan klub sepak bola terkenal asal Inggris Manchaster United (MU) datang ke Indonesia, akibat ketidakamanan situasi di Jakarta dan pemboman hotel tempat mereka akan menginap. Kekecewaan semakin membuncah setelah Indonesia mengetahui di saat yang sama, saat MU seharusnya bertanding melawan Indonesia, malah bertanding dengan Malaysia. Tak hanya itu catatan kelam yang tertoreh antara Indonesia dan Malaysia. Sebelumnya kasus blok Ambalat, hingga saat ini belum mendapat titik temu untuk menciptakan perdamaian di antara kedua belah pihak.
Satu demi satu, tanpa kita sadari, musuh Islam telah berhasil memorakporandakan pertalian antar sesama muslim di dunia. Muslim perlahan terpecah belah menjadi kepingan-kepingan yang saling menunding satu sama lain, mengklaim pembenaran masing-masing diri, dan rapuhnya benteng bangunan kokoh yang merupakan fondasi bahu membahu antar umat muslim di seluruh dunia. Saat ini, tanpa disadari, muslim nyaris tak bisa bernapas, jika kita menyadarinya. Menyadari permainan tangan para intel, pencaturan para elit gerakan bawah tanah kelas internasional, yang semuanya berujung pada satu titik temu : penghancuran islam.
Konspirasi ini berdasarkan pemikiran-pemikiran yang saya pelajari dari keseluruhan aktivitas Freemason, pengakuan mantan anggota BIN yang merupakan otak utama kasus bom Bali, dan sikap media internasional terhadap citra islam yang sengaja dibentuk sendiri sesuai dengan yang mereka inginkan.
Maka, tak ada waktu bagi anda, Indonesia, dan Muslimun di seluruh penjuru dunia, untuk berpangku tangan dan menonton di layar kaca. Saatnya lakukan perubahan!
Kenangan Dua Tahun Lalu…
Di sebuah ruangan persegi berwarna hijau, aku kembali mengenang.
Hampir di setiap sudut bisa ku lihat, perpaduan warna kayu dan hijau daun.
Di sebuah ruangan persegi berwarna hijau, bisa ku rasakan hangatnya cahaya pagi menembus celah-celah jendela. Menerpa
tepat di atas peraduan besar berwarna hijau. Ditemani bulir-bulir debu tipis yang terbang bebas di dalam lapisan cahaya mentari.
Aku kembali mengenang,
Kehangatan itu,
Buku-buku tebal itu
Pernak-pernik mungil pemberian kerabat dari negeri sebrang,
Pesan-pesan penyemangat yang tersemat di dinding berlapis hijau terang,
Lencana itu, yang pernah dipamerkan pada ku dengan bangganya
Lemari kayu berpintu kaca itu,
Dan alunan lagu kebangsaan yang begitu akrab ditelinga ku
Dari sebuah ruangan persegi berwarna hijau. Ku temukan sebuah lantai hijau yang luas. TV yang selalu kusut, kusen yang tak lekang oleh debu-debu jalan, perabot dapur yang tersusun apik di atas sebuah meja cokelat kayu, dan gorden hijau lebar yang selalu terhembus oleh angin dari balik jendela.
Dan,
Aku pun kembali mengenang.
Dua buah pintu kayu besar bergagang hijau yang sering ku genggam. Bisa ku lihat dengan jelas bangunan hijau itu bersinar dalam terangnya pagi.
Hangat, indah, nyaman, dan banyak menyimpan cerita. Dari hari ke hari, bulan ke bulan. Dan cahaya terhangat selalu datang di Minggu pagi.
Aku mencintainya, seutuhnya.
Namun kini, bangunan hijau itu hanya bisa ku kenang.
Tiada lagi hari, dan cahaya matahari
Di sebuah ruang persegi berwarna hijau, yang kini tak lagi memanggilku mengusir sepi dan kerinduan hati, namun ada satu yang pasti : ku temukan alasanku mencintai negeri ini…
Terima kasih..pernah melekat dalam hari-hari ku..wahai anak bangsa yang punya cita-cita mulia…
Hijau kan lah negeri ini..
Hijau Indonesia ku…
août 28, 2009
août 17, 2009
juillet 31, 2009