Eghaliter The Musafir

Orang Dewasa Ingusan

Publié par   : EghaliterTheMusafir le  : janvier 19, 2012

Kemeja putih, celana merah, dan dasi merah.

Bocah laki-laki yang diperkirakan masih duduk di bangku kelas 4 SD itu nampak buru-buru memasuki masjid ketika adzan ashar sudah menggema dari satu jam yang lalu.

Dengan gerakan cepat, ia menanggalkan tas punggung hitam besarnya, melepas jaket katunnya, dan menanggalkan ponsel yang tergantung di leher mungilnya tepat di atas karpet hijau di sebuah masjid yang berada tepat di sebelah gedung sekolahnya.

Dengan riang, ia berjalan sambil melompat-lompat menuju tempat wudhu. Tanpa beban.

Dan… Ia pun shalat dengan tenang sambil tersenyum.

Tak ada kerikil yang memarut dahinya menjadi kusut, karena yang terpancar hanyalah kegembiraan seorang bocah SD yang berangkat shalat menuju masjid, tepat sepulang sekolah. Lagi-lagi, tanpa beban.

Ia kembali memakai jaket katunnya yang terlipat rapi, kembali memanggul tas punggung yang disandarkan ke dinding, dan menggantungkan tali ponsel ke lehernya. Kini, ia telah selesai shalat dan bergegas pulang sambil melompat-lompat ke arah teras masjid. Girang. Meski tak ada orang yang menjemputnya pulang.

Sepintas, ia hanyalah seorang bocah laki-laki SD bertubuh mungil dan berwajah cerah. Orang-orang dewasa bisa memandangnya sebagai bocah ingusan yang hanya mampu bermain bola dan menodai baju seragam putih. Atau merengek saat meminta robot-robotan dan mobil remote control.

Tapi bagi dunia, ia bukanlah bocah ingusan seperti yang orang-orang dewasa sebutkan. Karena ia adalah seorang bocah yang masih mengingat waktu shalat di sela-sela waktu bermainnya. Ia adalah seorang bocah yang dengan riang gembira melompat menuju masjid dan melaksanakan shalat, tanpa beban.

Sekali lagi, ia bukanlah bocah ingusan.

Sebab masih ada setumpuk orang dewasa yang mengaku tidak ingusan namun masih saja lupa dengan waktu shalat dan berat langkah menuju masjid.

Bukankah justru sebutan yang realistis untuk saat ini adalah istilah “Orang Dewasa Ingusan” ?

Ya, Orang Dewasa Ingusan… Karena mereka malas untuk shalat!

Pagar Hati dan Pamali

Publié par   : EghaliterTheMusafir le  : octobre 18, 2011

“Kalau lagi hamil, kamu jangan pernah bunuh binatang ya! Nanti kaya orang di belakang sana. Lagi hamil bunuh ular. Jadi pas lahir, anaknya nggak punya tangan sebelah! Hati-hati!” celetuk tetangga di siang bolong saat kami duduk-duduk di gazebo reot miliknya.

Aku diam beberapa saat dan berusaha untuk menyambungkan antara logika dan cerita mistis. Memang sulit disambungkan karena memang tidak akan pernah nyambung. Aku tersenyum simpul.

“Memang kalau bunuh binatang tidak boleh, mau lagi hamil atau tidak.” Kata ku.

“Tapi kalau kata orang dulu begitu! Jadi kamu kalau di rumah jangan sendirian!”

“Kenapa?”

“Biar ada temennya kalau ada binatang masuk rumah, temen yang bunuh bukan kamu!”

Jidat ku mulai berkerut sambil menahan panas matahari yang hampir membakar kepala ku. Gazebo reot ini tidak cukup pandai menangkal cahaya menyengat matahari. Kelambu pink pucat di atas nya hanya mampu menjadi istana laba-laba dan tempat peristirahatan nyamuk-nyamuk lapar. Aku kembali menghela napas. Melihat suami dan mertuaku memaku beberapa bambu untuk dijadikan pagar sementara kami. Kebun tetangga inilah yang kami jadikan tempat beraktivitas “sementara” untuk menyulap bambu setengah lapuk menjadi sebuah pagar cantik persis seperti pagar kandang kambing yang super mewah.

“Nanti kamu kalau habis makan, piringnya dicuci. Jangan ditumpuk-tumpuk! Kalau bersihin ikan, ingat itu ikan! Jangan kepikiran yang lain. Dan jangan pernah kaget ya! Nanti kalau kaget jangan asal ucap!” Ujar si tetangga dengan semangat, sampai bibirnya maju dan tangannya diayun seperti orang sedang menari-nari.

Aku kembali menghela napas. Mencoba untuk tidak melemparkan senyum kecut sekecut rasa cuka dapur. Atau mencoba untuk tidak memasang wajah asam se-asam cuka apel. Aku hanya tersenyum. Datar.

“Lucu ya. Masyarakat di sini banyak pantangannya. Seperti pamali seorang gadis duduk di depan pintu. Padahal logikanya, duduk di depan pintu itu mengganggu mobilitas orang. Tapi orang-orang di sini menyebutnya pamali. Terlalu banyak pamali, tapi Insya Alloh saya hanya berserah diri kepada Alloh. Lagi pula keluarga saya tidak mengenal pamali. Murni berserah diri kepada Alloh, Bu.” Kata ku berusaha tenang.

“Tapi memang perkataan orang tua zaman dulu itu bener lho! Saya nurut, alhamdulillah nggak kenapa-kenapa! Oh ya, jangan mandi sore-sore yah kalau lagi hamil” Sanggahnya.

Saat itu saya hanya tersenyum dan menjelaskan padanya bahwa kalau tidak mandi badan akan menjadi kotor dan bau. Logis kah? 

“Kamu suka nonton film kartun kan? Jangan ya! Nanti kamu ketawa-ketawa meledek si kartun itu bodoh, bahaya! Ingat kamu lagi hamil!” Timpal seorang ibu lain yang tak kalah semangatnya untuk mengajari ku aturan-aturan Pamali. Dia pun menyuruh si tetangga agar mengajari ku lebih detail mengenai aturan-aturan pamali. Sungguh luar biasa aksi para ibu-ibu pencinta pamali ini! Akan kah “pertarungan” ini terus berlanjut dan aku sebagai objek sasaran empuk mereka?

Rupanya fenomena ini cukup sampai di sini. Suami ku sadar akan obrolan kurang penting si tetangga dan si ibu lain yang menyergap ku bertubi-tubi. Suami ku menghampiri ku kemudian tersenyum. “Kamu belum shalat dhuha, ayo ke rumah dulu shalat dhuha.”

Saat itu aku merasa bersyukur suami ku menghindari ku dari perdebatan panjang dengan kaum ibu penganut pamali. Aku melangkah menjauhi gazebo reot dan masuk ke dalam rumah ku yang belum berpagar. Ketika mengambil air wudhu, seketika terik matahari yang sedari tadi membakar kepala ku mendadak hilang.

Di dalam kamar mandi yang tenang, aku berpikir, bersama air yang mengucur ke bawah membasahi organ-organ tubuhku. Siapakah mereka itu? Orang-orang animisme kah? Atau penganut setia agama Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya di masa pra-kemerdekaan kah? Atau, islam seperti yang tertera di KTP mereka? Kenapa mereka lebih takut dengan takhayul dari pada azab Sang Khalik? Berapa pantangan yang rela mereka jalankan demi sebuah kata bernama PAMALI ? Namun, seberapa jarangnya kah mereka mematuhi larangan-larangan dalam Islam? Begitu banyak dari mereka yang rela tidak mandi sore ketika mereka hamil, namun begitu sedikit dari mereka yang menutup aurat ketika berada di luar rumah.

Siang hari pun berlalu. Suami dan mertua ku telah berhasil menyulap bambu setengah lapuk menjadi sebuah pagar super mewah bak kandang kambing yang menawan. Rumah ku kini telah berpagar, Alhamudulillah. Dan semoga, hati ku pun juga berpagar dengan Tauhid, agar mampu melindungi hati, dari serangan tentara iblis yang mengiming-imingi pamali ketelinga kaum ibu. Sepertinya, pagar hati mereka sudah tertelan bulat-bulat oleh virus pamali ciptaan para sesepuh. Ironis.

Jika aku bisa melihatnya, mungkin, saat ini, iblis sedang tertawa puas melihat dagelan pamali yang dibuat nya melalui para sesepuh kaum ibu. Tapi, aku akan segera menghentikan tawa si iblis yang menggelegar! Mungkin dengan isolasi atau lakban??

-sekian-  DIKUTIP DARI BLOG SAYA DI : http//megasarizki.tumblr.com/

 

 

 

Saat Iblis Menunjuk Si Dengki

Publié par   : EghaliterTheMusafir le  : octobre 7, 2011

Dengki. Bagi mu apa itu dengki ? Jika kau mencari arti kata dengki di berbagai media, kau akan dengan sangat mudah menemukannya di halaman KBBI, kamus google, atau mampu mendefinisikannya sendiri dengan pengalaman pribadi mu. 

Dengki..

Di buku mana pun, atau di kamus mana pun, tidak ada satu orang pun yang menemukan arti kata dengki dalam makna yang indah. Semuanya buruk. Bahkan aku pun akan kelelahan mencari sumber referensi yang menyatakan makna dengki itu indah. Karena sudah dipastikan nihil.

Jika seorang ulama berkata arti kata dengki, maka beliau akan menyebutkan bahwa dengki itu perasaan tidak suka terhadap kebahagiaan orang lain. Tapi aku tidak akan membahas lebih lanjut apa yang dikatakan seorang ulama itu terkait dengan kata dengki. Karena semua orang sudah bisa menebak, dengki itu erat dengan dosa. Dan segala pendosa itu tempat peristirahatan terakhirnya di neraka. Kecuali dia bertobat sebelum maut mencekik lehernya.

Dengki..

Bagi ku, dengki bukan hanya sekedar kata. Tetapi suatu penyakit. Penyakit hati yang mampu menghancurkan sesuatu yang imortal, entah itu menghancurkan manusia atau menghancurkan benda-benda mati yang ada di sekelilingnya. 

Dengki adalah ketika kau melihat adik mu berpakaian licin dan wangi sementara kau berpakaian kusut masai dan bau anyir, lalu kau merobek bajunya dan berkata “Kau tidak pantas memakai baju yang licin seperti ini!”

Dengki adalah ketika kau melihat kakak mu membawa nilai A untuk matematikanya sementara kau hanya membawa nilai C, lalu kau berkata dalam hati mu, “Cih ! Baru juga sekali dapat A sudah bangga!”

Dengki adalah ketika kau melihat sepupu mu mengenakan jilbab dan berangkat mengaji ke masjid, lalu kau yang berpakaian ketat seperti sarung guling berkata kepada sepupu yang lain, “Dia itu kolot dan kampungan, beda sama orang-orang modern!”

Dengki adalah ketika kau melihat teman mu mendapatkan pria tampan dan mapan, sementara kau hidup bersama pria tampan dan sederhana, kau berkata kepada teman yang lain, “Dia memang perempuan yang sukar hidup susah. Beda dengan saya yang mau hidup dari nol. Sangat materialistik perempuan seperti itu, bukan?”

Dengki adalah ketika kau melihat tetangga mu baru saja membeli mobil seharga ratusan juta dan mampu menyumbangkan beras setiap bulan kepada tetangga-tetangga miskin, sementara kau hanya memiliki sebuah sepeda motor cantik dan hanya mampu memberikan uang jajan kepada anak-anak yang suka menemani anak mu bermain, kau berkata kepada suami mu, “Kenapa hidup kita begini sekali? Tetangga itu sungguh menyebalkan!”

Dan..

Dengki adalah ketika kau hobi tertawa dan bersenang-senang, tetapi dada mu sesak karena terus memikirkan orang lain yang kau benci. Dengki adalah ketika kau sehat tetapi pikiran mu sakit. Dengki adalah ketika panca indera mu berfungsi tetapi mati rasa untuk kau gerakkan karena sangat sulit bagi kau tersenyum tulus dengan hati yang lapang.

Di sudut sana, segerombolan setan penghuni barak neraka sedang rapat untuk menemukan sasaran empuk, “Manusia lemah mana lagi yang mampu kita anugrahi penyakit dengki, wahai Raja Iblis?”

Dan iblis masih berpikir-pikir akan menunjukkan jemari hina nya ke wajah siapa.. dia? dia yang lain? atau kau?

 

 

 

(Dikutip dari blog saya yang lain di alamat : http://megasarizki.tumblr.com/ ) 

 

 

 

Perbedaan Antara Mereka Yang Soleh dan Kita yang Ber-KTP

Publié par   : EghaliterTheMusafir le  : août 11, 2011

Bismillah,

Ketika saya mengetikkan huruf per huruf dalam tulisan ini, kalimat pertama yang muncul di kepala saya adalah bahwa Saya Bukanlah Seorang Ustadzah Atau Isteri Ustadz. Jika ada yang bertanya apa kompetensi saya dalam menuliskan tulisan ini maka akan saya jawab Kompetensi Tidak Terlalu Penting, yang Terpenting Adalah Keinginan Untuk Mengambil Secuil Hikmah yang Saya Peroleh Dari Secuil Lembaran Al-Qur’an, Buku, dan Film Islami.

Mungkin akan ada beberapa orang yang berteriak tidak setuju, setuju, atau acuh tak acuh. Karena tulisan ini murni subjektifitas dari hikmah yang saya peroleh. Berawal dari sedikit demi sedikit membaca tafsir Al-qur’an, kemudian membaca buku dan berdiskusi dengan suami, lalu menonton beberapa Film sejarah Rosululloh dan Sahabat beliau. Saya mencerna ada banyak – sekali – perbedaan  yang muncul antara kehidupan mereka, yaitu orang-orang shaleh yang dekat dengan Rosululloh, dan kehidupan – sebagian – kita, yaitu orang-orang ber KTP Islam yang hidup di zaman modern tanpa Rosululloh. Berikut adalah perbedaan yang saya ambil dari kehidupan sehari-hari :

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika Rosululloh berseru “Tiada Tuhan Selain Alloh”, lalu tanpa pikir panjang, dengan segenap perjuangan mereka meninggalkan dan menghancurkan patung-patung mereka demi menyembah Alloh yang Esa.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Sesembahan saya tentu saja Gusti Kanjeng Alloh. Tapi nak, tolong di jaga keris bapak ini ya. Dimandikeun setiap malam jumat. Kamu jangan lupa puasa dan dzikir pas lagi mandiin keris keramat ini ya. Ini pesen Bapak kalau Bapak nanti pergi.”

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika Rosululloh memerintahkan Shalat 5 waktu sepulang Isra’ Mi’raj, tanpa pikir panjang mereka langsung melaksanakan shalat Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Duh, ngantuk banget nih. Males ah Solat Subuh. Entar aja Dzuhur.” atau, saking senengnya jalan ke Mall, lupa tiba-tiba sudah larut malam, bablas deh Ashar dan Maghrib.

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika Rosululloh membacakan ayat tentang hijab (tutup aurat) untuk semua perempuan muslim, sekonyong-konyong mereka langsung mengambil kain apapun yang ada di dekat mereka, entah itu taplak, hordeng, apapun, untuk mereka jadikan jilbab panjang penutup aurat.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Loh, jilbab kan budaya Arab kali?” –> Kalimat ini cermin perempuan tajir yang kekurangan uang untuk beli Terjemah Al-Qur’an, tapi mampu beli dress bermerk di Mall. ATAU “Iya, gue tau kok kita cewe harus pake jilbab. Tapi gue belum siap guys. Gue jilbab-in hati gue dulu aja lah” –> Kalimat mayoritas ini adalah kalimat rancu “jilbab-in hati”. Maaf ya Mbak, hati ente sudah di jilbab-in sama daging jasad alias daging tubuh, makanya hati ente nggak terlihat kasat mata. Kalau nggak, hati nya bisa meleber sama darah, jantung, usus, dan lain-lain.

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika ada tamu datang berkunjung ke rumah keluarga ini, mereka tidak punya makanan apa-apa kecuali jatah makan untuk anak mereka. Tetapi karena memuliakan tamu, anak mereka diajak bermain agar lupa dengan rasa lapar. Ketika tamu itu makan, mereka mematikan lampu dan pura-pura makan, padahal mereka tidak makan. Tamu pulang dengan senang dan mereka bahagia dengan pahala mereka.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : Di dapur si Nyonya ada juice, kopi, teh, sirup, dan susu. Tapi si Bibi diperintahkan untuk menghidangkan teh manis. Di lemari es si Nyonya ada daging sapi segar, ikan segar, sayur-mayur, nugget, dan sosis, serta buah anggur dan kiwi. Tapi si Bibi diperintahkan untuk menghidangkan secuil buah anggur dan snack ringan seperti biskuit.

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika Rosululloh membacakan ayat kewajiban puasa di bulan Ramadhan, maka mereka tanpa protes langsung berpuasa dari fajar sampai maghrib.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Sumpah, gue laper abis. Mana tahan gue puasa? Gue punya maag.” lalu dia menghampiri restoran atau rumah makan di pinggir jalan. ATAU “Astaga mulut gue asem banget nggak ngerokok. Rokok dulu ya coy!”

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Seorang pria datang kepada Rosululloh dan mengaku “Binasalah saya ya Rosululloh! Sesungguhnya saya berzina!”

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Ssst. Elo jangan bilang-bilang gue sama pacar gue ngapain aja! Awas loh! Tapi sumpah enak tau coy!” ATAU “Gue dosa ya udah berhubungan suami isteri sama pacar gue? Terus, gimana dong udah terlanjur? Gue janji deh nggak bakal aneh-aneh lagi sama dia.” –> Contoh manusia mati rasa mati akal mati hati mati penglihatan.

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika para isteri Rosululloh dan perempuan-perempuan muslim mengenakan pakaian longgar agar tidak menampakkan bentuk tubuh mereka, khawatir tidak mencium bau surga karena berpakaian tapi telanjang.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Aelah, ini baju longgar banget? Nggak modis abis deh nih baju. Baju modis tuh yang lagi update kaya bajunya artis-artis Hollywood, agak ketat biar bagus di badan. Jilbabnya digulung biar modis, jadi nggak norak kaya anak pesantren jilbabnya dijulurin ke bawah, plis deh!” –> ciri-ciri perempuan bodoh gila mode yang pakai jilbab tapi seperti bungkusan lontong isi.

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika mereka bertemu, maka mereka akan mengucapkan “Assalaamu’alaykum wahai saudara/i ku” –> salam santun penuh do’a dan persaudaraan (ukhuwah) islamiyah.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Hai Guys! What’s up??” –> meniru gaya negro (Afro-Amerika) yang katanya Gaul Abis.

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Mereka tidak mengenal Riba (bunga hutang) karena haram.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Di era globalisasi ini perdagangan pesat. Tingkat konsumsi meningkat. Kalau tidak punya kartu kredit? Wah, susah nanti ke mana-mana!”

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika Rosululloh membacakan ayat haram nya Khamr (Minuman memabukkan), maka mereka yang lagi kongkow-kongkow dengan arak dan anggur langsung meninggalkannya seketika.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Aelah sedikit doang nggak akan mungkin mabuk. Yang haram itu kan kalau sampai mabuk. Kalau loe minum nggak mabuk ya nggak kenapa-kenapa!” ATAU “Gue tinggal di Eropa dingin abis. Loe mau mati kedinginan tanpa asupan alkohol yang menghangatkan? Terserah deh silahkan aja!” ATAU “Kenapa coba ini mesti diharamin? Aneh deh! Kan Alkohol banyak manfaatnya buat obatin luka atau menghangatkan tubuh” –> Dokter yang bilang alkohol tidak punya efek buruk adalah dokter yang semasa kuliahnya pakai joki, jadi buta kesehatan.

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika mereka ingin melakukan sesuatu amalan, pasti mereka bertanya kepada Rosululloh atau bertanya kepada Sahabat yang sangat dekat dengan Rosululloh. Sehingga mereka beribadah, beramal, seperti apa yang dilakukan Rosululloh.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Ahh.. Muhammad itu kan Rosul. Ya jelas aja baik semua-mua nya. Kita ini kan cuma orang biasa. Ya nggak akan seratus persen seperti Rosul. Asalkan ini baik, ya dikerjakan saja lah. Tidak usah berlebihan. Hal-hal yang wajib saja dikerjakan juga sudah bagus. Yang sunnah kan bisa dikerjain bisa nggak terserah kita.” –> Ciri-ciri orang tajir yang kehabisan uang di ATM karena baru membeli gadjet terbaru puluhan juta jadi tidak bisa membeli terjemah Al-Qur’an dan buku sejarah kenabian, jadi pura-pura lupa kalau Muhammad shallallohu ‘alayhi wassallam ADALAH manusia biasa seperti kita, bukan malaikat.

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Mereka tidak berdandan di luar rumah, tetapi di dalam rumah untuk menyenangkan suaminya.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) :Jyaah! Masa loe ke luar nggak pakai bedak dan pewarna bibir? Kusam banget muka loe? Ih, gue mah nggak betah deh begitu!”

==========

Mereka (orang Soleh zaman Rosululloh) : Ketika para perempuan tahu wewangian yang semerbak itu akan menjadikan mereka tidak mencium bau surga, jika mereka pakai di luar rumah dan tercium oleh banyak hidung pria di jalanan sana, mereka tidak memakai wewangian.

Kita (sebagian orang ber-KTP islam zaman modern) : “Ya ampun, bisa bau asem nanti badan gue kalau nggak pakai parfum.” Dan mereka pun bangga membeli parfum-parfum import mahal dan mengenakannya sehingga wanginya semerbak. Kasihan nggak bisa cium bau surga


Kisah Nyata Azab Kubur Itu Ada!

Publié par   : EghaliterTheMusafir le  : juillet 22, 2011

Bismillah. Ini adalah kisah nyata menurut penuturan salah seorang teman saya di sebuah majelis kajian islamiyah di sebuah masjid komplek perumahan. Awalnya, kami membahas kajian tafsir surat Al-Baqoroh. Ustadzah di depan halaqoh kami terus menerangkan ayat demi ayat mengenai hukum puasa, fiqh, dan sebagainya. Seketika itu, seorang ibu di sebelah saya membuyarkan konsentrasi saya yang sedang mendengarkan penjelasan tafsir. Tiba-tiba dia bercerita tentang masa mudanya sebagai seorang anggota pramuka yang terkait dengan kebenaran azab kubur. Berikut cuplikan pembicaraan kami.

“Saya waktu zaman muda jadi anggota pramuka, dek.” Katanya bangga.

“Oh, begitu ya, Bu? Terus?” Kataku kurang tertarik.

“Kamu tau dulu saya suka urus acara-acara kalau pejabat-pejabat mau datang ke suatu lokasi, kami menyiapkan semuanya.”

“Oh, begitu.” Jawab saya datar.

“Waktu itu ada pejabat yang mau datang, kami diharuskan menyelenggarakan acara tersebut di lokasi kuburan. Jadi kami memindahkan kuburan tersebut ke lokasi lain.”

“Kok bisa?”

“Iya, adek tahu? Ketika saya dan teman-teman Pramuka membongkar kuburan mereka satu per satu, percaya atau tidak, seluruh kuburan orang-orang kafir (bukan muslim) tulangnya seperti gosong terbakar!”

“Masa Bu? Busuk kali karena terlalu lama di kubur?” Saya mulai bergidik ngeri.

“Bukan! Kamu tahu kan tulang yang terbakar seperti apa? Ya gosong! Dan itu saya temui di seluruh kuburan orang-orang kafir. Tulang mereka gosong semua. Tidak ada mayat yang tulangnya tidak gosong! Selain itu, tulang belulang mereka berantakan!”

“Berantakan bagaimana?”

“Misalnya tulang tangan di sebelah sini, tulang kaki di sebelah sini, tulang mana di sebelah mana. Kalau pas membongkar kuburan orang-orang muslim, percaya atau nggak, seluruh tulang-tulang mereka berwarna putih dan utuh, tidak berantakan seperti tulang-tulang orang kafir!”

“Subhanalloh! Itu bener Bu?”

“Iya. Sejak saat itu saya percaya bahwa azab kubur itu ada.”

 

Dari Anas radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ


“Jika hamba sudah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya sudah pergi meninggalkannya, hingga dia (jenazah) mendengar suara langkah sandal-sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua malaikat. Keduanya lalu mendudukkannya seraya berkata kepadanya, “Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka jenazah itu menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat dudukmu di neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya bersabda, “Maka dia kemudian melihat keduanya”. Adapun (jenazah) orang kafir atau munafik, maka dia akan menjawab, “Aku tidak tahu, aku hanya berkata mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang.” Maka dikatakan kepadanya, “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Kemudian dia dipukul dengan palu godam besar yang terbuat dari besi dengan sekali pukulan di antara kedua telinganya, maka dia mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia).” (HR. Al-Bukhari no. 1338)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat duduknya (di akhirat) setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka dia akan (melihat tempat duduknya) sebagai penduduk surga. Dan jika dia termasuk penduduk neraka, maka akan (melihat tempat duduknya) sebagai penduduk neraka. Lalu dikatakan kepadanya, “Inilah tempat dudukmu hingga nanti Allah membangkitkanmu pada hari kiamat”. (HR. Al-Bukhari no. 1290 dan Muslim no. 2866)

Laa ilaaha illalloh. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Alloh semata yang tiada sekutu, tiada lawan, atau tandingan baginya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusannya, yang menyeru kepada tauhid, yang berusaha memberi nasehat kepada kerabat dan orang jauh, yang memberi peringatan kepada orang-orang durhaka kepada neraka yang menyala tersu menerus dan yang menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dengan negeri yang tidak akan pernah habis nikmat-nikmatnya (surga). (Kutipan kalimat ini saya nukil dari buku “Dahsyatnya Neraka karya Ibnu Rajab Al-Hambali, Pustaka At_Tazkia halaman 11-12).

Nama-Nama Pendusta yang Mengaku Sebagai Nabi Setelah Rosululloh Wafat

Publié par   : EghaliterTheMusafir le  : juillet 4, 2011

Bismillah,

Senin pagi seperti biasanya saya mendengar radio rodja di 756 AM. Kajian pagi itu temanya kalau tidak salah “tanda-tanda akhir zaman”. Di situ diterangkan tentang beberapa ciri-ciri kiamat, yaitu diutusnya Muhammad sebagai seorang nabi dan rosul Alloh ‘azza wa jalla dan wafatnya Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam. (antara Rosululloh dan kiamat seperti jari tangah dan jari telunjuk yang dilekatkan). Lalu kemudian ciri-ciri lain yang saya dengar adalah banyaknya orang-orang yang mengaku sebagai nabi seperti yang terdapat di dalam hadits :

“Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan para dajjal (pendusta) yang berjumlah sekitar tiga puluh orang. Semuanya mengklaim bahwa dirinya adalah Rasul (utusan) Allah”. (HR: Al-Bukhari dan Muslim).

Lalu, siapakah orang-orang pendusta yang mengaku sebagai nabi setelah Rosululloh? Berikut daftar nama yang saya dapat dari sebuah blog ahlussunnah :

NABI PALSU SEBELUM ZAMAN ISLAM

  • Zoroaster (Persia, 660-583 SM), kitab suci: Avesta. Mati terbunuh dalam perang melawan Bactria (Balkh).
  • Marcion (Roma, ± 144 M), pembentuk gereja Marcionite dan pemahaman Marcionisme .
  • Mani (Persia, ± 242 M), pendiri agama Manichaeisme (al-Maniwiyah). Mati dibunuh, dikuliti, dan kulitnya diisi jerami dan digantung oleh Bahram.
  • Daishan, pendiri aliran Daishaniyah yaitu suatu aliran ber-tuhan dua di Persia dari agama Majusi.
  • Mazdak (Persia, 487-523 M), pendiri aliran Mazdakiyah (Serba Boleh dan Semua Halal), kitab suci: Zanda. Mati dibunuh.

NABI PALSU DI ZAMAN JAHILIYAH

  • Amru bin Luhayyi, (dari Kabilah Khuza’ah), orang yang pertama kali merubah agama Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi kemusyrikan dan penyembahan berhala.

NABI PALSU DI MASA RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM

  • Al-Aswad al-Ansi (11 H/632 M) atau Abhalah bin Ka’ab bin Auf al-Ansi al-Madzhiji , seorang dukun dari Yaman. Mati dibunuh oleh Fairuz, kerabat istri al-Aswad.
  • Musailamah al-Kadzdzab (usia 150 tahun, mati tahun 12 H/633 M). Memiliki pasukan 40.000 orang. Mati dibunuh oleh Wahsyi dengan tombaknya pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

NABI PALSU SETELAH MASA RASULULLAH SHALA-LAHU ALAIHI WASALLAM

  • Sajah binti Al-Harits bin Suwaid bin Aqfan at-Tamimiyah dari Bani Yarbu (mati tahun 55 H/675 M). Seorang dukun wanita yang mengaku Nabi di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq dan kemudian dinikahi oleh Musailamah al-Kadzdzab. Sete-lah Musailamah terbunuh, Sajah melarikan diri ke Irak kemudian masuk Islam dan mati dalam keadaan Islam.
  • Thulaihah al-Asadi (mati tahun 21 H/642 M). Masuk Islam tahun 9 H, kemudian murtad dan mengaku Nabi di Nejd pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah Abu Bakar ash-Shiddiq wafat, Thulaihah bertaubat (masuk Islam) kemu-dian mati syahid dalam penaklukkan Persia.
  • Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib. Sempalan Syiah yang meyakini reinkarnasi (kembali-nya ruh orang yang sudah mati) dari satu orang ke orang lain. Dia mengaku Tuhan dan Nabi sekaligus.
  • Al-Mukhtar bin Abi Ubaid (Thaif, 622-687 M/67 H), pe-nganut Syiah yang mengaku Nabi dan mendapat wahyu. Dia adalah saudara iparnya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Mati dibunuh oleh Mush’ab bin Az-Zubair di Harura.
  • Mirza Ali Mohammad (abad 19). Pendiri agama Babisme dan penganut Syiah, dihukum mati oleh pemerin-tah Iran tahun 1843.
  • Mirza Husein Ali. Pendiri agama Bahaisme (pengganti Babisme) dan penganut Syiah. Mengaku Nabi tahun 1862 dan mati tahun 1892, kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Abbas Efendy yang berpusat di Chicago.
  • Mirza Ghulam Ahmad (India 1835-1908). Pendiri agama Ahmadiyah. Kitab suci: Tadzkirah. Mati terkena wabah penyakit kolera.
  • Rashad Khalifa (Mesir, 1935-1990), penganut Tasawuf dan perintis Ingkarus Sunnah. Mati dibunuh oleh pengikutnya dengan disembelih dan ditusuk-tusuk dengan pisau dapur.
  • Asy-Syaikhah Manal Wahid Manna, wanita tersebut mulai melontarkan kesesatan sejak tahun 1995. Dan dipenjara oleh pemerintahan Mesir.
  • Tsurayya Manqus, seorang wanita peneliti, cendekiawan dalam bidang sejarah dari Yaman.
  • Muhammad Bakri, asal Yaman dan dibunuh oleh pengikut-nya, kemudian disalib di atas papan kayu.
  • Muhammad Abdur Razak Abul ‘Ala, asal Sudan. Bekerja sebagai tukang jahit di Kairo.

Dan masih ada beberapa Dajjal yang mengaku Nabi dari berbagai negara lainnya seperti di Sudan, Saudi Arabia, Mesir, Libanon dan lainnya.

NABI-NABI PALSU DI INDONESIA

  • Ahmad Musaddeq atau H. Abdul Salam (Lahir Jakarta, 1942), mengaku menjadi Nabi tanggal 23 Juli 2006. Pemim-pin Al-Qiyadah Al-Islamiyah di rezim Presiden Susilo Bam-bang Yudhoyono. Kitab suci: Al-Qur’an dengan pemahaman sendiri. Mengaku bertaubat tanggal 9 November 2007.
  • Lia Aminuddin, pendiri agama Salamullah. Mengaku men-dapat wahyu dari malaikat Jibril dan mengklaim dirinya Nabi dan Rasul serta Imam Mahdi. Divonis hukuman 3 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.
  • Ahmad Mukti, putra dari Lia Aminuddin yang dianggap sebagai Nabi Isa.
  • Ali Taetang, berasal dari Banggai pada tahun 1956 ali taetang mendirikan aliran alian Imamullah. Aliran ini didirikan Haji Ali Taetang Likabu di Dusun Sampekonan, Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Tak ada data pasti jumlah pengikutnya tetapi diduga ribuan orang menjadi anggotanya dan tersebar di seluruh Indonesia.

Sebelumnya di daerah ini masyarakat menganut animisme, dinamisme, dan mistik. Secara umum ajaran Alian Imamullah sama dengan Islam tetapi paham ini mempunyai dua penyimpangan pokok yakni kepercayaan terbukanya pintu kenabian setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW sehingga Ali Taetang menyebut diri nabi. Kedua, dia mengubah syahadat rasul.

  • Zikrullah Aulia Allah, berasal dari Sulawesi Tengah. Zikrullah Anak kedua dari istri kedua Taetang ini mengaku mendapat wahyu tentang kenabian melalui mimpi. Aliran Zikrullah Aulia Allah baru berdiri pada 29 Agustus 2004 lalu. Aliran ini merupakan versi terbaru dari aliran Alian Imamullah yang didirikan ayahnya, Ali Taetang Likabu pada 1970-an. Pada saat pendirian aliran itu, Zikrullah mengumumkan kenabiannya di atas mimbar Masjid Barokah, Dusun Sampekonan, Desa Labibi, Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan. Saat itu, Zikrullah mengaku telah diangkat Allah menjadi nabi meneruskan almarhum ayahnya Ali Taetang Likabu yang juga mengaku sebagai nabi.
  • Dedi Mulyana alias Eyang Ended, berasal dari Banten. Nabi palsu ini sebenarnya malah dukun cabul. ajaran eyang model ajaran agama yang memastikan tentang kiamat dan membolehkan seks bebas.

________________________________

(Diambil dari buku “Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat” oleh Hartono Ahmad Jaiz. Printed by Maktabah Salman 2008)

Daftar Nama Para Dajjal Pendusta Yang Mengaku Sebagai Nabi – Indahnya hidup dalam naungan sunnah http://tentarakecilku.blogspot.com/2011/03/daftar-nama-para-dajjal-pendusta-yang.html#ixzz0sfgwXalq

 

 

janvier 2012
L Ma Me J V S D
« oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Klik tertinggi

  • Aucun
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Blog Stats

  • 15,875 hits
Suivre

Get every new post delivered to your Inbox.