Lingkaran Yang Tiada Bertepi…

Cipratan-cipratan warna-warni mozaik yang terkena siluet senja dan berpendar-pendar di dalam iris mata ku seperti menggambarkan kilas balik titik-titik hidupku ke belakang. my-lunar-eclipse1 Mungkin lebih tepatnya setiap titik-titik hidupku warnanya seperti mozaik yang terkena tumpahan cahaya siluet. Warnanya terlalu banyak sampai-sampai aku kelimpungan mendefinisikan golongan warna apa saja yang muncul. Mungkin saja merah keunguan, maroon, jingga, cokelat tanah, abu-abu, hijau, cokelat keemasan, turquoise, baby blue, atau warna-warna natural yang terlihat indah selain warna tanah, setidaknya di mata ku – warna pualam yang lembut dan elegan. Tapi kemungkinannya lebih cocok jika warna-warna itu disetarakan dengan keaslian marmer, memiliki gradasi warna yang anggun dan sederhana, memang ada dominasi warna tapi dalam segi kuantitas di sana, bukan semata-mata nilai seberapa menonjolnya warna itu – batu yang berwarna dan lembut, tapi tidak rapuh.

Sebuah penggambaran terhadap semua yang telah terjadi dalam hidupku cukup membuatku memutar kedua bola mata dan berkata “oh well..”, setidaknya. Terkadang aku sampai putus akal untuk menemui bagaimana cara merekam ulang semua adegan per adegan dan memahatnya dalam satu bingkai besar – mungkin sebesar Opera House atau Taj Mahal – dan mengukirnya dalam sebuah ukiran kaligrafi indah khas sebuah pena kuno dan tinta hitam. Tapi tampaknya itu akan sangat sulit, ku pikir. Tapi entah mengapa ketika setiap adegan tersebut sedang berlangsung rasanya pikiran-pikiran ini berbicara dengan sendirinya – sendirian lebih tepatnya, seperti delusi – dan mengukir seluruh babak dalam untaian kalimat-kalimat yang seolah-olah sedang ditulis di atas setumpuk kertas putih berukuran 15×21 cm atau seluas buku harian. Tapi lagi-lagi, dan pada kenyataannya, banyak babak yang tertinggal.

“Fuuhh..” aku buang seluruh sisa-sisa napasku sampai habis, menyayangkan keadaan. Lalu aku ambil setumpuk buku-buku gendut – well, maksudku buku dengan ribuan halaman – dan menghabiskannya hanya dalam tempo kurang dari 90 jam. Maksudnya untuk mengenyahkan semua kepayahan yang melandaku ini. Usahaku mengingat setiap adegan rupanya berhasil ketika mendengar sebuah syair indah yang mengingatkanku pada “pemberian sepi”. Ku cerna masak-masak apa maksudnya “pemberian sepi”? Sejenak aku terdiam dan sadar. Mungkin saatnya aku berdiam diri dan memikirkan banyak hal, agar setiap babak yang berlalu tidak terhapus sama sekali, minimal samar-samar.


Kemudian aku memulai kilas balik hidup ku, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan. Kali ini kedua bola mataku memandang ke seluruh isi ruangan kamar jinggaku. Barulah aku tersadar dan bergidik ngeri. Ku lihat sekarang seluruh perbuatanku selama ini, dan well, itu membuat penglihatanku selama beberapa pekan lalu seperti tersandung-sandung dan bernapas tersengal-sengal seperti seekor ikan kembung malang yang terjaring di kail nelayan di pagi-pagi buta dan matanya sama sekali tidak berkedip. Benar-benar berhasil sepertinya aku membuat kekacauan untuk kamar kesayanganku sendiri dan itu patut diacungkan jempol oleh jempol orang paling besar di dunia. Atau jempol beruang Grizzly juga boleh. Atau jempol Panda sekalian, itu lebih baik, setidaknya.


Kekacauan itu terjadi setelah kamar jingga mungilku tersedak-sedak dan kemudian batuk dengan suara keras setelah dia mendeklarasikan dirinya tak sanggup lagi menampung seluruh buku yang ku miliki. Entah bagaimana dan dari mana seharusnya aku memulai dan memilah-milah kata-kata yang sedikit manis, aku tidak tahu, tapi yang kutahu sejujurnya kamar ku menjerit dan bahkan melolong meneriakkan “Aku kesempitan dengan buku-buku mu young lady! Sebaiknya cepat kau singkirkan buku-buku mu yang menyesakkan atau aku tidak akan segan-segan meledak dalam waktu singkat!” Sekiranya begitulah kalimat ancaman yang dia berikan pada ku. Aku sampai merinding. Ajaibnya, ancaman kecil saat itu benar-benar terjadi, dan ancaman itu sekaligus membuatku percaya bahwa kamarku bisa berbicara seperti seorang vampir – mungkin dicocokkan seperti Vladimir, vampir Rumania dari 1500 tahun silam yang memiliki ekspresi marah sangat ganas tapi hatinya baik, setidaknya ia masih memiliki belas kasihan pada manusia, setidaknya yang ku tahu.


Aku, si pembuat kerusakan – sebutan untuk memvonis diri secara berlebihan – tersadar saat itu juga dan mulai terkejut-kejut melihat kemiringan rak buku ku yang berjumlah tiga tingkat. Kemiringannya persis 45 derajat! Sebuah prestasi membanggakan yang membuat bulu mataku rontok. “Bagaimana bisa?” desisku. Tapi aku, si pembuat kerusakan, menganggap yang miring itu mata silinder ku, bukan raknya. Atau mungkin aku, si pembuat kerusakan, menganggap rak itu sudah rapuh jadi terlihat miring padahal tidak. Atau si suara dalam pikiran ini menghipnotisku dan berkata “Rak mu kuat kok, young lady! Tidak ada yang perlu dicemaskan.” Dan kekacauan itu benar-benar menyeruak saat sahabatku, Fatia, datang menemui ku untuk sekedar mengecek hadiah ulang tahunku yang ia berikan awal tahun ini – sebenarnya ia datang dengan tangis yang meluap-luap dan kacau, karena punya setumpuk masalah. Melihat kado ku hanya alasan sampingan.


“Bukunya udah dibaca? Gimana, bagus gak?” katanya berapi-api. Ia memang sahabat yang sangat mengerti aku, karena ia sangat cerdas. Aku mengagumi kecerdasannya. Ia dengan matang mampu menimbang kebutuhan membaca jauh lebih dibutuhkan dari pada kebutuhan fashion, sehingga ia tidak memilih untuk memberikanku gaun Cinderella atau sebuah mini-koper berisi alat tempur – ralat : alat make up. Tapi alasannya memberikan buku adalah alasan ekonomis. Tapi alasan dari diriku adalah memang buku itu sesuatu yang indah. Apapun alasannya, aku sudah sangat berterima kasih, karena dengan gratis sudah diberikan barang bagus. Aku senyum-senyum saja dan memutar kedua bola mata ku ke arah rak “aneh” ku itu.


“Oh!” gumamnya sambil melihat buku ratusan halaman berwarna merah yang ia berikan untuk ku.
Ku biarkan ia melihat-lihat koleksi buku-buku ku dan ku tinggalkan ia sebentar. Dan memang baru sebentar kaki ku melesat menuju dapur, suara gemuruh – sebuah debuman kencang – membuat jantung ku terhenyak dan berhenti berdegup se per sekian detik. Aku meronta menyebut nama Tuhanku yang Maha Pengampun. Aku gugup seperti aktris yang akan maju ke panggung opera sabun.


“Kenapa Fat?” teriakku dan aku langsung menyambar pintu kamar ku. Kekacauan serta peringatan-peringatan seram yang menerorku itu akhirnya terwujud. Aku yakin kamar jinggaku tertawa tersedak-sedak sampai mungkin terjungkal-jungkal melihat kerusakan yang ku perbuat. Dengan nanar mata ku memandang sahabatku, Fatia, tertimbun tumpukan buku-buku tebal dan berat, dan aku berani jamin kepalanya sangat sakit. Apalagi ia habis menangis, pasti kepalanya berdenyut-denyut minta dihantam es batu, agar denyutnya hilang.


“Aduuhhh.. Gha! Kenapa nih? Buku-bukunya semua jatoh gini! Berat lagi. Ugh sakit tau!” erangnya sambil menahan geli di perutnya.


“Maaf Fat…Maaf..Maaf..” desah ku sambil membantunya menyingkirkan buku-buku itu.


Hanya itu yang bisa kulakukan. Betapa tidak berdayanya aku! Ku lihat kedua tangan mungil Fatia bergetar ketika mengangkat setiap buku yang menimpa kepalanya itu. Perbuatanku benar-benar sudah tidak bisa dimaafkan. Kalau saja pemilik kamar sewa ku ini seorang inspektur polisi, aku pasti sudah diborgol dengan tuduhan melakukan perbuatan kriminal. Huff.. aku memang seperti seorang kriminil. Berusaha menghilangkan nyawa sahabat sendiri dengan cara menjebaknya mendekati rak buku “aneh” itu lalu menghujaninya dengan tumpukan – sekaligus timpukan – buku yang bisa saja membuat kepala mungilnya pecah atau urat lehernya melilit seperti ular tangga.
Dan ketika itu juga aku merasa kamar jinggaku kembali menertawai aku dengan puas. Aku pun membalas tawanya dengan mengancam akan membawa prajurit Dementor dan menyedot semua gelak tawanya biar dia tidak bisa menertawai aku lagi. Saat itu logika ku sudah pecah dan yang ada hanyalah serpihan-serpihannya, sehingga aku tidak bisa berpikir bagaimana caranya menyelamatkan semua buku-buku ku. Aku seperti mereka ulang penyesalan akibat perbuatanku di awal tahun saat pameran buku yang padat di Jalan Braga Bandung, berhasil membuatku menukar beberapa lembar uang dengan tumpukan buku-buku tebal dan gendut dan sekarang lihatlah, mereka menghasilkan kepayahan bagi aku dan sahabatku si mungil Fatia. Dua buah rak besar sudah penuh. Sebuah koper ukuran sedang sudah membengkak seperti ingin meletus saat ku jadikan tempat peristirahatan buku-buku ku – dan hal itu membuat para tetangga di kamar sebelah terheran-heran dan mengira aku akan pergi liburan ke luar kota atau ke luar negeri, karena ada koper siap siaga di depan kamar ku, lucu! Lalu tiga buah tas besar juga sudah tersedak oleh muatan buku. Benar-benar membuatku setengah tidak-sehat-pikiran dan berdeklarasi di dalam hati : Bukan buku-buku ku yang salah! Kamar jinggaku ini yang salah! Habis, dia tidak elastis jadi tidak bisa ku perbesar dan ku ciptakan walking closet ku sendiri, khusus sebagai perpustakaan pribadi. Kalau dia elastis aku kan juga bisa sekalian menciptakan walking closet ke dua ku untuk tempat sepatu biar sepatu-sepatu ku tidak merana berada di luar ruangan, sekalian menjaga nilai estetikanya. Beberapa detik kemudian baru ku sadari aku bukan Doraemon yang sedang memerintahkan prajurit-prajurit kucing dari dalam kantongnya untuk menyulap kamarku menjadi istana perempuan yang sempurna, seperti istana mini di negeri dongeng. Menggelikan!


Aku tersenyum-senyum mengingat kejadian tersebut. Lalu aku kembali memutar memoriku. “Ada kejadian apa lagi? Karena terlalu banyaknya kejadian aku sampai pusing,” gelak ku. Itulah hal yang sebenarnya ingin kuutarakan, hidupku seperti pelangi, pendaran warna-warni mozaik yang diterpa siluet senja, begitu heterogen hingga aku lupa warna-warna hidupku sesungguhnya memiliki rasa. Pahit, manis, kecut, dan terkadang hambar. Selepas kejadian kecut yang menggelikan awal tahun kemarin, aku mengalami degradasi warna dan rasa. Menjalani hari-hari seperti robot – penuh aktivitas tanpa jeda – dan itu seolah-olah menjadi kegiatan lazim yang telah ku lakukan, sehingga bila mobilitas itu memudar atau mengendap rasanya sebagian diri ini ada yang tumpul dan aku bisa-bisa kehilangan warna-warna ku. Aku memejamkan mata untuk membayangkannya, hari-hari yang penuh dengan seluruh aktivitas yang harus ku lakukan dan terkadang rindu karena tak sempat untuk tidur sejenak, atau menghembuskan napas secara normal, atau membetulkan urat-urat dan otot-otot yang terlampau tegang. Tapi seorang aku hanya menganggap itu sebagai aktivitas normal yang menurut orang normal itu tidak normal. Jadi kesimpulannya aku kurang sedikit normal, begitu? Entahlah.


Tapi terkadang aku menemui hari di mana aku bisa menghabiskan waktu ku berjam-jam mematung seperti maha karya Da Vinci – tapi tidak arogan – yang sedang memandangi hujan dan membuat delusi seolah-olah pikiran ku berbicara dan mengukir seluruh isi hati ku di atas embun yang menempel di kaca mobil, atau di atas aspal, atau di atas tanah basah dan lembab, atau ketika bola mata ku tak beranjak menatap langit yang pucat, aku mematung dan membiarkan pikiranku mengukir jeritan hati ku di atas langit. Atau mungkin lebih ekstrimnya, seluruh isi hati ku tumpah dan menyeruak dalam bentuk kepingan huruf-huruf berwarna hitam legam dan terbang berserakan terhembus angin hujan dan sebagian lenyap, sebagian lagi menempel di tanah-tanah basah, daun-daun lebar, dan awan-awan cumulus yang tebal. Setidaknya mereka – makhluk alam – seolah-olah mampu melihat keajaiban itu, karena aku yakin mereka tahu isi hati dan pikiran ku. Aku bisa menerka mereka tahu suasana hati ku saat itu sedang layu dan asam – tapi tidak serapuh kerupuk kurasa – jadi mereka ikut menyibakkan aroma abu-abu kesedihan. Kadang ada benarnya menyocokkan suasana alam semesta dengan suasana hati ku. Terkadang.


Ngomong-ngomong soal asam, aku teringat seseorang yang dulu pernah menjadi bagian yang dekat dalam hidupku, tapi kini ia tak lagi seperti ia yang dulu. Ia memiliki kekuatan mampu merubah hari asamku menjadi terasa pahit. Setidaknya jika dikenang. Terasa menyedihkan, karena aku tahu itulah lemahnya aku : Tak bisa melupakan dirinya yang dulu dan menerima seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya yang sekarang. Suasana yang sulit. Sudah hampir setahun ia “menghilang” dan aku – si makhluk setengah rapuh yang membawa pahit – berakting seolah-olah semua baik-baik saja dan ku tebar senyumku untuknya seolah-olah itu adalah kekuatan, padahal tidak. Karena kepahitan itu aku belajar bahwa hari ini aku tertawa dengannya, tapi esok hari pasti bisa dijamin kami menangis. Atau kemarin ia mengajari ku banyak hal positif, tapi esok ia muntahkan semua itu ke muka ku bulat-bulat. Atau beberapa hari yang lalu ia mengatakan “tidak”, tapi esok mungkin saja sudah berubah menjadi positif “ya”. Terkadang kalau aku cerminkan hari-hari ku dengannya, seperti cuaca di Indonesia belakangan ini, kadang langit tertutup awan hitam tebal, kemudian turun hujan badai. Tapi terkadang langit terlihat cerah, paling-paling hanya ada kabut tipis menari-nari di atas bukit : Sulit ditebak dan terlalu beresiko! Mungkin karena ia perempuan yang terlalu rapuh, tapi entahlah. Ia memiliki sebuah perisai yang tak sanggup ditembus siapapun, bahkan kami. Cukup fantastis kedengarannya.
Warna-warna kehidupan kembali merengkuh menjadi warna-warna pucat ketika jantungku terpacu sangat tidak beraturan. Aku yang kemarin masih bisa menjalani mobilitas – well, katakanlah kesibukan – atau bercanda dalam sekelompokan young lady dan membicarakan banyak hal-hal menarik, hingga sebagian dari kami tertawa berderai-derai, atau setidaknya melakukan hobi dan memanjakan diri dengan hal-hal yang bersifat relaksasi. Tapi kemudian, dalam waktu se per sekian jam saja, aku langsung bisa dibuat berjalan tersaruk-saruk dan jatuh lemas di dalam sebuah ruangan Emergency. Derai tawa yang membuat wajahku sedikit cerah yang ada malah selilitan selang memenuhi hidungku dan itu sangat membuat rupaku amat sangat tidak bagus, tidak seperti saat aku berbahagia kamarin dengan teman-teman ku. Setumpuk makanan lezat yang baru saja ku makan kini tak ada artinya lagi dibandingkan dengan setumpuk obat-obat kimiawi yang wajib memenuhi perut ku. Tak ada selera dalam lidah dan pikiran ku. Yang ada saat itu adalah pasrah dan berharap badai kesakitan ini cepat berlalu dan aku cepat-cepat hengkang dari dokter-dokter baik hati yang terus memberi ku resep dan setumpuk obat. Kali ini aku benar-benar payah.


Kepayahan itu bertambah ketika otak ku yang belum bisa bekerja normal dipaksa mengisi soal-soal ujian bahasa asing yang tentunya bukan bahasa internasional. Dalam keadaan pucat setengah pasi aku tersaruk-saruk memasuki ruang tempuh ujian dan berdeham-deham melihat soal-soal yang terlampau memusingkan itu. Wajahku memerah dan merasa terbakar dengan kalimat-kalimat yang tak ku mengerti maunya apa dan diapakan. Aku juga tidak tahu apakah aksen-aksen yang ku buat dalam kalimat-kalimat itu benar atau salah. Yah, setidaknya saat itu yang terpikirkan adalah : Cepat selesaikan soal-soal dari negeri sebrang ini dan kau bisa pulang dan tidur seperti pasien normal, young lady!


Masih kepayahan aku dengan simbol warna hitam di sekeliling wajah ku – pertanda warna hari ku sedang amat sangat tidak bagus – aku malah dikejutkan dengan warna-warna yang sedikit menyilaukan tapi sebenarnya standar. Terhenyak aku ketika sepinggan kue ulang tahun, lebih tepatnya black forest, sudah berada dalam genggamanku – mungkin prosesnya begini : aku langsung menyosor karena itu kue cokelat dan aku suka, tapi jelas itu bukan untuk ku! Itu ditujukan oleh teman-teman kelas Perancis ku untuk sang guru tercinta : Evi! Sekelas kalang-kabut tidak tahu umurnya karena menyebutkan umur dalam budaya Eropa adalah tidak sopan, sehingga teman-temanku menempelkan angka “17” di kue cokelat yang menggiurkan itu. Mungkin karena Evi est célibataire alias single. Kebahagiaan Evi tiba-tiba menyurutkan ingatanku bahwa sebenarnya hari itu aku sakit. Benar-benar warna kebahagiaan itu ternyata bisa menyembuhkan orang sakit meski dalam bebeberapa menit, setidaknya bisa bekerja sebagai obat penahan sakit. Apalagi ketika teman-teman ku memberikan sebuah kado yang harus di buka à la française alias membuka kado di depan yang memberi. Evi kegirangan kadonya adalah kado yang sangat disukainya. Aku hanya nyengir saja dan bertanya-tanya, dari mana ada ide memberikan lempengan perak itu kepadanya dan ia sangat kegirangan? Surprise yang dibuat sempurna oleh teman-temanku sepertinya berhasil. Kemudian aku mencium pipinya dan mendo’akannya dari dalam hatiku yang paling dalam. Tapi kurasa ia juga sudah bisa menebak aku mendo’akan apa : Ia bisa bahagia dan cantik seperti Isabella Swan (tapi do’a ku bukan itu kok).


Warna ku kembali bergradasi dengan marmer saat ku tahu aku masih belum cukup kuat untuk melakukan apa-apa karena aku makhluk mortal yang sedang dilanda kepayahan alias kesakitan. Aku terus menghabiskan waktu ku dengan minum susu sampai muka ku seperti bola tenis, makan yang banyak – tapi tidak boleh makan seafood dan itu membuatku bermuram durja, karena sahabatku Risna melapor telah membawa setumpuk makanan khas Cirebon dan itu seafood semua dan sudah pasti gagal untuk diberikan padaku! Atau aku membaca buku-buku gendut, sampai Mami ku pusing dan terheran-heran : anak-anak dan suaminya menyukai buku-buku gendut dan memiliki kamar yang sesak dengan buku-buku gendut, meskipun ada beberapa buku langsing. Sampai akhirnya ketika sakitku beringsut pulih, sakit yang lain menimpaku dan itu berlaku pada detik ini : short term memory alias pikun ala remaja! Aku sampai lupa menaruh buku petunjuk hidupku yang posisinya lebih dari sekedar peta bagi diriku – meskipun aku tidak bisa membaca peta karena aku perempuan. Itu membuatku heran. Aku jadi ingat bahwa aku melupakan judul buku yang sangat menarik perhatianku tapi tidak jadi kubeli. Buku tentang sejarah para penghisap darah. Ada dua buku karangan penulis yang berbeda. Mereka mengisahkannya dari sejarah katolik kuno yang dihimpun dari berbagai sumber pada beberapa abad silam. Kurasa abad Wolfgang dan Pachabel masih tergolong abad muda sebelum kelahiran dracula. Sebagian sejarahwan bicara dracula hidup di Mesir, dan negara-negara sekitarnya. Atau Italia. Entahlah, aku jadi semakin geli dan bertekad, besok aku akan menciptakan sejarah makhluk baru : Plankton Penghancur Planet Bumi yang membunuh manusia dengan cara menerkam menggunakan senjata teori konspirasi. Makhluk asing yang berasal dari pesisir Indonesia Bagian Barat! (Sepertinya aku puas, tapi aku sadar akan ada selengkingan teriakan makian dari seseorang di arah belakangku).


Well – tampaknya hari-hariku, minggu-mingguku, bahkan bulan-bulanku, selalu dihiasi dengan sejuta warna dan hiasan yang berpendar dan tergradasi secara acak. Alurnya mengalir pelan bagai sebuah pancaran air yang terus mengalir mengikuti lekuk-lekuk bumi yang melingkar nyaris tanpa menemukan sudut-sudut, tapi memiliki titik ordinat abstrak satu sama lain, mengaitkannya antar titik hingga membentuk satu lingkaran utuh. Lingkaran itu terus berputar, membentuk satu hiasan indah berwarna-warni yang tersusun dalam ornamen mozaik. Melingkar dan terus berputar…Bagai semburat topaz… cokelat, kuning, merah, pucat, dan entah apa lagi…Menemani guratan-guratan siluetku..

Melingkar dalam sebuah lingkaran yang tiada bertepi…

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s