Vaginal Birth : Persalinan Normal (dengan Adegan Drama H+4 HPL, 4 hari bukaan stagnan)

Nggak seru rasanya kalau moment persalinan nggak pake adegan drama. Selalu ada drama di setiap persalinan saya, dari anak pertama, lalu ke dua. Superb!

Setelah dinyatakan hamil oleh dokter di sebuah rumah sakit ibu dan anak yang cukup terkenal namanya di beberapa kota, saya memutuskan untuk kontrol kehamilan rutin di rumah sakit tersebut karena ceritanya ini rumah sakit khusus ibu dan anak, kemudian dokter obgyn nya pun baik dan super ramah. Lanjut lah, pikir saya.

Di kehamilan anak ke dua ini saya cukup hati-hati. Karena saya punya kisah drama yang aduhai di kehamilan anak pertama. Maka dari itu, saya harus memastikan kondisi janin saya ini tidak masuk daftar « gawat janin » (na’udzubillah min dzaalik).

Saya bercerita kepada dokter tentang riwayat melahirkan normal anak pertama blablablabla. Lalu dokter memutuskan untuk memberikan saya antibiotik dengan harapan : pencegahan infeksi pada plasenta dan janin (yang menyebabkan janin kekurangan supply oksigen dan darah jadi beratnya kurang). Dokter juga menganjurkan saya cek keseluruhan plasenta dan janin ke dokter obgyn yang memang ahlinya (bener dong, pasiennya antri 2 jam dan dokternya memang pintar). Beliau cek detail apakah ada lilitan tali pusat, bagaimana letak plasenta, dicek satu per satu organ dalam tubuh janin seperti paru-paru, jantung, lambung, jari jemari, tangan, kaki, kepala dan tempurung, semuanya deh pokoknya sampai jenis kelamin. Dan hasilnya alhamdulillah baik. Pemeriksaan dilakukan saat janin saya 5 bulan.

Mendekati kehamilan bulan ke 9 saya mulai tertarik bertanya : « jadi HPL saya kapan dok? »
Dokter melihat kalender, berhitung, dan keluarlah tanggal perkiraan persalinan. Beliau menghitung HPL saya persis di usia kehamilan 40 minggu, dengan toleransi « keterlambatan » waktu persalinan sampai di usia 41 minggu. Beliau pun melingkarkan 2 tanggal tersebut sebagai penanda HPL pasien.

Usia janin 37 minggu, saya diminta untuk CTG alias cek detak jantung janin. Dokter sumringah karena hasilnya bagus. Hasil USG pun bagus. Jumlah ketuban saya diangka 9. Dokter bilang, ketuban kurang jika berada diangka 7 kebawah. « Berarti saya aman ya dok? » Kata saya. Dokter bilang, « insyaa allah ».

Dari awal kehamilan saya sampai detik-detik menjelang HPL, dokter obgyn terlihat sangat optimis kalau kandungan saya baik-baik saja, dan karena riwayat anak pertama melahirkan normal maka dia meyakinkan saya dengan baik kalau insyaa allah bisa normal. Beliau bilang melahirkan dengan opsi operasi kalau ada indikasi : pembukaan persalinan macet, indikasi gawat janin, ketuban keruh, dll. Jadi selama semua masih baik-baik saja insyaa allah bisa persalinan normal.

Di sisi lain, flashback di kehamilan 34 minggu, saya punya second opinion ke rumah sakit Siloam Hospital, untuk cek kondisi janin dan organ dalamnya, plus memastikan persyaratan melahirkan normal. Qoddarullah saya dapat dokter obgyn yang sekolah lagi di kawasan Salemba-Jakarta Pusat (saya curiga UI hehehe). Beliau menghitung tinggi badan dan berat badan saya. Katanya, kalau saya mau melahirkan normal, BB janin jangan lebih dari 3,5kg karena saya tidak terlalu tinggi. Syarat lain, hasil USG jika terlihat baik, tidak ada indikasi gawat janin atau terlilit tali pusat, insyaa allah bisa melahirkan normal. Terima kasih untuk informasinya, dok🙂

Setiap hasil USG saya minta print out nya. Untuk bukti bahwa semua baik-baik saja.

Pas di tanggal HPL, kehamilan 40 minggu. Dokter menyuruh saya ke RS. Kontrol. Padahal beliau tidak ada jam praktek malam itu. Saya disuruh cek detak jantung janin/CTG di ruang bersalin. Setelah CTG, hasilnya bagus. Tidak ada masalah dengan jantung janin. Bidan tersebut juga bertanya tentang HPL saya dan mengecek perut saya. Katanya, toleransi kehamilan sampai 42 minggu. Jadi kalau sekarang belum mules ya nggak apa-apa. Tapi dari hasil CTG dalam per 30 menit ada 4 kontraksi, katanya.

Di ruang dokter obgyn, saya ditemani ibu saya, melihat hasil USG. Dokter bilang bagus. Sama sekali tidak ada masalah. Kecuali air ketuban agak sedikit ada bintik-bintik (keruh) tapi kata beliau nggak masalah. Lalu ibu saya yang panik karena saya belum menunjukkan tanda-tanda persalinan bertanya : « apa di induksi dok? Biar cepat keluar bayinya karena anak saya sudah berat sekali kalau jalan »

Dokter : « memang rencana saya induksi »

Lalu Dokter cek dalam. Beliau bilang : « sudah lunak »
Benar-benar meyakinkan saya bahwa akan terjadi persalinan normal.

Lalu suami saya dipanggil. Untuk diterangkan soal induksi. Jujur suami saya nggak ridho. Karena dia yakin ketika Allah menakdirkan bayi itu keluar, si bayi akan membuat kontraksi sendiri. Apalagi ini baru HPL. Banyak ibu-ibu di luar sana sudah lewat HPL baru melahirkan, dan semua fine alhamdulillah. Saya hanya disuruh sabar oleh suami. Tapi saya entah kerasukan apa, saya jadi seenaknya sendiri memutuskan untuk mengikuti saran dokter. Saya merasa dokter obgyn ini pro normal. Sementara suami saya sudah curiga kalau saya dipersiapkan untuk operasi cesar.

Malam itu saya di instruksikan induksi. Pesan kamar rawat inap di rumah sakit. Cek darah dan urin. Tapi saya flek. Kabar ini saya beritahukan bidan di ruang bersalin.

Jumat, jam 9 malam, 12 Nov 2015, saya masuk ruang bersalin, obat induksi siap dimasukkan, tiba-tiba hasil CTG : jantung janin 170. Normalnya 120-160. Tidak bisa diberi obat induksi, kata bidan. Kemudian dia melapor ke dokter.

Lalu saya dipasangkan oksigen dan infus. Saya kepo, « Kenapa di infus? » Bidan bilang, « petugas infusnya mumpung lagi datang, ini nggak dimasukin obat apapun kok, biar ibu tidak lemas saja ». Saya cuma mengerutkan dahi, berpikir, mules saja belum kok saya disuruh nambah tenaga?

15 menit kemudian detak jantung bayi menurun, menjadi 160. Tapi masih tinggi. Belum bisa induksi. Saya bilang : « Saya sudah ada flek darah sus. Apa masih perlu induksi? »

Bidan kemudian cek. « Sudah bukaan 1 bu »

Oke saya lega. Saya bilang : « Kalau gitu nggak perlu induksi dan CTG terus. Biarkan pembukaan saya berjalan alami sus. Kecuali ada hambatan ditengah jalan untuk segera diinduksi ya gak masalah »

Bidan diam. « Sebentar ya saya tanya dokter »

Anehnya, setiap per sekian jam saya harus CTG dan hasil jantung bayi normal di angka 140. Entah 5 atau 6x saya CTG. Yang jelas saya nggak nyenyak tidur diganggu bidan untuk CTG. Karena dokternya nelpon bidan terus. Dan berkali-kali saya bilang : « Gak perlu induksi kalau saya sudah bukaan. Saya kan rencana induksi karena dokter melihat di tanggal HPL saya belum ada tanda persalinan »

Tapi bidannya selalu bilang : ini sudah usia kehamilan 40 minggu bu. Blablablabla. Karena saya terus berdebat. Bidannya lelah. « Ibu tanda tangan surat penolakan induksi saja ya. Biar dokternya nggak marahin bidan »

Ya, saya tanda tangan…

Oh ya, saya juga dilarang berjalan-jalan. Bahkan tidak boleh tidur di kamar inap. Hanya boleh berada disekitar ruang bersalin yang sempit. Jadi mau ngotot kaya apa, saya nggak dibolehin jalan-jalan.

Sabtu, jam 6 pagi. Saya cek bukaan. Sudah bukaan 2!
Dokter terengah-engah datang mengunjungi saya. Ngotot menginstruksikan bidan memasukkan obat induksi.

Dokter : « Mumpung jantung janin di angka 140 bu »

Saya : « Tapi saya sudah ada pembukaan dok. Flek juga. Apa nggak boleh membiarkan pembukaan saya alami? »

Dokter diam..
Cek dalam. Dia pasti tahu saya sudah bukaan 2!

« Usia kehamilan ibu sudah 40 minggu. Kelihatan USG ketuban sedikit keruh kan? Ada baiknya kita induksi tapi nanti ditengah jalan kalau jantung bayi tinggi kita stop induksi. Langsung operasi »

Saya : « Kenapa operasi? Nggak bisa stop induksinya saja? »

Dokter : « wah nggak bisa main-main bu. Kasihan bayinya »

Saya : « kalau begitu biarkan pembukaan saya alami dok. Gak perlu induksi. Ditunggu saja sampai pembukaan lengkap »

Dokter diam. Pandang-pandangan dengan bidan.

« Oke. Ibu boleh menunggu. Bapaknya silahkan tanda tangan penolakan induksi »

Langsung bidan spontan nyeletuk : « ibu sekarang boleh jalan-jalan untuk menambah bukaan.
(Rasanya mau nyolot : dari kemaren kemane aje guwe nggak boleh jalan-jalan?! Rembes ketuban juga enggak alhamdulillah)

Setelah sarapan…

Para bidan kembali memohon agar saya jangan pergi jauh-jauh. Kembali 1 jam lagi untuk cek CTG dengan shift pagi. Tapi saya nggak peduli. Saya tetap jalan mondar-mandir dan mengabaikan telpon kamar inap yang berdering. Saya mulai muak dengan prosedur yang berbelit.

Perawat memanggil saya untuk kembali ke ruang bersalin. CTG! Duh mau apa lagi sih?

Alhamdulillah, hasil CTG yang entah kesekian kali ini stabil di angka 140. Saya mulai menampakkan jengah.

« Sus, saya nggak mau induksi. Mau pembukaannya alami saja karena sudah bukaan 2. Lagian ini msh lewat 1 hari HPL. Toleransi bidan sampai kapan? »

« Minggu ke 42 bu. Lagian bayi ibu msh diatas pas cek bukaan. Belum tipis bgt »

« Jadi gimana sus, saya bisa tanda tangan pindah persalinan via bidan di RS ini? »

Bidan kaget. Diam.

« Di meja registrasi kan ada paket persalinan bidan sus? » Kata saya.

Bidan diam. Kembali bertanya, « ibu mau sama bidan? »

« Iya »

« Tapi ibu pasien dokter »

« Emang kenapa? Saya mau normal kok »

« Nanti saya tanya »

—–
Sudah 2 bidan yang saya teror masalah ini. Mereka nggak ngasih jawaban pasti. Akhirnya suami saya tegas : « jadi bidan sini bisa apa tidak? Kalau tidak kami pulang hari ini »

Mereka kaget. Dan bilang : « maaf tidak bisa. Tidak ada bidan yang berani menangani pasien usia kehamilan 40 minggu karena riskan »

Suami saya : « oh riskan. Nggak enak hati ya rebut pasien dokter? Oke kami minta pulang. Bisa saya minta surat2 administrasinya? »

(gue cuma ngakak aja dalam hati alasan bidan di rumah sakit ini sungguh konyol).

« Maaf pak pembayaran tidak bisa via kantor bapak. Karena pasien minta pulang sebelum bersalin. Jadi dikenakan biaya pribadi »

Jujur suami saya nggak terlalu masalah meski sempat kaget lihat nominal angka rupiahnya. Namanya juga rumah sakit komersil. Tapi saya rasanya mau gebrak meja dan bilang : gue dipaksa induksi sama itu dokter juga karena gue belom mules. Pas gue mules bukaan alami kenapa dipaksa induksi dan persiapan operasi? Akad macam apa ini?

Sayang.. Saya nggak bisa jadi Hulk. Cuma mau pulang saja saat itu. Nggak sedih. Muak saja rasanya.

Selesai membayar semua bill, suami saya bilang : « kita kena charge persiapan operasi di kwitansi, Rp300.000 »

Saya juga disuruh tanda tangan ini itu sebelum cabut dari rumah sakit.

Tertulis : diagnosa – ketuban keruh, detak jantung bayi tinggi, pengapuran plasenta, indikasi ketuban hijau dan bayi bab di dalam.

Dan saya harus tanda tangan diagnosa palsu tersebut. Ya saya tanda tangan saja sambil tertawa :

« Sus, hasil USG saya tadi malam bagus loh. Plasenta bagus, ketuban bagus ya paling agak keruh dikit tapi kata dokter nggak masalah. Sisanya pengapuran plasenta dan lain-lain nggak ada »

« Oh mungkin plasenta bagus letaknya bu tapi hasil USG nya mungkin pengapuran? »

« Oh yah nggak apa-apa lah. Tapi diagnosa jantung bayi tinggi coba sus lihat rekap CTG, hanya 1x diangka 170 pas banget disaat saya flek bukaan 1 itu timingnya »

Bidan muda itu kaget. Cek bolak-balik kertas rekap CTG. Dia bergumam kecil, iya bagus.. « Tapi bu ada angka 170 dan 160 »

« Iya cuma 2 lah ya. Sisanya berlembar2 diangka 140 » (entah 5-6x CTG, overdosis sekali).

Bidannya gelagapan bilang iya. Karena ya memang hasilnya bagus. Masa dia mau menentang hati nuraninya bilang yang bukan fakta?

CraZy..
Saya nggak salahin rumah sakitnya serius deh.. Saya yakin saya ditakdirkan dapet dokter obgyn oknum. Karena teman senior saya dihari yang sama, diusia kehamilan 40 minggu belum kontraksi belum flek, induksi. Normal. Di rumah sakit yang sama. Kalau rumah sakit lain? Wah, senior saya berhasil induksi-normal, bahkan disuruh pulang dulu, balik ke RS setelah dia pecah ketuban. Lah wong emang tidak ada indikasi gawat janin gawat bunda juga, mau gimana dong? Tapi saya nggak pilih RS tersebut waktu itu karena tidak terdaftar di list kantor suami. Hiks.

« Jadi alasan ibu keluar rumahsakit kenapa bu? » TAnya bidan itu lagi.

« Saya nunggu kontraksi teratur. Nunggu kontraksi hebat. Baru mau bersalin »

Bidannya bersuara rendah, « kalau sudah per 10 menit sekali pergi kesini ya bu. Atau kalau nggak keburu, ke klinik terdekat dari rumah »

Dia ngomong instruksi ini 2x dengan suara rendah. Disebelahnya banyak tim operasi cesar yang baru saja berhasil cesar, tertawa bahagia berebut gorengan, dan senyum-senyum membuat laporan.

Dalam hati saya berterima kasih, karena bidan muda tersebut masih memiliki nurani seorang bidan, ditengah desakan instruksi dokter oknum..

—-

Malamnya saya ke klinik bidan rekomendasi seorang kenalan. Cek pembukaan. Stagnan di bukaan 2. Air ketuban masih utuh dan ini baru H+2 HPL. Bidan bilang saya harus santai. Masih kontraksi per 30 menit. Besoknya, saya kembali ke bidan di kontraksi per 15 Menit. Masih stagnan di bukaan 2. Padahal saya sudah lelah berjalan mondar mandir, jongkok-berdiri, dll. Kata bidan otot saya tegang. Saya stres. Jadi PR saya : harus relax. Jadi saya mulai menjauhkan pikiran : bayi stres di dalam, ketuban keruh, pengapuran plasenta, bayi minum ketuban, dll dsb.

H+4 HPL, masih kontraksi per 15 menit. Dengan dukungan penuh dari teman-teman ummahaat shaalihat dan lain-lain, saya minum zamzam, zaitun, merangkak, jongkok-berdiri, jalan bolak balik, sambil banyak istighfar. Ashar, saya minta maaf ke suami, ayah, dan adik-adik. Karena merasa banyak dosa. Qoddarullah, langsung saat itu juga, setelah sungkeman minta maaf, saya kontraksi hebat per 10 menit kemudian per 5 menit. Ba’da maghrib, bukaan 5-6. Detak jantung bayi 154. Ba’da isya, persiapan persalinan. Kemudian alhamdulillah melahirkan pervaginam alias normal bok!

Hal pertama yang saya tanya :
« Kondisi ketuban saya gimana bu bidan? »

« Jernih ibu »

« Plasenta saya pengapuran nggak? »

« Bagus sekali ibu mau lihat? »
Lalu saya lihat. Bagus. Licin. Empuk lah.

« Bayi saya apa minum ketuban? »

« Tidak bu » kata bidan.

« Apa dia poop di dalam? »

« Dia poop persis setelah keluar dari perut ibu. Hehehehe »

Alhamdulillah…

———–

Hikmah :

– Tulisan ini saya share bukan untuk menjelek-jelekkan rumah sakit, atau profesi dokter obgyn. Bukan. Serius beneran.

– Saya bukan oknum anti cesarean section alias anti operasi sesar.

– Saya hidup di era revolusi mental pak Jokowi Dodo, bukan di era Dinosaurus, dimana teknologi sudah maju, canggih, mumpuni, meski RI satu masih kalah saing jauh sama teknologi jepang hehehe. Apalagi saya ibu rumah tangga pengguna gadjet. Saya cinta teknologi. Jadi, nggak bener kalau saya di cap anti operasi cesar.

– Saya pasien awam. Non medis. Cuma mantan wartawan pinggir jalan yang pernah ngajar anak-anak SD. Jadi kocak banget kalau saya mau sok pintar daripada obgyn lulusan Unsri, UI, dan PTN lain.

– Di era multimedia seperti sekarang, lucu kalau kita nggak belajar. Nggak perlu ke Gramedia untuk merogoh kocek. Ada beberapa situs resmi yang dikelola dokter dan bidan beneran untuk dibaca. Ada banyak sarjana lulusan keperawatan, praktisi perawat/bidan, dan dokter-dokter teman semasa kita sekolah dulu. Ada kartu indonesia sehat pak Jokowi, BPJS dari Pak SBY, untuk bisa gratis cek ke dokter A, B, C untuk second opinion, third opinion, dll dan bisa mendapat ilmu dari para dokter yang men-check up kita insyaa allah. Jadi, ada sejuta cara untuk belajar tentang kehamilan dan persalinan sebelum due date tiba.

– Membaca terlalu banyak teori juga gak oke, bikin stres sendiri sih kalau saya pribadi. Hehehe. Jadi saya lebih suka membaca secukupnya, lalu bertanya kepada teman-teman medis dan praktisi medis. Biar infonya akurat insyaa allah. Harus berjuang menjadi ibu yang bijak lah di jaman sekarang, jadi nggak asal ngotot.

– Kenapa harus lahiran normal, Gha?

Kenapa ya? Entah lah. Hehehe.. Kan nggak mau kalah sama Kate Middleton. Hahahahaha *toyor *kidding

Persalinan normal padahal sakit banget. Horornya diatas level Annabelle atau Paranormal Activity. Benar2 merasakan antara hidup dan mati. Tapi adalah hak pasien ketika pasien tidak punya indikasi gawat janin, untuk mencoba persalinan normal. Iya dong ya, hehehe. Kecuali, pasien sendiri yang nggak kuat kontraksi terus minta operasi, atau pingsan, atau mata minus tebal, atau ada indikasi2 gawat baik gawat di bayi maupun ibu (ciri-ciri gawat janin atau ibu yang nggak bisa pervaginam bisa tanya dokter lah kalau nggak mau baca di web resmi tenaga medis hehehehe).

– Untuk para dokter, saya mohon dengan hati yang teramat dalam, agar menjadikan profesimu yang mulia, tetap mulia. Jangan kotori profesi muliamu dengan jalan mengambil kesempatan diatas penderitaan pasien. Ingat lah untuk selalu berbuat ma’ruf. Dan berbisnis dengan cara yang halal dan thayyib. Rejeki nggak kemana. Ada banyak pasien pre eklamsia, mata minus tebel, panggul ibu kecil tapi bayi besar, bayi kekurangan oksigen, bayi stress di dalam, ketuban habis, ketuban hijau, dll yang siap di SC. Jadi, tolonglah mereka yang memang membutuhkan SC. Jangan membuat diagnosa palsu untuk pasien yang tidak punya indikasi apa-apa, demi sebuah cesarean section. Ini bisa dikategorikan menodai fungsi asli SC juga. Jadi mencoreng fungsi asli penemuan mutakhir karena bisnis. Please, jangan.

– Sejatinya di otak saya, tidak ada Bidan vs dokter. Yang ada, bidan&dokter menjadi 1 kesatuan utuh yang saling mengokohkan. Mungkin tergantung rumah sakit, mau menjadikan bidan di posisi murni pembantu dokter atau punya hak prerogatif sampai bidan meminta pertolongan dokter. Tapi, bagi saya, rumah sakit yang oke adalah rumah sakit Islam jakarta pusat, dimana para bidan, di ruang bersalin, punya kebijakan yang kuat dalam menangani pasien. Ketika dokter tidak mau lama menunggu persalinan normal kemudian datang instruksi macam-macam, para bidan bisa dengan tegas menyatakan ke pasien : mau ikut atau tidak? Kalau tidak kami bantu pervaginam karena kami yakin ini masih bisa. (semacam menguatkan pasien kalau mau pervaginam). Tentunya bidan di RS tersebut mumpuni insyaa allah. Yang turun bidan senior.
Jadi, mohonlah saling mengokohkan. Bukan membuat jurang…

Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tersinggung. Saya tidak bermaksud menjelekkan nama baik siapa pun. Sungguh.

*jangan tanya RS mana yang ada dokter oknumnya. Saya tidak mau menjelekkan nama baik siapapun. Cuma berbagi kisah saja, agar para ibu / calon ibu, belajar sungguh-sungguh tentang kehamilan dan persalinan, serta bijak memilih tenaga medis pembantu persalinan🙂

*peace, love, and gaul

#pervaginam #vaginalbirth

Koreksi Itu Penting!

Jadi ceritanya saya ini baru sadar kalau kemampuan saya dalam memahami sesuatu atau mempersepsi sesuatu terkadang nggak sejalan dengan maksud sebenarnya yang ingin disampaikan lawan bicara. Akibatnya? Ada kesalahan tafsir kemudian sesumbar informasi minim akurasi alias asbun. Warning pribadi untuk kroscek sesuatu sebelum bicara. Karena segala sesuatu ada hisabnya. Allaahummaghfirlii….

(Sebenarnya cuma mau buang sampah aja disini hehehehehe)

Surat untuk Januari

Surat untuk Januari…

324 bulan sudah ku memijak bumi ini, wahai Januari. Dan 324 kali sudah kita berjumpa. Aku bernapas bebas dan tetap tegar menjalani peran di atas sebuah panggung bernama kehidupan.

Pernah terlintas dibenak selama beberapa masa, bahwa hal-hal yang layak ditunggu salah satunya adalah dirimu, Januari. Karena bagi ku, bertemu dengan mu bagaikan menambah kematangan jiwaku sekaligus mendewasakan penampilanku.

Dulu, setiap kali ada orang membicarakanmu, aku bahagia. Dan namamu sering ku sebut-sebut sebagai salah satu hal yang begitu penting di dalam hidup. Bahkan pernah dirimu ku jadikan sebuah eksistensi dalam hidupku.

Namun, baru ku sadar bahwa bumi yang ku pijak sesungguhnya berputar. Semakin lama ia berputar maka semakin dewasa ia, dan semakin mendekati masa aus nya. Benarkah aku?

Januari, kau tahu dulu aku mencintaimu. Menanti2 kehadiranmu. Mengabadikan momen bersamamu dan teman-temanku. Berbahagia dengan bertambahnya kematangan dalam hidupku.

Tapi, maafkan aku Januari. Kini ku tak lagi sama. Aku yang sekarang bahkan takut melihatmu. Takut membayangkanmu. Takut menghadapimu.

Karena bertemu dengan mu, mereka akan bersorak gembira dihadapanku, namun ketika ku sendiri, aku sadar, kematian mendekatiku.

eghaliter

IMG_3891.JPG

Jerat Pernikahan

Sejenak saya tersenyum membaca beberapa status « Anak Baru Gede » alias remaja tanggung, atau perempuan remaja yang hendak menuju usia dewasa : « Ihhh…suamikuuuu ganteng bangeeeeet » jeritnya pada caption sebuah foto artis pria dewasa. Atau, « met makan calon suamiku » tulisnya pada caption sebuah foto artis pria remaja.

 

Tak heran, menikah menjadi suatu kebutuhan khusus di dalam jiwa masing-masing manusia, termasuk perempuan. Ada banyak hal yang mendorong pernikahan menjadi sebuah cita-cita yang begitu agung untuk dilakukan. Misal, anjuran agama untuk mengikuti sunnah nabi menikah, melestarikan generasi melalui keturunan yang didapat pasca pernikahan, atau yang paling tak bisa dipungkiri : memiliki sahabat jiwa yang mampu mencintai satu sama lain dengan sejuta kebahagiaan batin yang tak tergambarkan.

 

Tapi, disadari atau tidak, diakui atau tidak, cita-cita mulia dan agung tersebut, yang telah dirangkai khusus dengan pesta meriah yang membahana, dengan cincin berkilau yang tersemat di jari manis, dengan foto kemesraan yang terumbar di setiap sudut ruangan, menjadi sebuah kenangan manis yang hanya tersimpan rapi di dalam sebuah album foto berukuran besar. Ketika khayalan telah sirna dan kenyataan semakin jelas, maka si pengantin ini lupa bersyukur terhadap kebahagiaan yang telah diberikan.

 

Di mulai dari kebiasaan buruk yang menengadah perlahan ke permukaan, disusul dengan keletihan di masing-masing pihak, hingga membuat rasa cinta dan sayang hanya menjadi patung di dalam hati. Beku.

 

Di satu sisi, suami mendapati pada kenyataannya perempuan idamannya pemalas dan tak pandai memasak. Di satu sisi lain, si istri mendapati pada kenyataannya suami idamannya bersikap manja, kasar, tempramental, dan hobi bertengkar dengan orangtuanya. Fakta-fakta pahit seperti inilah yang membuat si perempuan merasa pernikahannya tak sesuai kenyataan. Lalu tak mau ambil pusing, ia meminta cerai agar semuanya cepat berakhir.

Image

Ketahuilah, bahwa di dunia ini tidaklah ada satupun pernikahan yang tak ada celahnya. Pasti akan ada pertengkaran, perbedaan pendapat, segudang kekurangan, dan berjuta-juta fakta lain yang baru kita ketahui setelah kita menikah. Tidak ada yang murni sempurna indah di dunia ini, wahai perempuan. Selama engkau hidup, masih akan ada banyak ujian yang datang menghampirimu. Jadi jangan pernah merasa bahwa pernikahanmu abnormal. Tidak, itu normal. Yang abnormal itu khayalanmu yang menghendaki pernikahanmu seperti kisah Cinderella atau Snow White yang berakhir bahagia tanpa air mata. Jadi jika engkau menginginkan pernikahan seindah itu, hiduplah di negeri dongeng, karena ini negeri Sang Khalik, seluruhnya fakta dan bukan rekayasa. Mari bangunlah, wahai perempuan. Dan jangan pernah menyesali pernikahanmu. Sungguh cerai bukan jalan terakhir untuk memecahkan masalah. Sabarlah yang menyelesaikan masalah. Mari bersabar…

Surat dari ku untuk saudari seimanku yang sedang menangis meratapi kekejaman suaminya yang tukang pukul,

18Nov2013, Lebong Siarang, Palembang

Presiden, Rakyat, dan Genocide

Merdeka!

Indonesia negerinya para pencinta demokrasi. Setiap rakyat bebas bersuara mengeluarkan pikiran dan pendapat, termasuk mengkiritik pemerintah dan berdemonstrasi sepanjang hari bahkan berhari-hari. Itu semua sudah memiliki jaminan perlindungan dari Undang Undang Dasar 1945. Jadi, rakyat tidak perlu cemas soal keamanan. Paling yang dipikirkan, apakah pemerintah mau menampung aspirasi rakyat atau tidak. Bukan begitu?

Di tengah menjulangnya gedung perkantoran dan masih maraknya tukang peminta-minta, di tengah padatnya ibukota dan lenggangnya daerah rural / pedesaan, rakyat Indonesia masih berkobar untuk menuntut penanggulangan kesenjangan sosial dan kestabilan ekonomi kepada pemerintah. Rakyat Indonesia juga masih cinta berdemonstrasi di depan istana presiden hingga long march berjam-jam ke kawasan perkantoran para menteri dan wakil rakyat.

Tapi, Indonesiaku, pernahkah ketika anda mengeluh tentang kondisi negeri, anda melihat negeri yang lain untuk membandingkan nasib?

Ya, mungkin anda sering menonton film hollywood atau serial drama korea yang menggambarkan keindahan negara-negara mereka. Atau anda sering melihat kecantikan Eropa di album facebook teman anda. Atau bagi anda yang berduit, anda bisa merasakan jatuh cinta berkali-kali ketika menghirup udara bebas polusi emisi karbon dan bebas sampah di negara maju. Indah memang. Wajar jika melihat negeri ini anda banyak memendam kecewa kepada pemerintah.

Tapi, tahukah anda, wahai Indonesiaku. Bahwa di tengah kemiskinan melanda di negeri kita, di tengah ketimpangan pembangunan yang tak merata di pelosok negeri, kita semua di sini masih merasakan aman. Bukankah begitu?

Setiap pagi, kita sibuk beraktivitas. Petang, kumpul bersama keluarga. Malam, kita habiskan untuk beristirahat. Hari libur, kita agendakan untuk pergi ke tempat wisata dan kuliner. Setiap lima waktu, adzan bebas berkumandang dan kita bisa beribadah di masjid. Para ustadz bebas berceramah di televisi dan radio. Rakyat bebas belajar dan menuntut ilmu agama dan dunia. Romadhon dan Idul Fitri yang meriah setiap tahun. Tertawa bersama teman yang berbeda agama dan menikmati beberapa hari libur untuk menghormati perayaan agama lain. Dan sebagainya. Inilah aman yang harus kita syukuri.

Mengapa?

Karena di negeri lain, ada yang rakyatnya bukan hanya tidak memiliki sepeser uang dan bertahun-tahun tidak makan daging, tetapi juga pemerintahnya bisa dengan asyik membunuh rakyatnya sendiri, hanya karena masalah aqidah. Di negeri lain, misal Suriah, 1300 jiwa termasuk mayoritas anak-anak dan para ibu bisa tewas terbunuh dengan gas beracun yang dilempar ke kawasan pemukiman oleh presidennya (reuters.com, 22 Agustus 2013). Di negeri lain, ratusan perempuan bisa dengan asyiknya diperkosa oleh tentara pemerintahnya. Bahkan di negeri lain bernama Suriah, angka kematian yang diakibatkan oleh rezim pemerintahannya mencapai angka 100.000 jiwa (nytimes.com, 26 Juni 2013).

Di negeri lain, misal Mesir, para demonstran ditembaki secara brutal dari udara dan disiram gas air mata secara massal oleh pemerintahnya, hingga 638 jiwa melayang (cbc.ca, 15 Agustus 2013). Di negeri lain, misal Mesir, ribuan demonstran mengalami luka bersimbah darah, dan terbunuh di dalam camp maupun rumah sakit yang dibombardir oleh pemerintahnya.

Suriah dan Mesir
Adalah dua negara Islam dari deretan negara-negara lain yang sudah lebih dulu mengalami aksi kebengisan pemerintah mereka, yang konon diberitakan media « pemberontak pemerintah ». Mungkin maksud penyebutan yang tidak patut itu adalah « pemberontak kezhaliman rezim pemerintah », yang patut kita ambil pelajaran.

Wahai Indonesiaku, mari, bersama-sama kita dengan sigap mempertahankan rasa aman yang sekarang kita miliki. Rasa tentram di lingkungan negeri. Rasa nyaman di tanah air sendiri. Rasa bahagia dengan kebaikan pemimpin negeri.

Caranya? Mari, kokohkan iman di hati kita masing-masing. Karena sesungguhnya negara-negara yang sedang dibombardir dan dibantai dengan keji itu bukanlah agenda pemusnahan teroris. Tetapi pemusnahan umat islam secara massal. Genocide. Sungguh, untuk memerangi teroris bukan dengan cara memberanguskan negara Timur Tengah atau membuat negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia kita dan Malaysia bersiteru masalah klaim budaya. Sungguh, memerangi teroris adalah memperketat sistem keamanan negara dan membekali masing-masing individu dengan ilmu agama yang benar.

Bom akan terus meledak di Afghanistan, Pakistan, Palestina, Suriah, Mesir, Yaman, hingga menjadi seperti Turki yang sekular, Iran-Irak-Lebanon yang syi’ah, dan sebagainya. Bom akan terus meledak, hingga warga menjauh dari Al-Qur’an atau mati sekalian. Sungguh, tidak ada pertikaian politik yang keji selain perang keyakinan. Pembantai Yahudi yang menoreh sejarah Holocaust berdarah – Hitler pun – tak akan lagi menjadi raja pembunuh di bumi ini. Karena Presiden Suriah dan Mesir, membantai ribuan rakyatnya, di tanah air mereka sendiri. Ironi.

Mari, wahai Indonesiaku. Jangan lagi disibukkan berdemonstrasi menuntut kenaikan gaji. Jangan lagi disibukkan menghujat pemerintah di kolom oponi media massa. Sudah saatnya kita membenahi diri, membenahi agama, mengenal penciptamu, mengetahui kebenaran dan penyimpangan, agar mampu membentuk pribadi bangsa yang beriman, agar mampu melahirkan pemimpin yang cinta kepada rakyatnya, agar Indonesia bisa lebih baik, dan agar Indonesia tidak bernasib sama seperti pemerintahan berdarah Suriah dan Mesir.

#Preparation #PresidentialElection2014
#SyiahBukanIslam #SayNoToWar #Istiqomah #IslamIsn’tTerorist #AgainstDevilWar

20130824-004900.jpg

Pic by : http://www.blogs.rj.org

Catatan Perjalanan Seorang Ibu Muda 3

Banyak sekali ibu-ibu muda yang baru melahirkan atau baru memiliki anak, terlihat sangat eksis di dunia maya. Foto-foto anak merekapun tersemai di mana-mana seperti bibit kangkung. Mulai dari foto bayi merah yang baru lahir, hingga foto-foto balita dengan tingkah laku yang menggemaskan. Mungkin ini bagian dari rasa bahagia yang sudah tak terbendung. Seringkali ada lantunan syukur kepada Rabb di caption foto anak-anak mereka.

« Hati-hati penyakit ‘ain, » kata temanku mengingatkan.

Awalnya setengah percaya, tetapi setelah mendengarkan penjelasan ustadz, aku baru « melek » bahwa perasaan hasad / iri bisa menimbulkan penyakit lewat pandangan mata. Na’udzubillah. Itu mengerikan.

Tapi bukan soal penyakit ‘ain atau hasad yang ingin aku bagikan di sini. Melainkan rasa syukur. Ya, rasa syukur menjadi seorang ibu. Mensyukurinya bukan dengan cara memajang foto si kecil, tetapi benar-benar syukur dengan sebenar-benarnya syukur. Tahapan yang tak mudah untuk menjadi manusia yang pandai bersyukur. Tapi harus berjuang untuk mencapai posisi itu.

Melewati hari-hari yang tak lagi berdua, tetapi bertiga, terasa bahagia namun tidak mudah seperti memajang foto si kecil di dunia maya. Ada banyak hal yang harus diadaptasikan. Hal pertama, beradaptasi untuk berbagi tempat tidur. Akan ada si kecil yang butuh « dikeloni » dan tentu saja jangan sampai alpa. Jika alpa? Akankah si kecil tergencet ibunya? Kasihan sekali jika nasib si kecil berakhir seperti ayam penyet di warung makan.

Hal ke dua, berbagi waktu. Hal ini butuh perjuangan adaptasi. Mau tak mau, manajemen waktu sangat penting sejak ada si kecil. Jika dulu bisa menentukan sesuka hati kapan akan melakukan ini dan itu, kini tak akan bisa lagi semrawut. Harus ada jadwal pasti untuk merapikan suami pergi ke kantor, membuat sarapan, memandikan si kecil pagi, menjemur si kecil, masak, dan lain-lain. Jika masih semrawut, suami mungkin akan ke kantor dalam kondisi perut lapar dan si kecil ketinggalan sinar matahari pagi. Tentu ini hal yang menyedihkan. Dan yang tak boleh dilupakan adalah, si kecil selalu terbangun di waktu malam per satu atau dua jam untuk menyusu. Sungguh spektakuler bukan?

Hal ke tiga, berbagi kehidupan. Ini hal yang ditakutkan oleh sebagian perempuan yang cinta kebebasan. Malas berbagi kehidupan, karena malas untuk tidak menjadi egois lagi. Tapi inilah fitrahnya kehidupan seorang perempuan. Setelah berbagi kehidupan dengan seorang pria, saatnya berbagi kehidupan dengan si kecil.

Akan menjadi saat-saat yang dirindukan ketika kita sebagai anak sakit, kita dirawat oleh ibu kita atau ketika istri sakit, suami lah yang merawatnya. Tapi, satu hal yang luar biasa ketika menjadi seorang ibu merangkap istri adalah ketika kita sakit, tidak ada kata « cuti » agar bisa dirawat. Bagaimana bisa? Karena ketika kita sakit, kewajiban menyusui harus tetap terlaksana. Begitupun kegiatan mengasuh si kecil dari A sampai Z ketika suami sedang di kantor. Membuatkan makanan untuk suami dan si kecil, dan lain-lain. Mungkin hari kemerdekaan seorang ibu adalah akhir pekan, ketika si kecil sibuk berduaan bersama ayahnya. Kecuali ibu yang memiliki baby sitter. Mungkin si baby sitter yang pendiam itu bisa menangis sesenggukan di kamarnya jika dia harus merangkap juga sebagai asisten rumah tangga. Hahaha.

Hal ke tiga, berbagi jiwa. Bagiku ini seperti bahasa kalbu. Atau mungkin bahasa telepati. Ya, seorang ibu wajib mengetahui apa yang dirasakan oleh si kecil yang hanya bisa menangis. Sensitifitas berperan penting di sini. Jika tidak punya belilah « radar » di toko terdekat. Bahkan, ketika otak sudah tak sanggup mencerna keinginan si kecil, amarah seringkali mencuat dibarengi dengan perasaan lelah dan kurang tidur. Sensitifitas, anugrah sekaligus petaka bagi seorang ibu. Anugrah karena menjadi hal menakjubkan jika si ibu bisa membedakan tangisan bayi lapar, bayi masuk angin, bayi ingin ganti popok, dst. Tapi juga petaka ketika si ibu tidak mampu menahan amarahnya. Bisa-bisa, si kecil menjadi sasaran empuk untuk meluapkan emosi. Jangan. Jangan seperti itu. Jika benar-benar tak mampu menahan amarah, wudhu pun tak mau, makan saja yang banyak. Insyaa alloh produksi asi meningkat.

Hal ke empat, berbagi ilmu. Ini kondisi yang mengkhawatirkan ku. Ilmu dangkalku harus segera di dongkrak. Jika tidak? Aku bisa merusak generasi islami. Na’udzubillah.

Layaknya seorang guru, ibu harus memperkenalkan banyak hal kepada anaknya. Mulai dari mengenalkan tauhid (siapa Rabb nya?), akhlaq yang baik, tata cara ibadah, dst. Belum lagi perkara duniawi, seperti harus belajar ciri-ciri penyakit ini dan itu, makanan sehat dan tidak sehat, obat mana yang harus dikonsumsi, dst. Harus cerdas ternyata menjadi ibu. Lalu, jika belum cerdas bagaimana? Jangan patah semangat untuk belajar. Dan berhentilah berharap Doraemon akan menolongmu menjadi pintar, karena itu syirik.

Hal ke lima, berbagi kemandirian. Tidak boleh lagi ada kata « rindu rumah orang tua » ketika merasa lelah mengurus anak. Tidak ada lagi aksi kabur ke rumah orangtua hanya untuk mendapatkan ketenangan si kecil di urus neneknya. Bukankah kita dulu sudah banyak menyulitkan ibu kita? Atau mungkin perangai kita lebih rewel dari pada anak kita? Rasanya memilukan jika aku harus melemparkan kewajiban asuh anak kepada orang tua yang sudah tua, meski tak lama. Ada hal yang menyentuh, yaitu nasehat seorang ustadz kepada kami : « Janganlah durhaka. Menyusahkan ibumu dengan anak-anakmu setelah ia bersusah payah membesarkanmu dan adik-adikmu. Kecuali jika ibumu yang sangat ingin merawat anak-anakmu untuk memenuhi kepuasannya sebagai seorang nenek. »

Semoga aku hanya mengunjungi orangtua dikala rindu. Atau dikala mereka sangat ingin bertemu dengan cucu mereka. Bukan dikala lelah dengan rutinitas sebagai ibu lalu melimpahkannya kepada orangtua yang sudah tua.

Eghaliter
(Petualangan babak awal : satu tahun bersama Ashilah Kaysaa Syah)

Teknologi Permainan yang Memicu Maut

Dzuhur, awal Mei 2013, di lantai dua sebuah ruang tindakan rumah sakit besar di kawasan Tangerang Selatan. Satrio diantar ibunya dan seorang perawat memasuki ruangan yang cukup dihuni oleh dua orang pasien. Bocah laki-laki berusia tiga tahun itu dibaringkan bersama dengan balutan selang infus.

« Kalau cairan infusnya sudah sampai batas garis yang saya coret ini, beri tahu saya. Saya di ruang sebelah, Bu » kata perawat laki-laki itu kepada Ibu Satrio.

Ada perasaan cemas yang terbersit di wajah cantik Ibu Satrio. Sembari mengambil roti untuk anaknya, ia masih sempat tersenyum pada saya. Kami persis berada bersebelahan. Di sebelah kasur Satrio adalah kasur keponakan saya yang juga sedang di infus.

« Ayo makan nak rotinya. Diisi ya perutnya, » katanya lembut pada Satrio.

Satrio menggeleng-gelengkan kepalanya. Lemas. Dan tidak punya selera untuk makan kecuali hanya satu sentimeter roti yang tergigit. Wajahnya lesu dan sesekali ia batuk.

Kemudian datang deorang perawat muda membawa beberapa perlengkapan. Darah Satrio akan diambil untuk dicek di laboratorium. Namun Satrio mulai ketakutan. Ketika darah diambil ia mengejangkan seluruh tubuhnya dan menjerit sekeras-kerasnya.

« Jangan pegang! Jangan pegang! » rintihnya.

« Ayo pintar ini semutnya gigit yah. Sebentar yah semutnya mau gigit, » bujuk perawat.

« Jangan pegang! Jangan pegang! » rintihnya lagi sambil menghentakkan tubuhnya diatas kasur pasien.

Ibu Satrio tampak tenang membujuk anaknya yang sedang ketakutan.

« Ini Mama, nak. Tidak apa-apa yah » bujuknya.

Satrio menangis. Sedikit sample darah telah diambil lalu perawat pergi meninggalkan mereka. Tetapi Satrio masih menangis sambil merintih. « Jangan pegang… Jangan pegang… »

Hati saya mulai bicara. Apakah Satrio trauma?

« Anaknya sakit apa, Bu? » tanya saya penasaran.

« Dipukul sama temannya, » jawabnya.

« Dipukul bagaimana? » tanya saya heran.

« Saya lagi masak. Tiba-tiba tetangga lapor anak saya dalam kondisi lemas dan menangis. Awalnya dia main dengan teman-temannya di dalam rumah si pelaku. Main permainan sejenis « smackdown » di playstation. Lalu mereka ramai-ramai memegangi tubuh Satrio. Ada yang memelintir kedua tangannya. Ada yang menendang dan memukul dengan keras perutnya, » tutur Ibu Satrio.

« innalillahi Anak usia berapa, Bu? Lalu kondisi tubuhnya bagaimana setelahnya? » tanya saya tercengang.

« Mereka usianya diatas Satrio. Entah berapa orang. Saya tidak sadar saat dia pulang dari rumah pelaku. Saya kira hanya keseleo tangan karena dipelintir kedua tangannya. Saya urut selama tiga hari. Tetapi setiap saya bukakan baju, dia menjerit kesakitan. Ternyata setelah saya cek, dibawah lengannya memar-memar. Dan perut bekas tendangan dan pukulan terasa mengeras dan memar. Suhu badannya tinggi. Sekarang lagi menunggu hasil pemeriksaan dokter, » jelasnya.

« innalillahi, Kok bisa anak tetangga berprilaku ekstrim? » tanya saya menahan napas karena terlalu sulit untuk menyembunyikan kekagetan.

« Anak tetangga saya sangat hobi main playstation semacam itu. Mungkin teraplikasi dilingkungan pertemanannya dia pikir mungkin seru. Sebelumnya juga sudah ada korban. Tetangga juga. Memar-memar, » ujar Ibu Satrio.

Pihak orangtua si pelaku, menurut Ibu Satrio, sudah bertanggung jawab mengantarkan Satrio ke klinik dokter. Di sana diberikan obat penurun panas. Tetapi Satrio tak kunjung membaik. Kini Ibu Satrio sedang menanti-nanti hasil visum dokter. Dan mengantri untuk mendapatkan kamar rawat inap kelas 2 atau 3.

Mungkin ini hanya sebuah contoh kecil dari sekian banyak dampak buruk media yang menyajikan permainan yang tak layak dikonsumsi oleh kejiwaan anak. Mereka yang masih sulit membedakan benar dan salah, baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, seperti « terjerumus » ke dalam aktifitas yang beresiko tinggi. Mungkin bisa dikatakan berbahaya. Berbahaya untuk perkembangan imajinasi dan kreatifitas anak.

Tentunya hal yang melatarbelakangi kekerasan antar anak ini sebagian besar merupakan tanggung jawab para orang tua. Orangtua lah yang memiliki peran penting, sebagai penyaring. Penyaring apa yang akan dikonsumsi oleh anak. Bukan hanya makanan untuk perut mereka. Tetapi juga makanan untuk otak dan jiwa mereka. Mereka butuh dibimbing, perihal permainan apa yang boleh mereka ikuti dan apa yang terlarang. Perilaku seperti apa yang harus mereka tiru dan apa yang terlarang. Ini semua seperti sebuah lingkaran sinergi. Jika satu rusak, maka rusak lah semuanya. Jika pengawasan orangtua buruk, pemilihan media permainan yang buruk, tentu buruk pula yang akan diaplikasikan oleh anak. Tentunya itu semua tak lepas dari andil pemerintah dalam menyaring berbagai arus informasi dan konten media yang masuk ke masyarakat.

Maka, lindungilah anak-anak kita dari hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat. Era tekhnologi saat ini tidak murni seluruhnya positif, bukan begitu?