Archive | décembre 2007

Gelap! Adakah Solusi?

Ini adalah tulisan ku untuk comment si bungkus terasi berwarna HITAM..

Seperti pemikiran para raja-raja penguasa terhadap sebuah bangsa dan pertanyaan-pertanyaan sinis seorang berbangsa yang nyatanya seperti tak berbangsa. (pertanyaan? memang mereka bertanya-tanya seperti anda yang bertanya apa arti sebuah bangsa?). GELAP

Perlu di garis bawahi bahwa hal yang paling mendasar untuk saat ini bukanlah apa arti sebuah bangsa. Melainkan, apa makna sebuah bangsa pada diri masing-masing manusia yang menyatakan diri nya berbangsa?

Pada dasarnya pembentukan sebuah bangsa adalah gagasan yang menakjubkan sekaligus beresiko tinggi (high risk). Bagaimana tidak? Untuk membentuk « satu kesatuan yang utuh » (seperti yang anda katakan dalam tulisan ini), bukanlah hal yang sulit jika kita memakai pemikiran yang logis. Apa yang membuat ratusan juta orang bersatu jika bukan karena kata CINTA TANAH AIR??

Dan sepatutnya yang anda tanyakan adalah CINTAKAH ANDA TERHADAP TANAH AIR (mungkin ini yang diteriakkan oleh Soekarno : NASIONALISME)?? Karena dari persepsi saya terhadap tulisan ini, anda lebih condong menyalahkan para raja-raja pemilik tahta nusantara (pemerintah bobrok di negara demokrasi). Padahal, untuk membenahi moralitas, kepedulian, solidaritas, dan rasa kemanusiaan yang tinggi di dalam sebuah bangsa, beranjak dari akarnya. Katakanlah seperti pohon. Jika anda ingin membunuh sang mahkota, alangkah baiknya anda cabut dari akarnya, karena jika anda hanya mengambil mahkotanya saja, kelak mahkota-mahkota baru yang jauh lebih dahsyat akan tumbuh dan berkembang seiring waktu yang bergulir kencang dan tajam.

Jika anda bertanya-tanya PENTINGKAH SEBUAH BANGSA? Tentu jawabannya ya. Dan hal itu tak perlu dipertanyakan. Kesatuan adalah sebuah kebutuhan bagi zoon politicon. Adalah rugi apabila manusia yang dinobatkan sebagai mahkluk sosial lari dari sebuah kesatuan.

Siapa yang peduli dengan kesatuan? KITA. Bercerminlah pada diri kita. Cintakah kita pada sesamanya? Cntakah kita akan rasa persatuan dan solidaritas? Jika ya. Patutlah sekiranya para penguasa tahta nusantara « remuk » karena malu…

Nasionalisme ?
Nasionalisme untung saja tipis, bukan tidak ada sama sekali. Jangan salahkan siapa-siapa jika nasionalisme kita menipis layaknya lapisan ozon di utara bumi akibat pemanasan global. Lalu, apa yang menyebabkan nasionalisme melemah? KURANGNYA RASA PERCAYA. Itulah yang saya amati selama ini. Kurang percaya pada sebuah kualitas. Padahal kualitas itu titik tolak sebuah kebanggaan, bukan begitu? Minimal kualitas adalah tombak dari sebuah kompetisi positif : Semangat!

Siapa yang menyebabkan segala sesuatu dari negeri ini jadi tak terpercaya? Bangsa ini sendiri. Bukan ia, mereka, atau anda. Kenapa? karena para indovidu masih cinta akan budaya malas dan pasrah. Katakanlah tidak tangap!. Tak berpikir imbasnya akan seperti apa, baik dari segi politik, sosial, budaya, EKONOMI, ataupun MEDIS.

Bukan saatnya untuk duduk, membaca, berdiskusi, dan mencari-cari kesalahan dengan berjuta-juta pertanyaan kritis dan sinis tak solutif. SAATNYA BANGKIT DAN BERBENAH. Kritikan tak selalu membangun jika tak ada kata GERAK!

Sekiranya anda dan saya, dan mereka harus BERGERAK setelah kita mengritik panjang hingga mulut berbusa..

Well, saya harap si unyil yang membaca komen ini segera membalasnya…

hehe.. saya kangen sama dia…

kangen pengen ngomelin dia dan ktawa2.. hehe

Publicités

Hanya DIA Yang Kuasa

Tak kuasa aku menahan haru, bahkan lebih dari itu. Sekitar dua bulan lalu, Mario masih seperti orang-orang yang diberi kenikmatan. Nikmat Sehat! Kini ia terkulai lemas dalam sebuah ruang ICCU. Kedua tangannya diikat kain putih. Kakinya bergerak-gerak sebagai tanda isyarat. Rambutnya telah habis dipangkas. Persis di atas ubun-ubunya, terbalut kainperban putih tebal. Begitu pun dada sebelah kirinya, dibalut perban dan dialiri beberapa selang putih panjang. Urat nadinya telah habis digerogoti jarum suntik dan selang-selang. Mesin seukuran microwave itu masih menunjukkan aktivitas jantung yang mendekati normal. Tiap sekian menit ia berbunyi.

Mata Mario tak lagi berukuran sama. Satu matanya lebih besar dan juling. Penglihatannya agak rabun. Suara pun tak sanggup untuk dikeluarkan. Ia hanya menggerak-gerakkan mulutnya ke kiri dan ke kanan, mengatup-ngatup tak jelas. Air mata itu membasahi mata yang sayu. Letih terlihat.

Mario telah dua kali menjalani operasi. Ia divonis menderita tumor otak. Sebelumnya ia sudah menjalani operasi di negeri Jiran, namun itu tak menjamin lama. Rumah Sakit Mitra Kemayoran menyatakan, masih ada tumor yang tersisa, bahkan sisa itu semakin membesar. Tak ada tindakan yang berarti dari para tim medis. Mereka justru memasukkan beberapa obat ke dalam tubuh Mario. Jika tak cocok, ganti dengan obat lain. Benar-benar penderitaan dan percobaan para medis.

Mama Mario menitikkan air mata. Sebelumnya ku lihat mata kedua orang tuanya teramat sayu dan bengkak. Terutama sang Mama. Ia tak tidur memikirkan Mario, anak sulung lulusan STAN jurusan pajak yang telah bekerja di sebuah daerah di tanah air. Mario, tumpuan berbagai harapan, kini tak berdaya oleh sebuah takdir. Kedua adiknya pun hanya bisa pasrah.

 » Ya allah ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Kebaikan dan Musibah. Ampunilah dosa hamba-MU Mario. Berilah ia ketabahan, kesabaran, dan kekuatan. Tabahkanlah hati para keluarga, sanak saudara, dan kerabat. Mungkin hamba-Mu ini sangatlah kuat dan tegar, sehingga Engkau mengujinya dengan ujian yang lebih. Sesungguhnya tak ada satu ujian pun yang Engkau berikan di luar batas kemampuan hamba-Mu. Semoga ujian ini adalah bentuk rasa cinta-Mu pada Mario. Agar Mario dapat lebih mencintai-Mu, mencintai-Mu, mencintai-Mu. Amin »

Sang Mama kembali menitikkan air mata setelah ku bacakan doa untuk kakak sahabat ku itu. Aku pun keluar dari ruangan transparan itu. Mario terus di semangati oleh Sang Mama. Cahaya harapan tampak redup di mata mereka semua ketika dokter mengatakan sudah angkat tangan.

« Dokter kok kaya gitu? » kata Tika dan Tara bersahut-sahutan. Aku pun tak suka dengan pernyataan yang seperti itu. Merujuk ke rumah sakit lain pun tidak dilakukan oleh pihak rumah sakit. Keluarga Mario pun bertambah panik. Tampak sang Papa menunduk. Ia menangis. Sahabatku, Ria, adik pertama Mario, hanya bisa pasrah. « Hibur Papa mu, Ri, » kata ku. Ria pun tak sanggup.

Ketika mereka ingin segera merujuk Mario ke Malaysia, biaya pesawat pun tak bisa berbelas kasih. 250 juta! Mereka berusaha menenangkan hati masing-masing yang carut marut. Kami tak bisa apa-apa. Tak ada yang bisa kami berikan selain do’a memohon ampun untuk keluarga mereka. Agar Dia Sang Pemilik Cinta dan Yang Kuasa dapat segera mengangkat kelamnya hari ini dengan segera. Amin

Kembali Untuk Berbagi

Di suatu malam, sebuah pesan singkat datang. « Assalamu’alaikum, ukhti. Diwajibkan kehadirannya pada kajian dan syuro alumni Rohis SMA kita pada Selasa, 25 Desember 2007 pukul 8 pagi di Al-Arif. Hal ini terkait dengan kritisnya kondisi Dakwah Sekolah kita. »
Aku yang sedang tidur-tidur ayam tertegun membaca kalimat yang seolah-olah bergetar dan panik. « Ada apa dengan Aktivis Dakwah Sekolah (ADS) kami? » kata ku sambil terheran-heran. Tiba-tiba jantung ini berdegup tak karuan.
« Ming. » ku panggil adik ke dua ku yang saat itu sedang meneguk segelas air. « Apa? ». « Coba kamu ceritakan bagaimana keadaan ADS di SMA ku saat ini, » tanya ku harap-harap cemas. Bagaimana aku tidak setengah panik? Sudah dua tahun aku tak tersentuh dengan kabar perkembangan sekolah kami. Hal itu disebabkan oleh terutama masalah jarak. Aku yang sekarang sudah bisa dikatakan hampir menetap utuh di Jatinangor, karena padatnya perkuliahan dan organisasi di sana-sini. Sementara itu, Jakarta hanyalah kota pelarian ketika aku hampir pingsan menghadapi « deadline » tugas kuliah dan program kerja organisasi.
Mata Ming menerawang ke langit-langit rumahku yang berwarna putih kekuningan. « Tahun lalu, ketua Rohisnya sama sekali nggak mencerminkan perilaku seorang ikhwan Rohis, » kata Ming sambil terus berpikir. « Maksudnya? » kata ku semakin heran. « Yah, sama sekali nggak terlihat seperti layaknya ketua Rohis. Dia tertawa bebas ke siapa saja, baik kepada sesama ikhwan maupun akhwat. Susah digambarkan lah. Dia terlihat berbeda. Memang kenapa? » Ming balik bertanya. Aku masih berpikir, terlalu banyak yang ku pikirkan sampai aku bingung, apa yang sedang ku pikirkan.
« Maksudnya nggak menjaga hijab? » kata ku menerka. « Jaga hijab? » Ming termenung untuk beberapa saat. Aku semakin mengerutkan kening. Lama sekali adik ku ini berpikir, kata ku dalam hati. « Jaga hijab sih masih. Tapi yah, begitu deh. Different, » katanya sambil tersenyum kecil. « Tapi kalau ketua yang sekarang bagus kok, berwibawa, » katanya melanjutkan.
Awalnya aku tak mengerti pada jawaban adik ku. Aku bertanya keadaan ADS sekolah ku secara keseluruhan, tetapi dia malah menggambarkan sosok pemimpinnya. Setelah diam beberapa saat aku mulai mendapatkan makna dari jawaban Ming. Figur sebuah organisasi tercermin dari figur atau sosok pemimpinnya!
Dengan cepat aku mengambil handphone ku yang tergeletak di atas kasur. Aku mengetik sebuah pesan singkat untuk Anggi. « Ke Al-Arif nya bareng aja. Mau berangkat jam berapa? ». Tak berapa lama handphone ku berdering. « 7.30 kita berangkat. Aku yang ke rumah mu, » balas Anggi.
***
« Ai! » ada suara teriakan dari lantai satu. Aku yang sedang bersantai-santai langsung cepat-cepat mengemas barang-barang setelah aku tahu Anggi sudah menunggu di depan pintu rumah ku. « Hanif, bilang kak Anggi, tunggu sebentar! » kata ku sambil merapikan jilbab. Seharusnya pukul 7.30 aku sudah rapi, namun beruhubung gas di rumah tiba-tiba habis saat mami memasak sarapan, terpaksa aku terlambat dengan janji. Anggi menunggu sekitar kurang lebih 15 menit. Bahkan, dia mengirim pesan singkat pada ku yang mengatakan bahwa panitia lain sudah tiba di Al-Arif, karena dia malas menemuiku ke lantai lantai dua.
« Afwan, Gi, » kata ku sambil menjelaskan panjang lebar kendala yang membuat aku terlambat pagi ini. Di sepanjang perjalanan, kami mulai membicarakan tentang situasi ADS sekolah kami yang dibilang sudah kritis. Berdasarkan informasi yang Anggi dapat, selama ini ADS SMA kami sangat kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu, acara-acara dakwah yang mereka laksanakan tak lebih hanya acara belaka tanpa menghasilkan sebuah « cantolan » yang mengena di hati para pesertanya. Sebegitu kritiskah?

***
Kami memulai kajian dengan pembacaan tilawah yang menyejukkan hati serta tausyiah yang berusaha membangkitkan semangat para pejuang dakwah. Pada mulanya ini hanyalah ajang silaturahim dan reuni antar alumni, namun siapa sangka pada akhirnya akan berakhir dalam syuro (rapat) krusial?
« Apakah antum tahu kondisi dakwah kita saat ini? » suara kak Falaq terdengar lantang dan bergetar. « Apakah antum tahu bahwa dalam satu kelas saja terdapat lima orang kafir? » Pertanyaan kak Falaq membuat semua yang ada dalam forum tersebut tertegun dan terheran-heran. « Coba bayangkan, berapa persentase mereka secara keseluruhan jika antum hitung? » tanya kak Falaq kembali. « Sekitar 12,5%, » jawab seorang akhwat sambil menghitung lewat kalkulator handphonenya. Semua semakin tertegun dan berpandangan. « Dengan kondisi seperti ini, antum ke mana? Saat syi’ar sekolah membutuhkan antum, antum di mana? Antum sibuk mengemban amanah sebagai Aktivis Dakwah Kampus (ADK), sehingga antum jarang menengok sekolah ini. » Suara kak Falaq semakin menggebu-gebu seolah melibas habis hati kami yang diam. Semangat yang diselimuti keprihatinan tak berakhir pada kak Falaq. Dini menyerukan pada semua yang ada di forum agar tak membahas alasan-alasan para ADK yang tak sengaja lupa dengan almamater SMA mereka. « Ini bukan saatnya membahas ke mana saja kami pergi, melainkan langsung membahas solusi apa yang terbaik untuk kondisi yang sudah kritis ini, » suara Dini tampaknya berhasil menyalakan kobaran semangat kami. « Sudah saatnya kita menjemput bola, bukan menunggu bola itu datang, » kak Soraya memulai solusinya. Setelah itu, banyak ide-ide berterbangan dalam syuro tersebut. Mereka semua terpacu. Mereka semua bangkit dengan pemikiran-pemikiran yang solutif. Syuro pun menemui titik akhir sekaligus titik permulaan kami, setelah Iqbal memulai solusinya. « Jangan samakan praktek syi’ar di kampus dengan syi’ar di sekolah kita, karena itu adalah dua hal yang berbeda. Sebelum kita bergerak, alangkah baik apabila kita, para alumni, membuat tim building. » Pemikiran itu benar-benar menjadi pemikiran terakhir. Semua shiqoh (setuju) dengan solusi itu, meskipun ada lontaran penyesalan yang samar, « Seharusnya para pengurus yang membuat tim bagi kami, bukan kami yang membentuk tim kami secara mandiri dalam keadaan darurat. » Mungkin sudah saatnya kami kembali untuk berbagi dengan dakwah sekolah yang tertinggal.

***
Bersambung dengan Judul « Kembalinya Semangat Baru »

Mereka yang Terkotak-Kotak

 

Berdasarkan sebuah petunjuk hidup dikatakan, akan ada 73 golongan (tak usah saya perjelas golongan apa) di muka bumi ini setelah khalifah ummat terakhir wafat. Dalam kenyataannya, begitu banyak golongan yang tersebar di pelosok negeri ini. Banyak di antara mereka yang terciri dengan kostum ataupun ucapan. Bahkan, di antara mereka, berusaha membuat sebuah pagar dengan garis putus-putus sebagai hijab antara golongan mereka dan golongan lain.

Masing-masing dari mereka menyembah Pencipta yang sama. Hanya satu pencipta. Dan dengan hati ringan mereka akan berkata pada penciptanya « La ilaa ha ilaa anta! ». Meski terlihat sederhana, namun ini adalah alasan kuat yang mengisyaratkan, bahwa sesungguhnya mereka, kami, dan semua orang adalah satu. Satu keyakinan, satu persaudaraan, dan satu perjuangan melawan yang bathil.

Lantas, kotak yang diciptakan oleh masing-masing mereka kian hari kian tebal dan kokoh. Apa alasan konkrit dari mereka untuk menciptakan kotak-kotak itu? Perbedaan persepsi? Perbedaan Fiqh? Tak jelas apa akar dari segala akar yang menjadi landasan utama mereka mengotaki diri mereka, begitu pun yang lainnya.

Tidak cukupkah dua penuntun hidup manusia yang diturunkan ke muka bumi ini dari Sang Pencipta mereka menyatukan mereka?

What’s Deadline Today?

 

What’s deadline today? Pertanyaan yang begitu akrab bagi kalangan mahasiswa jurnalistik. Mereka, para akademisi, sekaligus para anjing penjaga (ini menurut teori kuno, watchdog), melontarkan pertanyaan itu seraya menusukkan tombak ke ubun-ubun mereka.

Tak sedikit yang berkeluh kesah. Tak sedikit yang menyesali kesulitan profesi di negara yang konon menyebutkan diri sebagai negara demokrasi. Tak sedikit pengorbanan yang dilakukan para calon pilar ke empat demokrasi, sebut saja The Fourth Estate.

Ketika sekian banyak dari mereka berteriak seolah meminta ampun kepada deadline yang menggerayangi tubuh mereka, siapa yang akan bergerak sebagai manusia paling tangkas dan tak gentar menghadapi kemelut dunia?

Akan banyak rakyat yang terlantar. Akan banyak petinggi-petinggi negara yang tak lagi merayap menuju kebohongan, tetapi langsung terbang bebas tanpa sang anjing penjaga yang seharusnya menerkam mereka ketika mereka berusaha mencuri « padi » rakyat-rakyat miskin dan memereteli kesejahteraan yang seharusnya dicapai semua kalangan, terutama mereka yang tak pernah merasakan nikmatnya kekayaan alam di ibu pertiwi.

Teruslah berdiri tegap para jurnalis. Teruslah berdiri dalam idealisme kalian. Dan teruslah berjuang tanpa putus asa dan berkata « WHAT’S DEADLINE TODAY »?

Cinta yang Tiada Akhir

Wajah perempuan itu tampak cantik bercahaya. Tutur katanya lembut dan penuh keluguan. Beberapa teman mengatakan bahwa ia tampak seperti seorang malaikat yang di atas kepalanya bernaung lingkaran emas yang terang benderang. 

Namanya Ren, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Semua orang tampak mencintainya. Ia mudah bergaul dan hanpir tak pernah terlihat menaruh rasa benci dan dendam. Ia selalu tertawa riang bak tak ada aral melintang dalam alur hidupnya.

Ren, salah satu hamba Allah yang sangat dicintai Allah. Ia dirahmati fisik yang sempurna. Ia adalah seorang manusia yang difirmankan Allah sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya, bahkan para malaikat pun bertanya, mengapa manusia menjadi makhluk yang paling tinggi derajatnya? Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.

Namun aku yang sebagai manusia, sama seperti Ren, merasa sangat sedih. Aku sedih dengan Rabb ku, dengan cinta yang terus menerus mengalir kepada Ren, tanpa Rabb kami meminta Ren untuk membalas cintanya. Hati muslim mana yang tak terenyuh dan hancur mendengar gadis seperti Ren nyaris tak pernah melakukan shalat kepada Sang Khalik yang mencintainya dengan Segala yang Dia Miliki??? Tak ada niat tulus dari Ren untuk mencoba berkomunkasi dengan Sang Pemilik Cinta sebanyak 5 waktu.

« Ren, mengapa tak kau serahkan segenap cinta mu pada Sang Pemilik Cinta yang telah memberikan nafas dan ruh dalam tubuh mu?? Mengapa tetap kau lakukan zina dengan kekasih mu, padahal Rabb Maha Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui?? »

Aku terpaku untuk beberapa waktu lamanya dan hati ku bergelimang duka. Aku mencintai Rabb ku, dan sangat menyayat ketika ku tahu teman ku Ren berbuat demikian pada Pencipta kami…

Ren, dengarkan lah pinta ku.. Sesungguhnya Allah tak pernah rugi, tetapi kamu yang akan merugi ketika Yaumul Hisab kelak.. Ren,, Allah masih mencintaimu Ren….