Kembali Untuk Berbagi

Di suatu malam, sebuah pesan singkat datang. « Assalamu’alaikum, ukhti. Diwajibkan kehadirannya pada kajian dan syuro alumni Rohis SMA kita pada Selasa, 25 Desember 2007 pukul 8 pagi di Al-Arif. Hal ini terkait dengan kritisnya kondisi Dakwah Sekolah kita. »
Aku yang sedang tidur-tidur ayam tertegun membaca kalimat yang seolah-olah bergetar dan panik. « Ada apa dengan Aktivis Dakwah Sekolah (ADS) kami? » kata ku sambil terheran-heran. Tiba-tiba jantung ini berdegup tak karuan.
« Ming. » ku panggil adik ke dua ku yang saat itu sedang meneguk segelas air. « Apa? ». « Coba kamu ceritakan bagaimana keadaan ADS di SMA ku saat ini, » tanya ku harap-harap cemas. Bagaimana aku tidak setengah panik? Sudah dua tahun aku tak tersentuh dengan kabar perkembangan sekolah kami. Hal itu disebabkan oleh terutama masalah jarak. Aku yang sekarang sudah bisa dikatakan hampir menetap utuh di Jatinangor, karena padatnya perkuliahan dan organisasi di sana-sini. Sementara itu, Jakarta hanyalah kota pelarian ketika aku hampir pingsan menghadapi « deadline » tugas kuliah dan program kerja organisasi.
Mata Ming menerawang ke langit-langit rumahku yang berwarna putih kekuningan. « Tahun lalu, ketua Rohisnya sama sekali nggak mencerminkan perilaku seorang ikhwan Rohis, » kata Ming sambil terus berpikir. « Maksudnya? » kata ku semakin heran. « Yah, sama sekali nggak terlihat seperti layaknya ketua Rohis. Dia tertawa bebas ke siapa saja, baik kepada sesama ikhwan maupun akhwat. Susah digambarkan lah. Dia terlihat berbeda. Memang kenapa? » Ming balik bertanya. Aku masih berpikir, terlalu banyak yang ku pikirkan sampai aku bingung, apa yang sedang ku pikirkan.
« Maksudnya nggak menjaga hijab? » kata ku menerka. « Jaga hijab? » Ming termenung untuk beberapa saat. Aku semakin mengerutkan kening. Lama sekali adik ku ini berpikir, kata ku dalam hati. « Jaga hijab sih masih. Tapi yah, begitu deh. Different, » katanya sambil tersenyum kecil. « Tapi kalau ketua yang sekarang bagus kok, berwibawa, » katanya melanjutkan.
Awalnya aku tak mengerti pada jawaban adik ku. Aku bertanya keadaan ADS sekolah ku secara keseluruhan, tetapi dia malah menggambarkan sosok pemimpinnya. Setelah diam beberapa saat aku mulai mendapatkan makna dari jawaban Ming. Figur sebuah organisasi tercermin dari figur atau sosok pemimpinnya!
Dengan cepat aku mengambil handphone ku yang tergeletak di atas kasur. Aku mengetik sebuah pesan singkat untuk Anggi. « Ke Al-Arif nya bareng aja. Mau berangkat jam berapa? ». Tak berapa lama handphone ku berdering. « 7.30 kita berangkat. Aku yang ke rumah mu, » balas Anggi.
***
« Ai! » ada suara teriakan dari lantai satu. Aku yang sedang bersantai-santai langsung cepat-cepat mengemas barang-barang setelah aku tahu Anggi sudah menunggu di depan pintu rumah ku. « Hanif, bilang kak Anggi, tunggu sebentar! » kata ku sambil merapikan jilbab. Seharusnya pukul 7.30 aku sudah rapi, namun beruhubung gas di rumah tiba-tiba habis saat mami memasak sarapan, terpaksa aku terlambat dengan janji. Anggi menunggu sekitar kurang lebih 15 menit. Bahkan, dia mengirim pesan singkat pada ku yang mengatakan bahwa panitia lain sudah tiba di Al-Arif, karena dia malas menemuiku ke lantai lantai dua.
« Afwan, Gi, » kata ku sambil menjelaskan panjang lebar kendala yang membuat aku terlambat pagi ini. Di sepanjang perjalanan, kami mulai membicarakan tentang situasi ADS sekolah kami yang dibilang sudah kritis. Berdasarkan informasi yang Anggi dapat, selama ini ADS SMA kami sangat kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu, acara-acara dakwah yang mereka laksanakan tak lebih hanya acara belaka tanpa menghasilkan sebuah « cantolan » yang mengena di hati para pesertanya. Sebegitu kritiskah?

***
Kami memulai kajian dengan pembacaan tilawah yang menyejukkan hati serta tausyiah yang berusaha membangkitkan semangat para pejuang dakwah. Pada mulanya ini hanyalah ajang silaturahim dan reuni antar alumni, namun siapa sangka pada akhirnya akan berakhir dalam syuro (rapat) krusial?
« Apakah antum tahu kondisi dakwah kita saat ini? » suara kak Falaq terdengar lantang dan bergetar. « Apakah antum tahu bahwa dalam satu kelas saja terdapat lima orang kafir? » Pertanyaan kak Falaq membuat semua yang ada dalam forum tersebut tertegun dan terheran-heran. « Coba bayangkan, berapa persentase mereka secara keseluruhan jika antum hitung? » tanya kak Falaq kembali. « Sekitar 12,5%, » jawab seorang akhwat sambil menghitung lewat kalkulator handphonenya. Semua semakin tertegun dan berpandangan. « Dengan kondisi seperti ini, antum ke mana? Saat syi’ar sekolah membutuhkan antum, antum di mana? Antum sibuk mengemban amanah sebagai Aktivis Dakwah Kampus (ADK), sehingga antum jarang menengok sekolah ini. » Suara kak Falaq semakin menggebu-gebu seolah melibas habis hati kami yang diam. Semangat yang diselimuti keprihatinan tak berakhir pada kak Falaq. Dini menyerukan pada semua yang ada di forum agar tak membahas alasan-alasan para ADK yang tak sengaja lupa dengan almamater SMA mereka. « Ini bukan saatnya membahas ke mana saja kami pergi, melainkan langsung membahas solusi apa yang terbaik untuk kondisi yang sudah kritis ini, » suara Dini tampaknya berhasil menyalakan kobaran semangat kami. « Sudah saatnya kita menjemput bola, bukan menunggu bola itu datang, » kak Soraya memulai solusinya. Setelah itu, banyak ide-ide berterbangan dalam syuro tersebut. Mereka semua terpacu. Mereka semua bangkit dengan pemikiran-pemikiran yang solutif. Syuro pun menemui titik akhir sekaligus titik permulaan kami, setelah Iqbal memulai solusinya. « Jangan samakan praktek syi’ar di kampus dengan syi’ar di sekolah kita, karena itu adalah dua hal yang berbeda. Sebelum kita bergerak, alangkah baik apabila kita, para alumni, membuat tim building. » Pemikiran itu benar-benar menjadi pemikiran terakhir. Semua shiqoh (setuju) dengan solusi itu, meskipun ada lontaran penyesalan yang samar, « Seharusnya para pengurus yang membuat tim bagi kami, bukan kami yang membentuk tim kami secara mandiri dalam keadaan darurat. » Mungkin sudah saatnya kami kembali untuk berbagi dengan dakwah sekolah yang tertinggal.

***
Bersambung dengan Judul « Kembalinya Semangat Baru »

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s