Gelap! Adakah Solusi?

Ini adalah tulisan ku untuk comment si bungkus terasi berwarna HITAM..

Seperti pemikiran para raja-raja penguasa terhadap sebuah bangsa dan pertanyaan-pertanyaan sinis seorang berbangsa yang nyatanya seperti tak berbangsa. (pertanyaan? memang mereka bertanya-tanya seperti anda yang bertanya apa arti sebuah bangsa?). GELAP

Perlu di garis bawahi bahwa hal yang paling mendasar untuk saat ini bukanlah apa arti sebuah bangsa. Melainkan, apa makna sebuah bangsa pada diri masing-masing manusia yang menyatakan diri nya berbangsa?

Pada dasarnya pembentukan sebuah bangsa adalah gagasan yang menakjubkan sekaligus beresiko tinggi (high risk). Bagaimana tidak? Untuk membentuk « satu kesatuan yang utuh » (seperti yang anda katakan dalam tulisan ini), bukanlah hal yang sulit jika kita memakai pemikiran yang logis. Apa yang membuat ratusan juta orang bersatu jika bukan karena kata CINTA TANAH AIR??

Dan sepatutnya yang anda tanyakan adalah CINTAKAH ANDA TERHADAP TANAH AIR (mungkin ini yang diteriakkan oleh Soekarno : NASIONALISME)?? Karena dari persepsi saya terhadap tulisan ini, anda lebih condong menyalahkan para raja-raja pemilik tahta nusantara (pemerintah bobrok di negara demokrasi). Padahal, untuk membenahi moralitas, kepedulian, solidaritas, dan rasa kemanusiaan yang tinggi di dalam sebuah bangsa, beranjak dari akarnya. Katakanlah seperti pohon. Jika anda ingin membunuh sang mahkota, alangkah baiknya anda cabut dari akarnya, karena jika anda hanya mengambil mahkotanya saja, kelak mahkota-mahkota baru yang jauh lebih dahsyat akan tumbuh dan berkembang seiring waktu yang bergulir kencang dan tajam.

Jika anda bertanya-tanya PENTINGKAH SEBUAH BANGSA? Tentu jawabannya ya. Dan hal itu tak perlu dipertanyakan. Kesatuan adalah sebuah kebutuhan bagi zoon politicon. Adalah rugi apabila manusia yang dinobatkan sebagai mahkluk sosial lari dari sebuah kesatuan.

Siapa yang peduli dengan kesatuan? KITA. Bercerminlah pada diri kita. Cintakah kita pada sesamanya? Cntakah kita akan rasa persatuan dan solidaritas? Jika ya. Patutlah sekiranya para penguasa tahta nusantara « remuk » karena malu…

Nasionalisme ?
Nasionalisme untung saja tipis, bukan tidak ada sama sekali. Jangan salahkan siapa-siapa jika nasionalisme kita menipis layaknya lapisan ozon di utara bumi akibat pemanasan global. Lalu, apa yang menyebabkan nasionalisme melemah? KURANGNYA RASA PERCAYA. Itulah yang saya amati selama ini. Kurang percaya pada sebuah kualitas. Padahal kualitas itu titik tolak sebuah kebanggaan, bukan begitu? Minimal kualitas adalah tombak dari sebuah kompetisi positif : Semangat!

Siapa yang menyebabkan segala sesuatu dari negeri ini jadi tak terpercaya? Bangsa ini sendiri. Bukan ia, mereka, atau anda. Kenapa? karena para indovidu masih cinta akan budaya malas dan pasrah. Katakanlah tidak tangap!. Tak berpikir imbasnya akan seperti apa, baik dari segi politik, sosial, budaya, EKONOMI, ataupun MEDIS.

Bukan saatnya untuk duduk, membaca, berdiskusi, dan mencari-cari kesalahan dengan berjuta-juta pertanyaan kritis dan sinis tak solutif. SAATNYA BANGKIT DAN BERBENAH. Kritikan tak selalu membangun jika tak ada kata GERAK!

Sekiranya anda dan saya, dan mereka harus BERGERAK setelah kita mengritik panjang hingga mulut berbusa..

Well, saya harap si unyil yang membaca komen ini segera membalasnya…

hehe.. saya kangen sama dia…

kangen pengen ngomelin dia dan ktawa2.. hehe

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s