Archive | janvier 8, 2008

Sedikit Cerita Tentang Saya….

« Sesungguhnya Manusia Adalah Makhluk yang Teratur……Benar? »

Dalam kehidupan sehari-hari, etika sangat dibutuhkan oleh manusia baik dalam menjalankan kehidupan sebagai individu maupun kelompok sosial di lingkungan masyarakat luas. Tanpa etika, hakikat sebagai manusia pun seolah-olah tak terpenuhi secara menyeluruh.
Etika adalah seperangkat aturan atau norma tak tertulis yang mengatur tata cara hidup manusia agar terstruktur dan terarah. Etika diciptakan sebagai alat pengatur atau pengontrol kehidupan agar manusia dapat menjalankan esensinya sebagai makhluk hidup yang berbeda dari makhluk hidup yang lain.
Untuk mengaplikasikan etika dalam kehidupan bermasyarakat, pendidikan etika harus sejak dini ditanamkan para orang tua terhadap anaknya. Karena, peran terbesar dan terpenting yang paling berpengaruh dalam perkembangan seorang anak adalah peran orang tua dan keluarga.
Ketika berada dalam masa Balita (bawah lima tahun), saya mulai diajarkan bagaimana etika makan yang benar. Menurut ibu dan bibi saya, etika makan yang baik adalah tidak berbicara selagi makan. Logikanya mudah, agar tidak tersedak (itu merupakan alasan yang tepat untuk diberikan kepada seorang anak kecil). Selain itu, saya sempat dimarahi akibat makanan yang dibuang sia-sia (mubazir). Menurut mereka, nasi tersebut kelak akan mengejar saya dan menangis. Seorang anak kecil tentu akan percaya dengan perkataan seperti itu. Namun, orang dewasa tentu akan tertawa terbahak-bahak mendengarnya, seperti sebuah banyolan. Hal yang paling sulit dilakukan oleh kebanyakan orang – termasuk saya ketika itu – adalah meminimalisir bunyi yang keluar dari dentingan sendok dengan piring makan berikut bunyi yang timbul akibat gigi sedang mengunyah makanan di dalam mulut. Berkali-kali saya – ketika itu – dinasihati hingga jenuh. Tetapi dengan menjalankan “peraturan” tersebut – berikut makan dengan sikap yang tenang – membuat saya memiliki sopan santun dalam hal “makan”.
Pada saat saya sudah dapat berbicara – ketika itu saya senang mengoceh – saya diajarkan untuk bertutur santun di depan orang yang lebih tua dari saya. Kemudian saya bertanya, apa itu bertutur santun. Dengan singkat ibu menjawab, tidak berkata sembarangan dan kasar kepada orang yang lebih tua (sekali lagi, alasan yang bisa diterima anak kecil).
Beranjak remaja nampaknya lebih banyak “aturan” yang harus diketahui, tentunya dijalankan. Memasuki masa pubertas, saya si gadis remaja diajari etika berpakaian. Menurut keluarga, etika berpakaian adalah memakai pakaian yang pantas dan sopan. Tentu saja orang tua akan merasa tak nyaman melihat anak gadisnya berpakaian tak sopan, berpakaian sempit, dan tak beraturan (tidak rapi). Tetapi, sangat jarang remaja puber yang sedang asyik mengikuti tren menerima “aturan” tersebut dengan “lapang dada”.
Belum lagi masalah etika bepergian. Di dalam keluarga, sangat pantang anak perempuan remaja pulang ke rumah – sehabis bepergian – di atas pukul 18.00 WIB. Dalam etika bepergian tersebut dijelaskan bahwa anak perempuan remaja yang keluar pada waktu malam hari akan mendapat sorotan yang tidak baik di lingkungan sekitar. Selain itu, bahayanya kota Jakarta di malam hari membuat perasaan was-was para orang tua. Untuk etika yang satu ini, saya yang saat itu sedang menikmati masa-masa indah bersama teman sebaya merasa sangat tertekan. Bagi saya, saya seperti gadis “pingitan”.
Etika berbicara ditelepon juga saya “pelajari” dari ayah saya. Menurutnya, jika seorang anak perempuan menerima telepon dari laki-laki, perempuan tersebut tidak boleh mengeluarkan suara yang mendayu-dayu, tetapi harus bertutur secara lugas tanpa basa-basi. Selain itu, menelepon pada waktu malam menurut beliau adalah tidak sopan karena mengganggu waktu belajar anak serta aktivitas malam lainnya. Sehingga pada masa itu, saya merasa “ketakutan” jika ada deringan telepon di malam hari. Seperti “phobia” dengan dering telepon di malam hari, karena saya takut ada teman yang menelepon saya. Selain itu, sistem loud speaker phone juga berlaku bagi saya, agar tidak ada pembicaraan rahasia antara saya dan teman lawan jenis yang menelepon.
Dalam bertamu, ada etika yang harus saya pahami. Menurut ibu, ketika ada tamu berkunjung ke rumah saya, hal terbaik adalah keluar dari kamar – tempat persembunyian – kemudian menyalaminya (menyambutnya). Atau sedikit melontarkan basa-basi sebagai tanda tata krama dan sopan santun. Baru kemudian saya kembali ke kamar. Hal tersebut diberlakukan tentu saja agar si tamu merasa dikehendaki kehadirannya oleh tuan rumah. Padahal, saya kurang begitu suka menyambut tamu-tamu orang tua saya (tidak ada alasan yang signifikan).
Masih banyak aturan-aturan yang diajarkan secara perlahan oleh keluarga saya. Aturan-aturan tersebut diberlakukan dan diajarkan oleh para orang tua kepada anak-anak mereka di rumah. Biasanya, aturan-aturan tersebut muncul ketika saat itu – menurut orang tua – hal tersebut harus dikatakan. Biasanya menyangkut hal-hal kecil, hanya segelintir yang menyangkut masalah krusial. Maksudnya adalah ketika terjadi sebuah kejadian atau berada dalam suatu keadaan, ada saat di mana aturan-aturan tersebut harus disampaikan sebagai bahan pendidikan. Menurut saya, peraturan tersebut adalah sebuah etika kehidupan.
Perasaan kesal dan tak nyaman akibat etika-etika yang diajarkan oleh keluarga – karena bertentangan dengan kebebasan – membuat saya berpikir berulang-ulang. Saya sempat bertanya-tanya pada diri saya, “Mengapa semuanya harus ada aturan?” Saya merasa tak leluasa jika memiliki beragam etika dalam hidup, rasanya seperti terpenjara.
Seiring berjalannya waktu dan kematangan berpikir, saya mulai memahami arti kata “baik” dan “buruk”, “benar” dan “salah”, atau semacamnya. Berawal dari pemberontakan terhadap pendidikan etika, kemudian saya menyadari suatu hal bahwa dalam hidup ini dibutuhkan minimal satu buah aturan untuk mengatur segala tingkah laku dan kebiasaan hidup kita sebagai seorang manusia. Karena selain akal, perbedaan manusia dengan hewan dan tumbuhan juga terletak pada aturannya. Manusia sesungguhnya adalah makhluk yang teratur, begitu pikir saya.
Akibat pendidikan etika yang dilakukan orang tua saya sejak dini membuat saya merasa hidup lebih teratur saat ini. Mungkin saat saya masih kecil pikiran saya masih terlalu sempit untuk menerima berbagai aturan (karena saya sulit diatur), sehingga saya merasa hidup dengan etika adalah terkekang. Hasil yang di dapat dari pendidikan orang tua tersebut tentunya sangatlah banyak. Mulai dari tidak mengeluarkan suara apapun – diminimalisir sebisa mungkin – ketika sedang makan, baik dari dalam maupun dari luar ; mengetahui bahayanya dunia “malam” bagi perempuan dan pandangan orang lain terhadap anak perempuan yang pulang di malam hari, sehingga saya berusaha sebisa mungkin menjaga imej keluarga dan memerhatikan keselamatan diri dengan cara tak pulang ke rumah dengan melebihi batas waktu yang telah ditetapkan orang tua ; selalu bertutur santun terhadap orang yang lebih tua dan lembut terhadap sesama agar mereka merasakan kenyamanan dalam sebuah hubungan sosial ; mengenakan pakaian yang menutup aurat perempuan, karena sesungguhnya kebudayaan timur berbeda dengan kebudayaan di barat sehingga etika berpakaian pun di atur oleh bangsa timur; bersikap santun dalam menyambut tamu juga telah saya lakukan saat ini. Bagi saya, menghormati tamu merupakan kewajiban sang tuan rumah; tahu bagaimana bersikap sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga tidak menimbulkan konflik atau “keracuan” perilaku ; dan sebagainya.
Sejak merasakan manfaatnya etika dalam hidup, saya merasa bahwa saya lebih beraturan dalam menjalani keseharian. Tentunya dengan semua itu, saya lebih merasa menjadi seorang manusia seutuhnya, yaitu makhluk yang sempurna dengan segala akal dan kemampuannya, termasuk kondisi yang memiliki aturan di dalam kehidupan.
Jika di dalam hidup ini manusia tidak memiliki sebuah etika kehidupan. Maka manusia tersebut tidak memahami bahwa etika merupakan sebuah kebutuhan hidup yang patut dimiliki dan dijaga oleh setiap orang.

Ketika Pers Dihadapkan Pada Dua Pilihan Ideologi

Masalah fundamental yang besar dari semua filsafat ialah masalah mengenai hubungan antara pikiran dan keadaan. Sejak zaman purbakala, ketika manusia yang masih sama sekali tidak tahu tentang susunan tubuh mereka sendiri – berada di bawah alam sadar, mereka mulai percaya bahwa pikiran dan perasaan mereka bukanlah sebuah aktivitas tubuh mereka.
Tetapi hal tersebut merupakan suatu nyawa yang tersendiri yang mendiami tubuh mereka dan meninggalkan tubuh itu ketika mati. Maka dari itu, timbul ide mengenai “kekal-abadi”, yang pada tingkat. perkembangan waktu itu sama sekali tidak tampak sebagai penghibur tetapi sebagai takdir yang terhadapnya tidak berguna mengadakan perlawanan. Dan sering sekali, seperti dikalangan orang-orang Yunani, sebagai malapetaka yang sesungguhnya. Bukannya hasrat keagamaan akan suatu penghibur, tetapi kebingungan yang timbul dari ketidaktahuan umum yang lazim tentang apa yang harus diperbuat dengan nyawa itu. Sekali saja nyawa itu diakui – sesudah tubuh mati – menuju secara umum kepada faham tentang kekekal-abadian perorangan. Masalah hubungan antara pikiran dan keadaan, hubungan antara jiwa dan alam – masalah yang terpenting dari seluruh filsafat – mempunyai tidak kurang dari semuanya adalah sama. Akar-akarnya di dalam faham-faham kebiadaban yang berpikiran sempit dan tidak berpengetahuan. Jawaban-jawaban yang diberikan oleh para ahli filsafat mengenai masalah ini telah membagi mereka ke dalam dua kubu besar. Mereka yang menegaskan bahwa jiwa ada yang primer jika dibandingkan dengan alam. Karena itu, akhirnya mereka menganggap adanya penciptaan dunia dalam satu atau lain bentuk – dan dikalangan para ahli filsafat. Hegel, misalnya, merupakan kubu idealisme yang berpikiran bahwa penciptaan ini sering menjadi lebih rumit dan mustahil. Sedangkan yang menganggap alam sebagai sesuatu yang primer, tergolong ke dalam berbagai mazhab materialisme.
Dua pernyataan ini, idealisme,dan materialisme, mula-mula tidak mempunyai arti lain dan kedua pernyataan itu tidak digunakan dalam arti lain apapun. Untuk itu, satu persatu akan di terangkan lebih lanjut mengenai apa itu idealisme dan materialisme, dan apa hubungannya dengan profesionalisme kinerja pers Indonesia.
Idealisme
Sebagai sebuah fondasi kosmologi atau sebuah pemahaman mengenai eksistensi alam, idealisme biasanya dikonsentrasikan kepada materialisme, keduanya memiliki kelas seperti sebuah oposisi dualisme bahkan pluralisme ontologi.
Namun, antara idealisme dan materialisme merupakan sebuah perbedaan yang cukup kontras yang terletak pada substansi mental dan fisik. Materialisme berpendapat bahwa tidak ada hal yang dapat dilakukan dengan cara hanya berpikir bahwa segala hal harus idealis.
Idealisme tidak mengandung arti selain pengejaran tujuan-tujuan yang ideal. Sebagai posisi ontologi, idealisme hanya merupakan pikiran dan eksistensi dari pemikiran objek tersebut. atau merupakan sebuah komposisi dari keseluruhan realita mental berupa pemikiran, perasaan, persepsi, ide, atau keinginan.
Plato mengemukakan teori idealis sebagai sebuah solusi permasalahan yang universal. Universal yang dimaksud adalah segala sesuatu yang terbagi ke dalam sebuah virtual yang memiliki beberapa bagian. Sedangkan Descartes mengatakan, permasalahan utama dari folisofi sebuah idealisme yaitu sebuah perbedaaan antara dunia dengan gambaran mental yang ideal dan dunia dengan sistem objek eksternal.
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah segala sesuatu yang membuat manusia bertindak harus melalui pikiran mereka – bahkan makan dan minum, sebagai akibat dari rasa lapar atau haus – disampaikan melalui otak dan berakhir dengan rasa puas yang juga disampaikan melalui otak. Pengaruh-pengaruh dunia luar terhadap manusia dinyatatakan di dirinya di dalam otaknya. Kemudian dicerminkan dalam bentuk perasaan, pikiran, rangsang, kemauan, pendek kata, sebagai “kecenderungan-kecenderungan ideal” dan dalam bentuk ini menjadi “kekuatan-kekuatan ideal”.
Maka itu, jika seseorang harus dianggap idealis karena dia mengikuti “kecenderungankecenderungan ideal” dan mengakui bahwa “kekuatan-kekuatan ideal” mempunyai pengaruh terhadapnya, maka orang tersebut merupakan seseorang yang idealis. Hegel, misalnya, berpendapat bahwa apa yang kita kenal di dalam dunia nyata adalah justru isi pikirannya yang menjadikan dunia berangsur-angsur menjadi suatu realisasi dari ide absolut yang sudah ada di suatu tempat sejak dulu, lepas dari dunia dan sebelum dunia. semua ahlifilsafat.
Materialisme Materialisme adalah sebuah penjelasan yang snagat sederhana dari sebuah realita – kepercayaan yang secara keseluruhan eksistensi menyatakan fisik. Tidak ada realita yang lebih tinggi lagi, tidak ada wujud atau kebenaran spiritual yang mandiri.
Materialisme saat ini dugunakan untuk mengindikasikan sebuah posisi filosofi partikular, lebih dari sekedar gaya hidup hedonisme. Materialisme sangat kontras dengan dualisme, fenomenalisme, idealisme, dan vitalisme. Ludwig Feuerbach, filsuf klasik Jerman mencampurbaurkan materialisme yang merupakan pandangan dunia umum – yang bersandar pada pengertian tertentu – dengan hubungan antara materi dengan pikiran. Dengan bentuk khusus di mana pandangan dunia ini dinyatakan pada tingkat sejarah tertentu, yaitu pada abad ke-18.
Materialisme pada abad yang lampau merupakan mekanis. Sebab pada waktu itu di antara semua ilmu alam, hanya ilmu mekanika dan memang hanya ilmu mekanika yang merupakan benda-benda padat – langit dan bumi. Descartes mengibaratkan manusia kaum materialis abad ke-18 adalah suatu mesin. Penerapan secara eksklusif norma-norma mekanika ini pada proses-proses yang bersifat kimiawi dan organik – yang di dalamnya hukum-hukum mekanika memang berlaku tetapi didesak kebelakang oleh hukum-hukum lain yang lebih tinggi – merupakan keterbatasan khusus yang pertama yang pada waktu itu tak terhindarkan dari materialisme klasik Perancis. Keterbatasan khusus yang kedua dari materialisme ini terletak dalam ketidakmampuannya memahami alam semesta sebagai suatu proses, sebagai materi yang menyelami perkembangan sejarah, yang tak putus-putusnya.

Sejarah dan Fenomena Jurnalisme Amplop
Keadaan di antara dua pilihan antara bertahan dengan idealisme atau menuju pada materialisme sebenarnya sudah lama terjadi dikalangan pers Indonesia, bahkan di zaman pers masih terbelenggu oleh manifesto politik pemerintahan yang dikenal dengan istilah era pers manipol.
Kaitan-kaitan tersebut muncul berdasarkan tujuan-tujuan yang diciptakan para pemilik media demi kelangsungan hidup media mereka. Bahkan, sejarah pun telah mengatakan, kedua ideologi tersebut telah ada sejak zaman dahulu sehingga melahirkan berbagai pemikiran dari para filsuf terkemuka.
Budaya “amplop” merupakan sebuah hal yang kerap terjadi dalam dunia jurnalisme. Budaya amplop kerap digunakan sebagai cara yang ampuh untuk menyuap para wartawan dalam hal pemberitaan mereka di media massa. Tak heran, banyak sumber berita yang sengaja menyediakan “amplop” untuk wartawan karena diyakini bahwa media tersebut sangat berguna bagi kepentingan mereka. Hal ini tentunya meruntuhkan konsep idealisme pers dalam menjalankan profesi diiringi dengan terangkatnya prinsip materialisme di kalangan wartawan. Hal ini tentunya dapat menjatuhkan kredibilitas jurnalisme Indonesia.
Kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik kerap dijadikan sebuah alasan yang menyebabkan wartawan tak lagi memikirkan prinsip jurnalisme yang pertama dan utama seperti dikatakan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang menyebutkan bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
Atau, keadaan yang semakin lama semakin membutuhkan berbagai hal membuat mata seolah-olah gelap dengan dihadirkannya uang sebagai “penyumbat” kebenaran berita. Wartawan menjadi bimbang karena dihadapkan pada dua pilihan yang menurut keadaan mereka itu adalah hal yang sulit. Kewajiban untuk melayani masyarakat demi memenuhi kebutuhan mereka tak lagi terpenuhi, kebenaran sebagai tonggak kewajiban jurnalisme kian menumpul dengan dihadirkannya berbagai “desakan-desakan” yang menyulitkan, yang ada hanya kewajiban untuk memenuhi kepentingan pribadi semata.
Hanya beberapa dari mereka – insan pers – yang masih tersadar akan pentingnya sebuah idealisme dalam hidup serta menjalankan sebuah profesi yang mengemban sebuah tanggung jawab yang besar terhadap bangsa. Prinsip idealisme sebagai citra positif seharusnya wajib dimiliki oleh mereka yang menjadi bagian dalam empat pilar demokrasi negara Indonesia. Tanpa adanya prinsip idealisme yang kuat, maka sebuah wujud profesionalisme tak akan dapat tercipta.

Referensi :
Vitzthum, Richard C. 1995. Materialism: An Affirmative History and Definition. Buffalo Prometheus Books : New York
http://en.wikipedia.org/wiki/Materialism
http://en.wikipedia.org/wiki/Idealism
http://www.kheper.net/topics/worldviews/materialism.htm
Hanazaki, Yasuo. 1998. Pers Terjebak. Institut Studi Arus Informasi
Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. 2006. Sembilan Elemen Jurnalisme Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan Diharapkan Publik. Yayasan Pantau : Jakarta

Ketika Sebuah Karya Cipta Berhak Dipatenkan

Menurut Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, plagiarisme atau penjiplakan adalah penggunaan gagasan, informasi, atau tulisan orang lain tanpa memberikan informasi yang cukup tentang sumber aslinya. Plagiarisme (plagiat) dikenal sebagai « kejahatan » di dunia akademik dan ilmiah, sehingga demi integritas moral ilmiah plagiat harus dihindari
Plagiarisme berbeda dengan pelanggaran hak cipta, yang merupakan pelanggaran terhadap hak pemanfaatan terhadap suatu karya. Plagiarisme tidak tergolong kepada tindakan hukum atau kriminal. Namun tindakan ini tergolong pelanggaran moral yang umumnya mendapat sanksi berat di kalangan akademisi. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas.
Hal-hal yang tergolong plagiarisme di antaranya menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain ; dan mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya
Namun, menggunakan informasi yang berupa fakta umum ; menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain, dengan memberikan sumber jelas ; serta mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya bukan merupakan sebuah plagiarisme.
Melakukan penulisan ulang dikatakan bukan sebuah plagiarisme karena sesungguhnya hal tersebut merupakan sebuah inti dari penulisan. Penulis profesional menulis ulang kalimat mereka berkali-kali dan kemudianmenulis ulang apa yang sudah meeka tulis ulang (William Zinsser pengarang On Writing Well). Karena penulis yang baik sesungguhnya adalah pengumpul informasi yang lahap, dalam arti mereka mencatat semua hal yang sudah mereka dapat.
Plagiarisme berkembang di sejumlah bidang, seperti bidang pendidikan perihal plagiat karya tulis, skripsi, paper, jurnal, buku, majalah ilmiah, laporan penelitian, laporan praktikum, laporan tugas kuliah, halaman web, dll ; bidang sastra ; bidang fotografi ; dan tentunya bidang jurnalistik.
Dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) poin tiga tertulis: “Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dengan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran informasi, serta tidak melakukan plagiat.”
Dalam dunia jurnalistik, plagiarisme yang dimaksud bukan hanya menulis ulang sebuah kutipan atau kalimat dari sebuah atau beberapa sumber tanpa memberitahukan sumbernya, tetapi juga plagiarisme dalam pelaporan berita. Hanya dengan berbincang-bincang dengan kawan pers dari media lain mengenai berita yang ia peroleh saat itu, hal tersebut dapat menjadikan sebuah bumerang bagi si wartawan dari media lain. Mengapa demikian? Bisa saja dari hasil perbincangan tersebut – tanpa melakukan pencarian berita – wartawan yang satu menulis ulang berita dari si wartawan lain. Atau, ketika bahan-bahan berita dan wawancara “dipinjamkan” secara cuma-cuma, maka hal tersebut akan berakibat buruk bagi si wartawan, karena bisa saja bahan-bahan tersebut dijadikan sebagai bahan berita si wartawan lain.
Aturannya sudah jelas bahwa plagiarisme dilarang dalam dunia jurnalistik. Tetapi, masih sering kasus-kasus plagiat disaksikan dalam multimedia, baik cetak, elektronik, maupun online. Kasus plagiarisme dalam media massa cetak terjadi antara dua media media massa cetak, di mana wartawan dari surat kabar yang satu menulis ulang hasil percakapan dengan teman wartawan dari media lain yang berisi hasil wawancaranya dengan seorang nara sumber.
“Kelicikan” yang terjadi dalam sebuah tulisan disebabkan oleh ide-ide yang keluar dari si penulis yang kurang begitu segar. Dengan melihat beragam sumber yang sangat meyakinkan, si penulis dengan lancarnya mengkopi ulang tulisan tersebut tanpa dirangkai kembali dengan kata-kata sendiri atau menulis sumber kutipannya. Hal lain yang bisa dijadikan sebab adalah ketidakpercayadirian si penulis terhadap apa yang ia tulis. Mungkin si penulis merasa buntu ide sehingga ia tak dapat menulis lebih dari yang ia targetkan. Padahal, menurut William Zinsser, seorang penulis yang tak memiliki ide – buntu ide sehingga memerlukan waktu istirahat beberapa hari agar segar kembali – tak lebih dari sekedar membohongi dirinya sendiri.
Bukan hanya dalam dunia tulis menulis, jurnalisme elektronik pun kerap melakukan tindakan plagiarisme – khususnya dunia pertelevisian Indonesia. Seperti yang terlihat dalam kacamata masyarakat, tak sedikit sinetron-sinetron yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta merupakan sinetron “adaptasi” dari drama luar negeri yang pada saat itu sedang booming. Mungkin hal tersebut dilakukan sebagai upaya penarik audiens, semakin banyak audiens, semakin banyak keuntungan yang diperoleh pihak stasiun televisi. Atau memang, ide-ide dari drama luar negeri tersebut, benar-benar sebuah ide yang cemerlang yang tak terpikirkan oleh insan pertelevisian Indonesia. Sehingga “penjiplakan” pun dilakukan.
Acara reality show dan talk show dari luar negeri yang menjadi tontonan favorit audiens baik luar maupun dalam negeri kerap juga dilakukan tindakan plagiarisme oleh insan pertelevisian Indonesia. Motifnya sama, ingin meraup keuntungan yang sama dengan acara yang sebenarnya tanpa berpikir panjang, bahwa yang menjadi subuah keuntungan dari sebuah media elektronik selain kemasan dan isi acaranya yang menarik, juga keorisinilan karya tersebut. Karena, hal yang paling mahal di antara hal yang mahal adalah keaslian sebuah karya.
Lagipula, plagiarisme di Indonesia tak lepas dari sifat latah yang tak kunjung sembuh. Jika diperhatikan, tayangan-tayangan di televisi maupun berita-berita di media infotainment cetak dan elektronik terlihat seragam. Jika melihat sejarah, kondisi tersebut hampir sama dengan situasi media massa di era orde baru kepemimpinan Soeharto, di mana semua pemberitaan di seluruh media massa adalah sama. Sehingga tanggapan yang timbul pada saat itu adalah, pers Indonesia tidak kreatif.
Sebuah pengakuan mengenai plagiarsime karya cipta sempat ditayangkan di sebuah situs online. Menurut pengakuan penulis – seorang penulis lepas dan petualang – plagiarisme tak bisa dihindari ketika ia merasa “terjepit” keadaannya. Terjepit dalam artian, ketika semua sumber tulisan sudah ia pelajari, ide segarnya tetap tidak muncul-muncul. Kondisi yang menyenangkan saat membuat sebuah karya pun terasa sangat sulit dihadapi.
Maka dari itu, demi menciptakan sebuah kreatifitas dan pemikiran-pemikiran yang segar, serta demi mewujudkan sebuah penghargaan terhadap karya cipta orang lain, diharapkan budaya plagiarisme atau plagiat secara total dapat dihindarkan.

Referensi :
« http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme.htm »

« Tak Cukup Dengan Kritikan! »

 

Kebebasan berpendapat di sebuah negara demokrasi merupakan hak yang hakiki bagi setiap individu. Bahkan, sejak dahulu telah tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 28. Tentu saja, dengan adanya basis atau landasan hukum yang kuat mengenai kebebasan berpendapat, bagi yang melanggarnya akan berurusan dengan badan hukum yang diberi nama oleh pemerintah Indonesia, KOMNASHAM.

Tetapi, kebebasan pendapat yang seperti apa? Pendapat yang sejujur-jujurnya mengutarakan apa yang ada di pikiran mereka yang berpendapat terhadap suatu atau beberapa objek? Pendapat yang justru memotivasi atau dikatakan sebagai kritikan yang membangun? Atau pendapat yang hanya sekedar mengritik tanpa solusi atau bahkan bisa dijadikan sebagai alat akomodasi?

Fakta yang terlihat saat ini adalah manusia cenderung mengritik tanpa terlebih dahulu memverifikasi suatu wacana atau suatu perspektif yang mereka cerna secara kasat mata. Apa yang menyebabkan kurangnya verifikasi atau pengetahuan terhadap suatu objek pada manusia? Faktor malas kah? Sehingga menyebabkan mereka seolah-olah tahu atau menjadi orang yang seolah-olah paling tahu, sehingga mereka dengan bebas mengritik. Padahal, mereka itu kosong belaka? Atau kah, mereka hanya tahu seperempat atau sebagian dari objek tersebut? Sehingga kritikan mereka tampak samar dan menghasilkan permasalahan baru lagi.

Hanya beberapa dari sekian banyak manusia yang melakukan verifikasi terhadap suatu objek atau masalah yang ada di realitas kehidupan mereka kemudian memberikan kritik yang membangun dengan cara menghadiahkan sebuah solusi yang berisi. Tentu saja berisi ilmu, bukan sekedar suara dan omong kosong, bukan begitu?

Maka dari itu, jelilah terhadap segala sesuatunya, sekali pun yang di depan kita adalah kabut. Siramilah diri dengan ilmu yang cukup untuk memudahkan verifikasi masalah. Jangan hanya mengritik yang masih samar atau mengritik karena ingin dilihat kritis padahal nol.