Ketika Pers Dihadapkan Pada Dua Pilihan Ideologi

Masalah fundamental yang besar dari semua filsafat ialah masalah mengenai hubungan antara pikiran dan keadaan. Sejak zaman purbakala, ketika manusia yang masih sama sekali tidak tahu tentang susunan tubuh mereka sendiri – berada di bawah alam sadar, mereka mulai percaya bahwa pikiran dan perasaan mereka bukanlah sebuah aktivitas tubuh mereka.
Tetapi hal tersebut merupakan suatu nyawa yang tersendiri yang mendiami tubuh mereka dan meninggalkan tubuh itu ketika mati. Maka dari itu, timbul ide mengenai “kekal-abadi”, yang pada tingkat. perkembangan waktu itu sama sekali tidak tampak sebagai penghibur tetapi sebagai takdir yang terhadapnya tidak berguna mengadakan perlawanan. Dan sering sekali, seperti dikalangan orang-orang Yunani, sebagai malapetaka yang sesungguhnya. Bukannya hasrat keagamaan akan suatu penghibur, tetapi kebingungan yang timbul dari ketidaktahuan umum yang lazim tentang apa yang harus diperbuat dengan nyawa itu. Sekali saja nyawa itu diakui – sesudah tubuh mati – menuju secara umum kepada faham tentang kekekal-abadian perorangan. Masalah hubungan antara pikiran dan keadaan, hubungan antara jiwa dan alam – masalah yang terpenting dari seluruh filsafat – mempunyai tidak kurang dari semuanya adalah sama. Akar-akarnya di dalam faham-faham kebiadaban yang berpikiran sempit dan tidak berpengetahuan. Jawaban-jawaban yang diberikan oleh para ahli filsafat mengenai masalah ini telah membagi mereka ke dalam dua kubu besar. Mereka yang menegaskan bahwa jiwa ada yang primer jika dibandingkan dengan alam. Karena itu, akhirnya mereka menganggap adanya penciptaan dunia dalam satu atau lain bentuk – dan dikalangan para ahli filsafat. Hegel, misalnya, merupakan kubu idealisme yang berpikiran bahwa penciptaan ini sering menjadi lebih rumit dan mustahil. Sedangkan yang menganggap alam sebagai sesuatu yang primer, tergolong ke dalam berbagai mazhab materialisme.
Dua pernyataan ini, idealisme,dan materialisme, mula-mula tidak mempunyai arti lain dan kedua pernyataan itu tidak digunakan dalam arti lain apapun. Untuk itu, satu persatu akan di terangkan lebih lanjut mengenai apa itu idealisme dan materialisme, dan apa hubungannya dengan profesionalisme kinerja pers Indonesia.
Idealisme
Sebagai sebuah fondasi kosmologi atau sebuah pemahaman mengenai eksistensi alam, idealisme biasanya dikonsentrasikan kepada materialisme, keduanya memiliki kelas seperti sebuah oposisi dualisme bahkan pluralisme ontologi.
Namun, antara idealisme dan materialisme merupakan sebuah perbedaan yang cukup kontras yang terletak pada substansi mental dan fisik. Materialisme berpendapat bahwa tidak ada hal yang dapat dilakukan dengan cara hanya berpikir bahwa segala hal harus idealis.
Idealisme tidak mengandung arti selain pengejaran tujuan-tujuan yang ideal. Sebagai posisi ontologi, idealisme hanya merupakan pikiran dan eksistensi dari pemikiran objek tersebut. atau merupakan sebuah komposisi dari keseluruhan realita mental berupa pemikiran, perasaan, persepsi, ide, atau keinginan.
Plato mengemukakan teori idealis sebagai sebuah solusi permasalahan yang universal. Universal yang dimaksud adalah segala sesuatu yang terbagi ke dalam sebuah virtual yang memiliki beberapa bagian. Sedangkan Descartes mengatakan, permasalahan utama dari folisofi sebuah idealisme yaitu sebuah perbedaaan antara dunia dengan gambaran mental yang ideal dan dunia dengan sistem objek eksternal.
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah segala sesuatu yang membuat manusia bertindak harus melalui pikiran mereka – bahkan makan dan minum, sebagai akibat dari rasa lapar atau haus – disampaikan melalui otak dan berakhir dengan rasa puas yang juga disampaikan melalui otak. Pengaruh-pengaruh dunia luar terhadap manusia dinyatatakan di dirinya di dalam otaknya. Kemudian dicerminkan dalam bentuk perasaan, pikiran, rangsang, kemauan, pendek kata, sebagai “kecenderungan-kecenderungan ideal” dan dalam bentuk ini menjadi “kekuatan-kekuatan ideal”.
Maka itu, jika seseorang harus dianggap idealis karena dia mengikuti “kecenderungankecenderungan ideal” dan mengakui bahwa “kekuatan-kekuatan ideal” mempunyai pengaruh terhadapnya, maka orang tersebut merupakan seseorang yang idealis. Hegel, misalnya, berpendapat bahwa apa yang kita kenal di dalam dunia nyata adalah justru isi pikirannya yang menjadikan dunia berangsur-angsur menjadi suatu realisasi dari ide absolut yang sudah ada di suatu tempat sejak dulu, lepas dari dunia dan sebelum dunia. semua ahlifilsafat.
Materialisme Materialisme adalah sebuah penjelasan yang snagat sederhana dari sebuah realita – kepercayaan yang secara keseluruhan eksistensi menyatakan fisik. Tidak ada realita yang lebih tinggi lagi, tidak ada wujud atau kebenaran spiritual yang mandiri.
Materialisme saat ini dugunakan untuk mengindikasikan sebuah posisi filosofi partikular, lebih dari sekedar gaya hidup hedonisme. Materialisme sangat kontras dengan dualisme, fenomenalisme, idealisme, dan vitalisme. Ludwig Feuerbach, filsuf klasik Jerman mencampurbaurkan materialisme yang merupakan pandangan dunia umum – yang bersandar pada pengertian tertentu – dengan hubungan antara materi dengan pikiran. Dengan bentuk khusus di mana pandangan dunia ini dinyatakan pada tingkat sejarah tertentu, yaitu pada abad ke-18.
Materialisme pada abad yang lampau merupakan mekanis. Sebab pada waktu itu di antara semua ilmu alam, hanya ilmu mekanika dan memang hanya ilmu mekanika yang merupakan benda-benda padat – langit dan bumi. Descartes mengibaratkan manusia kaum materialis abad ke-18 adalah suatu mesin. Penerapan secara eksklusif norma-norma mekanika ini pada proses-proses yang bersifat kimiawi dan organik – yang di dalamnya hukum-hukum mekanika memang berlaku tetapi didesak kebelakang oleh hukum-hukum lain yang lebih tinggi – merupakan keterbatasan khusus yang pertama yang pada waktu itu tak terhindarkan dari materialisme klasik Perancis. Keterbatasan khusus yang kedua dari materialisme ini terletak dalam ketidakmampuannya memahami alam semesta sebagai suatu proses, sebagai materi yang menyelami perkembangan sejarah, yang tak putus-putusnya.

Sejarah dan Fenomena Jurnalisme Amplop
Keadaan di antara dua pilihan antara bertahan dengan idealisme atau menuju pada materialisme sebenarnya sudah lama terjadi dikalangan pers Indonesia, bahkan di zaman pers masih terbelenggu oleh manifesto politik pemerintahan yang dikenal dengan istilah era pers manipol.
Kaitan-kaitan tersebut muncul berdasarkan tujuan-tujuan yang diciptakan para pemilik media demi kelangsungan hidup media mereka. Bahkan, sejarah pun telah mengatakan, kedua ideologi tersebut telah ada sejak zaman dahulu sehingga melahirkan berbagai pemikiran dari para filsuf terkemuka.
Budaya “amplop” merupakan sebuah hal yang kerap terjadi dalam dunia jurnalisme. Budaya amplop kerap digunakan sebagai cara yang ampuh untuk menyuap para wartawan dalam hal pemberitaan mereka di media massa. Tak heran, banyak sumber berita yang sengaja menyediakan “amplop” untuk wartawan karena diyakini bahwa media tersebut sangat berguna bagi kepentingan mereka. Hal ini tentunya meruntuhkan konsep idealisme pers dalam menjalankan profesi diiringi dengan terangkatnya prinsip materialisme di kalangan wartawan. Hal ini tentunya dapat menjatuhkan kredibilitas jurnalisme Indonesia.
Kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik kerap dijadikan sebuah alasan yang menyebabkan wartawan tak lagi memikirkan prinsip jurnalisme yang pertama dan utama seperti dikatakan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang menyebutkan bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
Atau, keadaan yang semakin lama semakin membutuhkan berbagai hal membuat mata seolah-olah gelap dengan dihadirkannya uang sebagai “penyumbat” kebenaran berita. Wartawan menjadi bimbang karena dihadapkan pada dua pilihan yang menurut keadaan mereka itu adalah hal yang sulit. Kewajiban untuk melayani masyarakat demi memenuhi kebutuhan mereka tak lagi terpenuhi, kebenaran sebagai tonggak kewajiban jurnalisme kian menumpul dengan dihadirkannya berbagai “desakan-desakan” yang menyulitkan, yang ada hanya kewajiban untuk memenuhi kepentingan pribadi semata.
Hanya beberapa dari mereka – insan pers – yang masih tersadar akan pentingnya sebuah idealisme dalam hidup serta menjalankan sebuah profesi yang mengemban sebuah tanggung jawab yang besar terhadap bangsa. Prinsip idealisme sebagai citra positif seharusnya wajib dimiliki oleh mereka yang menjadi bagian dalam empat pilar demokrasi negara Indonesia. Tanpa adanya prinsip idealisme yang kuat, maka sebuah wujud profesionalisme tak akan dapat tercipta.

Referensi :
Vitzthum, Richard C. 1995. Materialism: An Affirmative History and Definition. Buffalo Prometheus Books : New York
http://en.wikipedia.org/wiki/Materialism
http://en.wikipedia.org/wiki/Idealism
http://www.kheper.net/topics/worldviews/materialism.htm
Hanazaki, Yasuo. 1998. Pers Terjebak. Institut Studi Arus Informasi
Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. 2006. Sembilan Elemen Jurnalisme Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan Diharapkan Publik. Yayasan Pantau : Jakarta

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s