Ketika Sebuah Karya Cipta Berhak Dipatenkan

Menurut Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, plagiarisme atau penjiplakan adalah penggunaan gagasan, informasi, atau tulisan orang lain tanpa memberikan informasi yang cukup tentang sumber aslinya. Plagiarisme (plagiat) dikenal sebagai « kejahatan » di dunia akademik dan ilmiah, sehingga demi integritas moral ilmiah plagiat harus dihindari
Plagiarisme berbeda dengan pelanggaran hak cipta, yang merupakan pelanggaran terhadap hak pemanfaatan terhadap suatu karya. Plagiarisme tidak tergolong kepada tindakan hukum atau kriminal. Namun tindakan ini tergolong pelanggaran moral yang umumnya mendapat sanksi berat di kalangan akademisi. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas.
Hal-hal yang tergolong plagiarisme di antaranya menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain ; dan mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya
Namun, menggunakan informasi yang berupa fakta umum ; menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain, dengan memberikan sumber jelas ; serta mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya bukan merupakan sebuah plagiarisme.
Melakukan penulisan ulang dikatakan bukan sebuah plagiarisme karena sesungguhnya hal tersebut merupakan sebuah inti dari penulisan. Penulis profesional menulis ulang kalimat mereka berkali-kali dan kemudianmenulis ulang apa yang sudah meeka tulis ulang (William Zinsser pengarang On Writing Well). Karena penulis yang baik sesungguhnya adalah pengumpul informasi yang lahap, dalam arti mereka mencatat semua hal yang sudah mereka dapat.
Plagiarisme berkembang di sejumlah bidang, seperti bidang pendidikan perihal plagiat karya tulis, skripsi, paper, jurnal, buku, majalah ilmiah, laporan penelitian, laporan praktikum, laporan tugas kuliah, halaman web, dll ; bidang sastra ; bidang fotografi ; dan tentunya bidang jurnalistik.
Dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) poin tiga tertulis: “Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dengan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran informasi, serta tidak melakukan plagiat.”
Dalam dunia jurnalistik, plagiarisme yang dimaksud bukan hanya menulis ulang sebuah kutipan atau kalimat dari sebuah atau beberapa sumber tanpa memberitahukan sumbernya, tetapi juga plagiarisme dalam pelaporan berita. Hanya dengan berbincang-bincang dengan kawan pers dari media lain mengenai berita yang ia peroleh saat itu, hal tersebut dapat menjadikan sebuah bumerang bagi si wartawan dari media lain. Mengapa demikian? Bisa saja dari hasil perbincangan tersebut – tanpa melakukan pencarian berita – wartawan yang satu menulis ulang berita dari si wartawan lain. Atau, ketika bahan-bahan berita dan wawancara “dipinjamkan” secara cuma-cuma, maka hal tersebut akan berakibat buruk bagi si wartawan, karena bisa saja bahan-bahan tersebut dijadikan sebagai bahan berita si wartawan lain.
Aturannya sudah jelas bahwa plagiarisme dilarang dalam dunia jurnalistik. Tetapi, masih sering kasus-kasus plagiat disaksikan dalam multimedia, baik cetak, elektronik, maupun online. Kasus plagiarisme dalam media massa cetak terjadi antara dua media media massa cetak, di mana wartawan dari surat kabar yang satu menulis ulang hasil percakapan dengan teman wartawan dari media lain yang berisi hasil wawancaranya dengan seorang nara sumber.
“Kelicikan” yang terjadi dalam sebuah tulisan disebabkan oleh ide-ide yang keluar dari si penulis yang kurang begitu segar. Dengan melihat beragam sumber yang sangat meyakinkan, si penulis dengan lancarnya mengkopi ulang tulisan tersebut tanpa dirangkai kembali dengan kata-kata sendiri atau menulis sumber kutipannya. Hal lain yang bisa dijadikan sebab adalah ketidakpercayadirian si penulis terhadap apa yang ia tulis. Mungkin si penulis merasa buntu ide sehingga ia tak dapat menulis lebih dari yang ia targetkan. Padahal, menurut William Zinsser, seorang penulis yang tak memiliki ide – buntu ide sehingga memerlukan waktu istirahat beberapa hari agar segar kembali – tak lebih dari sekedar membohongi dirinya sendiri.
Bukan hanya dalam dunia tulis menulis, jurnalisme elektronik pun kerap melakukan tindakan plagiarisme – khususnya dunia pertelevisian Indonesia. Seperti yang terlihat dalam kacamata masyarakat, tak sedikit sinetron-sinetron yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta merupakan sinetron “adaptasi” dari drama luar negeri yang pada saat itu sedang booming. Mungkin hal tersebut dilakukan sebagai upaya penarik audiens, semakin banyak audiens, semakin banyak keuntungan yang diperoleh pihak stasiun televisi. Atau memang, ide-ide dari drama luar negeri tersebut, benar-benar sebuah ide yang cemerlang yang tak terpikirkan oleh insan pertelevisian Indonesia. Sehingga “penjiplakan” pun dilakukan.
Acara reality show dan talk show dari luar negeri yang menjadi tontonan favorit audiens baik luar maupun dalam negeri kerap juga dilakukan tindakan plagiarisme oleh insan pertelevisian Indonesia. Motifnya sama, ingin meraup keuntungan yang sama dengan acara yang sebenarnya tanpa berpikir panjang, bahwa yang menjadi subuah keuntungan dari sebuah media elektronik selain kemasan dan isi acaranya yang menarik, juga keorisinilan karya tersebut. Karena, hal yang paling mahal di antara hal yang mahal adalah keaslian sebuah karya.
Lagipula, plagiarisme di Indonesia tak lepas dari sifat latah yang tak kunjung sembuh. Jika diperhatikan, tayangan-tayangan di televisi maupun berita-berita di media infotainment cetak dan elektronik terlihat seragam. Jika melihat sejarah, kondisi tersebut hampir sama dengan situasi media massa di era orde baru kepemimpinan Soeharto, di mana semua pemberitaan di seluruh media massa adalah sama. Sehingga tanggapan yang timbul pada saat itu adalah, pers Indonesia tidak kreatif.
Sebuah pengakuan mengenai plagiarsime karya cipta sempat ditayangkan di sebuah situs online. Menurut pengakuan penulis – seorang penulis lepas dan petualang – plagiarisme tak bisa dihindari ketika ia merasa “terjepit” keadaannya. Terjepit dalam artian, ketika semua sumber tulisan sudah ia pelajari, ide segarnya tetap tidak muncul-muncul. Kondisi yang menyenangkan saat membuat sebuah karya pun terasa sangat sulit dihadapi.
Maka dari itu, demi menciptakan sebuah kreatifitas dan pemikiran-pemikiran yang segar, serta demi mewujudkan sebuah penghargaan terhadap karya cipta orang lain, diharapkan budaya plagiarisme atau plagiat secara total dapat dihindarkan.

Referensi :
« http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme.htm »

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s