Sedikit Cerita Tentang Saya….

« Sesungguhnya Manusia Adalah Makhluk yang Teratur……Benar? »

Dalam kehidupan sehari-hari, etika sangat dibutuhkan oleh manusia baik dalam menjalankan kehidupan sebagai individu maupun kelompok sosial di lingkungan masyarakat luas. Tanpa etika, hakikat sebagai manusia pun seolah-olah tak terpenuhi secara menyeluruh.
Etika adalah seperangkat aturan atau norma tak tertulis yang mengatur tata cara hidup manusia agar terstruktur dan terarah. Etika diciptakan sebagai alat pengatur atau pengontrol kehidupan agar manusia dapat menjalankan esensinya sebagai makhluk hidup yang berbeda dari makhluk hidup yang lain.
Untuk mengaplikasikan etika dalam kehidupan bermasyarakat, pendidikan etika harus sejak dini ditanamkan para orang tua terhadap anaknya. Karena, peran terbesar dan terpenting yang paling berpengaruh dalam perkembangan seorang anak adalah peran orang tua dan keluarga.
Ketika berada dalam masa Balita (bawah lima tahun), saya mulai diajarkan bagaimana etika makan yang benar. Menurut ibu dan bibi saya, etika makan yang baik adalah tidak berbicara selagi makan. Logikanya mudah, agar tidak tersedak (itu merupakan alasan yang tepat untuk diberikan kepada seorang anak kecil). Selain itu, saya sempat dimarahi akibat makanan yang dibuang sia-sia (mubazir). Menurut mereka, nasi tersebut kelak akan mengejar saya dan menangis. Seorang anak kecil tentu akan percaya dengan perkataan seperti itu. Namun, orang dewasa tentu akan tertawa terbahak-bahak mendengarnya, seperti sebuah banyolan. Hal yang paling sulit dilakukan oleh kebanyakan orang – termasuk saya ketika itu – adalah meminimalisir bunyi yang keluar dari dentingan sendok dengan piring makan berikut bunyi yang timbul akibat gigi sedang mengunyah makanan di dalam mulut. Berkali-kali saya – ketika itu – dinasihati hingga jenuh. Tetapi dengan menjalankan “peraturan” tersebut – berikut makan dengan sikap yang tenang – membuat saya memiliki sopan santun dalam hal “makan”.
Pada saat saya sudah dapat berbicara – ketika itu saya senang mengoceh – saya diajarkan untuk bertutur santun di depan orang yang lebih tua dari saya. Kemudian saya bertanya, apa itu bertutur santun. Dengan singkat ibu menjawab, tidak berkata sembarangan dan kasar kepada orang yang lebih tua (sekali lagi, alasan yang bisa diterima anak kecil).
Beranjak remaja nampaknya lebih banyak “aturan” yang harus diketahui, tentunya dijalankan. Memasuki masa pubertas, saya si gadis remaja diajari etika berpakaian. Menurut keluarga, etika berpakaian adalah memakai pakaian yang pantas dan sopan. Tentu saja orang tua akan merasa tak nyaman melihat anak gadisnya berpakaian tak sopan, berpakaian sempit, dan tak beraturan (tidak rapi). Tetapi, sangat jarang remaja puber yang sedang asyik mengikuti tren menerima “aturan” tersebut dengan “lapang dada”.
Belum lagi masalah etika bepergian. Di dalam keluarga, sangat pantang anak perempuan remaja pulang ke rumah – sehabis bepergian – di atas pukul 18.00 WIB. Dalam etika bepergian tersebut dijelaskan bahwa anak perempuan remaja yang keluar pada waktu malam hari akan mendapat sorotan yang tidak baik di lingkungan sekitar. Selain itu, bahayanya kota Jakarta di malam hari membuat perasaan was-was para orang tua. Untuk etika yang satu ini, saya yang saat itu sedang menikmati masa-masa indah bersama teman sebaya merasa sangat tertekan. Bagi saya, saya seperti gadis “pingitan”.
Etika berbicara ditelepon juga saya “pelajari” dari ayah saya. Menurutnya, jika seorang anak perempuan menerima telepon dari laki-laki, perempuan tersebut tidak boleh mengeluarkan suara yang mendayu-dayu, tetapi harus bertutur secara lugas tanpa basa-basi. Selain itu, menelepon pada waktu malam menurut beliau adalah tidak sopan karena mengganggu waktu belajar anak serta aktivitas malam lainnya. Sehingga pada masa itu, saya merasa “ketakutan” jika ada deringan telepon di malam hari. Seperti “phobia” dengan dering telepon di malam hari, karena saya takut ada teman yang menelepon saya. Selain itu, sistem loud speaker phone juga berlaku bagi saya, agar tidak ada pembicaraan rahasia antara saya dan teman lawan jenis yang menelepon.
Dalam bertamu, ada etika yang harus saya pahami. Menurut ibu, ketika ada tamu berkunjung ke rumah saya, hal terbaik adalah keluar dari kamar – tempat persembunyian – kemudian menyalaminya (menyambutnya). Atau sedikit melontarkan basa-basi sebagai tanda tata krama dan sopan santun. Baru kemudian saya kembali ke kamar. Hal tersebut diberlakukan tentu saja agar si tamu merasa dikehendaki kehadirannya oleh tuan rumah. Padahal, saya kurang begitu suka menyambut tamu-tamu orang tua saya (tidak ada alasan yang signifikan).
Masih banyak aturan-aturan yang diajarkan secara perlahan oleh keluarga saya. Aturan-aturan tersebut diberlakukan dan diajarkan oleh para orang tua kepada anak-anak mereka di rumah. Biasanya, aturan-aturan tersebut muncul ketika saat itu – menurut orang tua – hal tersebut harus dikatakan. Biasanya menyangkut hal-hal kecil, hanya segelintir yang menyangkut masalah krusial. Maksudnya adalah ketika terjadi sebuah kejadian atau berada dalam suatu keadaan, ada saat di mana aturan-aturan tersebut harus disampaikan sebagai bahan pendidikan. Menurut saya, peraturan tersebut adalah sebuah etika kehidupan.
Perasaan kesal dan tak nyaman akibat etika-etika yang diajarkan oleh keluarga – karena bertentangan dengan kebebasan – membuat saya berpikir berulang-ulang. Saya sempat bertanya-tanya pada diri saya, “Mengapa semuanya harus ada aturan?” Saya merasa tak leluasa jika memiliki beragam etika dalam hidup, rasanya seperti terpenjara.
Seiring berjalannya waktu dan kematangan berpikir, saya mulai memahami arti kata “baik” dan “buruk”, “benar” dan “salah”, atau semacamnya. Berawal dari pemberontakan terhadap pendidikan etika, kemudian saya menyadari suatu hal bahwa dalam hidup ini dibutuhkan minimal satu buah aturan untuk mengatur segala tingkah laku dan kebiasaan hidup kita sebagai seorang manusia. Karena selain akal, perbedaan manusia dengan hewan dan tumbuhan juga terletak pada aturannya. Manusia sesungguhnya adalah makhluk yang teratur, begitu pikir saya.
Akibat pendidikan etika yang dilakukan orang tua saya sejak dini membuat saya merasa hidup lebih teratur saat ini. Mungkin saat saya masih kecil pikiran saya masih terlalu sempit untuk menerima berbagai aturan (karena saya sulit diatur), sehingga saya merasa hidup dengan etika adalah terkekang. Hasil yang di dapat dari pendidikan orang tua tersebut tentunya sangatlah banyak. Mulai dari tidak mengeluarkan suara apapun – diminimalisir sebisa mungkin – ketika sedang makan, baik dari dalam maupun dari luar ; mengetahui bahayanya dunia “malam” bagi perempuan dan pandangan orang lain terhadap anak perempuan yang pulang di malam hari, sehingga saya berusaha sebisa mungkin menjaga imej keluarga dan memerhatikan keselamatan diri dengan cara tak pulang ke rumah dengan melebihi batas waktu yang telah ditetapkan orang tua ; selalu bertutur santun terhadap orang yang lebih tua dan lembut terhadap sesama agar mereka merasakan kenyamanan dalam sebuah hubungan sosial ; mengenakan pakaian yang menutup aurat perempuan, karena sesungguhnya kebudayaan timur berbeda dengan kebudayaan di barat sehingga etika berpakaian pun di atur oleh bangsa timur; bersikap santun dalam menyambut tamu juga telah saya lakukan saat ini. Bagi saya, menghormati tamu merupakan kewajiban sang tuan rumah; tahu bagaimana bersikap sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga tidak menimbulkan konflik atau “keracuan” perilaku ; dan sebagainya.
Sejak merasakan manfaatnya etika dalam hidup, saya merasa bahwa saya lebih beraturan dalam menjalani keseharian. Tentunya dengan semua itu, saya lebih merasa menjadi seorang manusia seutuhnya, yaitu makhluk yang sempurna dengan segala akal dan kemampuannya, termasuk kondisi yang memiliki aturan di dalam kehidupan.
Jika di dalam hidup ini manusia tidak memiliki sebuah etika kehidupan. Maka manusia tersebut tidak memahami bahwa etika merupakan sebuah kebutuhan hidup yang patut dimiliki dan dijaga oleh setiap orang.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s