Saya Sebagai Seorang Warga Negara

 

Definisi sebagai seorang warga negara Indonesia (WNI) hingga saat ini masih bias bagi masyarakat Indonesia. Hal tersebut bukanlah sebuah asumsi belaka. Di dalam UUD 1945 Bab X yang mengatur tentang kewarganegaraan tertera di dalamnya berbagai persyaratan yang harus dimilki seseorang jika ingin menjadi WNI, salah satunya orang yang ingin menjadi WNI harus bisa (lancar / fasih) berbahasa Indonesia.

Namun pada kenyataannya, masih ada warga asing yang menjadi WNI tidak cukup fasih berbahasa Indonesia. Misalnya, dalam pengucapan bahasa Indonesia, mereka masih mengalami kesulitan dan kegamangan dalam memilih kata benda dan kata kerja. Selain itu, struktur kalimat yang mereka gunakan masih berantakan. Sebagai warga asli Indonesia, saya sangat prihatin terhadap kondisi seperti itu. Seolah-olah, sangatlah mudah menjadi WNI. Memang, beberapa warga keturunan Tionghoa yang ingin menjadi WNI mengalami proses yang sangat sulit, tetapi di sisi lain bisa dijumpai kasus seperti masalah dalam bahasa. Bukan hanya itu, terkadang warga negara asli keturunan Indonesia tidak mencintai negeri dan bahasa tanah airnya. Mungkin di era globalisasi saat ini menjadikan masyarakat lebih memilih menggunakan bahasa internasional daripada bahasa Indonesia dan lebih suka menggunakan produk impor daripada produk dalam negeri, padahal produk negeri kita tak jauh ketinggalan, hanya kekurangan SDM (Sumber Daya Manusia).

Dalam hal ini, partisipasi masyarakat sangat kurang terhadap apa yang bisa dikembangkan dari tanah airnya. Contoh lain yang bisa dijumpai adalah kebudayaan. Tak sedikit kebudayaan tradisional yang “dilupakan” dan bahkan hampir musnah akibat modernisasi masyarakat. Seharusnya kebudayaan lama justru dibudidayakan, bukan sengaja dimusahkan.

Sebagai negara yang berdaulat, Indonesia memiliki Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum melengkapi pilar hukum Undang-Undang Dasar 1945. Tetapi pada kenyataannya isi kandungan sila dari sila pertama hingga kelima tidak berdampak positif bagi rakyat. Masih ada rakyat yang bertikai, keadilan pun sangat mahal. Masyarakat kota tidak lagi mengutamakan paguyuban. Semua berubah sesuai perkembangan zaman. Pertanyaannya, apakah Pancasila sudah tidak diperlukan lagi?

Pada dasarnya, pancasila dibuat atas dasar kepribadian bangsa Indonesia, yaitu yang menjunjung tinggi persatuan, keadilan, kebebasan beragama, paguyuban, dan kedaulatan berada di tangan rakyat. Tetapi saat ini, fungsi pancasila tidak lagi berjalan dengan sebagai mana mestinya. Tentu saja, yang saya inginkan bukanlah perevisian dari Pancasila, tetapi berusaha mengembalikan jati diri dan kepribadian bangsa ini. Adalah sebuah kekonyolan jika harus merubah keputusan yang telah dibuat dengan sebuah proses yang panjang yang juga merupakan cerminan kepribadian bangsa ini.

Seharusnya, dengan berkembangnya zaman dan kepentingan masyarakat, tak menjadikan alasan perubahan jati diri bangsa. Justru ketika dihadapi oleh beragam perbedaan, bagaimana caranya bangsa ini dapat mempertahankan jati dirinya. Dan langkah yang paling tepat adalah mengembalikan kepribadian asli bangsa yang telah terkoyak oleh globalisasi dan konflik yang berkepanjangan.

Adalah tugas Pancasila sebagai tonggak untuk kembali menyatukan masyarakat yang berdaulat agar bangsa Indonesia memiliki citra yang positif di mata dunia dan dapat bertahan dalam kondisi apapun. Dan saya sebagai seorang warga negara, akan berusaha mempertahankan jati diri bangsa sebagai refleksi dari Pancasila.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s