« The Story of The BackPackers »

Jatinangor, Rabu, 23 Januari 2008
————————————

Siluet di atas Bukit Terjal.jpg

Siang ini masih dilalui dengan santai. Aku masih memikirkan mau makan siang di mana bersama Risna, bahkan kami dengan santainya berjalan ke ATM di Gerbang Barat Unpad yang lumayan jauh dengan keringat yang bercucuran akibat sengatan sinar matahari yang menyala. Kami tertawa, bercerita, dan makan ayam bakar di Merot yang harganya kurang bersahabat dengan mahasiswa. Di sisi lain kami masih terombang-ambing dengan keputusan Ayu yang menyangkut rencana liburan kami untuk menghilangkan penat semester 5.
 Posisi Ayu di sini sebagai penentu, karena kami berencana ke rumahnya di D.I Yogyakarta sore ini. Ayu sempat bingung, jadi berangkat sekarang atau tidak. Rupanya yang membuat bingung adalah bahwa besok, nilai mata kuliah feature elektronik akan keluar, sehingga bagi mahasiswa yang berhak remedial, harus hadir ke kampus saat itu juga atau H+1. Jemuran Risna belum kering, dia menyetujui jika keberangkatan kami ditunda. Aku? Awalnya agak keberatan, karena penundaan itu akan berpengaruh pada kuantitas liburan ku di Jakarta. Tetapi sekali lagi, kami pasrah pada keputusan Ayu.
 Drrrtttt.. Handphone ku bergetar. Ada SMS dari Ayu. « Keputusannya kita ke Yogya hari ini !! Kalau gue nunggu nilai keluar juga percuma, karena belum tentu juga nilai gue bisa diperjuangkan (remedial). Kumpul di Pospol jam 17.30 WIB teng !!  »
Yesssssss,,, horeeee!! Akhirnya kami jadi ke Yogya senja ini. Kami buru-buru menghabiskan makanan, mengakhiri cerita, dan membayar makanan kami. Kami bergegas. Belum packing !!!
Azan sudah berkumandang di daerah Cileunyi. Aku dan Ayu terus melihat jam. Aku sibuk memencet tuts handphone ku. Risna lama sekali belum datang! Sambil membeli peuyeum dan tolak angin, kami terus menengok dalam ke setiap angkot yang melintas ke depan kami. Mana Risna? Akhirnya setelah satu jam berlalu, saat semua ummat muslim berkomunikasi dengan Rabb mereka, Risna datang sambil tersenyum tanpa dosa. Seperti biasa, jam karet ala Indonesia!
 Kami berangkat menuju kiara condong. Senja ini hujan turun dengan lebatnya. Kami mengeluarkan payung, dua buah untuk tiga orang. Kami kami basah. Air-air itu berkumpul dan menggenang di bahu jalan. Sudah lama kami berpindah dari angkot pertama ke angkot berikutnya, tapi dasar angkot Bandung, kalau « ngetem » bisa bikin kaki dan payung kami yang basah kuyup jadi kering kerontang. Lama pisan!
 Aku terus melihat jam. Sudah jam 19.15. Sementara Ayu memperkirakan jadwal keberangkatan kereta ekonomi jurusan Kediri (via Yogyakarta) sekitar pukul 19.45 WIB. « Tenang aja, insya allah sampai stasiun Kiara Condong pukul 19.30 WIB, » kata Ayu mencoba menenangkan.

Kiara Condong, Bandung : « Detik-Detik Keberangkatan »
————————————————————–

Kami berjalan cepat menelusuri paving blok itu. Gerimis semakin menghujam. « Pukul 19.40 WIB ! » kata ku. Tapi kekhawatiran itu rupanya berumur pendek. Petugas loket memberitahu kami, keberangkatan kareta api yang akan kami tumpangi bukan pukul 19.45, tetapi pukul 20.15 ! Huuhhhhh, kami bisa menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan (seperti Yoga). Kehadiran kami di stasiun tak berakhir kekecewaan. Lega rasanya. Kami pun beranjak ke mushala, shalat !!!
 « Gerbong 6 di mana, Pak? »
 « Oh, di sebelah sana, Neng. Arah belakang »
Aku heran. Kami memesan tiket kereta api ekonomi, tapi sudah ada ketentuan gerbong, bahkan seat (tempat duduk) nya. Dalam otak ku, ketika kami akan naik kereta, kami berlari-lari menuju kereta seperti atlet sepak bola yang berebut bola, sikut-sikutan, dan memasang mata tajam untuk berebut bangku kosong. Lah, kalau ini sih, seperti tak punya tangtangan ! Payah !
 Aku dan Risna berbeda tempat duduk dengan Ayu. Tiba-tiba Ayu meminta seseorang yang duduk di sebelahnya, sebut saja « Mas-mas », untuk bertukar tempat duduk. Alhasil, kami duduk bertiga, dan si Mas-mas itu terdampar seorang diri di tempat duduk yang awalnya di tempati aku dan Risna.
 « Lu tau nggak, kenapa gue nyuruh di mas-mas itu tuker tempat dengan kalian berdua? » kata Ayu.
 « Karena loe kesepian nggak ada teman ngobrol, kan? » kata ku polos.
 « Iiihh, bukaaaannn!! » kata Ayu meringis.
 « Loe tau nggak sih? Si mas-mas yang di sebelah gue itu ngomongnya ngaco dan sok tahu ! Masa dia bercuap-cuap ini lah, itu lah, yang jelas-jelas salah tapi dia ngerasa paling tahu. Gue jadinya cuma bisa ngeringis dan bilang Ya ya ya. »
 Ayu pun menceritakan obrolan konyol mereka hingga aku tertawa (untung saja tidak keram perut). Memang, pola pikir dan cara bertutur mahasiswa dengan masyarakat yang memiliki pendidikan ala kadarnya berbeda, sehingga hal konyol yang awalnya membosankan dan mengesalkan bagi Ayu, berubah jadi sebuah hiburan yang mahal dan menghilangkan stres kami. (Hehehehe, maap-maap nih mas, bukan maksud ngatain, tapi emang si mas lebih baik bobo aja di kursi ujung sana. Huahahahahaha).
 
Selamat Tidur Ibu dan Kaki yang Baik
——————————————-

Malam itu dingin. Kami bertiga tertidur pulas. Apalagi setelah receh ku habis untuk membeli dua batang cokelat seribuan dan nasi goreng tiga ribuan untuk sahur (besok kan Kamis). Aku terjaga beberapa saat. Leher ku sakit, salah posisi tidur. Aku lihat Ayu dan Risna sudah terbang jauh ke pulau impian. Dua orang ibu yang duduk berhadapan dengan ku juga sudah tidur sangat pulas setelah membuang sampah-sampah sisa makanan mereka ke bawah kursi.
 Salah seorang ibu yang berada tepat di hadapan ku itu sudah kekenyangan dan tidur nyenyak bak sedang berada di syurga. Mulutnya ternganga. Yang membuat ku tak nyenyak tidur pada mulanya  bukanlah karena salah posisi tidur, tetapi karena ke dua kaki si ibu itu, dia naikkan ke atas kursi ku !!! Kakinya bergerak-gerak maju-mudur seperti gerakan menendang (pencak silat?). Ingin rasanya ku turunkan kaki-kaki pengganggu itu. Dalam hati aku berkata « Punten ibu, ini kursi saya. Kaki Anda tepat berada di depan pangkuan saya. Tolonglah Ibu yang baik hati, saya sangat mengantuk, tapi saya tidak bisa tidur, karena kaki Anda. Kita kan sudah punya masing-masing bangku toh, Bu? Kalau kereta eksekutif memang ada penyanggah kaki di depan setiap kursi, Bu. Tapi ini kan kelas ekonomi, jadi kaki Anda saat ini bukan berada di penyanggah kaki, Bu. Tapi di kursi saya, di pangkuan saya. Huaaa!!!!!  »
 Tapi itu hanyalah teriakan nurani saya yang paling dalam. Saat ini saya sedang memosisikan diri sebagai pengguna kereta api kelas ekonomi. Kereta api kelas 3, bukan kelas 1. Jadi ikhlaskan saja tindakan si ibu itu. Di kelas ekonomi tak ada waktu untuk memikirkan kenyamanan maupun etika. Sudah duduk dan selamat sampai tujuan saja sudah syukur alhamdulillah !
 Jadi, baiklah! Selamat tidur ibu dan kaki yang baik……

Yogyakarta, Kamis, 24 Januari 2008 pukul 04.30 : « Welcome to Lempuyangan »
—————————————————————————————

« 15 menit lagi Yogya, siap-siap, » kata seorang pria yang membangunkan kami setelah 30 menit yang lalu kami tertidur setelah sahur. Pria itu memegang pengharum ruangan. Dia menyemprot-nyemprotkan pengharum itu ke setiap bangku penumpang. Ku kira dia petugas kereta api yang bisa membuat ku terkagum-kagum, « Wah, kereta api ekonomi punya cleaning service ». Tetapi tak berapa lama ketakjuban ku mengempis seperti balon yang bocor dan terbang ke langit biru (kemudian dikejar anak-anaka. Lho?) Pria tersebut menadahkan tangannya dan berkata, « Buat makan, kasih seikhlasnya. » Gubraakkkkk!!! Ckckckck… It’s my new phenomena. I like that!
 Aku mengintip arloji ku. Pukul 04.30 WIB, pas dengan waktu azan subuh. Kami berkemas dan bergegas. Mengambil ransel, memeriksa barang-barang takut ada yang tertinggal, mengecek handphone, dan kami pun tiba di stasiun Lempuyangan, Daerah Istimewa Yogyakarta!
 « Yogyaaaaa ! » kata ku girang. Wajar aku senang. Kali pertama aku ke Yogya saat Januari 2005, sudah tiga tahun! Kini aku kembali berwisata ke sini. Benar-benar menyenangkan.
 Kami menaruh tas di mushala, mengantri di toilet, shalat, foto-foto, dan naik becak sambil berfoto menuju rumah Ayu.

Malioboro, Beringharjo, Mirota, dan Es Dawet
————————————————–

Istirahat memang belum cukup, tapi sejak pukul 09.00 WIB kami dengan semangat menuju Malioboro. Yogya panas ! Kami mengeluarkan payung (seperti puteri juragan saja, yang kulitnya tak bisa terjilat sinar matahari barang sedikit saja!). Kami cukup berjalan kaki, rumah Ayu bisa dibilang cukup dekat dengan Malioboro. Aku menikmati apiknya tata kota jalan raya Yogya. Di tengah jalan aku melihat sebuah food court yang terletak di tengah jalan (agak kepinggir sedikit sih) yang dilengkapi live music gambang kromong. Salut !
 Kami menelusuri sepanjang jalan Malioboro. Di sana banyak sekali pedagang es dawet dan es durian. Aku dan Risna, yang saat itu sedang berpuasa dan merasa kepanasan sempat tergoda syaitan. « Duh, apa dibatalin aja ya puasanya? Ada es dawet, panas nih, » kata Risna. Namun godaan syaitan itu hanya singgah beberapa menit, karena kami mulai kalap berbelanja, menawar tas batik, serta mencari kalung dan gelang untuk oleh-oleh. Jadi, berpuasa lah kami sampai maghrib.
 Kamudian kami singgah ke Beringarjo, sebuah pasar tradisional yang menjual segala macam batik. Mulai dari baju batik, daster batik, celana batik, rok batik, gamis batik, kain batik, dan apa saja yang berembel-embel batik. Aku, seperti biasa, selalu kalap kalau belanja. Aku membeli baju batik untuk ke kampus dan kondangan (barangkali besok teman menikah, hehehe). Membeli baju batik, rok batik dan celana, untuk Mami, adik-adik, dan pembantu di rumah ku. Aku sibuk mencari, memilih, menawar, dan menyiapkan sekuat tenaga untuk menenteng belanjaan yang cukup membuat jemari ku merah dan membekas !
 Setelah berpanas-panas ria dengan peluh dan keringat, kami ke Mirota. Aku sempat heran, « Tempat apa ini? Kok kemenyannya bau sekali, sangat menyengat? Di mana-mana di letakkan kemenyan. Belum lagi ada banyak dupa yang di jual. Untung aku tidak pingsan menghirup wewangian aneh tersebut (karena di toko ini ber-AC, jadi wewangian apapun pasti menyebar ke seantero ruangan). Untuk apa pula kemenyan itu di toko sebagus ini? Tak masuk akal sehat ku ! »
 Meski kemenyan-kemenyan itu membuat ku tak nyaman, aku tetap kalap dalam belanja. Ku beli puzzle kayu, beberapa pembatas buku motif wayang (wayang asli Indonesia, bukan wayang yang dijiplak Malaysia seolah-olah itu kebudayaan Malaysia), pensil hias, sandal batik, jamu, dan cokelat Monggo (cokelat impian, yang ku nanti-nanti, mahal, tapi berkualitas !)
Hari sudah sore. Matahari itu mulai bersiap-siap meninggalkan kami yang saat itu sedang memamerkan barang-barang belanjaan masing-masing, di rumah Ayu, sambil mengeringkan keringat.  Mpek-mpek sudah di siapkan di atas meja makan oleh Mas Agung, sepupu Ayu yang bekerja sebagai fotografer di harian Kompas, Jakarta.
 « Mpek-mpeknya enak, cobain deh, » katanya.
 Mas Agung mulai bercerita soal wisata kuliner di Yogya. Mulai dari tempat bakmi yang paling enak (yang dia rekomendasikan untuk memesan bakmi kuah), mpek-mpek yang wuenak, sampai tempat es dawet yang enak.
 Saatnya ngabuburit ! Kami ke tempat es dawet yang katanya enak. Ternyata tempatnya sangat dekat dengan rumah Ayu. Kami memesan es dawet komplit (pakai buah nangka), sambil menunggu azan maghrib, kami menghabiskan waktu dengan foto-foto (iri sama bule-bule yang duduk di belakang kami, dia memotret pakai SLR tidak tanggung-tanggung, daftar menu juga dia foto !). Akhirnya, baru saja azan maghrib berkumandang, es dawet itu sudah kami lahap dengan ganasnya. « Enaaaaaakkkkk, » teriak Risna (kata Risna, es dawet ini bisa bikin orang yang makan jadi ketagihan). Es kelapa muda yang Ayu makan juga berbeda, pakai sirup merah (lupa merk nya) (eh, kok aku kaya Om Bondan sih?). Mungkin karena suasana berbuka puasa, jadi apa pun terasa nikmat. Kami masih haus, sehingga es jeruk dan es teh manis kami tumpahkan ke dalam perut ini. Hehehehe.

Yogyakarta, Jum’at 25 Januari 2008 : « Saatnya Berkeliling ! And Meet New Friends ! »
——————————————————————

Pagi ini kami buru-buru mandi (sebenarnya sejak tiba di Yogya kami hobi mandi, panas sekaliiiii). Pukul 10.00 WIB aku sudah punya janji dengan teman-teman Balairung (nama pers mahasiswa UGM). Aku atas nama dJ (dJATINANGOR, pers mahasiswa Fikom Unpad) berencana mengadakan kunjungan, niatnya sharing dan study banding (biasa mahasiswa, di mana ada kesempatan, sulit menolak untuk UKM tercinta, halaahhh). Ayu dan Risna yang notabene bukan anak dJ, tetapi Diurna (pers mahasiswa jurnalistik) tetap setia menemani ku mengadakan kunjungan (aku memang punya program kerja tahunan untuk mengadakan kunjungan ke persma-persma di wilayah Bandung dan luar Bandung, jadi yah, tidak ada salahnya wisata sekalian mengerjakan proker yang menyenangkan).
 Kami di sambut baik oleh teman-teman Balairung UGM. Pada awalnya pun sudah disambut baik dengan suasana jalan Bulaksumur yang sangat nyaman dan tenang (seandainya Unpad punya komplek seperti Bulaksumur, hikshiks). Kami mengisi daftar tamu, saling berkenalan, makan beberapa cemilan untuk beberapa menit, karena pada akhirnya cemilan itu « direbut » oleh awak-awak Balairung sampai tinggal plastiknya saja ! (cowo-cowo yang lapar, dan Mba Azi saat itu selalu minta maaf sama aku seperti ini : « Duh Egha, maafin kita-kita yah, sepertinya kita-kita di luar bayangan Egha ». Aku cuma tertawa puas, puas melihat orang-orang yang tidak segan-segan menaruh makanan sebanyak-banyaknya dilantai, tanpa alas tentunya, dan saling berebutan). Kami berbagi, mulai dari gaya bicara semi-formal dengan bahasan yang semi-formal, hingga berbicara yang membuat kita tertawa-tawa.
 Pembahasan konyol, seperti :
« Bagaimana dJ mendapatkan pengiklan? »
« Oh, siapkan awak-awak yang cantik, dandan, ber high-hill, lalu ajukan proposal deh! »
Atau
« Kondisi dJ yang mayoritas perempuan alias ibu-ibu arisan, pasti sensitif ya? »
« Oh iya, bahkan bicara dengan air mata juga bisa. »
Atau
« Balairung kok banyakan cowo? Enak dong, royal dan loyal sama temen? »
« Ah, kata siapa? Menyusahkan mah cowo-cowo itu. Huhh, kacau lah pokoknya. »
Atau
« Perkenalkan, saya si A dari angkatan 2005! »
« Huahahahaha! 2005 tapi mukanya tua bangeeeet ! »
« Yahh, ketahuan deh saya 2003. »
Atau
« Wah, Mba Egha dari mana? »
« Dari tadiii, dari keluarga baik-baik Mas !! (bukan aku yang ngocol ini, tapi mereka!)  »
Atau
« Kapan-kapan mampir ke ndeso Jatinangor yooo. »
« Okeeee »
 Kami pun foto-foto di depan sekre Balairung. Aku dan Risna melanjutkan foto-foto di bawah pohon sambil berpura-pura sedang memanjat pohon.
 Ckckckck.. yang namanya mahasiswa, secara garis besar memang edan !

Mau Shalat Kok Repot?
————————–

Shalat jum’at sudah selesai. Aku, Ayu, dan Risna bergegas menuju masjid UGM. Ayu sebagai penunjuk jalan, tetapberjalan di depan dengan keadaan diam. Aku dan Risna mulai panik.
« Gha, perhatiin deh, kok sama sekali nggak ada akhwatnya ya? Pada ke mana akhwat-akhwatnya? » kata Risna.
Aku yang sedang mengerutkan jidat, karena menahan panas mulai melihat ke beberapa arah (selama perjalanan selalu menunduk sih).
« Oh, mungkin masjid masih dipenuhi para ikhwan, karena memang baru saja selesai shalat jum’at, » kata ku.
 Risna dan aku kembali mengikuti Ayu. Aku dan Risna tersentak. Kami diam beberapa saat saat kami melihat Ayu menaiki tangga masuk menuju tempat wudhu.
 « Hah? Kita harus melewati para ikhwan yang berseliweran? Nggak salah? » kata ku dan Risna berbarengan.
 Jelas kami tahu itu bukan lokasi para akhwat, wong nggak ada yang pakai rok, tapi celana semua (terlihat dari bawah). Kami berdua diam, Ayu tetap jalan melenggang tanpa segan secuil pun.
 « Ayu uda eror ya? » kata ku sambil deg-degan.
 Setelah beberapa saat kami diam di depan tangga, akhirnya kami memutuskan mengikuti Ayu. Dengan tetap menunduk dan berjalan secepat kilat. Sesampainya di tempat wudhu, Risna protes.
 « Yu, loe nggak salah tempat kan? Loe tau jalan kan? »
 « Iya Yu, kok kita nerobos banyak ikhwan-ikhwan? Emang bener jalan yang kita lewatin tadi? » tanya ku sambil menaruh tas di lantai.
 Ayu tersenyum, tertawa, dan berkata : « Huahaha. Emang gue motong jalan ke tempat ikhwan, biar cepet. Kalau nggak, kita harus muter jauh banget. Masalahnya di luar kan panas banget. Loe mau panas-panasan kelamaan? jelas Ayu panjang lebar.
 Aku dan Risna terdiam, berpandang-pandangan, dan pada akhirnya « Astagfirullah ‘aladzimmm. Ayuuuuu!!! »
 Ayu pun masuk ke kamar mandi. Aku dan Risna yang sudah selesai berwudhu hanya bisa pasrah. « Masyaallah Ayu, » kata ku sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berkali-kali berta’awudz. Risna pun sudah tidak bisa berkata apa-apa. Tapi untungnya tempat wudhu yang kami singgahi benar untuk wudhu akhwat !
 Kami keluar menuju masjid. Memang benar-benar perjuangan. Kami kembali melewati para ikhwan. Aku terus menunduk, berjaga-jaga. Aku hanya melihat kaki-kaki yang berseliweran. Huuhh, cukup pertama dan terakhir kalinya seperti ini, Ayu !
 Kalau kata Risna, « Seandainya ada sapu, gue sapu tuh para ikhwan. Wuzzz… kami mau lewaaatt.. »
Hahaha, dasar Risna !

400 Tahun Berlalu, Namun di Tempat Pemandian Itu Aku Tetap Terkesima
———————————————————————————–

Taman Sari.jpg 

Sesudah shalat dzuhur, Aku, Ayu, Risna, Galih (adik Ayu), dan salah seorang teman Ayu (aku lupa namanya) pergi menuju Taman Sari, tempat yang konon adalah tempat pemandian para ratu dan puteri keraton. Untungnya, kami naik mobil temannya Ayu, jadi kami tidak terbakar oleh hawa panas Yogya.
 Aku takjub. Terkesima. Tempatnya sangat indah. Sayang kurang di rawat, padahal setiap pengunjung diharuskan membayar Rp 2.500, masa penjaganya tidak menjaga kebersihan kawasan wisata sejarah tersebut? Sudah 400 tahun tempat ini ada. Beberapa bangunan sudah runtuh, sisanya yang masih kokoh di hiasi lumut kering. Bangunannya sangat terlihat sudah berumur, namun tetap indah layaknya bangunan remaja.
 Kami menghirup dalam-dalam hawa sejarahnya hingga ke paru-paru, mencerna setiap makna yang terukir dibangunan itu, dan mengabadikannya dengan sebuah kamera digital. Kami menikmati kucuran air kolam yang agak kehijauan, menelusuri rumah penduduk, dan menapaki setiap anak tangga menuju goa pemandian. Indah, meski sudah mati sekali pun.
Good Afternoon Bakpia Pathok « 25 » !!!
——————————————-
Sepulang dari Taman Sari, kami mampir ke toko oleh-oleh khas Yogya, bakpia pathok 25 ! Aku bingung memilih, karena terlalu banyak makanan camilan yang di jual. Aku mulai mencicip beberapa rasa dari bakpia yang disuguhkan si pelayan. Aku mengambil beberapa bakpia dan wingko babat khas Surabaya.
 Toko tersebut nyaman. Lebih bagus dan lebih luas dari toko-toko bakpia yang lain. Pelayannya banyak. Tentu saja harga makanan di situ lebih mahal. Aku memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah dan sebuah logam lima ratus rupiah kepada petugas kasir, mengambil makanan-makan itu, dan mencomot beberapa bakpia tester yang ditinggal secara cuma-cuma oleh pelayan untuk pengunjung. Lumayan belum makan siang, rejeki !

Yogyakarta, Sabtu, 26 Januari 2008 : « Yang Tersisa Untuk Kami »
———————————————————————-

Sabtu, pukul 20.55 WIB nanti, aku sudah berangkat meninggalkan Yogya menuju Jakarta. Aku dan Risna berpikir, lebih baik manfaatkan waktu yang tersisa untuk menghibur hati di Yogyakarta. Kami menelusuri jalan Malioboro, mencari es dawet dan makan mie ayam. Kenyang ! Cuma Rp 7.500 semuanya (mahal??).
 Aku dan Risna kembali berbelanja beberapa barang yang lupa di beli di hari pertama kemarin. Kami sibuk mencari kalung untuk si Unyil Nisa dan Irein-chan, sohib kami di kampus, dan memilih gelang-gelang untuk Achi dan Rahma, sohib SMA ku yang ada di Jakarta. Untung sebelumnya aku sudah membeli beberapa gelang untuk Tria dan Wina bear, dan tas batik untuk Snowball Musfy dan Florence, sohib ku di kampus dan kosan. Ayu tinggal di rumah. Dia harus merapihkan rumahnya, karena tak mungkin ke dua adik sepupunya yang laki-laki itu bersedia membersihkan rumah mereka.
 Saat di pasar Beringharjo, aku membeli kain batik untuk di buat gamis.
 « Lucu juga gamis batik, » pikir ku.
 Risna sibuk membelikan celana-celana batik untuk adik-adiknya. Aku dan Risna tak sadar terpisah. Kami terlalu sibuk memikirkan barang-barang yang ingin kami beli. Untung saja oleh-oleh untuk ibu kami sudah di beli kemarin, kalau tidak baju kami bisa basah kuyup dihujani keringat !
 Setelah puas berbelanja kami melewati kantor Gubernur DIY. Tentu saja, kami foto-foto di sana (sampai satpamnya ketawa-tawa). Karena kami belum shalat dzuhur, kami pun hendak shalat di masjid Malioboro. Setelah shalat, kami kembali foto-foto di depan gwdung DPRD DIY. Tak lupa, kami bergaya di depan patung Jenderal Soedirman.
 Kami haus dan kepanasan. Kami berhenti di sebuah pohon rindang untuk duduk. Ternyata, di bawah pohon itu ada becak. Hilanglah niat awal untuk beristirahat, karena kami akhirnya foto dengan si becak. Tak berapa lama, tukang becaknya datang meracaw.
 « Mau naik becak, Mba? Nanti saya antar ke tempat bakpia pathok, atau mau ke mana? »
 Setelah itu dia terus berdiri di depan becaknya. Itu menghalangi kami foto-foto dengan si becak. Alhasil, kami pun mengalah dan pergi !
Tak berapa lama kami duduk di bangku permanen yang terbuat dari semen. Bangku itu berwarna-warni dan ada tulisan bahwa kursi itu pemberian dari pemerintah (sultan). Kami duduk di sana, memesan es teh manis, dan meneguknya dalam hitungan detik (berlebihan!). Risna sibuk mencari kerupuk dan gorengan. Tampaknya selain haus, Risna mulai lapar !
 Setelah menghilangkan lelah, kami kembali berjalan. Kami mampir ke sebuah food court yang berada di sisi jalan raya (setelah berusaha menyebrang jalan dengan was-was. Mobil dan motornya ngebut-ngebut). Aku tertarik dengan live music gambang keromongnya. Kami lagi-lagi mengabadikannya lewat kamera digital.
 Hari semakin panas. Kami kembali menyusuri jalan (dan menyebrang ke sana dan ke mari tentunya). Kami tiba di sebuah tugu Yogyakarta yang di bawahnya terdapat air mancur yang menari-nari. Tugu tersebut semakin cantik, karena di sekelilingnya terdapat taman cukup luas yang dipenuhi rumput hijau menyala dan bunga-bunga berwarna-warni bak pelangi. Lagi-lagi, kami abadikan momen itu dengan sebuah kamera digital (tak peduli puluhan mata memandang dan tertawa, karena memang tugu tersebut berada tepat ditengah jalan seperti boulevard. Sehingga ketika lampu merah, kami harus diam sejenak agar tak jadi bahan guyonan para pengendara mobil, motor, becak, bus, dan delman !)
 Tak jauh dari tugu, ada terowongan pendek yang dihiasi grafity. Kami tertarik untuk ke sana. Dan, foto-foto !
 Senja semakin merona. Wajah pun sudah terbakar teriknya sang surya. Keringat ini masih merembes ke sela-sela pakaian. Kami pun bergegas pulang.

Karena Mereka, Aku Belajar !
———————————

Selepas shalat maghrib, aku mulai mengepak barang.
« Ya Allah, banyak banget nih barang? » kata ku sambil melencangkan tangan ke pinggang.
 Aku dan Risna mulai merapikan barang. Malam ini tak cukup banyak untuk keluar dan memesan makanan. Mas Gogot, adik sepupu Ayu dengan baik hati membelikan kami nasi goreng yang super pedas, tetapi setelah dirasa lumayan tawar. Ayu sibuk membantu kami mencarikan kantong plastik besar dan membantu menyusun barang-barang Risna (penataan barang ke dalam tasnya ambruladul soalnya).
 Semua siap. Aku terus mengingatkan Risna agar lebih cepat, takut terlambat. Aku kembali melihat arloji.
 « Na, sudah pukul 20.00 WIB. Ayo buru ! » kata ku. Aku cemas karena kami akan berangkat pukul 20.55 WIB. Meskipun jarak antara rumah Ayu dan stasiun Lempuyangan sangat dekat, akukembali berpikir bahwa kami akan menaiki kereta ekonomi yang notabene saling berebut, saling sikut, dan sebagainya. Namun tetap saja cemas itu mereda ketika berkaca pada pengalaman berangkat dari Bandung ke Yogya, tidak seperti economic class.
 Setelah kami membeli tiket, kami mulai heran. Digerbong berapa dan seat berapa? Salah seorang petugas kemudian berkata, « Bebas, Mba! »
Ya Allah, sepertinya petualangan kami dimulai !
« Kereta dari arah Barat jurusan Kediri-Jakarta akan segera melewati jalur 2, » kata seorang petugas. Kami langsung bersiap-siap layaknya power ranger yang akan menghadapi musuh. Ku lihat ke kiri dan ke kanan, banyak sekali penumpangnya. Baiklah, siapkan fisik !

(bersambung)

Une réflexion sur “« The Story of The BackPackers »

  1. hahaha,,,,SERU CERITA NYA BU!!!!

    lo berbakat jd penulis cerpen/nopeL

    Oleh-oleh buat ane manaaaaaaaaaaaaaaaaa ^^

    oleh2nya poto uka2 yg diatas ya? yg blur2 kan??

    wakakakaka

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s