Menyusuri Pinggiran Pulau Jawa

Minggu itu, kami sekeluarga berencana rihlah ke Pantai Pulorida, Merak, Banten. Sebelum ke tempat itu, kami singgah sebentar ke sebuah desa yang terlihat seperti « desa hantu ». Desa yang berdesign layaknya perumahan cibubur, tetapi hanya beberapa orang yang tinggal di sana. Selebihnya, puluhan rumah sudah terkelupas cat temboknya, daun-daun gugur menyelimuti pekarangan rumah mereka. Itu karena di tinggal pergi penghuninya.

Di sepanjang jalan yang kering dan gersang bak Kota Mecca itu, setelah rumah-rumah tak berpenghuni itu menjauh dari pandangan mata. Kami terus menyusuri jalan. Tampak kiri-kanan kami stepa yang luas. Tanah-tanah itu terpecah-pecah seperti kue yang terlalu masak di dalam oven.

Beberapa meter kemudian, hamparan gunung kapur seperti menyelimuti wilayah itu. Itulah Desa Maja, Banten. Di sanalah sesuatu yang tak pernah terkuak, tampak seperti lukisan tiga dimensi yang teramat indah milik Sang Pencipta.

Ku lihat serbuk-serbuk kapur bertebaran menghiasi gunung-gunung yang sudah pecah itu seperti float di atas cappucino. Ada biawak yang sedang bermain di danau luas tak beriak. Dan tak jauh dari sana, ku temukan banyak fosil-fosil tumbuhan yang gagal menjadi batubara.

Subhanallah. Begitu indahnya lukisan alam tanpa manusia tahu ke mana akan mereka bawa nikmat-nikmat itu. Sesuatu yang indah telah disia-siakan, tak terurus, dan sangat menyedihkan. Namun jika kekayaan itu direbut oleh bangsa lain, kalian cuma bisa menjerit wahai rakyat Indonesia!

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s