Kisah Ksatria Malang dan Kambing Pemakan Salju

Purwokerto, 3 Syawal 1429 H (3 Oktober 2008)

Jum’at…


Hari ini lagi-lagi aku dikejutkan dengan sebuah pesan singkat dari seorang bidadari malang. Ya, dia adalah sahabatku. Statusnya sama seperti yang lain-lain. Dia anggota AAC Jurnalistik Unpad. Saat itu, aku hanya bisa mengucapkan kata-kata sabar dan hikmah untuknya. Aku tak tahu dari mana harus memulai, tetapi kabar yang tersiar darinya kali ini tak seindah senyumannya saat terakhir kali dia menjumpai ku. Puisi syahdu yang dia buat kala itu mampu membuat sayatan-sayatan kecil di hati setiap manusia yang membacanya.


Dialah sang bidadari dunia bernama Ksatria Malang. Hidupnya bebas, namun pada kenyataannya dia mulai melemah. Dulu hingga kemarin, hidupnya berada di atas awang-awang dan harapan liar bercampur do’a. Untungnya hanya untuk satu perkara saja. Dia cinta akan do’a, do’a yang hampir saja disambut oleh sebatang pohon sakura indah di negeri Mushashi.

Namun, angan-angan dan do’a-do’a suci itu hancur lebur berkeping-keping dengan sekejap. Hingga pada akhirnya menjadi debu-debu kepedihan yang tak berujung.


Harapannya hancur..

Hatinya pun pedih..

Saat itu dia hanya bisa berpuisi sambil menegarkan hati yang memang sedari dulu rapuh..

Semuanya sirna , oleh waktu..

Mungkin dia bukan Kartini, karena dia menciptakan sebuah rangkaian puisi : »Walau Habis Terang », bukan « Habis Gelap Terbitlah Terang » (dia memang cinta jati diri perempuan Jawa. Mungkin suatu saat dia bisa menjadi Kartini versi kotaro minami).


Semua cahaya itu lenyap…

Ksatria malang pun tak bisa mengubah takdirnya, meskipun dia seorang ksatria..

Semua berantakan…

Karena ulah seekor kambing pemakan salju!

* : kambing pemakan salju adalah jenis kambing Indonesia yang bisa tumbuh di daerah khatulistiwa dan di sebagian belahan benua Asia, tepatnya Asia Timur. Kambing ini merupakan Jenis kambing langka. Namun hingga saat ini, pemerintah Republik Indonesia belum menetapkan SK bahwa kambing pemakan salju wajib dilindungi keberadaannya, dengan tujuan untuk mengantisipasi kepunahan spesies kambing ini. Ada sejumlah jenis kambing serupa. Biasanya untuk mengganti salju sebagai makanan pokok, mereka memakan jenis bunga-bungaan yang se-ordo dengan bunga sakura. Namun tak semua kambing ini dapat bertahan hidup di negeri non-khatulistiwa, diakibatkan oleh suhu tubuh mereka yang masih labil. Kambing ini merupakan jenis kambing  kloning, antara gen kotaro minami dan gen kamen raider. Tapi bisa juga gen power ranger dan lalat hijau. Kabar terbaru, penciptaan kambing ini bisa didapat dari sebuah proses kloning gen cumi-cumi bertinta hitam dan gen kambing hutan.

(musafir melaporkan dari Purwokerto, Jawa Tengah)

4 réflexions sur “Kisah Ksatria Malang dan Kambing Pemakan Salju

  1. woi…………..kisah hidup gw jangan dipublikasiin…………..
    ha..ha….tapi gw uda tersenyum lagi ko………….tapi gw jadi pengen nangis lagi baca tulisan nt….lebaaaaaaaaaaaaaay
    ALLAH, pasti nyiapin yg lebih baik ko….percaya? kalo gw mah percaya dgn segenap jiwa raga dan sepenuh hati……kamu percaya?

    woi, tp kalo yg bersangkutan baca bisa panjang urusannya..ha..ha….

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s