Creative Industries : Adakah di Indonesia?

Creative Industries atau Creative Enterprise merupakan salah satu ciptaan masyarakat modern saat ini yang diwujudkan dalam rangka menghadapi era globalisasi. Creative Industries merupakan salah satu ekspektasi dari sebuah kemajuan teknologi.

« Do Something! » Begitulah saran Dr.Clive Graham agar bangsa Indonesia siap menghadapi era globalisasi dan kemajuan teknologi, dalam sebuah seminar « Creative Enterprise » yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Kamis 20 November 2008.

Namun, apakah yang dimaksud dari kalimat pendek tersebut berarti melakukan apapun tanpa batas? Menciptakan inovasi tanpa kekangan? Dan meleburkan ide tanpa pertimbangan?

Tanpa disadari, keambiguan kalimat tersebut bisa menjadi salah satu bentuk alasan kerancuan pada produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia pada abad ini. Sebagai contoh, banyaknya penjiplakan karya dalam dunia persinetronan di Indonesia, membuat perspektif khusus di masyarakat bahwa kreativitas SDM Indonesia condong kepada plagiarisme. Lantas, apakah plagiarisme mampu disebut sebagai sebuah prilaku positif yang membangun? Saya rasa sama sekali tidak.

Contoh kasus lain adalah maraknya tayangan infotainment di channel televisi. Menurut Fanny Rahmasari dari Cek n Ricek, tayangan infotainment saat ini sangatlah mudah diakses. « You take your breakfast with infotainment, you have a lunch with infotainment, you take a coffee or tea with infotainment, etc. Everytime and everyday, you can watch infotainment. It’s very easy to get them, » katanya dalam seminar « Creative Enterprise ».

Perkataannya sangat mudah dicermati dan dimaknai bahwa ada perasaan bangga akan menjamurnya infotainment di saluran televisi tanah air. Ia menyebut infotainment dengan nama « creative industry ». Mengapa? Menurutnya, infotainment membutuhkan kreativitas para karyawan agar dapat bersaing rating di televisi. Para karyawan berjuang untuk mencari isu, mencari angle isu tersebut, dan membeberkan fakta yang ada. Jika demikian adanya, apakah infotainment bekerja untuk memenuhi kebutuhan media, bukan kebutuhan masyarakat? Rupanya pertanyaan ini diiyakan olehnya.

Fenomena ini memberikan sebuah asumsi bahwa tayangan infotainment ingin memenuhi nubuatnya sendiri tanpa mengindahkan kelengkapan fungsi media massa di masyarakat : to inform, to educate, to entertain, to persuade. Dalam ranah ini, infotainment hanya menggunakan fungsi to entertain dan to persuade.

Selain mengalami disfungsi media massa, tayangan infotainment juga keluar dari « journalism world » atau ranah jurnalisme. Bagaimana bisa? Jurnalisme bukan hanya diartikan dari sisi jurnalistiknya saja, yaitu mencari, mengumpulkan, mengolah, dan menginformasikan berita, tetapi juga sisi yang paling vital : Kode Etik Jurnalistik. Jurnalisme adalah profesi, bukan sekedar pekerja belaka!

Sebagai profesi, wajar jika wartawan memiliki kode etik sebagai rambu-rambu dalam proses pencarian dan penyebaran informasinya. Wartawan bukan dikerangkeng dalam sebuah aturan baku. Mereka hidup seperti warga Indonesia yang diatur dalam norma dan undang-undang. Atau seperti kaum muslim yang diatur dalam syariat islam mereka : Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wartawan, bekerja demi pengabdian kepada masyarakat, bukan mengabdi pada media dan menjadi the breaker of the rules.

Dalam tayangan infotainment, sering kita jumpai wartawan berlari-lari mengejar objek (artis) atau memantengi rumah mereka, mendatangi pengadilan agama untuk melihat data perceraian, dan sebagainya. Dari segi profesi dan etika, jelas itu bukanlah aktivitas seorang jurnalis atau wartawan yang berkode etik profesi. Wartawan melaporkan fakta, bukan isu. Wartawan menampilkan berita, bukan menampilkan isu. Wartawan berada di atas fakta yang menghormati privasi dan off the record, bukan sebaliknya. Kreativitas wartawan, terletak pada bagaimana ia menggali informasi yang penting untuk diketahui khalayak, bukan menggali apa saja semau mereka.

Kreativitas memang relatif. Tidak bisa disamaratakan begitu saja. Namun, apakah sebuah pelanggaran norma dan etika bisa disebut sebagai sebuah kreativitas?? Jika tidak, mengapa tayangan infotainment dianggap sebagai sebuah Creative Industries ? Padahal, menjawab satu pertanyaan ini saja kita belum bisa : « Adakah Creative Industries di Indonesia? »

Une réflexion sur “Creative Industries : Adakah di Indonesia?

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s