Media, Demokrasi, dan Konflik Antar Komunitas di Indonesia

Media, Demokrasi, dan Konflik Antar Komunitas di Indonesia

Resume Seminar Jurnalistik Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad, Sabtu, 20 Desember 2008

Pembicara :

  • Yudi Latief (Direktur eksekutif Reform Institute dan Penulis Buku Intelegensia Muslim dan Penguasa, Alumni Fikom Unpad)
  • Goenawan Mohamad (Pendiri Tempo)

Cost of ‘Power’

Di antara hal-hal yang diiklankan di televisi Indonesia , menurut Yudi Latief, Direktur eksekutif Reform Institute dan Penulis Buku Intelegensia Muslim dan Penguasa (alumni Fikom Unpad), partai politik merupakan sosok yang paling banyak mengeluarkan biaya iklan. Pengeluaran kampanye komersil tersebut mencapai angka puluhan milyar hingga triliyun rupiah. Hal ini ia ungkapkan dalam Seminar Jurnalistik Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad bertema Media, Demokrasi, dan Konflik Antar Komunitas di Indonesia, Pada Sabtu, 20 Desember 2008.

top-ten

Berdasarkan data, Pemilu 2004: Total Belanja Iklan Politik 3 Triliun, meningkat hampir10 kali dari belanja Iklan 1999 yang sebesar 35 Miliar. Dalam 1 bulan PDIP menghabiskan 39, 56 Miliar dan Golkar 21, 7 Miliar. Pemilu 2009, total belanja iklan akan meningkat lagi: Masa kampanye Juli 2007 s/d April 2009 memiliki banyak kontestan baik partai politik dan pasangan Capres.

Pemilu yang semakin panjang rentang waktunya, akan semakin menambah biaya pengeluaran. Maka dari itu, partai politik di saat kondisi seperti itu, akan merekrut banyak anggota. Tetapi justru yang terjadi di Indonesia malah sebaliknya. Partisipasi rakyat terhadap partai politik sangat rendah. Bahkan, kondisi yang saat ini sedang terjadi adalah kondisi partisan emosional, yaitu sebuah keadaan di mana para partisan menarik diri dari partai politik dan memilih untuk netral atau golput (golongan putih). Hal ini dikarenakan tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik dan pemerintah rendah atau menurun. Berdasarkan survei pada Juli 2008, 69% publik tidak percaya pada DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).

Mengapa tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik dan pemerintah rendah atau menurun? Menurut Yudi Latief, untuk berada di negara demokrasi, partai politik di Indonesia tidak memenuhi 4 prinsip respon fitness, di antaranya :

1. Prinsip masuk akal

2. Prinsip efisiensi : partai politik harus bertindak sesuai dengan kenyataan yang ada

3. Prinsip senasib sepenanggungan : share and burden

4. Prinsip freedom (kebebasan) : bagaimana keputusan politik memiliki persetujuan dari pemerintah (concern), misalnya keputusan harus berpihak kepada rakyat.

Golput di Indonesia diperkirakan belum bersifat politis, namun masih bersifat punishment dari publik kepada pemerintah. Ini lebih cenderung kepada pemenuhan kepentingan pribadi. Misalnya, akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, seorang pria lebih memilih untuk mencari nafkah demi memenuhi kepentingan anak dan istrinya di rumah daripada ikut Pemilu.

Kedua, analisis Yudi Latief menyangkut kondisi yang saat ini sedang terjadi di Indonesia, yaitu azas « pemanfaatan » yang digunakan oleh para partai yang kalah dalam pertarungan politiknya. Mereka memanfaatkan etnosentrisme, fundalisme, dan sentimen untuk memperkeruh suasana. Bagi Yudi, ini adalah pekerjaan orang-orang yang merasa dikalahkan.

Pendidikan Politik Untuk Publik

Perbedaan kondisi politik antara Amerika dan Indonesia cukup signifikan. Di Amerika, kekuatan partai politik berada di bawah kekuasaan negara-negara bagian. Terdapat konvensi di sana. Sedangkan di Indonesia, lebih bersifat Top Down, yaitu partai dikuasai oleh orang per orang.

Hal ini juga berpengaruh kepada fungsi partai politik di sebuah negara. Fungsi dari partai politik adalah menampung aspirasi publik. Namun, kebanyakan partai politik tidak melakukan investigasi dan menampung aspirasi rakyat sesuai dengan fungsi partai. Sehingga partai politik di Indonesia mengalami “kemarau” kepemimpinan alias kekosongan tahta.

Selain itu, birokrasi di Indonesia terus mengalami transformasi watak yang tak terputus dari awal pra kemerdekaan hingga saat ini. Sebagai contoh, di Indonesia, presiden bukanlah chief of manager tetapi chief of political. Jadi, bagi Yudi Latief, sangatlah aneh ketika di Indonesia sangat banyak bertebaran “komisi-komisi” di tubuh pemerintah.

Aktifitas Kampanye :

panah

Demokrasi

Berawal dengan adanya Revolusi Perancis, seluruh negara di dunia akhirnya mengukir sejarah baru yang dampaknya masih terasa hingga saat ini. Selama ini penduduk dunia hanya mengetahui Revolusi Perancis, yaitu sebuah perubahan cepat yang dikobarkan penduduk Perancis dalam menentang pemerintahan mereka. Padahal, sebelumnya, masih ada Revolusi Amerika yang juga berdampak. Hanya saja, Revolusi Perancislah yang ternama. Inilah hal pertama yang diungkapkan oleh Goenawan Mohamad, pendiri Tempo, dalam Seminar Jurnalistik Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad bertema Media, Demokrasi, dan Konflik Antar Komunitas di Indonesia, Pada Sabtu, 20 Desember 2008.

Zaman dahulu, manusia menganggap raja adalah tuhan mereka. Segala bentuk kekuasaan dan kepemilikan, seluruhnya berada di bawah tahta sang raja. Aturan-aturan yang telah ada berdasarkan pemikiran yang posisinya berada di dalam kepala. Ketika raja Perancis Louis IV melakukan kecurangan di dalam pemerintahannya, rakyat menghukumnya dengan hukuman pasung. Mengapa? Karena kekuasaan berada di dalam kepala si raja. Sehingga ketika kepala si raja di penggal, maka tahta akan jatuh secara otomatis, seperti jatuhnya kepala raja ke atas tanah. Ketika kepala tersebut tak lagi melekat di raga si raja, maka hilanglah kuasanya. Inilah yang mengawali kekosongan kepemimpinan di sebuah negara.

Demokrasi lahir dari sebuah hal yang kosong. Karena kekosongan itulah, siapa saja berhak mengisinya. Ada 2 usaha politik untuk mengisi kekosongan. Pertama adalah politik perjuangan, yang menekankan pada ajang perubahan, mengadakan sesuatu yang baru dan menggunakan sesuatu yang belum lazim untuk orang gunakan. Kedua adalah instrumentalisasi perjuangan, yang merupakan penerapan lanjutan dari politik perjuangan. Misalnya partai politik.

Di negara-negara yang sudah mapan, antusiasme politik di kalangan publik justru sangat sedikit di bandingkan dengan negara-negara berkembang. Hal tersebut dikarenakan publik sudah memiliki rasa percaya. Siapa pun pemimpinnya, demokrasi akan terus berjalan.

Sebagai contoh sesosok pemimpin baru Amerika Serikat yang akan dilantik 2009 mendatang – B***ck O – merupakan sebuah tanda atau simbol perubahan rakyat Amerika, bukanlah pembawa perubahan. Publik percaya bahwa akan ada suatu perubahan di negara mereka, setelah dominan dari mereka merasa jenuh dengan pemimpin lama – J.W.B.

Bicara soal demokrasi berarti bicara mengenai sistem. Sistem yang diciptakan di dunia oleh manusia yang ada di dunia. Oleh karena itu, janganlah banyak mengeluh dengan sistem yang dibuat oleh manusia.

“Sistem di dunia tidak ada yang sempurna, yang sempurna itu di surga,” kata Goenawan.

Maka dari itu, untuk mengantisipasi di balik ketidaksempurnaan seluruh sistem yang ada di dunia, sistem yang ditawarkan adalah sistem yang reguler. Misalnya, isi media ditentukan dan disesuaikan dengan pembaca atau publik. Atau selalu menyediakan alternatif media, misalnya mengadakan televisi komunitas untuk mengatasi komersialisme televisi di Indonesia, dan sebagainya.

Keterkaitan posisi pers sebagai The Fourth Estate di tubuh negara demokrasi dan birokrasi Indonesia, bagi Goenawan, merupakan kombinasi antara kekuatan uang dan perizinan. Kekuatan uang di tubuh media sudah melalui survei yang telah dipaparkan Yudi Latief sebelumnya.

Sedangkan keterkaitan uang di tubuh birokrasi dibuktikan dengan survei yang dilakukan oleh lembaga survei yang hasilnya telah menciptakan sebuah asumsi dan perspektif subjektif-objektif di masyarakat, bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk birokrasi lebih besar daripada biaya gaji buruh yang dibiayai oleh perusahaan.

“Ini namanya negara korupsi,” kata Goenawan dengan wajah sumringah.


Penulis : Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad Tingkat Akhir (aiichan01@yahoo.co.id)

NB : Tulisan ini murni pelaporan fakta, bukan keberpihakan penulis terhadap suatu golongan.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s