Perjalanan Tak Berujung

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> Sebuah Refleksi Singkat Selepas In Depth Reporting

a-breath-and-fresh-air

« Konversi minyak tanah ke gas aja, Sas! »

kata saya saat menerima telepon dari Sastri.

Dini hari, sekitar pertengahan bulan Sepetember, saya dan Sastri sedikit mengalami sakit kepala, akibat memikirkan topik apa yang kira-kira cocok dengan kemampuan dan minat kami berdua. Ketika fajar akan terbangun dari tidur lelapnya, saya dan Sastri mulai berunding dalam sambungan jaringan komunikasi antar telepon. Masing-masing dari kami mengemukakan ide masing-masing. Ide yang sesuai dengan kegemaran kami masing-masing.

Awalnya saya menduga Sastri akan mengajukan topik yang kira-kira menyenangkan. Tapi nyatanya ia malah mengajukan topik UU Pornografi. Saya sempat kaget.

« Yakin, Sas? »

« Yakin, Gha. Sastri tahunya topik ini. »

Setelah mengetik topik yang diajukan Sastri, saya mulai mengetik ide saya. Jujur, saya sangat tertarik dengan konversi gas. Sebab sudah sejak lama saya mengamati fenomena ini, bahkan saya niat bertanya pada warga miskin dan pedangang kaki lima. Hitung-hitung untuk menambah pengetahuan, pikir saya. Sastri setuju dengan topik yang saya ajukan ini. Dia bersikap seperti itu lantaran saya sangat mampu meyakinkannya dan menguatkannya bahwa topik ini pantas untuk diajukan.

Satu jam berlalu dan kami berdua terdiam sejenak. Kami mulai berpikir agak liar tentang pengajuan topik ke tiga. Entah apa yang terlontar dari mulut kami. Terlalu banyak ide, jadi saya tidak mengingatnya satu per satu. Sesekali kami tertawa geli, karena mengajukan topik yang « aneh ». Bahkan sampai habis akal, saya bilang pada Sastri, saya ingin menemui Amrozi. Saat itu matahari sudah mulai memancarkan vitamin D nya yang menyengat, tapi kami masih saja berkutat dan hampir skak mat dengan topik ke tiga, in depth reporting. Menyebalkan!

« Dari tadi topik kita nggak ada yang santai ya Sas? » kata saya.

« Iya Gha. Berat banget! » Sastri menimpali.

« Mau nggak topik yang seru, banyak jalan-jalan, dan kita banget Sas? »

« Apa Gha? »

« Wisata kuliner! » kata saya sambil setengah teriak.

Sastri disebrang sana langsung tertawa terbahak-bahak. Dia pikir saya melucu.

« Tunggu Sas! Bukan kaya Bondan Winarno! Kita cari angel yang pas, tapi soal kuliner. Gimana? »

« Apa ya Gha? » kata Sastri setengah suntuk. Saat itu dia sudah mulai mengantuk. Maklum, dia penderita insomnia.

« Kaya Trans TV Sas! Ngubek-ngubek jajanan yang nggak bener, tapi bedanya kita dari semua angel. Misal ekonomi, tata kota (planologi), kesehatan, dan lain-lain. Gimana? »

« Wah! Seru tuh Gha. Iya, iya, itu aja Gha. Sastri pengen jalan-jalan juga. »

« Sekalian kita makan Sas! »

« Wahahaha… iya Gha. Setujuuuu! »

Akhirnya, dengan penuh percaya diri, kami berdua mulai melancarkan strategi dalam penulisan topik terakhir ini. Kami bahkan sempat merencanakan sampai mengunjungi distributor dan pabrik atau produsen bahan dasar jajanan kaki lima, seperti tepung, sambal, kecap, dan lain-lain. Pagi itu, kami benar-benar dalam keadaan senang. Senang karena memiliki topik yang menyenangkan. Senang dengan topik yang menyenangkan, karena kami suka makan. Hidup makan!

***

Tuan Sahat hari itu mulai mengomentari topik. Entah kami tertimpa dewi fortuna atau dewi kesialan, Tuan Sahat mengomentari topik kami. Awalnya konversi gas, lalu RUU Pornografi yang dia bantah bukan RUU tapi UU. Saat itu kami berdua kebingungan. Apakah topik itu yang akan naik banding? Atau topik hanya dijadikan semacam contoh? Entahlah. Kami berdua saat itu hanya bisa berkesimpulan : Siapkan narasumber dari pemerintahan Sas, sedangkan saya bagian masyarakat. Kedua telapak tangan kami mengeluarkan keringat dingin. Itu topik yang tidak main-main!Satu minggu berlalu dan tibalah saat Tuan Sahat mengumumkan topik apa yang harus kami angkat. Kami sempat terperanjat. Syok.

« Jajanan kaki lima? »

Akhirnya saya dan Sastri melakukan ritual Teletubbies. Berpelukan! Kami girang bukan main. Saat itu yang ada dipikiran saya adalah meliput berita dengan hati riang! Ya, hanya itu. Padahal saat itu seharusnya kami ingat bahwa tidak ada kata « bermain » dalam tugas pelaporan in depth.Kami mulai membagi tugas. Saya memercayakan sepenuhnya kepada Sastri untuk membuat pembagian desk dan jadual peliputan untuk sebulan ke depan. Keputusan ini dipertimbangkan juga dengan faktor proksimiti. Misal, ketika saya tahu saya memiliki link di sana atau di sini, otomatis liputan itu diberikan kepada saya.

Pekerjaan baru dimulai. Saya menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan lambat. Saya melihat langit biru dan memandangi gunung Geulis di atas jalanan beraspal. Sesuai kesepakatan, saya mendapat bagian meliput realita sebagian pedagang kaki lima, yaitu di kawasan Merdeka dan sekitarnya, Dago dan sekitarnya, Plesiran, Pasteur, dan Cihampelas. Saya sempat kebingungan, di mana saya mendapatkan alamat mereka satu persatu? Ketika Minggu saya berjalan-jalan ke daerah Padalarang. Saya haus dan membeli es cincau kepada seorang bapak paruh baya. Saya mulai bertanya bahan apa saja yang ia pakai untuk dagangannya. Pembicaraan kami semakin larut dan saya berpikir inilah kesempatan untuk mendapatkan sumber pertama! Saya menghabiskan waktu satu jam untuk berbincang-bincang di stasiun kereta Padalarang. Saya duduk di antara rel jalur 1 dan 2. Percakapan kami berakhir dengan pertukaran nomor telepon.

Waktu berlalu dan saya kembali mengajak bicara kepada beberapa pedagang jajanan kaki lima di sekitar BEC. Saya senang : Saya mendapat alamat mereka! Tapi lagi-lagi otak saya berdenyut-denyut dan berbicara, “Siapa yang mau nemenin kamu dini hari ke Bandung? Dari Jatinangor? Tuhan…?”

Untung saja motor Feni 2004 bersedia menemani saya meliput jauh ke daerah Plesiran dan Cihampelas. Bahkan hingga ke Jalan Jurang yang baru sekali ini saya kunjungi. Di Jalan Jurang ada perumahan pedagang cimol. Letaknya persis di dekat pedagang beras. Posisinya tidak terlalu jauh dari pasar. Tapi saya tidak mengangkat realitanya, karena serupa dengan pedangang siomay. Sama-sama jorok!

Petualangan saya bermula ketika saya survei lokasi ke Plesiran. Saat itu Kamis sore. Saya diboncengi seorang teman, mencari-cari alamat perumahan pedagang siomay. Beberapa kali kami tersesat. Ketika sudah mendapati alamatnya, saya menjamin Jum’at dini hari saya akan datang, selepas shalat subuh. Mereka menyikapinya dengan riang. Jelas iya, karena saya mengaku ingin membuat liputan yang seperti Bondan Winarno lakukan : wisata kuliner! Betapa bahagianya kelompok pedagang siomay itu. Saya disambut baik ketika meliput. Diberi sarapan serabi bakar dan teh manis hangat. Di akhir cerita, saya yang notabene telah melihat kejorokan-kejorokan yang dilakukan oleh mereka yang membuat siomay, misalnya menaruh siomay di atas karung beras, siomay yang ditirisi menempel ke tembok lembab yang catnya terkelupas karena mereka menaruh siomay di sudut ruangan, peralatan yang tidak pernah dicuci, tangan yang banyak bakteri, bahan-bahan murah yang tak berkualitas, dan sebagainya. Saya yang merasa jijik, pada akhirnya menerima takdir dengan ikhlas.

“Mbak Egha punten dicicipi siomay saya,” kata Ano.

Ooh makasih atuh pak, uda kenyang sama serabi tadi,” kata saya sambil mengerutkan kening.

Nggak apa-apa, biar mbak Egha bisa merasakan siomay saya enak atau tidak. Maaf aja kalau tidak enak.”

Saya mulai panik bukan main. Bagaimana bisa ini? Saya tidak mungkin berbohong sedang puasa, wong saya tadi makan dan minum. Bagaimana ini? Saya saat itu sedang menjerit pada Tuhan minta pertolongan.

“Kang, punten ieu ambilkeun siomaynya untuk mbak Egha,” kata Ano kepada salah satu anak buahnya.

Saya lupa dia memerintah siapa saat itu karena saya hanya bisa menunduk dan berdo’a. Di otak saya cuma ada kata : Tidak!

“Mangga dicoba siomay saya.”

Saya terkejut bukan kepalang. Oh Tuhan, siomay ini dibuat di dekat kecoa mati yang terinjak sampai isi perutnya keluar. Semua bahan tak dicuci, alat tak dicuci, tangan-tangan kotor berperan dalam pembuatan siomay ini, kena asap rokok, dan lain-lain dan sebagainya. Tidak!

“Mari Pak Ano, makan,” kata saya dengan sangat pasrah lillahi ta’ala.

Saya tersenyum dan pulang dengan perut kenyang. Apalagi hari ini saya tidak datang ke kampus terlambat karena baru saja getting di Bandung. Kesenangan saya hari ini berakhir di sebuah WC sempit di kamar kosan. Ya, Tuhan berbicara, hari ini sepulang dari kampus. “Tuhan, saya diare!”

Petualangan berikutnya, saya berkunjung ke pasar Cicaheum sebagai salah satu pasar pusat perbelanjaan pedagang jajanan kaki lima. Di sana saya melakukan survei dengan mewawancarai para pedagang secara informal seperti pedagang tahu, pedagang daging dan kulit sapi, pedagang otak-otak mentah, pedagang bakso mentah. Ini saya lakukan sembari belanja bahan-bahan yang mereka jual untuk saya setor kepada narasumber (ahli pangan). Saya bertanya kepada mereka seberapa banyak jumlah pedagang yang berbelanja ke sana, memperbandingkan harga, dan sebagainya. Kemudian saya mengunjungi tempat penggilingan daging sapi dan mewawancarai pelanggan sebagai bahan referensi.

Saya juga bertugas meliput jajanan kaki lima dari angle lingkungan atau tata kota atau planologi (menyangkut seberapa buruknya kemacetan yang terjadi akibat pedagang jajajan kaki lima, berapa persentase penggunaan badan jalan oleh pedagang jajanan kaki lima, pengaruhnya terhadap keindahan tata kota Bandung yang notabene sebagai kota wisata, dan sebagainya), angle ekonomi (menyangkut seberapa besar kontribusi bisnis jajanan kaki lima terhadap pemasukan kas daerah, motif ekonomi di balik menjamurnya pedangang kaki lima, seberapa besar peran pemerintah dalam memerhatikan pedagang yang bergerak dalam sektor industri informal, pungutan liar dan retribusi, dan sebagainya), angle pangan (menyangkut seluruh zat kimia yang terkandung di dalam jajanan dan analisis kelayakan jajanan melalui data riset dan perbandingan standardisasi penyajian jajanan antara Indonesia dan luar negeri.

Dalam peliputan kali ini, saya gagal mewawancarai Kapolres setempat, karena banyak keluhan dari pedagang tentang iuran Rp 10.000 per hari yang dipungut DLLAJR tetapi gerobak mereka masih saja diangkut. Apalagi ketika saya tahu dari Pak Bayu (pakar ekonomi) yang mengatakan bahwa retribusi itu dipungut bulanan, minimal mingguan, tidak ada per hari. Kalau retribusi yang dilakukan DLLAJR kepada pedagang kaki lima masanya setiap hari, berarti ada ketidakberesan. Lagi pula, Pak Bayu mengingatkan, pungutan itu sebenarnya bukan jaminan gerobak mereka aman, itu hanya uang seperti bayar parkir saja. Kegagalan ke dua saya, saya gagal mewawancarai kepala pedagang kaki lima. Setelah saya melihat hasil penelitian beberapa mahasiswa Planologi ITB, ada seorang ketua pedagang kaki lima (PKL) di daerah Pasar Baru, tetapi saya berpikir : pasti PKL yang dimaksud PKL secara garis besar. Kedua kegagalan saya itu disebabkan tidak cukupnya waktu. Bayangkan, waktu kosong saya hanya Kamis, Sabtu, dan Minggu. Dan waktu paling efektif untuk getting hanya Kamis, karena Sabtu saya les Bahasa Perancis sampai jam makan siang.

Selain itu saya harus menodong para pemilik motor untuk meminjami motor mereka. Saya tidak bisa membayangkan jika saya naik kendaraan umum! Rumah produsen dan pedagang kaki lima rata-rata di daerah terpencil. Mereka mulai belanja dan masak dari pukul 03:00 WIB. Pasar inpres atau pasar induk pun dipadati pedagang sekitar pukul 03:00-04:00 WIB. Pastinya saya akan kehabisan akal jika saya menunggu angkot pukul 03:00 WIB. Saya rasa yang datang bukan supir angkot tetapi vampir yang lagi mencari mangsa. Tapi masalah utamanya adalah saya seorang perempuan. Lain cerita jika saya meliput dini hari bersama suami saya, pasti saya merasa aman.

Hari-hari saya menjelang deadline sangat berantakan. Kamar saya tidak rapi, wajah saya kusut, pulsa saya habis, dan saat itu yang saya butuhkan adalah berenang untuk bersenang-senang. Saya kehabisan banyak waktu karena harus kuliah a b c d e. Sementara tugas mingguan Tuan Sahat masih terus berjalan. Bisa saya bayangkan betapa dunia sedang tersenyum sinis pada saya. Hati saya menjerit dan kuku-kuku saya menggaruk-garuk aspal di depan kosan. “Mengapa hidup saya monoton dari semester tiga sampai tujuh? Rangkuman, analisis, simpulan, pertanyaan, liputan?” Beberapa kali saya sempat bolos beberapa mata kuliah untuk menemui narasumber. Ketika hujan, saya harus ke Hotel Mitra untuk bertemu Pak Bayu. Beliau ada acara dengan Rektor Unpad di Hotel Mitra. Saat itu hujan dan saya tidak enak badan. Amazing!

Kisah hujan juga terukir di kisah ini. Kisah perjuangan ke FTIP yang konon tidak terlalu sulit, tapi waktu habis karena ahli sangat sibuk. Untung saja Pak Bambang sangat ramah. Hari terakhir saya ingin mewawancarai beliau (untuk ke dua kalinya), saya berjalan di bawah derasnya hujan, angin kencang yang dingin, dan kondisi gerbang FTIP sudah terkunci. Saya seperti sedang syuting film horor. Di ujung lorong ada seorang pria tua jalan tersok-seok. Saya memanggilnya.

“Pak, saya masuk lewat mana?” kata saya cemas.

Si pria tua kaget dan langsung berbalik arah.

“Saya tidak tahu.” Ia mengadahkan tangannya ke arah saya.

Saya geram. Memangnya saya monster?

“Saya harus putar lewat mana Pak?”

“Muter aja. Saya nggak tahu!” katanya singkat.

Saya mulai bersabar tapi sambil berkomentar kecil.

“Kalau bukan Pak Bambang yang minta sesore ini saya nggak akan datang! Lagipula saya juga sibuk dengan HMJ. Jadi saya dan Pak Bambang hanya punya waktu pukul 16:00 WIB!”

Saya memberanikan diri dengan intuisi seadanya mencari lorong yang masih terbuka. Saya melewati semak dan laboratorium yang hening. Benar-benar hening. Saya yakin kalau saya jadi peserta uji nyali saya pasti berhasil. Setelah melewati jalan tanpa arah, akhirnya saya menemukan jalan menuju ruang Pak Bambang. Hati saya benar-benar lega. Tapi kelegaannya hanya sebatas itu. Karena pukul 17:30 WIB saya harus pulang melewati MIPA bersama derasnya hujan dan angin yang dingin. Semua hening. Hanya ada beberapa lampu yang berpijar. Kali ini saya seperti Velma dalam film Scooby-Doo!

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s