Menari di Atas Awan MU..

RINTIK-rintik hfalls-down1ujan masih tersisa sedikit demi sedikit setelah kota mungil Jatinangor basah kuyup akibat derasnya hujan. Segerombolan awan Cumulus Nimbus perlahan-lahan melaju meninggalkan atap bumi yang sedikit kelabu. Kali ini sinar kemerahan senja nyaris tak terlihat akibat tertutup kabut.

Dinginnya udara seperti menggigit kulitku yang nyaris membeku. Ku rasakan hawanya dan seketika tiupan angin lembut itu menerpa wajahku hingga aku gemetar.

Aku dan Fatia kala itu masih terkungkung dalam rapat pengurus HMJ di saung plasa, kampus. Aku terus mengingatkan Fatia untuk segera mengakhiri rapat. “Fat, belum packing”, kata ku setengah berbisik.

Fatia sempat mengeluh letih, tapi aku hanya tersenyum. Karena bagi ku waktu sempit itu sudah biasa. Kadang kala aku berpikir bahwa aku adalah Seperangkat Mesin yang selalu melakukan apapun, entah kapan pun dan di mana pun tanpa jeda. Mungkin aku terlalu memerdekakan emansipasi jati diriku sendiri, hingga lupa bahwa waktu tidak sepanjang jadwal harianku.
Akhirnya aku dan Fatia menelusuri jalan beraspal di atas bukit.

Kampus ku memang terletak di atas bukit. Salah satu stranger pernah mengatakan bahwa kampusku mirip dengan salah satu universitas negeri di Swiss, karena terletak di atas bukit yang tinggi, seperti berada di atas pegunungan. Lokasinya juga di apit oleh dua gunung yang terlukis indah dan berselimutkan kabut tebal yang dingin. Aku benar-benar menyukai hal itu, yaitu berada di atas puncak tertinggi di kala hujan atau senja. Karena hanya di saat itulah, aku merasa sangat dekat dengan langit Mu. Aku menyukainya. Menyukai lukisan Mu.

Bagi ku langit biru memiliki magnet yang sangat kuat terhadap tubuh ku. Entah kenapa aku ingin sekali ke sana. Menembus lapisan-lapisannya. Menari di atas awan putih yang tebal dan mengukir mimpi di sana : aku menunggu sayap-sayap itu!

“Sudah siap semuanya?” kata Icha memeriksa ke kursi bagian belakang kendaraan hitam miliknya. Aku, Fatia, dan Risna mengangguk semangat. Kendaraan hitam kami melaju kencang melawan arus angin. Kami terus bercerita dan memandang kilauan lampu yang menghiasi pemandangan highway kala itu. Sejenak aku merenung, andaikan kisah perjalanan ini seperti sebuah kisah indah ketika Ia yang hatinya tercuci bersih, terbang bersama malaikat menuju langit lapis ketujuh yang diciptakan Sang Penguasa Alam. Aku memang tak bisa melakukannya seperti yang Ia lakukan di kala itu bersama malaikatMu, tetapi aku sebentar lagi akan bersiap-siap menuju awan-awan Mu. Dan sebentar lagi, akan ada senandung syukur ku di atas awan Mu…


***

Udara pagi itu benar-benar merasuki semua rongga-rongga di setiap inci organ tubuh kami. Hawa yang teramat sejuk membuat kami benar-benar merasakan betapa indahnya bersahabat dengan alam. my-cloudsSinar matahari yang tampak kekuningan bersiap-siap menyambut kedatangan kami. Tak peduli betapa banyaknya dakian dan kelokan menuju penghujung tertinggi itu. Kendaraan kami terus melaju dengan perlahan.

Seketika kami berempat merasa melayang di udara. « Subhanallah », ucap kami melihat begitu Mahadahsyatnya keindahan alam Mu. Aku tak kuasa menahan bahagia sampai ku pejamkan mata erat-erat dan kuberikan senyum terindahku pada awan putih itu…

Kami sekarang benar-benar menari di atas awan Mu.. Air muka Risna begitu bahagia ketika moment itu ingin segera di abadikan. Ia terlalu bersemangat akan « pengabadian moment« . Kami berempat merentangkan kedua tangan.. Mungkin seperti Hawk yang akan mengepakkan sayapnya dan bersiap-siap terbang. Kami seperti melayang. Atau mungkin memang kami melayang..? Dan kami rasakan betapa indahnya menari di atas awan Mu…

Sepertinya tidak ada yang ikhlas untuk beranjak dari kumpulan awan-awan itu. Kami saling berpandangan pada lukisan nyata itu dan sekiranya mereka tahu bahwa aku menyukai nya yang begitu indah, bahkan terlalu suka. Lebih ku suka dari pada es krim cokelat dan susu cokelat, dan segala bentuk cokelat. Aku menemui kedamaian hati di sana. Dapat mensyukuri nikmat Mu, dan mencintai sesuatu yang Engkau ciptakan. Aku benar-benar menyukai nya… Sangat suka….

 

Puncak Gunung Salak, Sukabumi,  Sabtu 2009

3 réflexions sur “Menari di Atas Awan MU..

  1. Ini taman langit, ini taman mimpiku…
    Uggghh langit ga pernah berhenti tuk berinspirasi ya…
    Gimana ya rasa nya kalo kita ada di awan Nya..
    Mantap neng tulisan nya..
    Keren dah..

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s