Rush Hour

Harumnya fajar masih menempel erat di indera penciumanku. Setidaknya memperingatkan ku akan satu hal bahwa udara pagi ini benar-benar tidak lagi mau berbelas kasihan. Tanpa kompromi, dinginnya udara telah membuat tubuhku menyusut. Setidaknya kayu bisa berbangga hati ketika mereka dengan suksesnya memuai, membuat derit-deritan yang mengganggu ditelinga. Tapi tidak dengan diriku.

Aku masih melanjutkan bacaan ku pagi irush-hour-by-eghatu. Pagi ini aku tidak membaca buku setebal 600 lebih halaman seperti semalam, karena diri ku lagi-lagi insomnia. Aku cukup membaca buku penuntun hidup ku yang harus ku baca dengan nada yang indah dan penuh penjiwaan, sekiranya demikian. Tanpa kusadari, jam dinding sudah menunjukkan pukul 06:30 WIB.

« Masih ada waktu dua jam untuk bergegas pergi liputan, » ujar ku.

Dan udara pagi yang dingin, telah menghantarkan ku ke alam bawah sadar. Mungkin tak biasanya aku tidur selepas ritual fajar. Namun apa daya, insomnia ku kambuh semalaman dan membuatku cukup kuat untuk membaca 250 halaman buku yang ku rasa cukup bagus. Setidaknya untuk menghantarkan ku pada istirahat semalam.

***

Aku terjaga tiba-tiba.

« Pukul 09:30?? » kata ku kaget.

Aku langsung berdiri antara sadar dan tidak, dan memastikan jam dinding itu tidak salah. Pameran buku di Landmark Braga kan mulai pkl.09:00! kata ku dalam hati. Ya sudahlah, mungkin aku harus ke pengadilan terlebih dahulu untuk menanti kasus pencurian dana 100juta milik PT Data Indonusa Bandung. Aku segera bergegas dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan melihat dengan naas bahwa buku petunjuk hidupku dengan suksesnya ikut tidur bersama ku, lebih tepatnya tergeletak di atas bantal. Terkadang aku sangat tidak adil padanya. Sering kali ia kubiarkan tergeletak di samping ku sementara aku pergi ke alam bawah sadar. Seharusnya ia diletakkan di rak buku, atau di tas. Aku benar-benar memerlakukan ia seperti makhluk hidup yang juga butuh tidur. Seperti melawan kodrat mungkin. Lupakan lelucon ini.

Aku segera membuka pintu kamar.

Drrtt…Drrtt…

« Kok pintunya gak bisa dibuka? » kata ku heran.

Aku mengintip di sela-sela pintu, curiga.

« Innalillahi! » teriak ku spontan.

Sepertinya hari ini aku terlalu banyak bermimpi atau memang aku belum sarapan, sehingga perut lapar ku tak mengizinkan aku untuk sadar atau setidaknya melihat dengan jelas.

Pintu kamar ku dikunci dari luar oleh Ratu! Tidak!

Sudah hampir 25 hari aku menginap di kosan Ratu, karena aku merasa tidak sanggup jika harus bolak-balik dari kantor ke Kota Jatinangor. Bahasa kerennya, takut terlalu malam. Setidaknya jika aku pulang terlambat, tidak ada vampir dan werewolf yang akan mengejar ku seperti di jalan setapak Kota Kecil Forks. Kota Jatinangor mirip dengan Forks dan aku sangat menghindarinya.

Begitulah. Aku mengambil langkah aman untuk tinggal di daerah Dago. Setidaknya hanya memakan waktu 30 menit untuk sampai di kantor ku, ke Jalan Braga. Atau 20 menit ke Pengadilan Negeri Bandung, di Jalan Riau. Dan rutinitas pagi ku adalah « ditinggal » Ratu yang berangkat ke kantor pukul 06:45 dan aku berangkat ke kantor pukul 10:00. Tapi pagi ini, aku harus meliput acara di Landmark pukul 09:00. Dan fenomena baru berhasil menyerbu ku : Terkunci di Kamar Ratu!

Aku hanya bisa melebarkan mata ku dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku merasa masih bermimpi. Tangan ku mulai gemetar ketika ku sadari Ratu tidak mengangkat 8 panggilan masuk ku. Mungkin ia masih bekerja dan jauh dari HP nya. Aktivitas jantungku mulai terpacu akibat pertanyaan yang meledak di kepala dan itu sangat mengganggu : « Halo, hari ini, Rabu, diri mu gak bisa kerja?? Alasannya apa ke redaktur?? Oh, begini, Maaf saudara redaktur, saya dapat musibah, terkunci di kamar teman, sorry! » Oh..Benar-benar lelucon yang sedikit buruk.

Jari-jari ku langsung memencet nomor Gamel.

« Mel, kamu di mana? »

« Dik osan, Gha. Ada apa gitu? »

« Penting Mel, ke kosan Ratu sekarang ya. Aku gak bisa keluar. »

Telepon langsung terhenti. Aku tahu aku akan menyibukkan Gamel yang akan ke kampus hari ini. Tapi tak berapa lama, Gamel datang. Panik.

« Kenapa Gha? »

« Coba cek di sepatu Ratu, ada kunci gak? » kata ku pasrah.

Raut muka Gamel tidak bisa ditebak. Aku yakin, ia ingin meletupkan tawanya, namun keburu iba dengan kondisi ku yang terkurung di sana.

« Ya ampun Gha, gak ada sama sekali. Di koper juga. »

Lutut ku langsung lemas dan secara tidak sadar aku melebarkan senyum ku.

« Gak papa Mel, ya uda kamu ke kampus aja. I’ll be fine, okay! » kata ku.

Gamel pergi dan aku masih sibuk dengan Hp ku. Ide ku muncul untuk menelepon 108 dan menanyakan nomor telepon kantor Ratu. Tapi nampaknya fenomena masih menyelimuti hari ku. Orang-orang kantor tidak bisa menyambungkan telepon ku dengan Ratu!

Aku terus melihat jam dinding, pukul 11:00. Aku menghamburkan diri ku di atas kasur dan meraih buku setebal 600an halaman. Setidaknya, aku bisa melanjutkan bacaan ku semalam, pikirku. Aku hanyut dalam cerita dan melupakan bahwa seharusnya aku tidak berada di kamar melainkan berada di luar untuk bekerja mencari secuil berita untuk dikonsumsi rakyat yang butuh akan informasi. Tapi aku melewatkannya.

***

Tok..Tok..Tok.. Brakk…

« Gha maafin Ratu!! » Ratu tiba-tiba beringsut menemuiku yang sedang hanyut di balik buku.

Aku kaget. Ratu datang! Aku hanya tersenyum.

« Gak pa pa Tu. Kok gak kerja? Memang boleh izin? » kata ku menenangkannya.

« Ratu kabur dari kantor Gha! »

Aku tersenyum dan menahan tawa. Lucu sekali anak ini, kata ku.

« Ya udah sana kerja lagi, biar entar kuncinya sama aku ya, jangan di bawa lagi, oke? » kata ku menepis kegundahan Ratu.

« Gha, maafin Ratu. Kayanya aku harus pergi ke dokter untuk scan otak. Aku pelupa banget! Aku gak sadar ada kamu dan aku kunciin kamu dari luar. It’s so….« 

« Udah gak papa. Tadi aku uda nelepon temen, suru gantiin liputan aku. Rencananya kalau aku gak berhasil ke luar dari kamar ini aku minta bahan dan ngetik berita di warnet, » kata ku mengelus-elus Ratu.

« Gha, maafin Gha. Besok jangan ketiduran lagi ya pagi-pagi biar Ratu sadar ada kamu! »

Aku lagi-lagi menahan tawa dan memberikannya senyum simpul sebelum ia kembali ke kantornya.

***

Aku merapikan jubah hitam ku. Yah, sebentar lagi aku berangkat. Setidaknya aku harus melakukan ritual siang ku dulu untuk bertemu dengan Nya. Sekalian menenangkan hari ku.

Drrtt… HP ku berbunyi.

« Gha, pengadilan sepi, gak ada sidang pidana », suara Sania dari sebrang tampak kesal dan bingung.

« Ya udah gak apa-apa, aku telepon wartawan lain dulu ada apa hari ini », kata ku menyemangati.

Aku lalu menekan nomor Dewi.

« Wi, ada apa? »

« Demo di Gedung Sate, buruan! »

Aku langsung menyambar mantel broken white ku dan seketika, hujan turun dengan suksesnya. Benar-benar seperti di Forks, gumam ku. Aku ke luar menahan dingin dan menatap awan hitam berhamburan di langit. Sama sekali tidak mencerminkan bahwa warna langit yang asli adalah biru. Kelabu sekali hari ini, pikir ku.

Setelah berhasil mendapatkan dua berita di Gedung Sate, setidaknya ada berita dari Pemprov hari ini, aku segera ke kantor, setelah menikmati makan siang dan berbincang-bincang dengan Dewi. Setidaknya hari ini aku puas. Melewati Braga City Walk, namun bukan jalan setapak seperti hutan di Forks, dan menikmati dinginnya udara, seolah-olah seperti menghirup udara di First Beach, La Push, namun tak ada driftwood yang dapat membuat kaki tersandung di sini. Di sini murni Rush Hour, dihiasi gumpalan awan hitam dan dinginnya udara…

Terima Kasih Untuk Hari Ini Wahai Pemilik Arsy…

3 réflexions sur “Rush Hour

  1. assalamu’alaikum Ga..afwan ..nih ada info kajian di bandung…tolong kabarkan juga ke akhwat2..jazakillah khoiron… ahsan juga klo di postingkan ke blog mu..

    Ikutilah Seminar Pendidikan Anak

    Tema:

    Sukses Mendidik Anak – Investasi Dunia Akhirat

    Pemateri:
    1. Al Ustadz Iskandar Dinata, Lc.

    (Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah Tasikmalaya)
    Materi:
    – Pendidikan di masa kehamilan
    – Pendidikan pasca melahirkan hingga balita

    2. Al Ustadz Abu Haidar Al Sundawy

    (Pembina Yayasan Ihyau Al Sunnah Bandung)

    Materi:
    – Pendidikan di usia sekolah
    – Pendidikan di Usia Remaja hingga menikah

    Tempat: Masjid Raya Cipaganti – Bandung
    Hari : Sabtu – Ahad (14-15 Februari 2009)
    Pkl : 09.00 – selesai

    Biaya pendaftaran: Rp. 20.000
    Fasilitas: konsumsi, buku catatan dan bonus kalender untuk 100
    pendaftar pertama

    pendaftaran:
    ketik REG_NAMA_No. HP_Jenis Kelamin_Pekerjaan
    kirim ke 085722423496
    batas pendaftaran 13 Februari 2009

    http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/02/10/seminar-pendidikan-anak-2-hari-14-15-feb-2009/

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s