Nuansa dan Kenangan

Tipis perbedaan nuansa perpendaran cahaya senja antara hari ini dan kemarin, bahkan dengan hari-hari sebelumnya. Perpendaran cahaya itu sama sekali tidak berubah. Ia masih memiliki nuansa teatrikal romantik dalam setiap susunan degradasi warnanya. Oranye pekat, oranye muda, kuning gading, putih, dan siluet keemasan. Permainan warna yang unik, sampai aku mengira bahwa langit yang ku lihat senja itu adalah kanvas raksasa berwarna biru muda yang membentang luas dan tersenyum di lensa mata ku. Menakjubkan!

my-basket-ring

Namun nuansa ini lagi-lagi yang mengingatkanku pada sederetan kenangan-kenangan itu. Saat aku, Q, dan Nana berada dalam sebuah lapangan luas di suatu sore menjelang senja. Dengan puasnya Nana menggendong bola basket seperti menggendong senjata perang – katakanlah seperti bom molotov yang siap menggempur Israel – dan ia kala itu memang prajurit yang paling bersemangat di antara kami bertiga untuk segera melepas semua kepenatan yang menumpuk dan hampir berkerak di kepala. Setidaknya kami bertiga kala itu sedang sama-sama terjangkit « bakteri » di otak, sehingga kepala terasa mau pecah dan itu menyebabkan penyempitan pernapasan, sehingga kala itu kami bertiga ingin merehabilitasi paru-paru dengan cara bernapas dengan sebenar-benarnya dan mengeluarkan sumbatan-sumbatan yang menghalangi suara kami untuk berteriak, setidaknya.

Mata Nana berbinar-binar melihat lapangan yang kini kosong melompong, karena baru saja ditinggal pergi sejumlah kawanan bertubuh besar. Mungkin mereka sudah puas menguasai lapangan dan sekarang saatnya giliran kami. Dengan antusias kami berjalan cepat dan aku sedikit melompat kegirangan seperti cacing yang diberi garam – entah bagaimana caranya reaksi berlebihan itu bisa disamakan dengan cacing, aku juga tidak tahu persis – dan kami langsung mengambil posisi kuda-kuda, segera mendrible bola. Seperti anak-anak kucing yang diberi segundukan benang kusut, aku dan Nana berebut bola dan pada akhirnya aku mengalah untuk berganti giliran. Muka ku agak masam melihat Nana dengan segala tindak-tanduk dan gayanya memasukkan bola. Lompatannya kali itu kurasa dapat menggoyangkan beberapa hektar tanah di sekitar lokasi ñ yah, aku tahu ia pasti sudah bisa menebak celotehanku tentang yang satu ini.

Akhirnya tiba giliranku. Betapa bermuram durjanya wajahku saat bola-bola itu sulit sekali dimasukkan. Tapi ketika aku memakai teknik yang sedikit tidak wajar dan bola itu masuk, dan kemudian ku kerahkan lagi beberapa gaya baru, ternyata mampu membuat bola-bola itu masuk ke ring dan aku tentu saja melompat kegirangan. Kali ini bukan seperti cacing yang terkena garam, tapi seperti anak ayam yang berusaha terbang tapi gagal dan jatuh ke tanah kemudian menangis di depan induknya – berlebihan. Dan ketika itu juga, Nana semakin tidak mau kalah dan merebut bola itu dan sudah bisa dipastikan, bola itu sepenuhnya miliknya, dan aku hanya bisa melihat dan menunggu giliran sampai dia puas bergaya aneh-aneh.

Sejenak aku terdiam, bernapas dalam-dalam dan melepas berpendaran sinar-sinar indah yang terlukis di langit yang begitu memerah. Tidak ada angin yang lebih sejuk dari angin yang menghempaskan keringatku kala itu. Suasana begitu nyaman hingga aku tak benar-benar ingin cepat-cepat hengkang dari sana. Ku perihatikan ke ujung lapangan, tampak Q sedang menikmati kesendiriannya di atas bangku panjang dengan segenggam Rectoverso. Ku rasa ia sedang benar-benar tenggelam dalam keindahan sastra sang penulis yang cerdas, hingga ia sama sekali melupakan kami dan tujuan kami berada di lapangan luas ini. Aku tahu ada sinar kepedihan di matanya, namun cepat-cepat ku enyahkan pikiran-pikiran itu takut keburu berakar kuat dan aku kembali bersenang-senang dengan bola Nana.

Sepertinya rehabilitasi kali ini cukup memuaskan dan aku bisa menikmati kencan ku dengan alam hari ini, well. Kembali bola mataku berputar ke arah Q dan ia menatap kami dengan tatapan kosong. Sekosong kaleng coca-cola yang siap untuk diremuk dan didaur ulang. Tidak ada udara sama sekali dalam ruang tatapnya. Aku meninggalkan Nana dan bola – setidaknya itu sangat bagus, meninggalkannya dan membiarkannya bersenang-senang seperti batita yang baru saja bisa melompat dan menggenggam sesuatu. Aku berjalan pelan, menembus angin, dan ku hempaskan tubuhku di atas bangku panjang itu. Tampak gaun ku bergerak-gerak terhempas angin – aku yang konyol ini memakai gaun dan bermain basket? Fashion macam apa itu? Tapi ku jamin kali ini adalah kesalahan fashion yang akan hanya terjadi sekali sepanjang sejarah per fashion-an, please!.

Ku arahkan tatapanku ke Q dan ia diam saja. « Lihat bulannya! Indah, » serunya lembut pada ku. Kemudian aku memalingkan wajah dan menyaksikan pemandangan menabjubkan itu di hadapan kami. Bulan purnama itu tampak sempurna terpampang di permukaan langit yang ku kira kanvas raksasa. Purnama yang tampak sangat cantik diselimuti beberapa awan-awan putih yang tipis dan itu sangat terlalu manis untuk diibaratkan seperti lukisan di atas kanvas. Putih dan benderang sempurna, seperti mutiara yang tak bisa ditemukan di samudera mana pun di belahan dunia ini. Begitu indah, sampai-sampai ku naikkan ke dua tangan ini dan ku lekukkan beberapa jari ku dan membentuk sebuah lingkaran besar, kemudian jari-jari ku menyesuaikan dengan ukuran bulan putih sempurna itu. Lingkaran yang sempurna di balik lingkaran tangan ku.

« Sempurna! Indah!, » kataku sedikit histeris karena terlalu kagum. Q terus memandangi pemandangan indah yang terbentang luas di hadapan kami. Menghirup udara dalam-dalam dan menghempaskannya secara perlahan. Ia masih bisu, sebisu bulan yang ada dihadapan kami. Napasnya seperti tertahan. Menahan sesuatu yang ingin ia utarakan. Aku tahu ada sesuatu yang ingin ia tumpahkan. Mungkin jika bisa ku ibaratkan, ia berharap bisa menumpahkan semua-muanya seperti ia menumpahkan setumpuk udara yang bersarang di dadanya. Tapi sepertinya sangat berat dan ia kembali membuka lembaran-lembaran Rectoverso dan yang ku dengar hanya gumaman kekagumannya dengan Rectoverso. Aku kembali menatap purnama itu dan ku katakan padanya bahwa Dee memang cerdas dan kecerdasannya terlihat dalam setiap karyanya. Betapa mahalnya jiwa seni yang melekat dan betapa indahnya karya sastra yang tercipta dari jiwa-jiwa manusia yang mencintai keindahan.

Nana menatap dan menghampiri kami berdua dengan bola yang dikepitnya seperti shot gun, dan ia terkulai puas di sebelahku. Sambil menarik napas dengan teratur, ia memalingkan tatapannya dari Q dan menatap ku dengan lemas. Ia begitu paham hingga berbicara padaku dengan matanya : tunggu lah saatnya tiba, « ia » akan mengatakannya sendiri pada mu dan ku harap kau harus siap mendengarnya dengan seluruh jiwa luas mu. Aku mengangguk dalam hati dan mempersiapkan kemungkinan emosi ku akan meledak-ledak seperti vampir yang menjalani transformasi, karena tubuhnya merasa terbakar sebelum jantungnya berhenti berdetak.

« Yuk, kita makan. Sudah puas semuanya. Kamu udah puas? Apa masih mau di sini? » tanya Nana kepada Q. Q diam saja sambil tersenyum dan kembali menatap alam di sekeliling kami. Ia menimbang-nimbang, menggoyang-goyangkan kakinya seperti menikmati keadaan, padahal aku tahu ia belum merasa ìbebasî dari jangkitan « bakteri » di otak, sementara aku dan Nana sudah menyemprot bakteri-bakteri itu dengan rehabilitasi. Dengan kecepatan kilat yang tak mampu ku deteksi, Q menggenggam handphonenya tanpa memandang kami dan ku dengar ia sedang berbicara dengan sesosok suara. Suara yang ku tak tahu motivasi di balik semua itu apa, tapi suara itu mengoyakkan keriangan ku kala itu. Q mematikan handphonenya dan berdiri kaku.

« Yuk kita makan! » kata Q pada kami. Kami yang saat itu sedang menahan napas keras-keras dan merasa seperti terhempas keras-keras ke dasar tanah, hanya mengangguk dan mengikuti langkah kami sesuai keinginannya, seperti robot, berusaha tidak memiliki perasaan dalam beberapa menit dan – well – itu sangat menyelamatkan ku dari terkaan kenyataan pahit, setidaknya.

Sepanjang makan malam aku hanya diam saja. Tidak ada komentar apapun yang menyeruak ke luar dari lidah ku dan aku merasa nyaman. Aku memprogram diri ku seperti patung, tak memiliki pemikiran, tak memiliki perasaan, dan tak butuh bernapas dalam-dalam. Dan program itu menyelamatkan ku dari hal-hal aneh dan berhasil menciptakan gencatan senjata di antara aku dan Q – aku bingung mengapa kami seperti vampir dan warewolf yang harus mengadakan gencatan senjata?

Akhirnya suara itu pecah. Suara yang keluar langsung dari bibir mungilnya. Q mulai bercerita keseluruhan hidupnya, kehancurannya – katakanlah demikian – keterpurukannya, keganjilan perasaannya, ketidaktahuannya akan motivasi, kegamangannya dalam perasaan, atau menjelaskan sebuah proses aneh dan fase-fase yang sama sekali tidak masuk akal, yang ia ciptakan untuk menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa inilah fakta bahwa dirinya sudah teramat hancur berkeping-keping hingga seperti serpih yang siap dihempaskan angin ke mana saja angin mau.

Tubuh ku bergetar dan mataku  sejak tadi memandang fokus ke satu titik agar aku tidak terlalu sulit berkonsentrasi untuk menenangkan diri. Tapi pada akhirnya, tatapan nanar ku melesat ke wajah Q dan dalam waktu sekian detik, semuanya pecah, bahkan meledak. Aku menahan semua air mata dan ku tangkis seluruh dusta yang mengalir dari mulutnya. Aku terus menghujaninya dengan segala daya upaya untuk sekedar membuktikan seluruh perkataanku bahwa dirinya sedang merangkai dusta besar dengan segala alasan-alasan dan pembenaran yang di luar akal sehat. Ia menyesali saat itu mengapa aku hanya memakai logika ku, bukan dengan perasaan ku, tapi menurutku perasaan ku hanya akan menghantarkan kami ke dalam aral yang semakin sulit, bahkan mungkin efeknya bisa menabrak sebuah gunung karang seperti kapal Titanic. Aku terluka, teramat pedih, dan ia menangis dengan sekuat tenaga dalam dekapan Nana. Terlihat sorot cemas dari mata Nana dan ia menghentikan ku untuk tidak melanjutkan kata-kata ku, karena itu membuat Q semakin keras menangis. Aku menghela napas yang tersendat-sendat dan berusaha membetulkan seluruh urat saraf ku yang menegang. Kami meronta dalam diam selama beberapa jam. Malam itu menjadi kelam bagi kami. Aku agak kecewa terapi ìbakteriî otak ku ternyata semata-mata untuk mempersiapkan adegan « besar » ini selepas makan malam? Benar-benar menyeramkan.

Kami berpisah dalam diam dan air mata Q. Aku dan Nana hanya bisa berjalan tersaruk-saruk mendapati diri kami saat itu yang semakin pedih dan rasanya jantung ini benar-benar terpilin dan terasa nyeri. Aku dan dia merasa seperti sempalai yang teronggok di tengah jalan raya yang padat. Sejenak geraman emosi mengambil alih bagai delusi dan seraya berkata : lemparkan saja sempalai-sempalai itu. Kalian toh merasa seperti seonggok sempalai yang tewas, karena tidak bisa berbuat apa-apa! Ku biarkan saja delusi itu mengitari kepalaku dan pada akhirnya, aku terbaring dalam kegelapan malam. Berduka cita.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s