Merayakan Pesta Bujang (?!)

marriageSatu kata yang bisa menggambarkan aku pekan ini : WOW!

Dalam waktu singkat, ternyata kemonotonan hidup dapat berubah menjadi sebuah pesta yang indah dan sepertinya sangat sulit untuk dihapus dan diganti dengan memori yang baru.

Pagi hari, aku sudah kembali dalam rutinitas yang sempat aku tinggalkan karena berbagai alasan : Waktu sempit dan Larangan dokter! Tapi aku memang sangat ingin menari di dalam air!

Akhirnya aku dan Flo menikmati pagi kami dengan menari dan berdiskusi ala perempuan di dunia air. Airnya bersih dan biru. Kami benar-benar menikmatinya! Dan saat menikmati sarapan dan menikmati hawa dingin, aku sama sekali tidak berencana apa-apa kecuali menikmati santapan malam dengan sebuah « ordinateur » dengan Flo. Tapi ternyata agenda takdirku berkata lain!

« Di mana, Gha? » kata Q dalam SMS.
« Habis nari dalam air. Kenapa? » jawab ku penasaran.
« Kita udah lama nggak kumpul ber empat. Ayo kumpul! » balas Q bersemangat. Aku membaca sms itu hanya tersenyum lebar dan memikirkan kata-kata yang pas. Sesaat sebelumnya, mantan bos ku memberitahu ku untuk pergi ke kantor dan menyelesaikan beberapa hal positif, jadi aku sedang berpikir keras untuk mengatur jadwal ke kantor dan kumpul dengan para sahabat-sahabatku.

Suara telepon mengagetkan ku.

« Gha di mana? » kata suara Icha dari sebrang.
« Di kosan, Cha » jawabku.
« Cha ke kosan ya! »
Belum sempat ku jawab, sambungan telepon sudah terputus. Dan aku terperangah, suara ketukan pintu membuyarkan semua-muanya.
« Cha?! » kata ku histeris dan kami berpelukan. Aku memang sudah beberapa minggu tak bertemu dengannya.

Well, karena sakit itu aku jarang berada di kota mungil ini, sehingga belum sempat menemuinya lagi. Lagi pula kami beda jurusan kuliah, itulah kendala kesekiannya.


« Udah tau Q sama Nana udah pergi duluan ke Bandung? » tanya Cha.
« Iya » kata ku heran.
« Entar kita berdua nyusul ya » kata Icha semangat.
« Emang acara mereka uda selesai? » tanya ku penasaran. Nana memang sedang menemani Q meliput, untuk berita hari ini.
« Gak tau » balas Icha. Aku hanya terdiam beberapa saat sebelum ada sesuatu yang menggemparkan menimpa telingaku dan membuatku tidak percaya.
« Gha.. » kata Icha manja.
« Apa? » kataku penasaran.
« Cha bingung. Mau ke Pusdai »
« Emang ada apa di Pusdai? »
« Mau tanya harga sewa gedung »
Sejenak aku memutar otak keras-keras dan menaruh logika ku ke dalam otak secara benar, kemudian berpikir.
« Haah? » suara ku meninggi, mataku terbelalak. Heran.
« Belum tau ya? Cha pikir udah »
« Apa? »
« Agustus ini Cha lamaran. Jadi Cha sebenarnya harus cari baju, Dan sekarang niatnya mau ke Pusdai, nge-take gedung dan masjid dan liat harga, » kata Icha sumringah.
Darahku tiba-tiba berhenti mengalir dan jantungku berenti berdetak dan lama-lama menjadi beku karena tiba-tiba ada angin puyuh menerjang tubuhku dan rasanya aku mau rubuh.
« Cha..! » teriakku.
« Iya Gha!! Finally aku nikah sama dia!! » kata Icha sambil menutup wajahnya.
Aku yang histeris langsung memberikan selamat bahagia pada Icha dan well, alur rencana berubah. Berarti aku akan memulai sesuatu yang besar : Membantu sahabat dalam pra-wedding!

***

Hari ini hujan besar dan angin ribut sekali rasanya karena tersembur oleh angin-angin yang sedikit ngamuk. Aku dan Icha menjemput Q dan Nana di sebuah lokasi dan kami berempat, finally, berkumpul dalam tawa. Kami mulai bercerita dan tertawa puas dengan sejumlah celotehan dan banyolan yang ditumpahkan masing-masing orang di sepanjang perjalanan menuju Pusdai. Sementara hujan di luar sana masih deras. Kami terpaksa berlari-lari dari parkiran menuju Pusdai dan itu membuat baju-baju kami basah. Kami menemani Icha bernego tempat dan tanggal pernikahan dengan pengurus gedung. Dan WOW, akhirnya target pertama terpenuhi : Tempat sudah siap!
Kami yang masih euforia dengan keberempatan kami pada akhirnya menikmati aktvitas keliling kota Bandung dan mulai berwisata kuliner. Hari ini kami juga makan besar dan bersenang-senang ala pembujang. Kapan lagi begini setelah Icha « pergi » dari kami? Masa dia harus membawa Mas Jati ikut dengan kami dalam satu mobil dan menikmati semua percakapan ala gadis muda? That’s a BIG NO!!


Kami benar-benar kenyang dengan sederet menu seafood di depan kami. Sepanjang malam kami tertawa dan menikmati malam. Berbagi cerita dan melihat film-film sedih. Kebersamaan ini rasanya menjauhkan kami dari rasa kantuk. Tapi pada akhirnya kami tertidur dalam kebersamaan.

Besoknya…

Hujan kembali melanda Bandung tapi mobil terus melaju menuju Pasteur. « Centrobello » kata Icha pada Nana. Kami sibuk mencari alamat Centrobello untuk tata rias pengantin dan akhirnya tempat yang nyaman itu ditemukan juga. Icha sibuk bernego paket dan harga, sementra aku dan Nana melihat-lihat gaun kebaya. « Cantik, » kata ku. Dan kami meninggalkan lokasi dengan pencapaian target ke dua : Tata rias pengantin dilimpahkan pada Centrobello. Well! Setidaknya itu profesional dan berkualitas.


« Ke mana lagi kita? » kata ku.
« Hunting baju Gha » kata Icha.
« Okay. What place do you wanna see, first? »
« Anita Salon & Bridal, Sukajadi »
« Let’s go! »
Dan hujan masih menyapu kota Bandung yang dingin.

***

« Eghaa.. » panggil Icha dari dalam ruang fitting.
« Gimana Cha? » tanya ku. Sementara Nana sibuk melihat desain undangan.
« Kesempitan Gha! »
« Yaahh..Sebentar, minta pelayannya nyocokin ukuran » Kemudian aku meninggalkan serangkaian patung-patung cantik berkebaya dan melangkah menuju pelayan untuk menyesuaikan ukuran baju yang sempit.
Dan well, semua baju tidak ada yang pas! Semua sempit seperti baju anak TK dan pada akhirnya Icha harus menjahit baju. Hasilnya, target ke tiga terpenuhi : Rancangan busana bu Anita Salon & Bridal. Selepas dari Salon kami menuju Paris Van Java, belanja makan malam di Carrefour. Malam ini kami meminta Icha yang memasak.


« Masa kita mulu yang masak? » kata ku dan Nana berbarengan.
« Oke. Cha yang masak. Masak apa? »
« Sayur asem, » ledek Nana.
« Ih! Oke. Cha masakin kalian Chicken Katsu!

« Well, whatever you want, pengantin » kata ku. Nana hanya nyegir geli.

Malam ini kami habiskan lagi dengan bertingkah ajaib di depan MacBook. Bersuara aneh-aneh dan merekamnya dengan bangga. Seperti anak SD yang baru bisa bernyanyi. Lagi-lagi kami merasa sedih. Aku teringat ketika di mobil kami semua menyedihkan moment ini.


« Nanti kamu gak bisa lagi kaya kita-kita gini Cha » kata ku.
« Harus bisa! Cha harus bisa bareng kalian! Entar Cha pulang ke Bandung kalau weekend dan ketemu kalian. Karena Cha harus tinggal di Sukabumi, Mas Jati kan kerja di sana »
« Hmpph.. » Kami mendesah….

***

Aku terjaga dari lamunan.


« Nanti H min sekian kita ke pantai. Bareng-bareng, nikmatin semuanya sebelum Cha nikah, » kata Icha.
« Oke Cha. Apapun yang kamu mau! » kata ku.

Di sebelah kami, tampak Nana tidak enak hati. Sejak kemarin. Diam dan tertawa tak tentu arah. Seperti akan kehilangan.

Kami memang akan kehilangan…
Namun sebelum saat itu tiba, ku harap waktu masih mau bertoleransi terhadap kebersamaan ini.

Aku ingin terus bersama kalian!

So, let’s enjoy the party! Pesta Bujang!

4 réflexions sur “Merayakan Pesta Bujang (?!)

  1. pulau dewataaa???

    waaaaaaa….

    bukannya ladies party ya ke sana???

    seruuu

    mau donngg…

    khusus ladies kan???

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s