Renungan di Sepertiga Malam

Kembali ku putar balik seluruh hasil rekaman yang tidak sengaja ku simpan di dalam kepalaku. Ada begitu banyak kejadian yang membuat kepala ku hampir pecah dan dada ku sesak kehabisan oksigen. Huff… Lucu…

Terhitung sejak aku pergi sesaat untuk meninggalkan mereka, orang-orang yang berharga dan berpengaruh dalam hidupku, karena sebuah call of duty, aku kehilangan sebuah tempat sandaran empuk. Dan pada akhirnya, satu-satunya jalan, kembali ku tumpahkan seluruhnya kepada Dia yang Memiliki Jiwaku, hanya seorang diri, tanpa siapapun yang mendampingi ku. Sendiri… (andai kalian tahu itu)

Beberapa kegamangan dan kegelisahan sempat membuat produksi keringat ku mengering dan rasanya aku ingin berlari sekencang-kencangnya hingga mengeluarkan keringat dan perkara selesai. Beberapa kali ku teriakkan nama mereka di dinding hati, tapi tak ada jawaban dari sebrang sana. Baiklah! Aku harus menghadapinya seorang diri, tanpa kalian!

Setumpuk kisah-kisah mengerikan itu telah ku tuangkan dalam sebuah gelas dan gelas itu sudah ku paketkan kepada kalian dalam pesan elektronik maupun suaraku. Kalian sudah mendengar suara ketakutan ku kan? Jangan pernah bilang aku tidak adil kepada kalian, karena aku belum mengabari apapun kepada kalian. Aku sayang kalian.

Satu per satu tampaknya ujian ku telah datang dan itu membuatku sedikit tersedak dan perutku terasa seperti teraduk-aduk oleh hingar bingar kehidupan nyata. Huff, untungnya kalian selalu menertawakanku, sehingga ku buat saja seluruh skenario ini adalah dagelan kehidupan yang hanya melintas untuk membuatku tertawa terbahak-bahak. Konyol!

Beberapa kalangan dari berbagai elemen berbondong-bondong dan datang menyerangku. Aku merasa seperti buronan yang siap untuk diteror hantu gentayangan di siang bolong. Andaikan aku penyihirnya, semua hantu-hantu itu pasti sudah berhasil ku usir dan bahkan ku kerangkeng di dalam penjara bawah tanah. Aku yakin ini tidak akan lama. Aku percaya karena waktu akan terus berjalan, menyelamatkan ku dari kawah panas ini.layu

J’ai peur quelque chose…

(come on! don’t be like that flower, Gha)

3 réflexions sur “Renungan di Sepertiga Malam

  1. cessez de se plaindre, avez dit le fermier. qui t’a indiqué un veau être? pourquoi n’avez-vous pas des ailes à voler loin? comme l’hirondelle, si fier et libre…

  2. ki, lo ngomong apa sih? kok tiba2 bisa bahasa planetnya bebek. hehehehe.
    bek, jhsuhsxbygdywegbxbsav, xewydgywxbhsxy….uwgxhwbxhw hgaswsf, uhhgahxgasxhjgaxhga, hsxjhxjahxjxhja,hxghsagxagx…
    (bek, cha ga tau harus bilang apa…smua harus kita hadapin, smua kembali padaNya, setiap ujian merupakan pertanda untuk kita agara lebih dekat, dekat dan dekat lg padaNya… dan membuat kita lebih dewasa, karna kita akan mencari jalan keluar dr smua masalah ini…kita akan slalu dsini bersama kamu, dan berusaha menyokong kamu dari belakang dr tempat kita bisa berdiri…)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s