Maka kembalikan hati ku hanya kepada Mu…

Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa. Inilah yang di singgung nabi saw dalam beberapa haditsnya, bahwa iman manusia selalu fluktuatif. Berbeda dengan imannya para Malaikat yang stabil, dan tak pernah berubah. Atau berbeda pula dengan imannya para iblis yang selalu berada di tingkat yang paling rendah.

Pada saat manusia berada pada puncak keimanan, ia akan bisa melampaui keimanan para malaikat. Namun, ketika imannya rendah, ia bisa lebih resujudndah dari imannya para iblis. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman,

 »Sesungguhnya Kami akan isi api neraka jahanam dengan kebanyakan jin dan manusia, karena mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. » (Q.S. Al-A’raf 7 : 179).

Ketika iman berada pada titik nadinya yang paling menghawatirkan, di sinilah dosa-dosa itu bermunculan, bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Pada saat seperti ini, Allah SWT menegur hamba-hamba-Nya untuk segera bertaubat.

Karena, dengan taubat itulah, seorang yang telah berdosa dijamin pasti akan diampuni, sehingga kembali lagi ke level iman tertingginya.  »Katakanlah [wahai Muhammad], ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian semuanya jika bertaubat. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. » (Q.S. Az-Zumar 39 : 53).

Iman bagi seorang hamba mempunyai kedudukan yang tinggi dan luhur. Setiap kebaikan dunia dan akhirat tergantung pada kebaikan dan kesempurnaan iman. Betapa banyak manfaat yang melimpah serta kebaikan yang mengalir tanpa henti karena keimanan. Dari sini kaum Muslimin berlomba-lomba untuk menjaga, memurnikan dan menyempurnakan imannya.

Dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw, banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang kondisi keimanan yang selalu fluktuatif. Allah SWT berfirman:
« Supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang sudah ada). (Q.S. Al-Fath 48 : 4).

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah saw bersabda, « Tidaklah seorang pezina itu berzina, ketika ia memiliki kesempurnaan iman. Dan tidaklah seorang pencuri itu mencuri, ketika ia memiliki kesempurnaan iman serta tidaklah seseorang itu meminum khamr, ketika ia memiliki kesempurnaan iman. Sedangkan pintu taubat masih terbuka setelah itu.” (H.R. Muslim).

Dari pemaparan diatas, Rasulullah selalu mengingatkan kita tentang keimanan yang selalu fluktuatif, terkadang naik terkadang pula turun. Terkadang kita berbuat baik kepada sesama, terkadang pula kita menyakiti sesama kita. Sehingga keimanan kita susah untuk stabil.

Lalu, bagaimanakah agar keimanan kita tetap stabil? Dalam haditnya, Rasulullah menasehati kita untuk selalu menjaga keimanan kita dari perbuatan dosa dan maksiat, sebagaimana sabdanya, ‘Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa. Dan kita harus menghindari dan berhati-hati terhadap ketiganya. (Pertama), Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, (Kedua) berhati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan (Ketiga) berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati. » (H.R. Ibn Asakir)

Selain ketiga nasehat Rasulullah saw yang disebutkan dalam hadits diatas, terdapat pula beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan keimanan kita selalu stabil, antara lain;

1.    Memiliki Hati yang Bersih

Hati itu penguasa atau panglima untuk seluruh organ tubuh kita. Kalau hati bersih, insya Allah seluruh perbuatan kita akan lurus, namun kalau hati kita kotor, seluruh perbuatan akan menyimpang dari rel kebenaran.

Jadi, mulia atau hinanya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya, tapi dari performa batiniah atau hatinya. “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-harta kamu tapi melihat hati dan perbuatan¬mu.” (H.R. Muslim).

Ada kemungkinan di balik pekerjaan shaleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah SWT. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah SWT. memaafkannya.

Oleh karena itu, tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal shaleh, sebagai¬mana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat.”

Hati merupakan sumber kebahagiaan, jika kita mampu membersihkannya. Namun sebaliknya, hati juga merupakan sumber bencana, jika kita menodainya. Aktivitas badan sangat tergantung konsistennya hati. Abu Hurairah ra. pernah berkata, “Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu bagus, maka akan bagus pula tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya.” Hati bagaikan pemimpin atau raja yang membawahi prajurit. Ketika sang raja memiliki mental yang rapuh dan jiwa yag bobrok, maka prajuritnya pun akan bermental rapuh. Oleh karena itu, jagalah hati kita, jangan sampai gersang dari keimanan. Karena jika hati kita gersang dari keimanan, maka segala prilaku yang kita lakukan tidak akan bernilai ibadah.

2.    Tidak diperbudak hawa nafsu

Hawa Hawa nafsu seringkali diidentikkan dengan ”syahwat”. Padahal hawa nafsu bukanlah ”syahwat”, tetapi keinginan untuk memiliki sesuatu. Misalnya keinginan memiliki harta yang banyak, keinginan untuk melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi. Namun yang dimaksud hawa nafsu di sini adalah keinginan untuk sesuatu yang negatif.

Misalnya keinginan untuk memiliki kekayaan yang berlimpah tanpa memperhatikan halal Sikap “diperbudak” hawa nafsu, tentu tidak selalu sepenuhnya seperti itu. Bila kesibukkan duniawinya telah melalaikan dari keimanannya, maka ia termasuk pada kategori “ diperbudak hawa nafsu”. Allah SWT sangat mencela hamba-Nya yang “ diperbudak hawa nafsu”, sebagaimana firman-Nya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Jaatsiyah 45 : 23)

Marilah kita selalu berlindung kepada Allah SWT dari golongan manusia yang semacam ini. Karena, apalah artinya hidup di dunia jika Allah telah mengunci mata hati, pendengaran, dan penglihatan kita. Terlebih ingatlah ancaman Allah SWT dalam firman-Nya,“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 7)

3.    Tidak diperbudak kehidupan dunia

Kita harus selalu mewaspadai kehidupan dunia. Jika tidak, maka kita akan mudah diperbudak oleh kehidupan dunia yang akan menyengsarakan kita di dunia hingga akherat. Jangan sampai prilaku hidup kita seperti kaum hedonisme, yaitu kaum yang selalu menjunjung tinggi budaya sekuler. Hidup mereka hanya mengejar kehidupan duniawi. Gaya hidup mereka diperbudak gengsi, sehingga yang ada dalam benaknya hanyalah materi semata.

Biasanya hedonisme bertambah subur, ketika keadaan ekonomi menjadi panglima. Derajat manusia diukur berdasarkan kekayaan, sehingga manusia yang dihargai hanyalah manusia yang tergolong kaya, yang memiliki kedudukan atau jabatan. Hukum Allah berupa halal atau haram sudah jauh dalam kehidupan mereka.

Falsafah hidup mereka adalah « nikmatilah hidup ini sepuas-puanya, sebelum kematian datang”.

Padahal, Allah SWT telah mengingatkan kita, bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan yang kekal adalah kehidupan akherat yang merupakan hasil kerja keras amal ketika hidup di dunia. Allah SWT berfirman, “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (Q.S. An-Nahl 16 : 107).

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, « Tidak lain kehidupan dunia ini kecuali senda gurau dan main-main. dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya, kalau mereka mengetahui. » (Q.S. Al-Ankabut : 64)

Dalam sebuah hadits, Umar bin Abdul Aziz pernah memberikan nasehat dalam khitbahnya, ”Sesungguhnya dunia itu bukanlah tempat menetap buat kamu, Allah telah memutuskan bahwa dunia akan rusak. Dan Allah telah menetapkan buat penduduk dunia, bahwa mereka akan pergi meninggalkan dunia.

Maka berbuat baiklah kamu sekalian, semoga Allah merahmati kalian, dari dunia itulah akan berpindah menuju alam yang lebih baik yaitu kampung akhirat. Oleh sebab itu carilah bekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa kepada Allah.” Itulah hakikat kehidupan dunia.

Semoga Allah mengaruniakan pada kita nikmat hidup yang tak terbelenggu oleh kesenangan dunia.

by : http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&cID=527

Une réflexion sur “Maka kembalikan hati ku hanya kepada Mu…

  1. assalamu’alaikum…

    taqobbalallahu minna wa minkum

    wah tampilannya dah berubah, dah lama gak maen ke blog ini.

    oh iya, afwan yah Teh Ega klo slama ni ana banyak khilaf…

    semoga teman2 di Jatinangor tetap semangat ngaji…

    barokallahu fikum

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s