Pertemuan dan Perpisahan

Prolog
Sebuah pembuktian teori terkadang mampu membuat sebagian manusia tercengang, terkejut, bahkan terserang virus diam seribu bahasa. Mungkin para ahli dan peneliti saling berkejar-kejaran membuktikan kebenaran dari sebuah teori yang tercipta. Berlomba-lomba memeras otak dan mengusap berliter-liter peluh dan keringat yang menetes dari setiap tekanan yang mereka ciptakan sendiri. Dan jantung mereka serasa akan meledak ketika menantikan hasil dari berbagai eksperimen yang mereka perjuangkan. Itulah kerja keras para pecinta logika. Menguji setiap teori yang ada, bahkan melahirkan sesuatu yang baru. Lagi dan lagi. Entah itu untuk dunia, atau untuk kepuasan batin mereka semata. Namun bagi sebagian manusia yang lain, setiap individu tidak perlu menjadi seorang ahli bahkan peneliti untuk dapat menguji ribuan teori. Mungkin, cukuplah menjadi diri sendiri yang memiliki keyakinan dan keteguhan hati, seseorang mampu membuktikan sesuatu yang bahkan fana sekalipun. Dan pembuktian itu cukup diperankan oleh hati melalui proses filtrasi pemikiran yang jernih, yang berbuah menjadi sebuah makna, yang mungkin pada awalnya membingungkan, tetapi juga mampu melegakan sekaligus menyakitkan. Hanya dengan sebuah pembuktian hati, sebuah teori klasik para pepatah kuno dan modern sudah bisa dibuktikan secara sempurna dan tanpa ragu : « pertemuan dan perpisahan ». Suatu kondisi yang mampu diuji, bahkan oleh hati yang bisu sekalipun. Itulah pertemuan dan perpisahan. Dua buah makna yang melekat secara psikologis dalam tumpukan memori Irtha. Ia mampu membuktikannya. Tanpa adu kompetisi dengan para penguji hebat manapun. Ia mampu membuktikannya sendiri. Dengan hati nuraninya.

###
Siang ini semua orang sibuk berlalu lalang mengerjakan kesibukan mereka. Aku yang sudah pusing karena harus bersiap tugas sebagai salah satu event organizer di kampus, jadi bertambah pusing ketika harus memperhatikan mereka yang mungkin mengalami kepusingan yang sama dengan ku. Mungkin kepalaku pusing, tetapi bibir ku tetap saja tidak pusing. Aku malah bersenda gurau dengan Dee yang saat itu selalu berada di samping ku. Kami membicarakan berbagai hal. Tentu saja hal-hal yang menyenangkan dan membuatku lupa bahwa aku seharusnya berada dalam sebuah
kepusingan, seperti mereka-mereka yang sedang mondar-mandir di hadapanku. Aku terus bercerita panjang lebar dengan Dee tanpa memperhatikan orang-orang di sekitar ku. Aku terus menyunggingkan bibirku kadang kala aku melontarkan lelucon-lelucon konyol di hadapan Dee, kemudian tertawa lebar seraya menertawakan kekonyolan ku sendiri. Tanpa ku sadari, sebentar lagi akan ada suatu hal yang akan melukis kisah hidup ku dan menorehkan sedikit goretan yang membekas!

« Halo, kenalan dong! Reza! », tiba-tiba seorang pria berkulit sawo matang mendatangi ku dan Dee, menyodorkan tangannya. Dia tersenyum pada ku, sangat spontan.
« Oh, boleh. Irtha! » sautku masih bingung.
« Sama-sama EO kan di sini? » katanya.
« Iya! » jawabku dan Dee bersamaan.

Aku dan Dee saling berpandang-pandangan. Kami heran. Sementara pria di hadapan kami yang mengaku bernama Reza itu masih menyunggingkan senyum manisnya. Ke arah ku! Apa-apaan dia? kata ku dalam hati. Kemudian secara instan aku langsung akrab dengan Reza dan bercerita tentang beberapa hal terkait penugasan kami.

« Boleh minta nomer handphone, nggak? Alamat facebook dan yahoo messanger? », kata Reza tanpa basa-basi.
« Oh, pastinya! » kata ku juga tanpa basa-basi. Dan kami langsung bertukar ID satu sama lain.
Hari yang menyenangkan! ujar ku dalam hati.

###
« Aku pulang », ujar ku ketika baru tiba di rumah. Hari ini benar-benar melelahkan. Aku membuka pintu kamar ku dan meletakkan tas putih ku di atas kursi dorong. Ku lihat jam dinding. Pukul 19:00 WIB! Aku segera membersihkan muka ku dan mengganti pakaian ku dengan piyama dan bergegas ke meja makan. Setidaknya selepas makan malam aku harus tidur. Karena besok ada kelas pagi di kampus.

Pukul 21:00 WIB. Kamar ku sudah gelap dan posisi tubuh ku sudah nyaman berada di bawah selimut tebal. Malam ini benar-benar dingin dan badan ku pegal-pegal karena lelah. Aku berusaha memejamkan mata. Namun, ada perasaan aneh yang melekat setelah penugasan tadi siang. Reza! Wajah itu yang terbayang di kepala ku dan berputar-putar menghiasi langit-langit kamar ku. Seolah-olah dia ada, menatap ku dengan senyumnya, dan mengulurkan tangannya untuk mengajakku berkenalan sekali lagi. Aku menghela napas. Berusaha melepas bayangan konyol itu. Tetapi
bayangan itu muncul lagi dan menyesakkan napas ku. Otak ku mulai menerawang dan beberapa kali bibir ku mengucapkan namanya. Aku tersenyum dan menutup wajah ku dengan bantal. Berusaha melupakannya dan tidur. Benar-benar malam yang aneh. Ada apa dengan ku?

###
« Halo Irtha! Masih inget? » Tulisan itu mengagetkan ku di layar notebook. Sapaan dalam yahoo messanger ku dengan inisial « Ice Tea ». Siapa ini? kata ku dalam hati sambil mengerutkan kening. Jelas saja malam ini aku kebingungan. Aku belum selesai mengerjakan tugas dari kampus, dan ini sudah malam, dan tiba-tiba ada orang misterius mengajak ku berbicara di dalam kotak yahoo mesangger.

Aku mengetik balasannya, « Ini siapa? »
« Lupa ya? Ini Reza! Anggota EO kampus kemarin. Apa kabar? »
Aku tersentak kaget. Reza? Ya Tuhan! Hati ku berdebar-debar, entah mengapa. Aku merasa agak bodoh.
« Oh iya! Ingat sekarang! Apa kabar, Za? »
« Baik. Lagi ngapain, Tha? »
« Lagi ngerjain tugas nih, pusing! »
« Oh.. Gimana untuk persiapan acara minggu depan? »
« Belum tahu. Semoga lancar ya acara kita »
Kami terus berbincang-bincang. Mulai dari pembicaraan seputar penugasan acara kampus, sampai hal-hal yang amat sangat tidak penting. Misal : membahas Kecoa!

Memori ku mencatat, akhir tahun ini sangat penuh dengan kejutan. Tentunya dalam sebuah pertemuan. Aku menikmati penugasan ku sebagai EO kampus. Berkenalan dengan banyak teman di lintas fakultas, dan tentu saja yang paling utama : semakin akrab dengan Reza. Dalam waktu singkat, dia membuat ku memiliki rutinitas yang membuat ku candu. Candu akan gurauannya dan kekonyolan kami berdua ketika kami adu bicara. Dia seperti nikotin. Membuat ku selalu menunggu sapaannya setiap pukul 21:00 WIB di dalam kotak yahoo messanger. Aku menunggunya dan terus menunggunya. Setiap pukul 21:00 WIB. Aku menunggunya. Dan terus menunggunya. Tanpa lelah. Melakukan permainan tebak-tebakan kami, perbincangan ringan seputar serangga dan hal-hal yang tak terlalu penting tetapi membuat ku sakit perut karena tertawa. Kemudian dalam setiap malam ku, hanya ada satu kata, Reza! Dia mampu melekatkan bayangannya ke dalam kelopak mata ku di saat aku terjaga. Dan mampu melayangkan bayangannya ke dalam mimpi-mimpi ku di setiap malam. Dia mampu masuk ke dalam saluran napas ku hingga aku selalu ku menghembuskan namanya di setiap kali helaan napas ku. Dia dan hanya dia, yang mampu menahtakan dirinya ke dalam hati ku. Tak ada kata lelah dalam hal ini. Hingga ku temukan sebuah jawaban singkat bahwa aku mencintainya…

###
« Dia yang mencintaiNya. Mencintai Tuhannya », gumam ku dalam hati. Aku terdiam. Memandangi secangkir hot coffee latte yang diam membisu dalam kehancuran ku. Terlalu menyakitkan apabila ku teorikan bahwa sebuah pertemuan terkadang mampu mendatangkan kebahagiaan semu, lalu kemudian kebahagiaan itu pecah berkeping-keping dalam benturan harapan, dan terserak dalam gerbang perpisahaan. Aku meneguk setengah hot coffee latte ku. Berusaha menikmati rasanya yang tak bisa ku rasakan. Lidah ku hambar. Napas ku terasa berat. Tak ada rasa yang tersisa kecuali
air mata. Air mata ku menetes. Seketika pipi ku basah dengan tumpahan air mata. Ku genggam erat cangkir hot coffee latte ku namun semua pertahanan ini pecah dalam hitungan detik. Emosiku tumpah dan melebur ke dalam suasana temaram. Isak tangis ku meluap-luap. Merobohkan segala pertahanan yang tersisa. Aku memaki diri ku di hadapan Pandu, sahabat Reza. Aku terus melontarkan kata-kata maaf dan kembali menghujam diri ku dengan sayatan kata-kata kepedihan. Takut. Itulah gelombang yang sedang menghantam jiwa ku saat ini. Takut. Aku takut kehilangan dia karena kebodohan yang ku lakukan.

« Tha, nggak apa-apa kan? » tanya Pandu panik
« Tolong bilang bahwa gue hanyalah manusia biasa yang punya tabiat buruk. Maaf jika itu melukai dia, bahkan membuatnya menjauh. Bilang bahwa gue sama sekali tidak berniat menghantuinya dengan perasaan ini yang memang sudah tertanam dan mengakar. Gue hanya ingin berteman baik dengan dia. Meski gue terlalu mencintainya », kata ku dalam isakan tangis.

Aku kembalil meneguk hot coffee latte ku yang tersisa, bersama tangis. Pandu hanya mentap ku. Tak sanggup berkata apa-apa. Pandu menenangkan ku dengan setengah tenaganya yang tersisa. Karena setengah tenaganya lagi telah terbuang akibat keterkejutannya melihat air mata ku tumpah berserakan di wajah ku yang memerah. Ini kesalahan ku. Bagi Reza, gaya bercanda ku terlalu vulgar dan mungkin itu suatu hal yang menakutkan. Apa karena aku seorang perempuan? Lantas ada apa dengan perempuan? Aku juga memiliki ekspresi yang sama dengan pria. Apa aku melakukan kesalahan ketika aku bergurau dan menyapa nya dengan kata « sayang »? Ya, aku memang sayang padanya. Sangat sayang. Dan aku menyayangi orang-orang yang menyayangi Tuhannya. Aku tahu aku berlebihan dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Aku mencintainya. Seperti aku mencintai diri ku. Bahkan mungkin porsi untuk nya lebih besar. Tapi salah kah aku ketika posisi ku sebagai perempuan telah menghambat gaya bergurau ku dengannya? Aku hanya ingin dia mengetahui kalau itu hanya gurauan mahasiswa kelas teri yang tidak perlu diperdebatkan. Lagi pula, memang kenapa kalau aku bilang « sayang » padanya? Toh itu perasaan ku yang sebenar-benarnya. Salah kah aku? Dan kini aku harus kehilangan mu. Benar-benar hilang, hanya karena perkara ini. Perih!

###
Dua bulan berlalu dan aku masih saja menatap kotak yahoo messanger ku tepat pada pukul 21:00 WIB. Masih segar di memori ku, Reza pulang dari aktivitas mengajarnya dan menjalankan rutinitas menyapa ku saat dia online. Tapi kini? Yang ada hanya kebisuan di antara kami. Tanpa ada kata maaf dan itu menyakitkan. Aku kehilangan dia. Benar-benar kehilangan dia. Seperti perokok yang dipaksa berhenti merokok secara mendadak. Ini membuat ku pusing dan hampir pingsan! Semua terasa pahit.
###
Siang ini aku berjalan di pelataran kampus. Menghampiri teman-teman ku yang tertawa lebar tanpa ada beban. Sejenak aku merasa iri, beruntung sekali mereka bisa menikmati tawa tanpa ada beban berat menggelantung di pundak mereka. Ku paksa melebarkan senyuman, meneduhkan tatapan ku, dan meringankan napas berat ku.

« Ithaaa! » suara teriakan dari arah sebrang membuyarkan sandiwara ku. Aku menoleh ke arah belakang.
« Reza? » kata ku kaget. Aku tidak percaya. Reza akhirnya menemui ku. Ada apa dengan dia? Bukannya selama ini dia menghilang dari ku dan tega membuat ku menjadi seonggok makhluk yang hanya memiliki setengah nyawa? Setengah nyawa ku hancur berkeping-keping setelah kepergiaannya dalam kehidupan ku dan kini dia ada memanggil nama ku. Persis ketika saat kami berdua bertemu dan saling berkenalan. Ini kah yang dinamakan perputaran waktu?

« Bisa bicara sebentar? » tanya Reza. Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah Reza ke tepi jalanan kecil di dalam kampus. Dia sengaja membawa ku ke sana, agar tidak ada orang yang memperhatikan kami, setidaknya.

Aku terdiam. Menunggu Reza angkat bicara. Ku coba hembuskan napas seringan mungkin untuk meringankan kerja jantung ku. Darah ku sudah hampir naik ke ubun-ubun, menahan kepedihan. Dan kini kami tetap mendiam dalam bisu.

« Ada yang mau di omongin Tha? » tanya Reza mencairkan suasana kebekuan.
« Za, maaf. Maaf dengan semua ke vulgaran gaya gurauan yang mungkin nggak sesuai dengan kamu. Maaf aku bilang sayang. Nggak seharusnya », kata ku menahan tangis.
« Iya nggak apa-apa. Aku ngerti », jawab Reza datar.
« Tapi kita tetap…..
« Tha… », tiba-tiba Reza memotong pembicaraan.
« Maaf Tha. Aku nggak bisa sama kamu. Aku udah punya perempuan lain ». kata Reza sambil menunjuk ke seseorang.
« Apa? »
Tiba-tiba seorang gadis berjilbab melintas di hadapan kami. Gadis itu berjalan sangat cepat dan menundukkan wajah nya ke arah aspal. Aku tersentak. Hancur. Ini seperti sebuah penolakan yang luar biasa memalukan sekaligus menguburku hidup-hidup ke dalam jurang keterpurukan. Aku terluka, kehilangan, sekaligus dicampakkan dan dipermalukan.

Napas ku sesak. Kepala ku berdenyut kencang. Aku kehilangan arah. Reza berbicara semau hatinya tanpa memikirkan perasaan ku. Dia tidak pernah tahu sampai kapan pun bahwa aku mencintainya karena ulahnya! Dan setelah semuanya tersusun, susunan itu roboh tanpa sisa. Aku kehilangan dia, dan kehilangan hatinya yang tercermin untuk Tuhannya. Dia telah menentukan pilihan hidupnya. Pilihan yang tak mengindahkan nama ku di dalam daftarnya. Aku seperti terbuang ke dalam kesia-siaan. Sakit!
Dan sore itu, aku berjalan pulang dengan langkah yang terhuyung-huyung.
Sesak sekali rasanya…


###
« Tha, lagi ngapain? » Suara Fany membuyarkan lamunan ku di atas kasur. Suara sepupu ku dari saluran telepon tersebut meledak-ledak bak ingin menyampaikan berita bombastis.
« Kenapa Fan? »
« Nggak, cuma mau tahu wajah aslinya Reza. Orangnya yang mana sih? »
« Uh..Reza lagi! » gumam ku.
« Masa nggak tahu? Sini ku kirim », kata ku sambil mengirimkan foto Reza yang terpampang di jejaring sosial.
« Benar berarti! Nggak salah! » Tiba-tiba Fany berteriak histeris.
« Ada apa sih? » tanya ku penasaran.
« Sebentar. Aku kirim sesuatu. Nanti kamu lihat »
Aku menunggu beberapa menit. Kemudian kiriman Fany mengejutkan ku. Telepon genggam ini hampir saja jatuh ke atas lantai. Napas ku kembali sesak. Reza! Fany menangkap gambar Reza secara tidak sengaja lewat kamera digital. Foto Reza di sebuah taman. Bersama dengan gadis berjilbab! Gadis yang ku lihat kemarin!  Dan mereka saling bergandengan tangan!

« Tuhaaan! » teriakku.
Tangis ku kembali pecah. Tidak ada pikiran ku selain menangis. Menangis dan menangis. Aku terpuruk dalam lubang kehancuran dan keterpurukan. Merasa terbuang dan tercampakkan. Semua perhatian dan gurauan manisnya kini terlihat hanya omong kosong. Aku benci pria! Dia yang menyeretku ke dalam rasa ini dan membuat ku semangat mencintai Tuhan ku. Dan kini semua harapan ini dia renggut dan dia pecahkan dihadapan ku. Hancur sehancur-hancurnya. Air mata ku mengalir deras. Semua wajah ku memerah dan napas ku teramat berat. Dada ku sesak. Semua terasa sakit.
Hatiku seperti telah berlubang dan mungkin sudah berkarat. Terlalu pedih untuk disembuhkan. Tak henti-hentinya aku menangis. Hari itu adalah hari penghentian ku. Hari di mana aku berhenti untuk mengingat pertemuan yang terakhir kali dengannya setelah sekian lama kami berbicara dalam diam. Dan kini juga adalah hari di mana aku harus menghilang dan menghilangkannya dari kehidupan ku. Sakitnya sebuah perpisahan. Dan kini, omong kosong jika ada kebahagiaan dalam setiap pertemuan! Kini semua hal semakin jelas, bahwa tidak ada hal yang bisa benar-benar membuat ku berbahagia kecuali berbahagia dengan kepedihan itu sendiri. Aku berbahagia dengan pertemuan itu dan kini harus ku taklukkan rasa sakit ini bahwa aku juga harus berbahagia dengan perpisahan ini. Tapi itu masih sangat berat dan teramat sulit. Berbahagia dengan pertemuan dan berdamai dengan perpisahan. Sebuah pencapaian yang terlalu berat bagi ku. Aku menangis. Membuang semua hal tentang Reza. Membuang inisial « Ice Tea » yang pernah menjadi nikotin kebodohan ku di malam hari. Dan menghapus semua memori tentang kami. Aku hancur. Dan telah ku putuskan, minggu depan aku bertolak meninggalkan Indonesia! Lebih baik aku lari…

###
Dua bulan berlalu

« Lagi ngapain Tha? » tulisan sms itu membuyarkan konsentrasi ku di depan skripsi ku. Pandu? Gumam ku sambil melihat layar handphone.
« Lagi ngetik Pan. Ada apa? »
« Jalan yuk! Bareng Ranzy sama temen-temen gue »
« Kapan? »
« Sekarang! Gue jemput »
Pandu, sahabat Reza, menjemputku. Aku merasa bangkit kembali setelah pulang dari luar negeri. Meninggalkan Indonesia selama beberapa waktu, membantu ku untuk melupakan kenangan pahit meski itu tidak menjamin 100%. Aku menemukan dunia baru. Dunia bersama Pandu. Pandu pria yang sangat baik. Dia sangat memperhatikan aku. Meledek setiap kekonyolan yang ada pada ku, namun dia memiliki perasaan yang halus. Bagi ku, dia sahabat yang sempurna. Dia bisa menjaga ku ketika aku merasa sendiri dan membahagiakan ku ketika senyum ku mulai memudar.
Waktu telah menjawab. Tanpa ku tersadar, Pandu sangat memperhatikan ku. Membawa ku ke mana pun dia berada. Dia selalu menanyakan kabar ku dan mengkhawatirkan ku. Dia pria yang sangat baik. Aku menyayanginya. Dan semakin menyanginya. Dan tanpa tersadar, aku mulai membawa perasaan ku pada segala perhatian yang dia berikan. Aku mulai melupakan Reza dan menempatkan Pandu di dalam hati ku. Seperti peti harta karun, hati ku ditempatkan oleh orang yang berharga untuk ku saat ini dan mulai ku jaga sekuat tenaga dengan balutan harapan yang mulai tumbuh. Pandu selalu menjemputku ketika aku berada di mana pun dan tidak berani membiarkan ku pergi seorang diri. Perhatiannya membuatku luluh dan itu sangat menyiksa.

Ketika aku ingin memulai kembali untuk sembuh dan bangkit dalam sebuah harapan baru. Ketika aku ingin memulai kembali mencintai seseorang yang berarti dalam hidup ku. Ketika aku ingin memulai kembali memiliki seseorang yang selalu ada untuk ku. Dan ketika aku ingin kembali menikmati indahnya harapan, aku kembali terpelanting ke dalam jurang. Luka ku lebar dengan darah yang mengucur sampai mampu membuat ku pingsan. Luka ku infeksi dan kini yang ada hanyalah kepedihan yang semakin lebar dengan lubang di hati ini. Aku kembali terperosok ke dalam kawah
fatamorgana. Semua keindahan lagi-lagi semu dan membodohi ku. Kini aku seperti orang yang lumpuh, ketika ku sadari bahwa Pandu hanya menganggapku sebagai seorang teman dekat. Betapa bodohnya aku. Lagi-lagi terjerumus dalam ketidakrealistisan pikiran, disfungsi logika, dan harapan semu.

Tuhan! Inikah kata-kata yang ingin Kau sampaikan pada ku? Ketika aku mencintai makhluk-makhluk yang mencintai Mu, maka Engkau merasa cemburu pada ku? Maka katakan pada ku bagaimana caranya agar aku mencintai Mu seorang diri tanpa harus aku mencintai mereka dengan segala fatamorgana! Aku mencintai Mu, tapi juga aku mencintai mereka dengan segala kekurangan yang ada.

Belum sembuh aku dari luka ini, Kau kembali perkenalkan aku dengan sosok pria bernama Ajhri yang banyak mengajari ku hikmah kehidupan dan menenangkan rohani ku dalam ayat-ayat cinta Mu yang ia bacakan untuk ku. Ahjri yang selalu peduli pada setiap lika-liku kelemit kehidupan ku dan gonjang-ganjingnya keimanan ku pada Mu. Dan lagi-lagi aku dilemahkan dalam cinta…

Tuhan, pantas kah aku mendapatkan dia yang mencintai Mu? Atau pantas kah aku terus terluka seperti ini? Dan kini aku harus kembali menyadari bahwa mereka semua hanya ada dalam ruang imajinasi ku. Seraya sulit untuk ku gapai.
Maka Tuhan, perkenankan lah aku untuk dicintai oleh mereka yang mencintai Mu, karena hati ini telah lelah dalam buaian harapan dan disorientasi kejiwaan akibat dosa hati.

-True Story-
(Kisah ini penulis persembahkan untuk sahabat penulis, yang penulis tempatkan sebagai pemeran utama dalam naskah ini. Mohon maaf banyak adegan yang terpotong.  Semoga Irtha yang dalam tulisan ini senang membaca kisah nyatanya yang penulis tuturkan kembali dalam sebuah narasi. Dan semoga narasi ini sesuai dengan permintaan Irtha)


6 réflexions sur “Pertemuan dan Perpisahan

  1. Ga, bagus banget ceritanya, tapi banyak yang kepotong, entar kalo ada waktu, lo wawancara gw aja , hehehehe…. Next response di telpon aja. I can’t write here….

  2. gaa, itu cerita siapa ??? elo apa sahabat lo ??? kok menjiwai sekali gitu sihh anda ??? ahahahahahhah
    yaaaa gaaa, jangan2 lo bawa2 gue juga lagii, soalnya gue sering banget manggil beb beb ke temen2 cowo gue😛
    tapi bagus kok penulisannya!

  3. elyn.. tuh tokoh utamanya yang komennya ada di atas ente woy..hehehehe… (peace)

    ceritanya emang banyak yang kepotong.. But YOU KNOW.. my girl friend called Bear was crying loudly while she read this story THEN she stopped reading coz she couldn’t stand it.. « hurt » that’s d words she said…

    ajibb… aplause buat IRTHA yang jadi tokoh utama..heheeeee

  4. Pour m0n amie Irtha(bkn nama yg sesungguhnya,hehe):
    Semakin bnyk pengalaman,smakin tipis beda yg benar dan yg salah. Tapi benar khan,yg terpenting adalah keTULUSan. Hal yg selalu lo ingetin ke gw,bahwa setiap wanita pasti mendapatkan pria yg TULUS mencintainya,bkn hanya pria2x yg hanya memandang fisik,harta dan kesenangan semata.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s