Esensi Usia Dalam Kehidupan Manusia

Manusia merupakan salah satu makhluk hidup yang menempati, melengkapi, serta mempengaruhi sebuah tatanan ekosistem. Di antara beragam jenis makhluk hidup yang menyeimbangi ekosistem, manusia merupakan makhluk yang memiliki eksistensi terbesar di muka bumi. Bahkan, beragam perubahan, termasuk iklim, tak ayal merupakan hasil dari kontribusi manusia. Dalam melakukan berbagai produktivitas hidup, manusia sangat kerap menggunakan daya pikir mereka untuk diforsir secara maksimal.

Penggunaan organ vital tubuh tersebut menjadi begitu krusial dan esensial terhadap keberlangsungan hidup mereka. Namun hanya segelintir dari mereka, para makhluk hidup bernama manusia, yang menyadari  bahwa seluruh kehidupan bukan semata-mata bergantung pada akal maupun daya pikir manusia. Dalam runutan historis religi telah disampaikan bahwa kemampuan manusia menjadi salah satu makhluk di muka bumi dan berpartisipasi ke dalam bagian dari ekosistem, tak lain adalah berkat adanya sebuah perjanjian terikat antara Sang Ilahi dan batas waktu kehidupan manusia.

Batas waktu. Itulah dua buah penggalan kata yang hampir terlupakan ketika logika sedang keras bekerja dalam lingkaran kehidupan manusia. Padahal, di dalam sebuah perjanjian terikat, manusia mampu menghembuskan napas, bahkan sebelum melewati proses usia kronologis. Usia kronologis merupakan perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia. Usia kronologis juga merupakan salah satu bukti dalam teori hayati tentang adanya batas waktu bagi setiap makhluk hidup, khususnya manusia, bahwa suatu waktu seluruh makhluk hidup akan menemui akhir dari segala kehidupan. Akhir yang bermakna ajal. Dan ajal, bersimpul erat dengan usia.

Usia dan manusia, merupakan suatu ikatan kemutlakan yang sulit dicerai-beraikan. Namun, ada berapa persen kah manusia yang menyadari bahwa usia berfungsi sebagai « alarm » dalam kehidupan dan setiap tindak tanduk perbuatan mereka? Tak banyak manusia tersadar bahwa usia menjadi pengingat di kala manusia menyia-nyiakan setiap waktu yang terus berlari. Usia menjadi penyokong di kala manusia melalui proses pengembangan diri. Usia menjadi pematang di kala manusia melalui beragam situasi. Usia menjadi alasan di kala manusia tegak berdiri di atas bumi. Usia menjadi bukti di kala nyawa masih bersemayam di dalam raga manusia. Usia menjadi sebuah multi esensi di setiap kehidupan manusia. Dan usia menjadi suatu pembuktian di kala manusia menemui takdir terakhir mereka.

Tak ada makhluk hidup – terutama manusia – yang mampu lekang dari setiap masa. Dan setiap masa pasti memiliki batas penghabisan. Mungkin benar jika masa bisa dikatakan batas waktu, karena memang tidak ada hal yang tidak berbatas, termasuk usia. Namun, esensi apakah yang terkandung dalam benak setiap manusia ketika mereka dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa usia itu memiliki batas akhir?

Wujud ketidaksia-siaan yang seperti apa yang kerap mereka lakukan untuk mengisi ruang waktu yang tersisa? Kesenangan duniawi semata kah? Atau mengumpulkan berton-ton kebaikan amal untuk dipersembahkan kepada Sang Ilahi? Wallahu’alam. Semoga di sisa usia ku ini, tak ada kekotoran yang bersimpuh di benak ini. Allahumma amin.

4 réflexions sur “Esensi Usia Dalam Kehidupan Manusia

  1. Iya, Ega,, happy birthday! maapkan aku sangat telah! Abis biar seru, katanya BAng Sat (Satria Baja Hitam) Heee..
    Salam kenal yah (bo’ong banget!). Gmn kabarnya?

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s