Untaian Kisah Pendek

Jatinangor, 8 Maret 2010

Bola mata ku masih memandangi telepon seluler yang tergeletak di atas karpet Minnie Mouse pink-biru ku. Menanti selentingan kabar dari deringan nada pesan. Menit ke menit, jam ke jam. Belum ada kabar. Bola mata ku berputar, melihat beberapa perlengkapan yang baru saja ku beli, untuk memenuhi kegiatan yang sudah terencana dari beberapa hari lalu. Tiba-tiba telepon genggam ku berdering.

« Sis, ke Shava yuk », kata pesan dari sebrang.

« Sebentar ya, rapi-rapi dulu », kata ku.

« Pasti dandan, dasar ibu-ibu. »

« Ih bukaaan.. by the way, jadi berenang kan? »

« Haduh aku gak bawa perlengkapan. »

« Kamu kan janji dari beberapa hari lalu! »

« Duh aku lupa! Ya udah sekarang ketemuan di depan Alfa ya »

Aku diam saja. Merapikan diri ku kemudian mencoba secepat yang aku bisa bergegas ke luar rumah. Tiba-tiba telepon genggam ku kembali berdering.

« Sis, maaf. Aku mau pulang aja. »

« Apa? Aku udah di jalan! » kata ku.

Aku berlari. Melihat Alfa dan semuanya kosong. Aku menekan tombol « dial ». Tapi tak ada jawaban. Aku mulai terheran-heran. Ada apa dengan teman ku? Seperti nya kepalanya sedang kacau. Biarlah…

Aku berbalik arah. Pulang dengan terheran-heran. Aku mengirimkan pesan singkat, sambil menarik napas.

« Nang, kita pergi, tanpa Bear! »

***

Kami bertiga tertawa. Saling melepas kepenatan satu sama lain di atas air biru yang tenang. Langit sedikit kelabu, namun kami tak peduli. Aku, Nana, dan Nisa. Tiga perempuan dari planet yang berbeda-beda, sore itu hanya membutuhkan satu hal : bersenang-senang dengan air.

Dan kesenangan ku semakin bertambah ketika adzan berkumandang, di atas wajah ku terjatuh rintikan air hujan. Selebihnya, wajah air biru ku memiliki pola lingkaran-lingkaran setengah besar akibat rintikan lembut sang hujan. Kami menikmatinya. Sebelum gemuruh datang dan seolah-olah meledak di atas kepala ku ketika kami hendak menuju sebuah surau. Hujan lebat dan petir menyambar tepat di atas kepala kami.

Saat itu kota Jatinangor gelap gulita. Selepas shalat, aku dan Nana melepas hawa dinginnya udara dengan secangkir cokelat hangat. Rasanya manis dan itu membuat ku sedikit tak nyaman. Kami bercerita panjang lebar. Mengenai hal apapun. Tentunya sebelum aku menelepon sahabatku Florence, yang saat ini sedang berada di bandara. Sebentar lagi dia akan terbang menuju Polandia untuk mengerjakan sebuah proyek. Hati ku mendadak pilu. Ditinggalkan teman untuk beberapa saat, sementara hujan lebat mengguyur kota kecil kami yang gelap gulita akibat putusnya aliran listrik.

Tegukkan cokelat panas terakhirku mengakhiri malam kami. Kami melangkah pergi menuju rumah. Dengan menapaki jalan setapak yang sempit dan licin.

*** end ***


Jatinangor, 9 Maret 2010

Senja ku hujan. Dan udara di sekeliling ku terasa menggigit. Jari-jemari ku hampir membeku seperti ice cream yang di jual di warung-warung pinggir jalan. Tetapi tetap saja semua huruf di atas keyboard ku tekan-tekan dan menghasilkan ratusan, bahkan ribuan kata.

Kemudian telepon genggam ku berdering. Menghancurkan sisa-sisa malam sunyi ku dan pelukan dinginnya udara saat itu. Suara dari sebrang, begitu pilu. Aku bisa merasakan sesak napasnya membanjiri seluruh keluh kesahnya. Aku terpaku, mendengarkan suara lemah Ros yang bergetar. Saat itu dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain « aku membutuhkan mu, tapi aku begitu malu ». Hanya itu kata-kata yang menjadi intro kisah haru nya malam itu. Aku terus menunggu. Menenangkannya hingga dia mau angkat bicara.

« Aku malu! » kata Ros sambil terisak.

« Kenapa Ros? »

Ros lama terdiam kemudian kembali menangis. Aku hanya bisa menarik napas sepelan mungkin agar tidak mengganggu kepiluan hatinya.

« Kalau nggak mau ngomong, nggak apa-apa, » kata ku menenangkan.

« Aku..Aku… »

Aku kembali terdiam. Ku lihat kembali layar putih ku. Mencoba mencerna ulang kalimat Ros di chat box sebelum dia menelepon ku.

« aku banyak masalah, kampus, orang tua, cowo, dosa »

Otak ku kembali ku putar. Dua hal terakhir kah?

« Gha…maafin aku. Aku tahu kamu pasti kecewa banget sama aku. Aku tahu kamu pasti marah. »

« Marah kenapa? »

« Aku pusing, Gha »

« Masalah orang tua? Kampus? Apa? »

« Aku sama Pacar ku »

« Kenapa kalian? »

« Dari dua tahun lalu, Gha! Aku…Aku… » Ros menangis. Menghancurkan keheningan malam. Malam kami.

« Apa Ros? »

« Hubungan kami ‘gak sehat’ « 

« Apanya?? »

« Kami melakukan aktivitas gak sehat! »

Tangisan Ros meledak. Aku terdiam. Lama. Menarik napas dalam-dalam. Berusaha melawan asma ku.

« Aku malu sama kamu. Aku tahu kamu pasti kecewa banget sama aku, » isak Ros.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku kembali menarik napas dalam-dalam. Aku tertawa. Beberapa detik. Tetapi sandiwara itu hanya bertahan beberapa detik. Mata ku penuh butiran air, dan bendungan itu pada akhirnya pecah berbulir-bulir. Membasahi pipiku. Isak tangis ku tak tertahan. Kami menangis dalam malam. Bersama-sama. Meratapi sebuah dosa besar yang telah terjadi beberapa tahun silam, hingga detik itu.

Wahai sahabatku, tahu kah engkau dalam agama kita zina itu termasuk ke dalam dosa besar ? (Ustadz Kholid Syamhudi). Tentunya berdasarkan dalil-dalil berikut ini:


1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’alal : « Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk ». [al-Isrâ/17:32]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : « Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina ». [al-Furqân/25: 68-69]

Dalam hadits, Nabi juga mengharamkan zina seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ : أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟، قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ للَِّهِ نِداً وَهُوَ خَلَقَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ

« Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Dosa apakah yang paling besar ? Beliau menjawab : Engkau menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah , padahal Allah Azza wa Jalla telah menciptakanmu. Aku bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab: Membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Aku bertanya lagi : Kemudian apa ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab lagi: Kamu berzina dengan istri tetanggamu ».

Sejak dahulu hingga sekarang, kaum muslimin sepakat bahwa perbuatan zina itu haram. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullaht berkata : Saya tidak tahu ada dosa yang lebih besar dari zina (selain) pembunuhan.

Dan engkau, wahai sahabatku.. engkau masih belum menikah…

Air mata ku kembali berderai tiada henti… pedih…


Tahukah engkau wahai sahabat, bahwa pelaku perbuatan zina yang belum menikah, maka hukumannya adalah dicambuk sebanyak seratus kali. Ini adalah kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

« Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah (cambuklah) tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (cambuk) ». [An-Nûr/24:2]

Al-Wazîr rahimahullah menyatakan : “Para ulama sepakat bahwa pasangan yang belum al-muhshân dan merdeka (bukan budak-red), apabila mereka berzina maka keduanya dicambuk (dera), masing-masing seratus kali.

Hukuman mati (dengan dirajam-red) diringankan buat mereka menjadi hukuman cambuk karena ada udzur (alasan syar’i-red) sehingga darahnya masih dijaga. Mereka dibuat jera dengan disakiti seluruh tubuhnya dengan cambukan. Kemudian ditambah dengan diasingkan selama setahun menurut pendapat yang rajah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خُذُوْا عَنِّيْ ، خُذُوْا عَنِّيْ ، قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً ، الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جِلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيْبُ عَامٍ .

« Ambillah dariku! ambillah dariku! Sungguh Allah telah menjadikan bagi mereka jalan, yang belum al-muhshaan dikenakan seratus dera dan diasingkan setahun. » [HR Muslim].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan : “Apabila tidak muhshân , maka dicambuk seratus kali, berdasarkan al-Qur`an dan diasingkan setahun dengan dasar sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekarang, apa yang bisa aku lakukan untuk mu? Ingin mencoba kembali dalam shalat mu yang selama ini engkau tinggalkan?

Aku kembali menangis. Menenangkan Ros..

عَنِ اْلأَغَرِّ بْنِ يَسَارٍ الْمُزَنِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَآايُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.

Dari Agharr bin Yasar Al Muzani, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Hai sekalian manusia! Taubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampun kepadaNya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali”

Kami berhenti. Mengambil napas. Dan mengakhiri percakapan dengan nada sedikit tenang. Setidaknya Ros saat ini sudah tenang, pikir ku dalam hati.

Sambungan telepon terputus. Aku mencoba mengehela napas panjang. Menatap langit-langit kamar ku. Dan…

Tangisan ku pecah tak bertepi…

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s