Pelangi dalam Diari Senja Ku

Pelangi dalam Diari Senja Ku

Jatinangor, Ahad, 11 April 2010.

Rintikan gerimis sisa hujan lebat siang tadi masih menghiasi langit di kala senja. Gemerciknya masih bisa ku dengar dari bilik tidur ku yang berbentuk petak berwarna blue-orange. Saat itu yang bisa ku lakukan hanyalah melipat kedua kaki ku di atas karpet blue-pink mickey mouse untuk menghangatkan jemari ku yang hampir membeku. Saat itu, tak ada satu hal pun yang dirasa mampu membuat ku tertarik untuk melihat ke arah jendela. Hanya ada kata “dingin”, kemudian ku lanjutkan kembali ketikan diari senja ku.

“Lihat ke atas! Cepat! Habis hujan lihat ke atas!”

Suara gadis di luar bilik membuyarkan konsentrasi ku bersama diari senja.

Aku beranjak ke atas langit-langit bangunan tempat tinggal ku dan mencari-cari sesuatu yang ditunjuk gadis itu. Mata ku menjelajahi lautan langit yang saat itu menebarkan rintikan gerimis tipis. Wajah ku setengah basah dalam kesejukan. Tiba-tiba bola mata ini terdiam dalam kekakuan. Pesona di hadapan ku kini bukanlah sekelas tandingan maha karya lukisan Da Vinci yang mendunia dan penuh misteri. Pesona di hadapan ku kini, adalah sebuah maha karya agung dari sang pemilik alam semesta.

“Subhanallah! Sempurna!” jerit ku menahan girang.

Tubuhku melonjak dan telapak tangan ku menahan jeritan yang mengalir deras dari bibir ku. Bagaimana bisa aku tidak membahana ketika di hadapan ku kini adalah sebuah pesona dengan keindahan yang luar biasa tak tertandingi? Retina ku menangkap semua fenomena yang muncul tepat di depan mata ku. Lengkungannya begitu sempurna dengan warna merah, jingga, kuning, hijau, dan biru. Lengkungan itu semakin terlukis sempurna ketika seolah-olah terlihat sedang memayungi sebuah gunung hijau.

“Begitu indahnya lukisan alam Mu ya Rabb. Subhanallah!”

Rintikan gerimis terus mengalir membasahi kening dan mata ku. Butir-butirannya menyejukkan aura wajah ku yang sempat lesu. Begitu menyejukkan, begitu indah.

Belasan menit badan ku terpaku di hadapan pelangi setengah lingkaran sempurna yang memayungi Gunung Geulis yang berwarna hijau terang. Tanpa ku sadari, ketika ku balikkan badan ku, kini ada sebuah kejutan romantis lain yang tak terduga! Persis di belakang ku, temaram senja (twilight) berpendar sempurna dalam balutan warna oranye pekat. Angin kala itu berhembus lembut menerpa sekujur tubuh ku dan ku cium aroma hujan yang begitu melekat sempurna dalam angan pelukku. Begitu sempurna, meski kulit ku tergigit oleh dinginnya udara. tapi aku menikmatinya. Benar-benar menikmati keromantisan kali ini. Kesempurnaan kencan ku dengan alam kali ini memang tak terbayarkan oleh siapapun juga yang hendak menandingi. Hanya bisikan kalbu ku saja yang bisa ku hantarkan sebagai rasa terima kasih ku pada Mu dan pada keromantisan Mu di kala temaram senja detik ini, bersama rintik hujan berbalut pelangi yang Kau lukiskan untuk kami. Terima kasih wahai Sang Pemilik Cinta dan Keindahan, karena aku tahu cinta Mu begitu lekat. Maka, hiasilah pelangi Mu dalam diari senja ku kelak menuju surga Mu. Seperti indahnya lukisan Mu yang ku lihat tepat dihadapanku.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s