Suatu Siang di Hari Minggu

Jakarta, 9 Mei 2010
Suatu siang di hari Minggu…

Teriknya matahari terasa membakar kulitku yang hampir merah padam terkena sengatannya. Sinarnya serupa kristal-kristal halus yang berkilauan di siang hari. Aku merasakan hawa hangat yang dihantarkannya. Begitu hangat hingga wajah ku penuh dengan butiran keringat. Telah jarang aku melihat kemilau biru langit yang cerah bersama awan putih tebal yang sedang bergerak tertiup angin. Karena selama ini yang ku rasakan hanyalah awan kelabu bersama hujan dan rintikannya. Tetapi di balik temaramnya kelabu hujan, aku mencintainya. Mencintai hujan dan gerimisnya. Hujan dan dinginnya. Hujan dan mendungnya. Hujan dan aku.
Tapi kini, ceritakanlah aku dan matahari ku. Matahari yang sinarnya menerangi pelik-pelik kehidupan kelam ku ketika berada di dunia fana. Berterimakasih kepada kehangatannya karena berhasil menyadarkan ku dari tidur panjang di musim hujan. Berterimakasih kepada pencerahannya atas segala lara di kala hujan berhenti untuk terjatuh.

Dan mungkin, aku sedang berusaha mencintai matahari ku, dan mulai menempatkannya di dalam kotak hati ku, seperti aku meletakkan hujan ke dalam kotak hati ku…


Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s