Jurnalis : Sebuah Pilihan Hidup

Satu kata bernama tulisan. Sebuah teori mengungkapkan bahwa salah satu cara  yang ampuh untuk menyampaikan suatu fenomena alam maupun eksistensi diri adalah dengan tulisan. Dengan tulisan, manusia mampu berkomunikasi. Dengan tulisan, manusia mampu menyampaikan beragam informasi. Namun manusia sering kali luput dengan satu hal, bahwa dengan tulisan, manusia sebagai hamba Tuhan juga mampu berdakwah.

Kegiatan komunikasi dan penyampaian informasi melalui tulisan telah dilakukan sejak jaman kerajaan Romawi kuno melalui Acta Diurna. Sebuah papan pengumuman yang berisi informasi kegiatan parlemen dalam setiap hari. Tujuannya agar rakyat mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan pemerintah. Sejarah ini mengisyaratkan bahwa komunikasi berlangsung melalui proses penyampaian informasi melalui sebuah media, dengan input berupa tulisan. Sejarah ini pulalah yang melahirkan kegiatan mengumpulkan, mengolah, serta menginformasikan yang dinamakan jurnalistik. Sebuah kegiatan pelayanan terhadap masyarakat, yang saat ini berkembang pesat dalam era demokrasi di bawah naungan lembaga Pers.

Pers. Satu kata yang menguatkan nafas negara demokrasi seperti Indonesia. Sebagai pilar keempat demokrasi, pers digerakkan oleh insan-insan pers. Insan inilah yang dinamakan jurnalis. Jurnalis yang berperan sebagai pelayan masyarakat, mengemban tugas untuk melayani kebutuhan krusial masyarakat akan informasi, pendidikan, dan hiburan. Penyampaian informasinya pun dilakukan melalui beragam cara, seperti melalui tulisan, suara, ataupun gambar. Kemudian hasil yang diciptakan tersebut nantinya diharapkan akan melahirkan suatu kepuasan tersendiri bagi para pelakunya, maupun para penikmatnya.

Perlu digaris bawahi bahwa bicara jurnalisme dan pers, tidak melulu membahas suatu pergerakan atau perubahan dalam sistem demokrasi Indonesia. Ada titik indah tersendiri ketika berbicara jurnalisme perihal komunikasi dan informasi, kecintaan akan sesuatu, serta kepuasan. Jurnalisme nyatanya memiliki keterkaitan dengan masalah kecintaan terhadap suatu kegiatan, seperti menulis. Jurnalisme nyatanya juga memiliki keterkaitan dengan masalah kepuasan terhadap suatu kegiatan, seperti rasa syukur karena mampu mendidik masyarakat melalui tulisan. Jurnalisme nyatanya juga memiliki keterkaitan dengan masalah kebutuhan terhadap suatu kegiatan, seperti berdakwah. Serta jurnalisme nyatanya juga memiliki keterkaitan dengan masalah tanggung jawab terhadap suatu kegiatan, seperti menyampaikan seluruh fakta secara adil dan jujur. Itulah hakikat jurnalisme dalam benak saya.

Begitu banyak profesi mulia yang dihormati masyarakat serta dimuliakan oleh agama. Namun sekali lagi, bicara perihal jurnalisme tidak melulu membahas suatu pergerakan atau perubahan. Hal ini terkait dengan masalah kecintaan tergadap suatu kegiatan. Sebagai contoh, ketika seorang saya sangat mencintai kegiatan menulis. Apapun akan saya tulis sebagai alat pemenuhan kepuasan pribadi. Saya bisa menciptakan karya-karta ringan seperti sebuah blog atau menulis kegiatan sehari-hari dalam sebuah buku catatan pribadi. Tetapi pada dasarnya manusia butuh sebuah saluran eksistensi diri. Sebagai contoh, seorang jenius seperti Einstein akan sangat tersiksa apabila hanya belajar dan mengurung diri di kamar tanpa mampu menghasilkan karya cipta apapun. Begitu juga seperti pencinta tulis menulis seperti saya. Tentu saja saya akan sangat terkungkung ketika tulisan-tulisan yang saya ciptakan hanya mampu memenuhi kepuasan pribadi saja, tidak untuk dikonsumsi publik. Maka dari itu, dibutuhkan suatu saluran yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan berbagai pihak, salah satunya adalah media massa.

Media massa pada hakikatnya adalah saluran komunikasi massa, yang disediakan untuk menyalurkan seluruh informasi yang telah dikumpulkan dan diolah oleh para jurnalis. Terlihat korelasi yang sangat signifikan antara tulisan, jurnalis, dan media massa. Apapun jenis media massanya, baik cetak, elektronik, maupun on line, terdapat peran tulisan, jurnalis, dan media massa yang bersangkutan. Bicara mengenai media massa cetak seperti surat kabar atau majalah, atau media massa on line seperti website, seorang jurnalis pada dasarnya akan menyampaikan seluruh informasi untuk disebarkan kepada masyarkat, melalui tulisan. Tetapi perlu diketahui bahwa tulisan juga berperan dalam penyampaian informasi tak langsung dalam media massa elektronik. Sebagai contoh, siaran berita radio maupun televisi, membutuhkan teks atau naskah yang harus dibacakan oleh penyampai berita. Hal inilah kemudian yang kemungkinan besar mampu menggerakkan hati nurani seorang pencinta tulis menulis, untuk melakukan sebuah eksistensi diri dan kecintaan terhadap dunia tulis menulis, salah satunya dengan menjadi seorang jurnalis di media massa.


Suatu Kebutuhan Pokok

Berangkat dari ingatan masa lalu, siapapun yang pernah mengalami masa kecil di bangku Taman Kanak-Kanak maupun Sekolah Dasar. Mungkin masih segar dalam ingatan bahwa rata-rata, kita yang baru belajar bicara, menulis, dan bersosialisasi dalam lingkungan pendidikan, dengan suara lantang dan bangga memproklamirkan : “Saya ingin menjadi dokter!” atau pernyataan yang lain : “Saya ingin menjadi pilot!”. Terus menerus seperti itu. Mulai dari siswa generasi tua hingga ke generasi muda, selalu melantangkan pernyataan serupa mengenai cita-cita mereka ketika dewasa kelak. Pada tahun 1993 ketika saya memulai pendidikan di Sekolah Dasar, hingga menjadi mahasiswa pada tahun 2005, belum ada pernyataan dari lingkungan saya yang berujar “ingin menjadi jurnalis”. Bahkan dari lubuk hati terdalam saya, sama sekali tidak terbersit untuk mengatakan “saya ingin menjadi jurnalis”. Entah apa yang melatar belakangi fenomena ini. Apakah karena profesi jurnalis tidak terkenal seperti profesi dokter atau pilot? Ataukah masalah kesejahteraan yang belum setara antara profesi sebagai jurnalis dan dokter, meskipun tugas mereka sama-sama melayani publik? Allahua’lam Bisshawwab.

Keprofesian jurnalis pada era orde baru tidaklah terlalu tercium gelagatnya. Sebagai anggota masyakarat, saat itu saya tidak begitu bergantung kepada karya jurnalistik. Pemberitaan tidak begitu berpengaruh apapun dalam diri saya sebagai pelajar. Mungkin lebih tepatnya, era orde baru bukanlah era jurnalisme. Saya hanya mengonsumsi berita penuh sensor dan tidak begitu berkarakter. Kini, semua seperti roda terbalik. Karya jurnalistik begitu membahana dengan beragam jenis berita. Kini, jurnalis tak lagi menyensor hal-hal yang dianggap krusial untuk diketahui masyarakat. Kini, di era reformasi demokrasi, para jurnalis bebas menyajikan informasi segar dan terbuka untuk menciptakan opini publik yang beragam. Kini, anggota masyarakat, sudah terlihat sangat bergantung kepada karya jurnalistik. Kini, kebutuhan akan informasi berupa karya jurnalistik telah menjadi sebuah kebutuhan pokok masyarakat maju yang harus meng-up date setiap kejadian baru.

Melawan Stereotype Kuno

Hidup dalam era modernisasi dan globalisasi saat ini, tak menjamin lahirnya suatu pola pikir masyarakat yang modern dan terbuka. Jika mampu di catat, masih banyak masyarakat yang memandang sebelah mata pekerjaan seorang jurnalis. Jangankan di pandang, terkadang mendengar kata “jurnalistik” saja sebagian masyarakat belum mengetahui maknanya. Kecuali ketika dilontarkan kata “wartawan”, barulah mereka mengangguk-ngangguk, ditambah ironi berupa kalimat “yang suka ngejar-ngerjar artis itu ya?”. Kekurangtahuan masyarakat akan hal itu masih dianggap wajar, karena profesi yang disegani dari stereotype orang tua dulu adalah : dokter, insinyur, pilot. Tetapi, tidak selamanya stereotype mengenai hal itu melekat erat di benak masyarakat. Untuk para insan yang mencintai kegiatan tulis menulis seperti saya misalnya, akan dengan segenap hati meraih beragam cara untuk bisa mewadahi potensi diri. Tidak ada argumentasi yang formal terhadap keinginan tersebut, karena berawal dari kesukaan atau kecintaan, akan timbul potensi dari dalam diri mengenai hal yang disukai atau dicintai, misalnya tulisan dan menulis. Teori yang pada awalnya menyatakan bahwa salah satu manfaat tulisan adalah sebagai sebuah bentuk eksistensi diri, maka kini tak lagi hanya demikian.

Tulisan, nyatanya juga mampu memberikan manfaat selain berupa kesenangan psikologis atau pertunjukkan eksistensi diri. Tulisan, nyatanya mampu memberikan manfaat yang luar biasa, kepada para insan yang memeluk ketaatan kepada perintah TuhanNya. Tanpa disadari, perlahan-lahan, tulisan yang dicintai memberikan kenyamanan tersendiri berupa nikmat dakwah. Dakwah kepada masyarakat yang belum mengetahui informasi, dan dakwah kepada ummat muslim akan sebuah berita yang haq – benar. Tulisan bisa disyi’arkan melalui seorang penulis, tetapi takdir mengarahkan saya menulis melalui sebuah prosedur sistem demokrasi. Tak perlu pelbagai alasan untuk meneguhkan sebuah pilihan. Cukup kepada kecintaan terhadap sesuatu dan bermanfaat bagi masyarakat dan ummat, hal tersebut telah bisa dijadikan sebuah pegangan berupa konsistensi seorang insan terhadap suatu hal yang ia pilih. Yaitu cinta terhadap tulisan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat dan ummat. Beragam pilihan untuk kategori ini, namun pada akhirnya pilihan hidup hanya tertambat untuk satu pilihan : Jurnalis!

Une réflexion sur “Jurnalis : Sebuah Pilihan Hidup

  1. ironisnya seorang jurnalis kok di fitnah terlibat teroris.hmmm sungguh terlalu,ohhh sungguh zalimnya negeriku.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s