Guruku, Muridku

Guruku, Muridku…

Oktober 2009. Merupakan awal perkenalan saya dengan Albert Bandura bersama sekumpulan teorinya yang mampu menggiring saya menuju titik hidup selanjutnya : SOCIAL LEARNING THEORY.

Dalam Social Learning Theory atau Teori Pembelajaran Sosial, Bandura menyatakan bahwa kondisi lingkungan dapat memberikan dan memelihara respon-respon tertentu pada diri seseorang. Asumsi dasar dari teori ini yaitu sebagian besar tingkah laku individu diperoleh dari hasil belajar melalui pengamatan atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individu – individu lain yang menjadi model.

Bandura menyatakan bahwa orang banyak mempelajari tingkah laku melalui peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang diterima. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang ditimbulkannya atas model tersebut.

Jelas bahwa teori ini merupakan teori « pembaharuan » dari teori belajar konvensional yang menyatakan bahwa belajar hanya didapat melalui pendidikan formal semata.

Teori ini kembali bangkit setelah hampir saya tutup selepas mengerjakan Final Project untuk gelar pendidikan Sarjana Komunikasi Unpad Strata- 1. Kepergian saya dari dunia jurnalisme pun nampak nya membawa pesan tersendiri bagi kehidupan saya yang baru bahwa « jangan pernah menganggap bahwa kita hanya bisa belajar melalui media ».

Di kehidupan yang baru, saya melangkahkan kaki ke gerbang dunia pendidikan. Dunia yang tak pernah saya sentuh. Ketika tape recorder saya hibahkan ke seorang teman, ketika notes saya simpan di rak buku, mulailah saya berjuang dengan sebuah sepidol. Saya rasa, ini adalah kehidupan yang penuh tantangan, di mana saya harus menjadi seorang « guru » ditengah murid-murid lugu yang sebagian kecil dari mereka adalah siswa berkebutuhan khusus.

Di bulan pertama saya bekerja, pihak manajemen menekankan bahwa saya adalah seorang guru yang belajar dari nol. Sebagai seorang guru saya harus mampu mendidik para siswa sesuai kurikulum dan silabus pembelajaran yang berlaku. Saat itu instruksi yang saya dapat adalah saya adalah pendidik sekaligus role model bagi siswa-siswi saya. Menarik.

Namun beberapa bulan ke depan, timbul perspektif berbeda di kepala saya mengenai cara pandang saya sebagai seorang guru, dan cara pandang saya melihat siswa-siswi saya. Mulanya, saya selalu kebingungan. Materi apa yang akan saya sampaikan untuk mereka pagi ini. Sempat saya berpikir lebih baik saya ditinggal di tengah jalan raya dan menulis berita, dari pada harus menghadapi siswa-siswi dengan beragam karakter dan warna, bahkan kebingungan mau mengajari mereka apa. Terlalu formal, hingga saya hampir mati langkah.

Suatu hari, di pagi yang dingin sebelum saya mulai mengajar, seorang siswa berusia 9 tahun mendatangi meja saya. Namanya Prabu Hawari. Dia murid yang cerdas dan aktif. « Bu, saya punya wafer cokelat 3 buah. Ibu mau? ». Sambil tersenyum saya bertanya, « Memang kamu gak lapar, Bang Prabu? » Lalu dia menjawab, « Saya kan punya 3, jadi bisa buat ibu satu. Saya sudah makan kok. » Kemudian dia menaruh wafer cokelat tersebut ke tangan kanan saya. « Thank You Abang Prabu. » « You’re welcome Miss Egha ».

Kemudian saya menghela napas panjang di sela-sela senyum saya. Hari yang manis semanis wafer cokelat.

Ada kejadian agak ironis ketika bel istirahat makan siang. Beberapa gerombolan siswa kelas 4 SD ramai-ramai mengolok-olok salah seorang siswa berkebutuhan khusus yang usianya sudah 13 tahun tetapi masih duduk dibangku kelas 5 SD. Tubuhnya di lempar sepatu, dihina, dan ditertawai sampai dia berteriak dan menangis sekencang-kencangnya.

Kemudian beberapa siswa kelas 4 SD itupun di panggil oleh wali kelas. Di sudut kelas, saya menyimak dengan seksama nasehat wali kelas yang tegas tersebut. « Jika kalian punya kakak atau adik seperti Abang Fadhil yang berkebutuhan khusus, kalian mau? »

Mereka dengan kompak menjawab, « Tidak » sambil menggelengkan kepala.

« Kalau kalian seperti Abang Fadhil, kalian mau? »

« Tidak »

« Kalian tahu, Abang Fadhil juga tidak ingin seperti itu. Tetapi dia menjadi seperti itu karena Alloh. Bukan kemauan dia. Apa kalian tahu? »

Suasana sunyi. Mereka menunduk. Sedih.

« Kalian tahu bahwa murid-murid berkebutuhan khusus itu sebenarnya lebih luar biasa? Kalian tahu Muhammad, murid Autis kelas 2? Tulisannya jauh lebih rapi dari pada kalian yang kelas 4. Kalian tahu Jundi, murid kelas 3 dengan kecerdasan di bawah rata-rata yang mampu bilingual indonesia-arab di rumahnya? Kalian tahu Fares, murid kelas 4 dengan kecerdasan di bawah rata-rata yang menguasai Marawis? Kalian kenal Abang Fadhil yang kalian usili? Dia tidak bisa apa-apa tetapi dia sangat sayang dengan teman-temannya. Jika ada teman yang dijahati, dia akan melindungi temannya. Sekarang, kalian yang normal, apa yang bisa kalian banggakan ke Ibu? Atau ke orang tua kalian? Jangan jahati orang yang tidak sama dengan kita. Karena  mereka bisa lebih hebat dari kalian. »

Mereka menunduk. Menyesal. Saya kembali tersenyum dan merekam kuat-kuat pelajaran apa yang saya dapat hari ini. Untuk kesekian kalinya. Saya sudah memiliki beberapa catatan pelajaran di sekolah unik ini.

***

Di suatu sore sepulang sekolah, siswa saya Iqbal kelas 5 SD. Usianya baru 10 tahun. Iya mengerang kesakitan di bawah tangga. « Kenapa Bang Iqbal? » Dia menatap saya dan merintih, « Sakit Bu Egha. Saya ditendang sama Babas, Burhan, dan Azzam. » Saya kemudian memanggil 3 siswa yang menjadi tersangka tersebut dan membawa mereka bersama Iqbal menemui Wali Kelas.

Saya kembali duduk di ujung kelas. Mengamati wali kelas yang sangat marah sampai memanggil orang tua mereka. Selepas itu, saya bertanya 4 mata pada Iqbal. « Kenapa abang diam saja di usili oleh adik-adik kelas? Di pukul dan diinjak kepalanya dengan sepatu itu kan sakit? » Kemudian bocah yang pintar berbahasa inggris itu menjawab. « Buat apa saya mengadu Bu? Buat apa saya lawan? Tidak ada gunanya. Mereka juga akan terus seperti itu karena mereka memang hobi mengusili orang lain. Biarkan saja. »

Saya terdiam. Menyungnggingkan senyum tanda terima kasih. Terima kasih Iqbal atas pelajaran sore ini.

***

Setelah setengah tahun lamanya, barulah diary ini saya buka. Diary yang saya rangkum dari hasil pembelajaran saya melalui social learning theory. Belajar yang membuat saya « belajar », bahwa belajar tidak hanya di ruang kelas dan melihat goresan spidol diatas white board. Belajar adalah sesuatu yang dapat memenuhi pikiran kita, membuka mata dan hati kita. Belajar adalah sesuatu yang selalu baru. Belajar bukanlah guru yang mengajar. Belajar bukanlah murid yang diajar. Belajar adalah « aku mendapati sesuatu dari mu ».

Melalui Abang Prabu saya bisa belajar. Bagaimana berbagi kebahagiaan dengan lingkungan, bagaimana kita bisa berbagi sesuatu hal yang kecil namun efeknya sangat besar bagi kepribadian.

Melalui Abang Fadhil dan murid-murid berkebutuhan khusus saya bisa belajar. Bagaimana mengasah kemampuan di balik ketidakmampuan yang kita miliki.

Melalui Abang Iqbal saya bisa belajar. Bagaimana saya bisa berjiwa besar menghadapi suatu tekanan. Bagaimana saya bisa bersabar dan memaklumi kekhilafan orang lain. Dan bagaimana cara berpikir positif dan menjadikan aksi pasif tidak selalu berdampak negatif.

Dan melalui semua siswa dan siswi saya, kelas 4a, 4b, 5a, 5b, 6malik, 6 syafi’i. Bersama kalian saya belajar. Bahwa kalian adalah murid sekaligus guru bagi saya. Tanpa kalian, saya tidak bisa memaknai kehidupan yang luas ini. Mungkin tanpa kalian, hari-hari saya akan hampa.

Terimakasih atas silaturrahim yang pernah terjalin selama setengah tahun ini. Semoga suatu hari kelak kalian menjadi generasi penerus yang mampu menaikkan martabat bangsa dan gigih berdakwah di jalan Alloh.

***

Semoga kisah ini menjadi motivator bagi para guru dan insan-insan dunia pendidikan dalam membenahi pendidikan di Indonesia. Satu hal yang saya pelajari bahwa seorang guru bukanlah diktator, seorang guru bukanlah yang paling benar. Seorang guru adalah role model bagi muridnya, dan muridnya bisa menjadi role model bagi gurunya. Pendidikan bukanlah matematika, bahasa, ipa, ips, dan sebagainya. Pendidikan adalah segala hal yang bisa kita lihat dan kita aplikasikan.

Pendidikan adalah semangat, kejujuran, kecerdasan emosional dan spiritual, amal perbuatan baik, dan sebagainya.

_Eghaliter The Musafir_

*Dunia pendidikan dalam persepsi saya*

3 réflexions sur “Guruku, Muridku

  1. Pingback: Tweets that mention Guruku, Muridku « Eghaliter The Musafir -- Topsy.com

  2. ahh aii.. kamu memang wanita yg tough dan tidak pantang menyerah. jadi inget kata2 ai ; klo sudah tercebur nyelem sekalian. padahal tdk prnah bersinggungan dgn dunia pendidikan formal walopun prnah ngajar TPA. inspirasi cerita ini adalah ada pelajaran penting dan indah d balik hal2 yg « abnormal » dan ai sukses menemukannya dengan menikmati pekerjaan ini.
    nancep bgt tulisannya, bikin mata berkaca2 ;’)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s