Mereka Juga Anak Ku (Kumpulan Kisah Pendek Antara Aku dan Murid-Murid Ku)

Aku dan Si Peci Lincah

 

“Bu, ini apa?” tiba-tiba Prabu mengambil beberapa carik kertas yang aku letakkan di atas meja ku.

“Itu data punya Bu Egha, Bang.”

“Kalau ini?”

“Ini punya Bu Ochi.”

“Aku lihat ya?” Ia pun membalik-balikkan kertas. Penasaran.

“Jangan ya Bang. Itu tugas Bu Egha sama Bu Ochi.”

“Ini pasti soal-soal worksheet Bahasa Inggris Bu Egha, kan Bu?”

“Hehe..iya. Tapi bukan buat kelas kita. Itu untuk kelas 5 dan kelas 6.”

“Yah Ibu!”

Kemudian, Prabu tetap penasaran dengan beberapa carik kertas milik ku. Ia sangat penasaran soal-soal worksheet apa yang akan ku berikan untuk kelas 5 dan kelas 6. Ia mulai membacanya dan sesekali menaikkan kacamatanya yang melorot. Saking seriusnya, terkadang ia tidak sadar bahwa pecinya sampai miring kekanan.

“Ini soal kelas 5 dan kelas 6, Bu?”

“Iya. Gak ngerti ya, Bang?”

“Ya ampun, gampil banget ini mah! Saya tahu jawabannya!”

Seketika itu juga aku menyeringai. Bahkan akhirnya tertawa geli juga melihat tingkah Prabu yang sangat aktif di kelas. Ia siswa cerdas yang lincah. Ia selalu cepat mengerjakan soal apapun, sehingga waktu luang yang masih panjang ia gunakan untuk bermain kertas lipat, atau memeriksa barang-barang ku satu per satu yang tergeletak di atas meja. Siswa unik ini mampu membuat ku kelabakan, terutama mengenai mata pelajaran Bahasa Inggris. Bagaimana tidak? Tak jarang soal-soal latihan yang ku berikan ia kerjakan dalam tempo kurang dari 5 menit. Atau ketika aku menugaskan latihan untuk di bawa pulang ke rumah, ia langsung mengerjakannya di kelas dan berseru “Bu, saya sudah selesai. Tidak ada PR untuk saya ya!” sambil menyeringai memamerkan gigi depan bolongnya yang berwarna hitam.

Atau, terkadang ia sengaja mendekati ku ketika aku sedang mengetik di notebook.

“Ibu punya notebook?”

“Ya Bang.”

“Ini punya Ibu?”

“Iya”

“Kok Ibu bisa punya notebook?”

“Memangnya kenapa Bang?”

Nggak. Kok bisa ya Ibu punya notebook? Aku juga punya. Sama seperti punya Ibu merk nya! Apa Ibu punya koleksi game?”

“Abang, ibu gak suka game”

“Yah, Ibu payah!”

Atau dengan kondisi seperti ini :

Ketika kami sedang menunggu buka puasa di Bulan Ramadhan. Menunggu rombongan yang belum datang. Bang prabu membawa peralatan elektronik yang super lengkap. Notebook berisi games dan handphone berkamera.

“Abang punya handphone?” Tanya ku.

“Punya dong Bu! Masa gak punya? Ibu punya juga kan?”

“Iya kalau Ibu punya. Mau lihat dong handphone Bang Prabu. Boleh?”

“Ya sudah lihat saja. Aku mau main game terbaru di notebook ku.” Katanya antusias.

“Wah ada banyak foto. Ini foto di kamar abang sama adik-adik?”

“Iya”

“Ada tivi ya dikamarnya?”

“Ya ada lah Bu! Masa dikamar gak ada tivinya? Emangnya Ibu hidup di zaman kapan? Ibu di kamar tidak punya tivi ya?”

Dan saat itu aku hanya nyengir dan menggeleng-gelengkan kepala.. bingung!

Mungil, lincah, cerdas, kompetitif, berkacamata, dan satu-satunya siswa kelas atas yang hobi memakai peci (dan siswa kelas bawah yang memakai peci adalah adiknya Bima yang duduk di kelas 1). Hari-hari ku selalu disibukkan oleh keaktifan Bang Prabu yang selalu mengajak ku ngobrol di meja ku. Terkadang ia melihat ada makanan jatah sarapan ku di atas meja, lalu ia bertanya, “Bu, kuenya boleh gak buat saya?” Dan saat itu aku selalu mengalah dan berkata “Ya, ambil saja.”

Ia kemudian berjingkrak-jingkrak kegirangan seperti mendapatkan sepuluh buah balon lucu warna-warni.

Wajah cerianya terkadang bisa muram durja manakala Bu Ochi, wali kelasnya, memulai pelajaran yang paling ia benci : MATEMATIKA. Ia bisa mati kutu dan menggoyang-goyangkan kakinya, Kemudian ia berbisik ke arah ku dari jauh. “Bu, kapan Bahasa Inggris? Pelajaran Bu Egha aja deh! Aku gak mau matematika, Bu”

Wajah memelasnya membuat ku tertawa ringan. “Nanti setelah ini, pelajaran Bu Egha kok.”

“Yah, masih lama Bu. Sekarang aja!”

“Matematika dulu ya, Bang”

Ia hanya menunduk lesu. Berharap pelajaran Bahasa Inggris dipercepat agar pelajaran Matematika selesai. Padahal, pelajaran itu baru saja akan mulai.

Bukan hanya Prabu, beberapa siswa lain seperti Laras dan Deynira juga terkadang berteriak “Yah, Matematika! Bu Egha aja deh ya!”

Tetapi, protes mereka langsung hening ketika Bu Ochi masuk kelas dan membawa busur besar. Mereka seperti tersihir oleh mantra Bu Ochi untuk segera diam dan tidak bersuara, bahkan tidak bergerak. Saat itu mereka belajar sudut. Aku hanya bisa terpingkal-pingkal melihat wajah muram mereka bersama matematika Bu Ochi.

Aku dan “En-Jen”

Siang itu pelajaran Bahasa Arab. Aku duduk di mejaku untuk mengerjakan tugas sambil mengamati siswa-siswi agar tenang sebelum guru mereka datang. Sudah 30 menit mereka belajar dan tiba-tiba persis di arah jam12 ku, beberapa gumpalan kertas terbang berserakan. Beberapa lembaran kertas kecil-kecil bertebaran di sekitar meja dan kolong meja berwarna biru milik Bang Zein.

Aku memanggil dari mejaku. “Abang En-Jen, kenapa?”

Mata merahnya menatapku tajam. Aku termenung melihatnya. Sesekali dia meniup ingusnya, kemudian menunduk dan kembali merobek-robek buku paket IPSnya. Padahal saat itu pelajaran Bahasa Arab. Saat itu aku tidak tahu bahwa Zein belum menyelesaikan latihan IPSnya, sehingga ia tidak bisa mengikuti pelajaran selanjutnya, yaitu Bahasa Arab.

Aku menghampirinya. “Abang En-Jen kenapa? Mau duduk di meja Bu Egha?”

Ia menggeleng-geleng cepat dan meniup ingusnya sambil menunduk.

“Tidak usah Bu! Dia sudah biasa seperti itu!” kata guru Bahasa Arab.

Aku yang saat itu baru setengah bulan mengenal Zein merasa bingung. Ada apa dengannya?

Ternyata simpel. Sepanjang pelajaran IPS ia sibuk mengobrol dengan sekawanannya : Burhan dan Babas. Sehingga ia tidak bisa mengejar waktu latihan yang singkat.

***

Siang ini pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 4 Mina B. Aku ingin “mind-refreshing” dengan games agar siswa-siswi terhibur. Zein saat itu sangat aktif. Ia melompat-lompat dari meja satu ke meja lain, kemudian terjun ke lantai. Memanjat papan belakang whiteboard dan memukul-mukul layaknya gendang.

“Abang En-Jen, silent please. Coba duduk sama teman-teman yang lain!” perintah ku.

“Sebentar, Bu!” celotehnya girang. Dan ia terus berjingkrak-jingkrak kesana-kemari sampai teman-temannya merasa terganggu dengan kebisingannya.

“Zein! Berisik! Ibu Zein berisik Ibuuu!” teriak Laras.

Aku mulai memutar otak, barangkali ada ide-ide cemerlang yang melintas di kepala ku?

Dan ternyata ada!

“Bang En-Jen. Mau tolong Bu Egha?”

“Apa Bu?” sambil Zein berhenti dari aksi memanjat whiteboard.

“Abang, kelas kita kan ribut sekali ya. Sementara Bu Egha mau mengajar ya? Nah, abang mau tolong Bu Egha? Jadi asisten Ibu?”

“Gimana?” Tanya Zein bingung.

“Ibu minta tolong abang mencatat setiap teman-teman yang ribut. Nanti catatannya berikan kepada Ibu. Bagaimana?”

“Oke bu! Siap!” Zein langsung bergegas merobek secarik kertas dari buku latihannya dan konsentrasi mencatat setiap anak yang ribut. Alhamdulillah, dia tenang dengan sebuah amanah yang aku berikan kepadanya : MENCATAT DAFTAR RIBUT.

  

Aku dan Miss Ring-Ring

“Hallo Assalaamu’alaykum. Bisa bicara dengan Bu Egha?” suara dari sebrang telepon menanyakan nama ku.

“Ya ini dengan siapa?”

“Ini aku Annisa Kelas 4 Mina A Bu. aku lagi jalan-jalan ke rumah nenek di Tasik. Save nomer aku ya!”

“Ooooh kak Nisa? Ok! Wah enak ya jalan-jalan?” saut ku yang saat itu sedang tergesa-gesa keluar dari masjid menuju food court sebuah mall untuk makan malam bersama keluarga.

“Ibu lagi apa?”

zzz.. tiba-tiba teleponnya mati.

*** keesokan harinya

“Bu Egha! Kemarin yang telepon aku loh!” kata Annisa saat aku melangkah menuju kelas 4 Mina A.

“Iya kak Nisa. Kemarin teleponnya putus ya?”

“Iya sinyal nya jelek Bu.”

“Jangan lupa save nomor aku ya! Kita sms-an nanti”

“Oke deh!” kata ku bingung.

*** beberapa hari kemudian

“Hi, good morning. Pagi ini cerah sekali bukan?”

aku membuka message dari handphone ku dan ku lihat dari nomor tak dikenal.

“Ini siapa?”

“Ini Nisa Mina A Ibu. Lagi apa?”

“Oh Ibu lagi mengerjakan sesuatu. Lagi apa kak?”

“Aku lagi main. Ibu kalau merasa kesepian, sms aku aja yah! Insya alloh aku punya pulsa.”

“hehehe” jawab ku speechless.

 

 

 

 

Aku dan Pentas Daises Mina B

“Daises! Come here! Okay, Let’s begin. One, two three!”

Kemudian suara merdu khas siswi-siswi cantik seperti Aufi, Shirly, Laras, Deynira, Ernita, Annisa, Putri, Iput, Firyal melantunkan folklore (lagu tradisional) khas Irlandia, “When Daises Pied”. Mereka begitu antusias menyambut pentas drama musikal yang akan mereka tampilkan beberapa hari setelah UAS semester ganjil berakhir. Tepatnya pada saat pembagian rapor. Mereka seolah-olah tidak memikirkan bagaimana hasil rapotnya. Mereka sibuk mempersiapkan pentas, bernyanyi, dan menari, dan mempersiapkan berbagai aksesoris. Di sudut sana, terlihat Rozan, Zein, dan Prabu dengan pipi gembung mereka. Mereka sibuk melihat not dan memencet pianika untuk menggiring para Daises bernyanyi.

Anak-anak itu lincah sekali. Mereka tidak peduli dengan teks Bahasa Inggris yang belum mereka hapal. Atau pronunciation yang belum lancar. Yang terpenting adalah gerakan menari yang mereka hapalkan.

“Bu Egha, teksnya entar aja! Nari-nya dulu!” seru Laras.

“Tau nih Bu Egha, liriknya belakangan aja! Nari dulu ibuuu biar seru!” celoteh Deynira.

“Jadi bagaimana Daises? Mau hapalkan teks Bahasa Inggris dulu atau menari?” Tanya ku.

“Nariiiiii!” jawab mereka kompak.

Aku rasa saat itu hanya Rabb ku yang tahu bahwa aku sama sekali belum mempunyai gambaran apapun terhadap gerakan tari alias koreografi mereka. Saat itu yang ku konsentrasikan adalah teks Bahasa Inggris yang harus mereka hapal. Ingin rasanya aku menjerit “Somebody help me right now!”

Aku terdiam beberapa menit. Menerawang dari jendela satu ke jendela lainnya. Gigi ku hanya bisa menggigit ujung-ujung bibir. Sementara para siswi mulai menggerutu.

“Bu Egha! Lama banget sih! Ayo mulai dong narinya!” seru Laras dan Deynira.

Mereka spontan menjadi sangat galak dan mulai memarahi ku.

“Hehe. Iya sabar. Okay kita pikirkan dulu formasinya ya.” Kata ku sambil keringat dingin. Bagaimana ini jadinya? Pikir ku dalam hati.

Tiba-tiba ide ku muncul. Aku rasa ini pertolongan pertama dari Rabb ku agar siswi-siswi ku tidak mengamuk untuk yang kedua kalinya.

“Siapa yang mau jadi Daises atau nona-nona pembeli bunga?”

mereka berebut untuk menunjuk jari.

“Okay, there are three groups. Kelompok Daises, kelompok penjual bunga, dan kelompok burung. Silahkan berpencar.”

Tanpa aba-aba, mereka langsung otomatis membentuk tiga kelompok. Ada kelompok Daises, si nona-nona centil pembeli bunga : Firyal, Aufi, Laras, Deynira, dan Annisa. Ada kelompok si penjual bunga : Shirly dan Putri. Kemudian ada kelompok si burung : Ernita dan Iput.

Setelah kelompok terbentuk, akhirnya aku menemukan ide koreografi mereka. Aku mulai menari-nari bersama mereka di kelas 4 Mina B yang sudah kosong melompong dengan AC yang tidak terlalu dingin. Setelah semuanya lelah bergerak, kami berkumpul membentuk sebuah lingkaran besar dan mulai menentukan properties apa yang harus kami persiapkan untuk di pentas. Satu per satu siswi mulai mencatat bagian-bagian mereka. Ada yang membawa peniti, ada yang membawa Koran, tali raffia, selendang biru dan putih, serta baju gamis dan jilbab berwarna putih.

Setelah latihan usai, keesokan harinya para siswi sudah antusias berteriak ke meja ku. “Ibu, ayo kita latihan lagi! Kita uda bawa aksesorisnya!” aku hanya bisa menjawab, “Sabar, nanti setelah bel pulang kita latihan ya.”

Di sisi lain, aku sibuk mencari not yang pas untuk pianika Bang Roza, Zein, dan Prabu. Bang Zein sempat pesimis terhadap kemampuannya dan berlari ke luar kelas “Aku gak bisa, Bu!” Lalu ia kembali ke dalam kelas. “Abang kenapa bilang gak bisa? Kan belum di coba?”

“Aku gak punya pianika dirumah. Bagaimana mau latihan? Kalau punya pianika pasti aku bisa!”

“Kan Abang pinjam pianika Kak Laras?”

Gak mau! Tiupan pianikanya bekas mulut Laras!”

“Ya sudah kalau abang tidak mau. Biar Bang Rozan dan Prabu saja yang main pianika di pentas.”

Keesokan harinya? Dengan ceria Bang Zein datang ke sekolah dengan menjinjing pianika baru.

“Bu, aku udah beli pianika di beliin sama Abi kemarin sore pas pulang sekolah!” sambil tersenyum girang dan memencet-mencet pianika barunya.

“Wah, akhirnya beli juga. Tapi jangan dipakai sekali aja ya. Kasihan nanti Abi sudah belikan Abang pianika tapi cuma dipakai satu kali.”

“Oke, Bu!”

Latihan pianika pun berjalan lancar, meskipun Bang Rozan dan Prabu terganggu dengan suara bising fals pianika dari Bang Zein. Bahkan terkadang mereka berdua marah dengan Zein. “Ibu! Zein tuh Bu belum bisa! Tuh kan!”

Aku hanya bisa menatap Zein. “Abang suara pianikanya jangan terlalu keras, nanti konsentrasi Bang Rozan dan Prabu terpecah. Oke?”

“Oke, Bu! Habisnya susah!”

lalu, aku kembali ke perkumpulan Daises. Kami mulai bahu membahu merobek-robek Koran dan memilinnya menjadi pintalan-pintalan panjang. Lalu menganyam koran-koran itu hingga menjadi sebuah sarang burung yang besar. Di situ, kecerdasan para siswi di uji. Siapa yang mampu memilin dan merangkai kertas menjadi sebuah sarang burung, kemudian mengerjakannya dengan cepat, teliti, dan rapi. Ternyata siswi-siswi yang kompak saja yang mampu menyelesaikannya. Siswi pendiam yang hanya mengandalkan kemampuan diri, rata-rata menyelesaikannya dengan hasil yang kurang optimal. Bahkan teman-temannya menjudge dengan kata “Salah Pola”.

Hari demi hari kami berlatih dan mempersiapkan propertis. Hari H pun tiba. Kami sepakat latihan pukul 6 pagi di kelas sebelum pentas di mulai pukul 8 pagi. Aku sibuk mendandani para Daises dan menyemangati para pianis agar tidak salah memencet not. Para Daises tidak peduli pada kata “nervous”. Yang mereka pentingkan saat itu adalah make up mereka bagus, mereka terlihat cantik dengan gamis berbalut selendang mekar seperti nona-nona Irlandia. Satu demi satu memuji hasil make up. Ketika mereka percaya diri dengan penampilan mereka, maka segala kegugupan mereka hilang seketika. Meskipun pada akhirnya, mereka hampir lupa formasi koreografi ketika benar-benar berada di atas panggung. Aku tahu mereka kurang puas. Tetapi tetap ku katakan di belakang panggung bahwa mereka hebat. “Daises, kalian semua hebat! Ini hasil kerja keras kalian selama ini, dan inilah hasilnya. Bunga yang ada ditangan kalian jangan di buang. Berikan kepada ummi kalian. Okay?”

Dan mereka pun langsung berlari dari belakang panggung menuju ummi mereka yang berada di kursi penonton atau di stand makanan.

 

 

 

 

Aku dan Kerudung “Pencong”

Tiba sudah ajaran semester genap. Aku sadar usia ku mengajar sudah diambang senja. Sebentar lagi aku akan menikah dan rasanya hati ini berat untuk berkata “Selamat tinggal, ibu tidak akan mengajar kalian lagi karena harus mengikuti suami.”

Namun rasanya lidah masih kelu untuk berkata jujur kepada anak-anak yang masih polos bahwa aku akan segera meninggalkan mereka.

Di suatu pagi yang tenang. Aku mengumpulkan para siswa-siswi.

“Abang dan Kakak semua. Bu Egha punya kabar berita nih.”

“Apa Bu? Cerita dong!” seru beberapa siswi yang saat itu membuat sebuah lingkaran untuk mendengar cerita ku.

“Ibu mau menikah! Hehehe.”

“Samaaa siapa buuu???”

“Sama pangeran! Hehehehe.”

Tetapi reaksi yang tak disangka-sangka mencuat.

“Ibu kenapa harus nikah sih!! Ibu gak usah nikah! Dan gak boleh nikah!!” jerit Deynira marah.

“Tapi ibu harus menikah sayang.”

“Gak boleh! Ibu pokoknya gak boleh nikah titik!” jerit Deynira dengan wajahnya yang memerah.

“Ibu ngapain sih nikah? Udah di sini aja sama kita-kita!” seru Laras.

“Tapi ibu sudah mau menikah. Hehe”

“Pokoknya Ibu gak boleh menikah!!” jerit beberapa siswi.

Kemudian Deynira, Laras, Aufi, diikuti dengan beberapa siswi lainnya mulai menarik-narik kerudungku. Menarik lengan ku sampai aku hampir terjatuh, dan menyeret ku keluar kelas. Lalu apa yang terjadi?

Mereka mengunci ku di luar sehingga aku tidak bisa masuk kelas. Dari dalam mereka teriak “Ibu pokoknya gak boleh lagi masuk kelas ini!”

Rasanya hati ku renyuh dan air mata ku hampir saja jatuh. Saat itu ku pandangi diri ku berantakan. Bross jilbab ku lepas. Kerudungku miring tak berbentuk, kusut. Wajah ku berkeringat, dan napas ku terengah-engah karena mereka menarikku sangat keras dan menggelitikiku hingga aku kegelian dan tak bisa bernapas. Kemudian mereka menarik ku keluar kelas dan melarangku masuk.

Di saat itu aku merenung. Sebelum mereka menerima rapot. Aku meminta kak Laras menghias beberapa pembatas buku yang ku tugaskan untuk kelas Mina B. pembatas buku itu dihias dengan kata-kata “dari laras untuk bu Egha”. Saat itu ia bingung. “kenapa sih Ibu selalu mau tulisan dari Laras untuk Bu Egha?”

Aku hanya menjawab, “Biar Bu Egha selalu ingat sama kamu sayang.”

Anak yang sangat aktif dan lincah, galak dan bertubuh gembur. Ia senang sekali menggigit kuku jarinya hingga habis. Ia punya “bala tentara”. Bala tentara nya tentu saja anak-anak Daises yang menyeret ku keluar kelas agar tidak bisa masuk kelas karena mereka marah aku akan menikah. Bala tentara Laras “Daises” yang mengejar-ngejar ku hingga kerudungku compang-camping, mengelitiki ku, dan meledekku dengan kata : FIRMAN UTINA! Hahaha..melucukan.

Di sudut pintu aku ingin sekali menangis. Tetapi ku tahan. Akhirnya mereka mengijinkan ku masuk. Dan di hari terakhir aku mengajar, aku berpesan : “Hadir di nikahan Bu Egha ya! Semua harus lengkap!” dan mereka membalas dengan “Kalau ada Zupa Soup ya Bu!” dan aku hanya menyeringai.

Aku dan Para ABG

“Abang dan kakak, prakarya Bahasa Inggris kita membuat note ya dengan hiasan!” seru ku di kelas 6.

“Contohnya Bu?” kata Andita.

“Oke lihat contohnya di papan tulis.”

Aku mulai menulis contoh tugas prakarya untuk mereka, sementara itu, para siswa sibuk bercanda dan tertawa sesuka hati mereka.

 

Contoh note dari Bu Egha :

Dear my students.

Actually, I want to say to you all that I will get married soon. May be I can’t be here to teach you anymore. I will have my own new life and new house in other province. Don’t forget to pray (shalat) and be the success students.

Your Teacher,                 

Miss Egha

Dan sontak mereka, para siswi ABG-ku berteriak-teriak.

“Ibu nggak boleh nikah! Aku nggak mau diajarin sama guru lain!” kata Andira penuh marah.

“Ibu nggak asik! Kenapa sih harus nikah dan pindah rumah?” saut Andita.

“Ibu nggak usah pindah! Kalau Ibu pindah kita nggak mau sekolah!” sambung Andira.

“Kakak-kakak yang cantik, Ibu kan memang harus menikah. Hehe. Insya alloh guru yang baru lebih enak lagi yah.” Bujuk ku.

“Nggak mau!” protes para siswi.

Beberapa hari kemudian …

“Bu Egha kapan mau ngajar lagi? Kok liburan nikahnya lama banget?” saut Fathiyah melalui FB.

“Cantik, Ibu sudah pindah rumah. Jadi nggak mungkin mengajar lagi di sana. Ibu sudah tidak tinggal di Jakarta tetapi di Tangerang.” Kata ku.

“Ibu apa kabar? Kok liburnya lama banget?” protes Dinda melalui FB.

“Alhamdulillah baik. Apa kabar kak Dinda?” Tanya ku.

“Alhamdulillah baik Bu. Kita mau wisuda kelulusan. Ibu datang kan?”

“Maaf Ibu nggak bisa datang. Jauh cantik. Maaf ya.” Jawab ku.

“Ibu, kita mau wisuda! Ibu pokoknya harus datang nggak mau tahu!” seru Andita melalui FB.

“Maaf cantik, ibu sepertinya nggak bisa.” Jawab ku.

“Rumahnya dipindahin aja ke sekolah!” seru Andita.

“Hehehe.” Jawab ku lemas.

Sementara itu, para siswa kelas 6 sangat menyambut hangat kepergian ku. Maklum, mereka selalu ku beri hukuman karena selalu lupa membawa buku Bahasa Inggris dan merasa bahwa pelajaran ini sangat menyebalkan seperti matematika. Dan pada saat detik-detik hari terakhir itu, Ochan, salah satu siswa cerdas pembenci Bahasa Inggris berkata, “Dagh miss Egha. Selamat tinggal!” katanya sambil tersenyum girang.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s