Pagar Hati dan Pamali

“Kalau lagi hamil, kamu jangan pernah bunuh binatang ya! Nanti kaya orang di belakang sana. Lagi hamil bunuh ular. Jadi pas lahir, anaknya nggak punya tangan sebelah! Hati-hati!” celetuk tetangga di siang bolong saat kami duduk-duduk di gazebo reot miliknya.

Aku diam beberapa saat dan berusaha untuk menyambungkan antara logika dan cerita mistis. Memang sulit disambungkan karena memang tidak akan pernah nyambung. Aku tersenyum simpul.

“Memang kalau bunuh binatang tidak boleh, mau lagi hamil atau tidak.” Kata ku.

“Tapi kalau kata orang dulu begitu! Jadi kamu kalau di rumah jangan sendirian!”

“Kenapa?”

“Biar ada temennya kalau ada binatang masuk rumah, temen yang bunuh bukan kamu!”

Jidat ku mulai berkerut sambil menahan panas matahari yang hampir membakar kepala ku. Gazebo reot ini tidak cukup pandai menangkal cahaya menyengat matahari. Kelambu pink pucat di atas nya hanya mampu menjadi istana laba-laba dan tempat peristirahatan nyamuk-nyamuk lapar. Aku kembali menghela napas. Melihat suami dan mertuaku memaku beberapa bambu untuk dijadikan pagar sementara kami. Kebun tetangga inilah yang kami jadikan tempat beraktivitas “sementara” untuk menyulap bambu setengah lapuk menjadi sebuah pagar cantik persis seperti pagar kandang kambing yang super mewah.

“Nanti kamu kalau habis makan, piringnya dicuci. Jangan ditumpuk-tumpuk! Kalau bersihin ikan, ingat itu ikan! Jangan kepikiran yang lain. Dan jangan pernah kaget ya! Nanti kalau kaget jangan asal ucap!” Ujar si tetangga dengan semangat, sampai bibirnya maju dan tangannya diayun seperti orang sedang menari-nari.

Aku kembali menghela napas. Mencoba untuk tidak melemparkan senyum kecut sekecut rasa cuka dapur. Atau mencoba untuk tidak memasang wajah asam se-asam cuka apel. Aku hanya tersenyum. Datar.

“Lucu ya. Masyarakat di sini banyak pantangannya. Seperti pamali seorang gadis duduk di depan pintu. Padahal logikanya, duduk di depan pintu itu mengganggu mobilitas orang. Tapi orang-orang di sini menyebutnya pamali. Terlalu banyak pamali, tapi Insya Alloh saya hanya berserah diri kepada Alloh. Lagi pula keluarga saya tidak mengenal pamali. Murni berserah diri kepada Alloh, Bu.” Kata ku berusaha tenang.

“Tapi memang perkataan orang tua zaman dulu itu bener lho! Saya nurut, alhamdulillah nggak kenapa-kenapa! Oh ya, jangan mandi sore-sore yah kalau lagi hamil” Sanggahnya.

Saat itu saya hanya tersenyum dan menjelaskan padanya bahwa kalau tidak mandi badan akan menjadi kotor dan bau. Logis kah? 

“Kamu suka nonton film kartun kan? Jangan ya! Nanti kamu ketawa-ketawa meledek si kartun itu bodoh, bahaya! Ingat kamu lagi hamil!” Timpal seorang ibu lain yang tak kalah semangatnya untuk mengajari ku aturan-aturan Pamali. Dia pun menyuruh si tetangga agar mengajari ku lebih detail mengenai aturan-aturan pamali. Sungguh luar biasa aksi para ibu-ibu pencinta pamali ini! Akan kah “pertarungan” ini terus berlanjut dan aku sebagai objek sasaran empuk mereka?

Rupanya fenomena ini cukup sampai di sini. Suami ku sadar akan obrolan kurang penting si tetangga dan si ibu lain yang menyergap ku bertubi-tubi. Suami ku menghampiri ku kemudian tersenyum. “Kamu belum shalat dhuha, ayo ke rumah dulu shalat dhuha.”

Saat itu aku merasa bersyukur suami ku menghindari ku dari perdebatan panjang dengan kaum ibu penganut pamali. Aku melangkah menjauhi gazebo reot dan masuk ke dalam rumah ku yang belum berpagar. Ketika mengambil air wudhu, seketika terik matahari yang sedari tadi membakar kepala ku mendadak hilang.

Di dalam kamar mandi yang tenang, aku berpikir, bersama air yang mengucur ke bawah membasahi organ-organ tubuhku. Siapakah mereka itu? Orang-orang animisme kah? Atau penganut setia agama Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya di masa pra-kemerdekaan kah? Atau, islam seperti yang tertera di KTP mereka? Kenapa mereka lebih takut dengan takhayul dari pada azab Sang Khalik? Berapa pantangan yang rela mereka jalankan demi sebuah kata bernama PAMALI ? Namun, seberapa jarangnya kah mereka mematuhi larangan-larangan dalam Islam? Begitu banyak dari mereka yang rela tidak mandi sore ketika mereka hamil, namun begitu sedikit dari mereka yang menutup aurat ketika berada di luar rumah.

Siang hari pun berlalu. Suami dan mertua ku telah berhasil menyulap bambu setengah lapuk menjadi sebuah pagar super mewah bak kandang kambing yang menawan. Rumah ku kini telah berpagar, Alhamudulillah. Dan semoga, hati ku pun juga berpagar dengan Tauhid, agar mampu melindungi hati, dari serangan tentara iblis yang mengiming-imingi pamali ketelinga kaum ibu. Sepertinya, pagar hati mereka sudah tertelan bulat-bulat oleh virus pamali ciptaan para sesepuh. Ironis.

Jika aku bisa melihatnya, mungkin, saat ini, iblis sedang tertawa puas melihat dagelan pamali yang dibuat nya melalui para sesepuh kaum ibu. Tapi, aku akan segera menghentikan tawa si iblis yang menggelegar! Mungkin dengan isolasi atau lakban??

-sekian-  DIKUTIP DARI BLOG SAYA DI : http//megasarizki.tumblr.com/

 

 

 

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s