Khawatir Kepada Anak, Wajar kah?

« Khawatir kepada anak, wajar kah? »
Pertanyaan ini tentu akan menelurkan sebuah pertanyaan baru, « Khawatir yang seperti apa? »

Kekhawatiran orang tua terhadap anak-anak mereka acap kali dijadikan sebagai pondasi dasar sikap orang tua terhadap anak-anak mereka dengan dalih, « Orang tua mana yang tidak khawatir kepada anaknya? »

Memang benar, mayoritas orang tua pasti khawatir kepada anak-anak mereka. Khawatir anak kelaparan. Khawatir anak kesakitan. Khawatir anak tidak mendapatkan pendidikan yang mumpuni. Khawatir anak tidak mengenal Rabbnya. Khawatir anak tidak sukses. Bahkan, seekor rusa betinapun khawatir anaknya dimakan harimau ketika ia lengah.

Hal ini terwujud berdasarkan naluri dan fitrah dari cinta orang tua kepada anak-anak mereka. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk membuat anak-anak mereka merasakan dan menyadari, bahwa orang tua mereka mencintai mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosululloh dalam shahih Bukhori, dikutip dari kitab Pedoman Pendidikan Anak Menurut Al-Qur’an dan Sunnah karangan Syaikh Khalid Abdurrahman Al-Ikk, bahwa Abu Qotadah melihat Rosululloh shalallohu ‘alaihi wasallam pernah keluar menemui mereka sambil menggendong Umamah binti Abul Ash dipundaknya. Lalu beliau melaksanakan shalat. Apabila ruku’, beliau meletakkannya dan apabila berdiri beliau mengangkatnya.

Dalam syarah hadits ini, diantara bentuk kasih sayang Rosululloh kepada Umamah adalah kekhawatiran Umamah akan terjatuh ketika Rosululloh sedang shalat. Sehingga beliau menggendongnya ketika sedang berdiri dan meletakkannya di atas tanah ketika sedang ruku’, namun tidak berlama-lama.

Khawatir, bisa menjadi salah satu bentuk kasih sayang orang tua kepada anak-anak mereka. Karena ini merupakan sebuah pemakluman dalam menyikapi anak kecil dan memerlakukan mereka dengan kasih sayang.

Namun perlu dicamkan, bahwa sebagai orang tua yang baik, hendaknya mereka mampu menyikapi anak-anak mereka sesuai dengan masanya. Misalnya, menyikapi anak berusia 5 tahun dan 17 tahun tentu memiliki tata cara tersendiri.

Berdasarkan pengalaman mendidik siswa-siswi di Sekolah Dasar dahulupun, saya belajar membedakan sikap dan kebijakan ketika menghadapi siswa « tanggung » berusia 10 tahun dan siswa puber berusia 12 tahun atau ketika menghadapi siswa berusia 7 tahun dan siswa puber berusia 12 tahun.

Bagi siswa kelas 1 berusia 7 tahun, perlu pembatasan yang jelas antara benar dan salah serta baik dan buruk agar mereka mampu membentuk kepribadian mereka secara utuh dan baik. Usia anak-anak ini sangat mudah diatur. Seolah-olah mereka ketergantungan terhadap komando orang tua.

Sedangkan ketika menghadapi siswa « tanggung » berusia 10 tahun yang telah sedikit banyak mengenal hal, tentunya mereka mulai kritis terhadap komando bahkan kekhawatiran orang tua. Acap kali mereka berujar, « Kenapa harus A dan bukan B? » atau « Tenang saja, aku akan melakukannya » Dan bagi saya, fenomena seperti ini harus dihargai, bahwa anak mulai bertumbuh.

Bahkan ketika menghadapi siswa puber berusia 12 tahun, kekhawatiran yang berkecamuk di dalam diri orang tua terkadang membuat mereka tertekan. Bahkan, mereka lebih memilih untuk menerima nasehat yang nyaman didengar telinga dari guru mereka daripada rentetan celotehan yang keluar dari bibir orang tua. Pada masa-masa ini, mereka lebih menginginkan untuk dihargai sebagai anak remaja, bukan sebagai bocah kecil lagi.

Lantas, bagaimana dengan kekhawatiran orang tua? Wajarkah bila orang tua selalu khawatir dengan anak-anak mereka lantaran orang tua bertanggung jawab penuh terhadap anak-anak mereka?

Setelah menelaah kitab Pedoman Pendidikan Anak dan bercermin dengan pengalaman saya sebagai seorang anak, kekhawatiran orang tua akan menjadi wajar apabila tidak berlebihan. Mengapa? Bukankah Alloh dan RosulNya tidak menyukai perihal yang berlebihan, bahkan dalam urusan agama sekalipun (ghuluw)? Sebab menaruh kekhawatiran berlebihan kepada anak, bagi saya akan berdampak buruk. Misalnya, meskipun anak sudah dewasa dan berumah tangga, orang tua yang khawatir berlebihan akan menangis dan membawakan serantang makanan apabila mendengar anaknya masuk angin. Tidak peduli sedewasa apapun anaknya. Tentu hal ini akan berdampak buruk seperti, anak akan merasa tidak dipercaya, merasa masih kecil dan tidak pernah dewasa, takut melakukan banyak hal dan menganggap semua hal beresiko tinggi, bahkan tertutup kepada orang tua karena tak mau melihat orang tua khawatir mengetahui problematika yang dihadapi anaknya.

Lagi-lagi saya belajar dari pengalaman orang tua saya. Mereka rupanya menanggulangi rasa khawatir mereka dengan memberikan tanggung jawab kepada anak. Tanggung jawab untuk belajar sendiri. Tanggung jawab untuk shalat tanpa diperingati. Tanggung jawab untuk istirahat ketika lelah. Tanggung jawab mengambil makanan sendiri ketika lapar. Dan sebagainya.

Sehingga, bentuk kekhawatiran orang tua terasa menjadi sesuatu yang indah, menenangkan mental anak, dan bermakna. Itulah bentuk kekhawatiran yang wajar, bukan was-was. Karena was-was datangnya dari syaithon (QS. An-Naas:1-4).

Rizki Megasari
Alumni Jurnalistik Universitas Padjadjaran angkatan 2005 (mantan wartawan kontributor dan mantan guru Bahasa Inggris tingkat SDIT)

20120309-104835.jpg

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s