Catatan Perjalanan Seorang Ibu Muda

Juli 2011

Saya divonis positif hamil oleh dokter setelah menyerahkan hasil testpack bergaris dua merah samar dan terdeteksi ada setitik janin di layar USG. Saat itu, yang saya lihat adalah di rahim saya ada secuil titik yang melekat dan berdenyut-denyut.

« Ini jantungnya Pak yang bergerak, » kata Dr. Yanti menunjuk layar USG kepada suami saya.

Suami saya hanya terbujur kaku melihat keajaiban yang terjadi. Setelah enam bulan usia pernikahan kami lalui hanya berdua, kini kami harus memulai babak baru. Babak yang mengantarkan kami untuk sesuatu yang spektakuler.

« Selamat ya Bu, Pak, » ucap Dr.Yanti sambil menyunggingkan senyum tulusnya. Kami pun bergegas pulang sambil menghela napas. Saya hanya bisa menatap suami saya sambil meyakinkan diri bahwa saya sudah hamil dan ada calon bayi di perut ini.

« Banyak-banyaklah kamu bersyukur karena Alloh telah mengamanahkan mu seorang anak, » ujar suami saya. Saya hanya mengangguk dan masih merasa saya bermimpi di tengah hiruk pikuk rumah sakit.


Agustus 2011

Kegembiraan saya memuncak tajam ketika saya berhasil melewati Ramadhan tanpa sedikitpun batal berpuasa. Ya, bertahun-tahun lamanya saya ingin berpuasa penuh. Dan Alloh memberikan saya kesempatan emas untuk « kuat » berpuasa penuh. Alhamdulillah kondisi mual, pusing, dan lemas ini tidak begitu mengganggu.


September-November 2011

Mual semakin menjadi hingga saya terbujur kaku di atas perbaringan persis seperti orang sakit. Kesedihan pertama saya muncul ketika menyadari bahwa saya tidak kuat untuk bangun setelah tidur. Begitu lemah hingga suami saya selalu mengurusi saya. Ketika subuh tiba, ia rela berletih-letih mengambil air minum, menyendoki sari kurma dan madu, memijat, dan menuntun saya untuk pergi berwudhu. Itulah rutinitas setiap subuh. Benar-benar lemah serupa pasien rumah sakit.

Kesedihan kedua muncul ketika mendapati diri saya tidak mampu untuk masak di dapur. Mencium aroma wastafel dapur, aroma beras merah di dalam rice cooker, bahkan melihat dapur, rasanya ingin muntah. Sempat mencoba menggunakan masker, namun kepala berdenyut-denyut jika terlalu lama berdiri di dapur. Sungguh, kami jarang makan masakan saya dan suami selalu membawa makanan jadi selepas pulang mencari nafkah.


Desember 2011

Ini kali pertama saya berkaca dan melihat perut yang membusung ke depan. Ya Alloh saya semakin gemuk! Hampir semua para ibu dan nenek di Masjid yang melihat saya baru percaya bahwa saya hamil. Sikap berlebihan pun kerap saya alami, misal beberapa sesepuh yang menyuruh saya makan banyak dan makan apa saja agar bayi di perut tumbuh subur, pamali ini itu yang sangat tidak masuk akal, membelalak ketika saya naik angkot, dan lain-lain.

Sungguh, kondisi ini sempat membuat saya sedikit stres dan tertekan. Semua masukan yang di luar akal sehat dan bertubi-tubi « menyerang » hanya membuat saya semakin pusing dan ingin menutup telinga dari hingar bingar bibir mereka.


Januari-Februari 2012

Perut semakin besar dan kami mulai berbelanja kebutuhan bayi. Sangat lama saya menyiapkan daftar belanjaan. Beberapa kali kami menyicil barang-barang dan mericek barangkali ada yang belum terbeli. Ini sesuatu yang menyenangkan dan luar biasa untuk dilalui. Pengalaman pertama tentang kehamilan, membuat kenangan tersendiri bagi saya bahwa hamil memiliki beragam warna. Warna abu-abu ketika kondisi saya lemah dan muntah-muntah. Warna merah ketika saya tiba-tiba sensitif tingkat tinggi. Warna hijau ketika saya menjadi gembira tanpa sebab. Warna merah muda ketika saya begitu merindukan sosok bayi. Dan beragam warna lain yang menghiasi mood saya selama 39 minggu masa kehamilan.


Maret 2012

Dengan perut seperti semangka saya masih aktif mengikuti kelas dari satu masjid ke masjid lain. Membeli satu tandan pisang yang beratnya lumayan membuat jemari merah padam. Bolak-balik dengan angkot. Mengomentari para demonstran kenaikan harga BBM yang beritanya memenuhi timeline twitter. Dan menulis blog.

Saya semakin penasaran, apa jenis kelamin anak saya? Ketika kontrol ke Dr. Yanti, jenis kelamin masih tersembunyi di lipatan paha bayi dan ia mendapati cairan ketuban saya kurang banyak. Bayi saya juga dikatakan tidak mengalami kenaikan berat badan. Hanya 2kg di usia kandungan 36 minggu!

Dr.Yanti mulai panik dan menginstruksikan perawat untuk menghubungi dokter yang bisa menggunakan alat USG 4 Dimensi.

« Saya hubungi Dr.X untuk mengecek kondisi dalam perut ibu. Saya mau tahu apa yang menyebabkan bayi ibu kecil. Apakah terjadi penyumbatan supply darah ke plasenta bayi atau ibu terinfeksi atau ada hal lain. Karena berat badan ibu terus naik tetapi bayinya tidak naik. Bayi dengan kondisi seperti itu harus segera dikeluarkan sebelum waktunya karena dia tidak nyaman, kekurangan oksigen, jadi harus dibesarkan di luar » kata Dr.Yanti.

Saat itu kami hanya diam. Gugup. Padahal saat kontrol hari itu saya ingin menegaskan ke dokter bahwa saya ingin lahir secara normal. Tekanan pun mulai datang. Beberapa kerabat yang mengetahui kondisi bayi saya kecil di perut mengklaim bahwa saya kurang makan. Rumah sakit juga menelepon untuk segera melalukan USG 4 Dimensi dengan Dr.X yang notabene adalah pria.

Setelah meredam tekanan, saya memutuskan untuk membatalkan cek USG 4 Dimensi, dan pindah rumah sakit. Saat itu, saya hanya ingin semua orang tidak banyak komentar berlebihan dan saya ingin lahir secara normal dengan kondisi bayi sehat. Hanya 2 hal itu keinginan saya.


Jum’at, 30 Maret 2012

Kami baru tiba di rumah pukul 21.30 WIB setelah belanja bulanan dan makan malam di luar. Dengan mata setengah mengantuk, suami saya merangkai box bayi yang kami beli Januari lalu. Entah apa yang membuatnya sangat bersemangat merangkai box. Keningnya sampai berkeringat. Sempat ia putus asa kehilangan beberapa penyambung stick, namun penyambung itu ia cari sampai ditemukan dan jadilah rangkaian utuh baby box pada pukul 22.30 WIB.

Kami mengantuk. Namun saya tetap menunggu hasil sidang paripurna seputar hasil keputusan harga BBM via twitter. Sibuk berceloteh dan membaca perkembangannya hingga pukul 01.00 WIB dini hari. Suami saya pun masih melakukan hobinya hingga waktu yang sama.

« Jadi besok agenda kita apa hari Sabtu? » kata suami.

« Senam hamil, terus ke Jakarta kontrol ke dokter. »

« Dan hari minggu? »

« Kita takhosus lalu kondangan terus mampir kajian. »

Setelah merinci jadwal weekend dan lelah, kami pun tidur.


Sabtu, 31 Maret 2012

Pukul 04.00 WIB saya terjaga dan pergi ke toilet. Ketika hendak balik menuju kamar, ketuban saya merembes dan terdapat flek. Mata yang mengantuk pun spontan membelalak. Bukankah jadwal saya hari ini senam hamil? Besok kondangan? Saya belum bisa berpikir apa yang harus saya lakukan. Mengepak barang? Ah masih terlalu dini hari. Membangunkan suami? Belum adzan subuh. Lalu saya menghidupkan handphone untuk menghubungi mami. Saya yakin mami sudah selesai tahajud. Belum sempat saya menghubungi mami, suami terjaga akibat cahaya handphone.

« Halo sayang, » sapa saya.

« Ngapain kamu di situ? » tanya suami heran.

« Hehe. Flek »

Sontak suami saya langsung lompat dari kasur dan menyambar jaketnya.

« Nyalakan lampu! Telepon mami! Kakak panggil taksi! »

Saya hanya melongo heran. Perut saya tidak sakit. Hanya saja darah sudah terus-terusan keluar bersama ketuban.

« Aku belum ngepak barang kita, baru bayi. Jangan panggil taksi dulu, » kata saya tenang.

Suami saya panik dan langsung menyuruh saya bergegas. Ia pun mulai mengeluarkan semua barang bayi yang sudah saya masukkan ke koper beberapa bulan lalu. Beberapa menit kemudian, suami saya melesat mencari taksi.

Di tempat terpisah, ayah terus menelepon sambil mengemudikan mobil dari kawasan Cempaka Putih menuju rumah saya, Serpong Utara. Saya hanya terheran-heran kenapa semua orang panik? Mami bilang kalau darah dan ketuban sudah merembes pertanda akan melahirkan cepat. Tapi saya belum kesakitan. Saya masih merasa seperti perempuan yang menstruasi. Biasa saja. Perut saya juga belum terlalu kencang.

Sambil terheran-heran, dengan selambat siput saya mengepak semua barang. Masih sempat bercelak dan merapikan tas kosmetik. Lalu kembali berpikir, apa saja yang harus saya bawa. Di luar sana, suami dan ayah saya melesat seperti pesawat jet.


Pukul 05.00 WIB

Ayah tiba dan kami bergegas menuju rumah sakit di kawasan Cempaka Putih setelah shalat subuh. Dengan kecepatan mobil yang lumayan, ayah mengambil jalan tol. Alhasil, jarak Serpong-Cempaka Putih hanya ditempuh dalam waktu 30 menit!


Pukul 05.30 WIB

« Ruang An-Nisa di mana, Pak? Istri saya mau melahirkan, » tanya suami kepada petugas.

Petugas melihat saya yang berdiri tegap dan tersenyum. Saya yakin dia heran tidak ada orang yang ingin melahirkan masih sempat tersenyum dan berdiri tegap seperti saya. Setelah kami digiring masuk ke ruang bersalin, bidan hanya berkata bahwa saya masih boleh pulang dan kepala bayi belum turun.

« Tapi darah saya sudah keluar, Bu » kata saya.

« Tidak apa-apa. Itu hanya tanda akan melahirkan. Pulang saja, » katanya.

« Ketuban saya bagaimana? »

« Masih ada. »


Pukul 17:00 WIB

Jadwal kontrol rutin ke Dr.Tazkiroh dengan tujuan cek USG membuat saya semakin gugup.

« Ketuban ibu sangat kurang. Sudah banyak merembes sepertinya. Ibu langsung rawat inap ya. Saya usahakan lahir normal bayinya, » kata Dr.Tazkiroh menenangkan.


Pukul 18.00 WIB

« Masih pembukaan 1, Bu » kata bidan kepada saya.

Perut saya belum kontraksi. Hanya kram seperti orang menstruasi. Saya masih tenang hingga pada pukul 21.00 WIB mertua saya dan adik ipar datang menjenguk, bidan menyampaikan pesan dari dokter bahwa saya malam ini juga harus dioperasi sesar. Sontak saya kesal. Apakah operasi adalah jalan satu-satunya? Kenapa dokter-dokter yang saya temui selalu membuat keputusan sesar? Saya hanya ingin normal, apakah itu di luar logika dunia modern?

« Mumpung ada keluarga, ibu bicarakan dulu. Dokter memutuskan ibu harus disesar khawatir ketubannya habis. Saya hanya menyampaikan, » kata bidan.

« Tidak perlu keputusan keluarga. Saya memutuskan untuk normal lewat bidan. Ini keputusan saya! » kata saya tanpa basa-basi.

Tiga kali bidan meminta saya untuk berpikir tentang keputusan apakah sesar atau tidak. Sebanyak itu pula saya bilang saya hanya ingin melahirkan secara normal. Bahkan kalau bisa gentle birth!

Suami saya lalu menghadap dokter. Menghadap untuk memutuskan lahiran normal, dan memutuskan untuk pindah penanganan dari dokter ke bidan. Kami tahu dokter akan kesal, tersinggung, atau apapun bentuknya. Kami tahu akan itu setelah dia berkata, « Saya tidak akan bertanggung jawab terhadap persalinan ini » lalu menutup pembicaraan via telepon tanpa salam. Tapi di balik ini semua, saya lega.

Malam semakin larut dan saya berusaha untuk tidur senyaman mungkin. Tetapi perut saya semakin kontraksi per 10 menit. Setiap kontraksi, saya merintih dan suami saya menenangkan saya.


1 April 2012, pukul 04.00 WIB

Saya melangkah ke ruang bidan untuk memeriksakan kondisi.

« Baru pembukaan 2, Bu » katanya.

Saya kembali tidur dengan kondisi yang saya paksakan untuk nyaman. Setelah subuh, saya mencoba untuk jalan pagi di sekitar taman rumah sakit agar pembukaan saya semakin naik. Setidaknya, saya harus menunggu 8 pembukaan lagi untuk melewati semua ini. Dengan perut yang melilit, saya mencoba berjalan namun sudah tidak kuat.

« Ibu jangan banyak jalan. Khawatir ketubannya berkurang banyak, » kata bidan.

Setelah sarapan, saya mulai berbaring dan menahan kontraksi yang semakin menjadi. Sulit saya bayangkan bagaimana rasanya kontraksi. Lebih hebat dari sakit perut diare. Lebih hebat dari sakit perut menstruasi. Lebih hebat dari sakit maag. Rasanya seperti terkena aliran listrik sampai ke tulang belakang.


Pukul 18.00 WIB

Kontraksi semakin hebat. Hujan turun dan saya pun menangis menahan sakit. Tapi suami selalu menemai saya. Tidak ada waktu yang ia habiskan selain duduk di sebelah saya dan menenangkan saya dalam sebuah perjuangan menahan rasa sakit.

« Pembukaan 4, Bu. Insya Alloh malam ini lahiran ya, » ucap bidan.

Keluargaku tiba dan aku peluk mami sekuat tenaga untuk menahan kontraksi yang datang sekitar per satu menit.


Pukul 20.55 WIB

Perjuangan melelahkan telah berhasil mengantarkan anakku melihat dunia. Tubuh kecilnya menggeliat. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan. Suara nyaringnya memekik keheningan. Allohu Akbar! Dalam keadaan lemah meski telah menggunakan infus, aku memeluk bayi perempuanku yang menangis. Sekejap saja, dia tertidur! Lucu sekali. Dia buang kotorannya diperutku dan di timbangan. Dia bersin dua kali dan dinyatakan sehat, meski dengan berat badan hanya 2,2kg dan panjang 45cm.

Momen indah itu mengobati perjuanganku mengeluarkan ari-ari yang lengket di rahim, membuatku menahan sakitnya jahitan, dan membuatku kuat meski tubuh sangat lemas dan telah menghabiskan 1 botol infus hanya dalam tempo 30 menit.


2 April 2012

Bayi perempuanku masuk ruang inkubator karena berat badan rendah. Menyedihkan ketika dia disuruh berpuasa asi oleh dokter dengan alasan dokter ingin tahu apakah bayi saya kembung jika menerima asi atau tidak. Dia juga disuntikkan antibiotik dengan alasan pencegahan infeksi. Di sisi lain, asi saya sangat deras dengan jumlah kolostrum yang lumayan banyak. Tetapi bayi saya hanya bisa mengonsumsi asi dengan jumlah yang sangat sedikit dibarengi dengan cairan infus.

Kesal, sedih, bingung, bercampur jadi satu ketika melihat bayi kecil saya di infus dan disuntik ini dan itu. Ada beberapa perban di anggota tubuhnya. Jika saya bukan manusia beriman, mungkin ruang inkubator itu sudah saya pecahkan kacanya dan saya bawa kabur bayi saya, tak lupa saya ikat para dokter sok tahu itu di tiang listrik. Dokter sok pintar itu pun mampu membuat suami saya marah di hadapan bidan dan menggertak dokter. Mereka memberi tindakan kepada bayi kami tanpa izin kami dengan alasan « tindakan cepat ».

Dokter itu sudah mengatakan bahwa bayi kami sehat namun ia masih bilang harus mengobservasi dengan jangka waktu tidak tentu.

« Dokter tahu bahaya antibiotik? » ujar suami saya.

« Saya tahu, tetapi jika tidak diberikan kami tidak berani menanggung resikonya. » jelas dokter.

« Tetapi seharusnya ada persetujuan dari saya. Jangan langsung mengambil tindakan! »

« Kami harus bergerak cepat, Pak »

« Tapi bayi saya sehat kan? » imbuh saya.

« Sehat ibu, hanya leukosit tinggi sekitar 25.000 jadi harus diberikan antibiotik, » jelas dokter. (Setelah kejadian ini, teman saya yang dokter berkata bahwa bayi yang baru lahir memiliki batas leukosit maksimal 30.000. Fakta ini membuat saya semakin jengkel dengan dokter sok pintar).

« Apakah kolostrum dalam asi saya tidak mencukupi kebutuhan bayi saya untuk sistem imunnya? » tanya saya emosi.

Ia terdiam. Dengan menahan napas ia berkata bahwa kolostrum dalam asi belum mencukupi pembentukan daya tahan tubuh bayi. Kekonyolan jawabannya membuat saya bertanya dari dalam hati, apakah anda melecehkan ciptaan Tuhan anda yang telah memberikan asi untuk pemenuhan semua kebutuhan hidup bayi? Apakah Tuhan anda antibiotik? Sungguh hidup anda begitu mengenaskan.

Entah ia mencari uang lebih atau menjadikan bayi saya seperti kelinci percobaan. Saya hanya bisa melihat bayi saya dari kejauhan. Menyaksikannya menangis dalam ruang inkubator dan berselang infus. Kesedihan saya semakin memuncak ketika saya harus pulang ke rumah tanpa bayi saya. Masih adakah rumah sakit yang punya hati nurani dan melupakan komersialisme?


3 April 2012

Hati saya berkata bahwa bayi saya sehat tanpa masalah. Meski dokter berkata masih akan mengobservasi bayi saya, dengan tegas saya memutuskan untuk membawanya pulang. Bayi saya bukan kelinci percobaan. Sekalipun perawat di sana mengatakan bayi saya bermasalah dalam menelan asi, saya tidak tertipu. Karena bayi yang kesulitan mengenal puting ibu bukan hanya bayi saya.

Dengan keyakinan penuh, kami berhasil membawa pulang bayi kami.

Alhamdulillah. Sejak hari itu, kehidupan saya berubah. Berubah untuk mengatur waktu antara mengurus rumah, suami, anak, dan diri sendiri, Berubah untuk kuat bangun di tengah malam untuk menyusui anak.

Dan berubah bahwa kami tidak lagi berdua tetapi bertiga.

Terimakasih untuk suamiku yang sepenuh cinta menemaniku dan membantuku merawat

anak.

Semoga kita sekeluarga berkumpul di surgaNya. Allohumma Amin.

 

From my another blog : http://megasarizki.tumblr.com/

7 réflexions sur “Catatan Perjalanan Seorang Ibu Muda

  1. assalaamu’alaikum.. subhaanallooh.. artikel yg mnarik. saya terharu banget bacanya.. kebetulan, tadi pagi Alloh mnyampaikan barokahnya kpd saya.. tanda 2 garis merah yg saya liat td pagi itu bikin saya tambah semangat..^_^ minta do’anya ya,supaya Alloh mmberi kemudahan dan kelancaran pada saya untuk mnjaga amanatNya yg pertama ini.. jadi ibu muda heheh Aamiin. salam kenal. assalaamu’alaikum

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s