Catatan Perjalanan Seorang Ibu Muda #2

Be Surprised !!!

Sebuah frase yang sangat cocok untuk dihadiahi kepada seorang ibu muda seperti saya. Setelah berhasil melewati masa melahirkan yang luar biasa seperti di medan perang, kini saya harus menjalani masa yang baru : menjadi seorang ibu.

Sepulang dari rumah sakit, saya masih berjalan pelan-pelan dan sedikit menahan perih jahitan (ibaratkan saja saya seperti baju yang baru pulang dari tukang obras). Badan sedikit lemas seperti baru pulang dari fitness centre. Bahkan ketika keluar dari rumah sakit, saya duduk di atas kursi roda. Mirip nenek-nenek cina yang hobi berjalan sore di komplek perumahan mewah.

Bagaimana cara menggendong bayi yang baru lahir? Entahlah. Saya tidak pernah belajar. Dengan berbekal insting dan keyakinan, saya berhasil menimang anak sendiri tanpa dibantu. Di ujung sana, suami saya tampak setengah gemetar. Bingung bagaimana caranya menimang anak kami yang super lembek.

Selama 7 hari tinggal di rumah mami, saya banyak belajar. Bagaimana memasang popok, gurita, baju, bedong, diapers, sarung tangan dan kaki. Saya juga diajari bagaimana cara memandikan bayi yang belum puput pusar. Di sisi lain, saya juga harus meminum jejamuan dan melumuri tapel di beberapa bagian tubuh lalu tidak lupa memakai stagen. Satu hal yang penting adalah : stagen membuat saya sulit bernapas dan bengkak di bagian kaki, mirip kaki gajah! Memakai stagen hanya membuat saya semakin tidak nyaman. Jadi, saya memutuskan untuk tidak memakainya. Pasca lahiran tubuh kembali normal, jadi tidak perlu stagen saya rasa.

Bagi anak saya yang masih bayi, siang seperti malam dan malam seperti siang. Hari pertama saya tidur dengan bayi saya, saya benar-benar tidak tidur. Dia terus menangis, menjerit, dan tidak mau tenang. Selalu seperti itu sampai saya dan suami memiliki kantong mata. Beberapa hari kemudian, saya baru tahu kalau saya tidak memasang gurita. Angin masuk ke dalam tubuhnya dan pusarnya yang belum puput tergesek popok. Ini keteledoran yang sangat amazing!!

Tidur dengan bayi di hari pertama sangatlah sulit. Dia akan menangis ketika saya sedang tertidur lelap. Atau dia akan kembali menangis ketika saya baru saja merebahkan badan. Dia harus menyusu dan diganti popoknya. Atau ditimang-timang agar lekas tidur. Kaget? Jelas. Karena ini sesuatu hal yang baru bagi saya.

H+7 pasca lahiran, saya pulang ke rumah setelah menginap di rumah mami. Tidak terbayangkan bagaimana saya harus mengurus bayi seorang diri. Sanggupkah? Ya, harus! Bahkan ketika kebingungan melanda : sudah 9 hari pusar belum puput. Malam hari kami pergi ke bidan. Esoknya, hari ke 10 pusar sudah puput. Jangan heran, tidak ada obat untuk puput pusar. Hanya perlu dimandikan dan diberi air. Tidak usah terpengaruh dengan kata sesepuh harus diberi alkohol atau betadine. Anak tetangga diberi obat-obatan itu 14 hari baru puput. Jadi jangan panik ketika bayi belum puput dan bayi kalian dibanding-bandingkan dengan bayi lain karena belum puput!

Dengan cepat, saya mulai menghapal jadwal tidur dan bangun bayi saya. Memerangi malas dan menjemurnya setiap pagi, memandikannya, dan menimang-nimang dengan sabar. Kesabaran semakin diuji ketika bayi rewel dan saya tidak tahu ada apa dengan dia.

Semakin lama, saya harus beradaptasi untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga dengan satu tangan, dan tangan lainnya menggendong bayi. Saya juga harus membawanya kemana-mana. Berjalan mengendap-endap agar dia tidak bangun. Atau menunda waktu shalat karena setiap adzan dia pasti menangis dan minta disusui.

Di waktu lenggang, saya harus memotong kukunya, membersihkan hidung dan telinganya, mengajaknya bermain atau berjalan-jalan di sekitar rumah.

Sempat saya menangis ketika bayi saya rewel dan tidak bisa diletakkan dimanapun. Wajib digendong. Membuat saya bingung, lelah, kram tangan dan pinggang, tidak masak sehingga suami yang masak dan menyuapi saya makan. Bahkan ketika saya sakit, saya tidak bisa merebahkan badan dan beristirahat. Karena bayi saya wajib dilayani. Dia harus mandi,menyusu, dan lain-lain. Saat itu, tidak ada kata « diri sendiri ». Yang ada hanyalah « untuk sang anak ». Sekalipun saya sakit, saya harus berbenah. Luar biasa bukan?

Ya, luar biasa perjuangan seorang ibu. Selain harus kuat fisik, saya juga harus kuat insting. Karena insting itulah yang membuat saya tahu penyebab rewelnya anak. Saya bisa dengan sok tahu memberi anak madu tanpa dosis, tidak memberi air putih, dan semacamnya. Saya juga menangis ketika melihat bayi saya di tindik atau mengerang kesakitan ketika menyusui. Bayi saya hobi ngempeng dan menggit dengan gusi mungilnya.

Pernah ketika bayi saya rewel, digusinya terdapat gelembung putih seperti gigi. Setelah lelah menghadapi kerewelan bayi, pelan-pelan saya sadari kalau itu sariawan! Saat itu kami tidak ke dokter, malah pergi ke tukang urut. Luar biasa!!

Sekarang bayi saya berusia 2 bulan. Dari dia, saya belajar untuk bersabar, telaten, menjaga amanah, mengurangi panik, mampu menahan sakit akibat lecet saat menyusui, dan yang terpenting : mensyukuri ni’mat Alloh bahwa menjadi seorang ibu itu lebih dari sekedar amazing! Mengamati perkembangan anak hari demi hari, membuat ketenangan hati saya meningkat. Dan bersyukur, karena asi saya deras, alhamdulillah. Senangnya kalau si kecil senang🙂

Oh ada satu pembelajaran berharga yang bingung mau saya letakkan dimana : JANGAN PERNAH MENDURHAKAI IBU KALIAN. Kenapa? JADILAH SEORANG IBU MAKA KALIAN AKAN TAHU JAWABANNYA. hehe.

2 réflexions sur “Catatan Perjalanan Seorang Ibu Muda #2

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s