Orangtua yang Bersyukur

Apa yang dipikirkan oleh para orang tua ketika mereka sedang berpeluh dan sangat payah membesarkan anak-anak mereka? Mungkin sebagian besar berkata, « Kami sudah banting tulang memberimu makan dan menyekolahkanmu, maka jadilah orang yang hebat dan sukses! »

Sehingga ketika anak-anak mereka telah lulus menempuh pendidikan tinggi, saatnya para orangtua menagih sekarung harapan mereka pada anak-anak mereka.

Ada contoh kasus menarik yang disampaikan oleh seorang ustadz, Ustadz Zulfahendra, seorang guru Tahfidz dibilangan Ciledug-Tangerang.

Beliau mengisahkan kisah berantai dari kawannya tentang sepasang lansia yang hidup di wilayah Jawa Barat. Suatu hari pria tua renta bercerita, bahwa dulu ketika anak-anaknya kecil, ia sangat ingin anak-anaknya pintar dan sukses. Berbagai cara ia lakukan untuk mendidik anak-anaknya agar berprestasi dan kelak mampu membanggakan orangtua. Dan benar. Rabbnya mengabulkan keinginannya. Anaknya tumbuh di ibukota dengan titel yang diidam-idamkan, dokter. Bahagianya membuncah saat itu.

Qoddarulloh, suatu hari sang ibu menderita sakit yang membuat tubuhnya kian hari kian lemah. Rasanya ingin sekali sang ibu bertemu dengan anak-anaknya untuk mengobati rindu. Tetapi jawaban sang anak setiap hari selalu sama, « Ibu, maaf saya sibuk belum ada jadwal kosong untuk pulang kampung. »

Tak ada yang berkunjung sampai akhirnya malaikat yang berkunjung. Ibu tua itu tutup usia. Lalu sang anak tergopoh-gopoh pulang ke kampung halaman untuk melihat wajah ibunya. Setidaknya untuk yang terakhir kali. Namun, ketika hendak dishalatkan, sang anaklah yang diminta keluarga untuk menjadi imam shalat sajadah. Apa yang ditanyakannya pertama kali kepada keluarga? « Pak, sajadah untuk saya mana? »

Ketika itu hancurlah hati si pria renta setelah menyaksikan tentang kebodohan anaknya yang hebat. Kebodohan mengenai perkara agama. Bagaimana lalainya ia mendidik anaknya mengenai ibadah, sampai shalat jenazahpun anaknya yang seorang dokter bertanya soal sajadah. « Sungguh, anakku, shalat jenazah tidak ada aktifitas sujud. »

Kisah ini hanyalah sepenggal kisah yang mampu meremukkan wajah para orangtua yang pada zaman kini masih mengharapkan prestasi duniawi dari sang anak. Prestasi dan materi. Dua hal itu yang sering dituntut para orangtua sampai lupa bahwa doa anak shalih-lah yang menjadi bekal para orangtua, bukan harta dan jabatan sang anak.

« Boleh anak kita menjadi dokter, namun dokter yang hafidz! » begitu nasehat sang ustadz.

« Jadilah orangtua yang bersyukur atas karunia Alloh, bukan orangtua yang kufur nikmat », katanya.

Karena sungguh, do’a anak shalih akan mengalir untuk bekal para orangtua. Namun mereka jarang mengetahui. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang diambil manfaatnya, [3] anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631)

20130303-141821.jpg

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s