Teknologi Permainan yang Memicu Maut

Dzuhur, awal Mei 2013, di lantai dua sebuah ruang tindakan rumah sakit besar di kawasan Tangerang Selatan. Satrio diantar ibunya dan seorang perawat memasuki ruangan yang cukup dihuni oleh dua orang pasien. Bocah laki-laki berusia tiga tahun itu dibaringkan bersama dengan balutan selang infus.

« Kalau cairan infusnya sudah sampai batas garis yang saya coret ini, beri tahu saya. Saya di ruang sebelah, Bu » kata perawat laki-laki itu kepada Ibu Satrio.

Ada perasaan cemas yang terbersit di wajah cantik Ibu Satrio. Sembari mengambil roti untuk anaknya, ia masih sempat tersenyum pada saya. Kami persis berada bersebelahan. Di sebelah kasur Satrio adalah kasur keponakan saya yang juga sedang di infus.

« Ayo makan nak rotinya. Diisi ya perutnya, » katanya lembut pada Satrio.

Satrio menggeleng-gelengkan kepalanya. Lemas. Dan tidak punya selera untuk makan kecuali hanya satu sentimeter roti yang tergigit. Wajahnya lesu dan sesekali ia batuk.

Kemudian datang deorang perawat muda membawa beberapa perlengkapan. Darah Satrio akan diambil untuk dicek di laboratorium. Namun Satrio mulai ketakutan. Ketika darah diambil ia mengejangkan seluruh tubuhnya dan menjerit sekeras-kerasnya.

« Jangan pegang! Jangan pegang! » rintihnya.

« Ayo pintar ini semutnya gigit yah. Sebentar yah semutnya mau gigit, » bujuk perawat.

« Jangan pegang! Jangan pegang! » rintihnya lagi sambil menghentakkan tubuhnya diatas kasur pasien.

Ibu Satrio tampak tenang membujuk anaknya yang sedang ketakutan.

« Ini Mama, nak. Tidak apa-apa yah » bujuknya.

Satrio menangis. Sedikit sample darah telah diambil lalu perawat pergi meninggalkan mereka. Tetapi Satrio masih menangis sambil merintih. « Jangan pegang… Jangan pegang… »

Hati saya mulai bicara. Apakah Satrio trauma?

« Anaknya sakit apa, Bu? » tanya saya penasaran.

« Dipukul sama temannya, » jawabnya.

« Dipukul bagaimana? » tanya saya heran.

« Saya lagi masak. Tiba-tiba tetangga lapor anak saya dalam kondisi lemas dan menangis. Awalnya dia main dengan teman-temannya di dalam rumah si pelaku. Main permainan sejenis « smackdown » di playstation. Lalu mereka ramai-ramai memegangi tubuh Satrio. Ada yang memelintir kedua tangannya. Ada yang menendang dan memukul dengan keras perutnya, » tutur Ibu Satrio.

« innalillahi Anak usia berapa, Bu? Lalu kondisi tubuhnya bagaimana setelahnya? » tanya saya tercengang.

« Mereka usianya diatas Satrio. Entah berapa orang. Saya tidak sadar saat dia pulang dari rumah pelaku. Saya kira hanya keseleo tangan karena dipelintir kedua tangannya. Saya urut selama tiga hari. Tetapi setiap saya bukakan baju, dia menjerit kesakitan. Ternyata setelah saya cek, dibawah lengannya memar-memar. Dan perut bekas tendangan dan pukulan terasa mengeras dan memar. Suhu badannya tinggi. Sekarang lagi menunggu hasil pemeriksaan dokter, » jelasnya.

« innalillahi, Kok bisa anak tetangga berprilaku ekstrim? » tanya saya menahan napas karena terlalu sulit untuk menyembunyikan kekagetan.

« Anak tetangga saya sangat hobi main playstation semacam itu. Mungkin teraplikasi dilingkungan pertemanannya dia pikir mungkin seru. Sebelumnya juga sudah ada korban. Tetangga juga. Memar-memar, » ujar Ibu Satrio.

Pihak orangtua si pelaku, menurut Ibu Satrio, sudah bertanggung jawab mengantarkan Satrio ke klinik dokter. Di sana diberikan obat penurun panas. Tetapi Satrio tak kunjung membaik. Kini Ibu Satrio sedang menanti-nanti hasil visum dokter. Dan mengantri untuk mendapatkan kamar rawat inap kelas 2 atau 3.

Mungkin ini hanya sebuah contoh kecil dari sekian banyak dampak buruk media yang menyajikan permainan yang tak layak dikonsumsi oleh kejiwaan anak. Mereka yang masih sulit membedakan benar dan salah, baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, seperti « terjerumus » ke dalam aktifitas yang beresiko tinggi. Mungkin bisa dikatakan berbahaya. Berbahaya untuk perkembangan imajinasi dan kreatifitas anak.

Tentunya hal yang melatarbelakangi kekerasan antar anak ini sebagian besar merupakan tanggung jawab para orang tua. Orangtua lah yang memiliki peran penting, sebagai penyaring. Penyaring apa yang akan dikonsumsi oleh anak. Bukan hanya makanan untuk perut mereka. Tetapi juga makanan untuk otak dan jiwa mereka. Mereka butuh dibimbing, perihal permainan apa yang boleh mereka ikuti dan apa yang terlarang. Perilaku seperti apa yang harus mereka tiru dan apa yang terlarang. Ini semua seperti sebuah lingkaran sinergi. Jika satu rusak, maka rusak lah semuanya. Jika pengawasan orangtua buruk, pemilihan media permainan yang buruk, tentu buruk pula yang akan diaplikasikan oleh anak. Tentunya itu semua tak lepas dari andil pemerintah dalam menyaring berbagai arus informasi dan konten media yang masuk ke masyarakat.

Maka, lindungilah anak-anak kita dari hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat. Era tekhnologi saat ini tidak murni seluruhnya positif, bukan begitu?

2 réflexions sur “Teknologi Permainan yang Memicu Maut

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s