Catatan Perjalanan Seorang Ibu Muda 3

Banyak sekali ibu-ibu muda yang baru melahirkan atau baru memiliki anak, terlihat sangat eksis di dunia maya. Foto-foto anak merekapun tersemai di mana-mana seperti bibit kangkung. Mulai dari foto bayi merah yang baru lahir, hingga foto-foto balita dengan tingkah laku yang menggemaskan. Mungkin ini bagian dari rasa bahagia yang sudah tak terbendung. Seringkali ada lantunan syukur kepada Rabb di caption foto anak-anak mereka.

« Hati-hati penyakit ‘ain, » kata temanku mengingatkan.

Awalnya setengah percaya, tetapi setelah mendengarkan penjelasan ustadz, aku baru « melek » bahwa perasaan hasad / iri bisa menimbulkan penyakit lewat pandangan mata. Na’udzubillah. Itu mengerikan.

Tapi bukan soal penyakit ‘ain atau hasad yang ingin aku bagikan di sini. Melainkan rasa syukur. Ya, rasa syukur menjadi seorang ibu. Mensyukurinya bukan dengan cara memajang foto si kecil, tetapi benar-benar syukur dengan sebenar-benarnya syukur. Tahapan yang tak mudah untuk menjadi manusia yang pandai bersyukur. Tapi harus berjuang untuk mencapai posisi itu.

Melewati hari-hari yang tak lagi berdua, tetapi bertiga, terasa bahagia namun tidak mudah seperti memajang foto si kecil di dunia maya. Ada banyak hal yang harus diadaptasikan. Hal pertama, beradaptasi untuk berbagi tempat tidur. Akan ada si kecil yang butuh « dikeloni » dan tentu saja jangan sampai alpa. Jika alpa? Akankah si kecil tergencet ibunya? Kasihan sekali jika nasib si kecil berakhir seperti ayam penyet di warung makan.

Hal ke dua, berbagi waktu. Hal ini butuh perjuangan adaptasi. Mau tak mau, manajemen waktu sangat penting sejak ada si kecil. Jika dulu bisa menentukan sesuka hati kapan akan melakukan ini dan itu, kini tak akan bisa lagi semrawut. Harus ada jadwal pasti untuk merapikan suami pergi ke kantor, membuat sarapan, memandikan si kecil pagi, menjemur si kecil, masak, dan lain-lain. Jika masih semrawut, suami mungkin akan ke kantor dalam kondisi perut lapar dan si kecil ketinggalan sinar matahari pagi. Tentu ini hal yang menyedihkan. Dan yang tak boleh dilupakan adalah, si kecil selalu terbangun di waktu malam per satu atau dua jam untuk menyusu. Sungguh spektakuler bukan?

Hal ke tiga, berbagi kehidupan. Ini hal yang ditakutkan oleh sebagian perempuan yang cinta kebebasan. Malas berbagi kehidupan, karena malas untuk tidak menjadi egois lagi. Tapi inilah fitrahnya kehidupan seorang perempuan. Setelah berbagi kehidupan dengan seorang pria, saatnya berbagi kehidupan dengan si kecil.

Akan menjadi saat-saat yang dirindukan ketika kita sebagai anak sakit, kita dirawat oleh ibu kita atau ketika istri sakit, suami lah yang merawatnya. Tapi, satu hal yang luar biasa ketika menjadi seorang ibu merangkap istri adalah ketika kita sakit, tidak ada kata « cuti » agar bisa dirawat. Bagaimana bisa? Karena ketika kita sakit, kewajiban menyusui harus tetap terlaksana. Begitupun kegiatan mengasuh si kecil dari A sampai Z ketika suami sedang di kantor. Membuatkan makanan untuk suami dan si kecil, dan lain-lain. Mungkin hari kemerdekaan seorang ibu adalah akhir pekan, ketika si kecil sibuk berduaan bersama ayahnya. Kecuali ibu yang memiliki baby sitter. Mungkin si baby sitter yang pendiam itu bisa menangis sesenggukan di kamarnya jika dia harus merangkap juga sebagai asisten rumah tangga. Hahaha.

Hal ke tiga, berbagi jiwa. Bagiku ini seperti bahasa kalbu. Atau mungkin bahasa telepati. Ya, seorang ibu wajib mengetahui apa yang dirasakan oleh si kecil yang hanya bisa menangis. Sensitifitas berperan penting di sini. Jika tidak punya belilah « radar » di toko terdekat. Bahkan, ketika otak sudah tak sanggup mencerna keinginan si kecil, amarah seringkali mencuat dibarengi dengan perasaan lelah dan kurang tidur. Sensitifitas, anugrah sekaligus petaka bagi seorang ibu. Anugrah karena menjadi hal menakjubkan jika si ibu bisa membedakan tangisan bayi lapar, bayi masuk angin, bayi ingin ganti popok, dst. Tapi juga petaka ketika si ibu tidak mampu menahan amarahnya. Bisa-bisa, si kecil menjadi sasaran empuk untuk meluapkan emosi. Jangan. Jangan seperti itu. Jika benar-benar tak mampu menahan amarah, wudhu pun tak mau, makan saja yang banyak. Insyaa alloh produksi asi meningkat.

Hal ke empat, berbagi ilmu. Ini kondisi yang mengkhawatirkan ku. Ilmu dangkalku harus segera di dongkrak. Jika tidak? Aku bisa merusak generasi islami. Na’udzubillah.

Layaknya seorang guru, ibu harus memperkenalkan banyak hal kepada anaknya. Mulai dari mengenalkan tauhid (siapa Rabb nya?), akhlaq yang baik, tata cara ibadah, dst. Belum lagi perkara duniawi, seperti harus belajar ciri-ciri penyakit ini dan itu, makanan sehat dan tidak sehat, obat mana yang harus dikonsumsi, dst. Harus cerdas ternyata menjadi ibu. Lalu, jika belum cerdas bagaimana? Jangan patah semangat untuk belajar. Dan berhentilah berharap Doraemon akan menolongmu menjadi pintar, karena itu syirik.

Hal ke lima, berbagi kemandirian. Tidak boleh lagi ada kata « rindu rumah orang tua » ketika merasa lelah mengurus anak. Tidak ada lagi aksi kabur ke rumah orangtua hanya untuk mendapatkan ketenangan si kecil di urus neneknya. Bukankah kita dulu sudah banyak menyulitkan ibu kita? Atau mungkin perangai kita lebih rewel dari pada anak kita? Rasanya memilukan jika aku harus melemparkan kewajiban asuh anak kepada orang tua yang sudah tua, meski tak lama. Ada hal yang menyentuh, yaitu nasehat seorang ustadz kepada kami : « Janganlah durhaka. Menyusahkan ibumu dengan anak-anakmu setelah ia bersusah payah membesarkanmu dan adik-adikmu. Kecuali jika ibumu yang sangat ingin merawat anak-anakmu untuk memenuhi kepuasannya sebagai seorang nenek. »

Semoga aku hanya mengunjungi orangtua dikala rindu. Atau dikala mereka sangat ingin bertemu dengan cucu mereka. Bukan dikala lelah dengan rutinitas sebagai ibu lalu melimpahkannya kepada orangtua yang sudah tua.

Eghaliter
(Petualangan babak awal : satu tahun bersama Ashilah Kaysaa Syah)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s