Presiden, Rakyat, dan Genocide

Merdeka!

Indonesia negerinya para pencinta demokrasi. Setiap rakyat bebas bersuara mengeluarkan pikiran dan pendapat, termasuk mengkiritik pemerintah dan berdemonstrasi sepanjang hari bahkan berhari-hari. Itu semua sudah memiliki jaminan perlindungan dari Undang Undang Dasar 1945. Jadi, rakyat tidak perlu cemas soal keamanan. Paling yang dipikirkan, apakah pemerintah mau menampung aspirasi rakyat atau tidak. Bukan begitu?

Di tengah menjulangnya gedung perkantoran dan masih maraknya tukang peminta-minta, di tengah padatnya ibukota dan lenggangnya daerah rural / pedesaan, rakyat Indonesia masih berkobar untuk menuntut penanggulangan kesenjangan sosial dan kestabilan ekonomi kepada pemerintah. Rakyat Indonesia juga masih cinta berdemonstrasi di depan istana presiden hingga long march berjam-jam ke kawasan perkantoran para menteri dan wakil rakyat.

Tapi, Indonesiaku, pernahkah ketika anda mengeluh tentang kondisi negeri, anda melihat negeri yang lain untuk membandingkan nasib?

Ya, mungkin anda sering menonton film hollywood atau serial drama korea yang menggambarkan keindahan negara-negara mereka. Atau anda sering melihat kecantikan Eropa di album facebook teman anda. Atau bagi anda yang berduit, anda bisa merasakan jatuh cinta berkali-kali ketika menghirup udara bebas polusi emisi karbon dan bebas sampah di negara maju. Indah memang. Wajar jika melihat negeri ini anda banyak memendam kecewa kepada pemerintah.

Tapi, tahukah anda, wahai Indonesiaku. Bahwa di tengah kemiskinan melanda di negeri kita, di tengah ketimpangan pembangunan yang tak merata di pelosok negeri, kita semua di sini masih merasakan aman. Bukankah begitu?

Setiap pagi, kita sibuk beraktivitas. Petang, kumpul bersama keluarga. Malam, kita habiskan untuk beristirahat. Hari libur, kita agendakan untuk pergi ke tempat wisata dan kuliner. Setiap lima waktu, adzan bebas berkumandang dan kita bisa beribadah di masjid. Para ustadz bebas berceramah di televisi dan radio. Rakyat bebas belajar dan menuntut ilmu agama dan dunia. Romadhon dan Idul Fitri yang meriah setiap tahun. Tertawa bersama teman yang berbeda agama dan menikmati beberapa hari libur untuk menghormati perayaan agama lain. Dan sebagainya. Inilah aman yang harus kita syukuri.

Mengapa?

Karena di negeri lain, ada yang rakyatnya bukan hanya tidak memiliki sepeser uang dan bertahun-tahun tidak makan daging, tetapi juga pemerintahnya bisa dengan asyik membunuh rakyatnya sendiri, hanya karena masalah aqidah. Di negeri lain, misal Suriah, 1300 jiwa termasuk mayoritas anak-anak dan para ibu bisa tewas terbunuh dengan gas beracun yang dilempar ke kawasan pemukiman oleh presidennya (reuters.com, 22 Agustus 2013). Di negeri lain, ratusan perempuan bisa dengan asyiknya diperkosa oleh tentara pemerintahnya. Bahkan di negeri lain bernama Suriah, angka kematian yang diakibatkan oleh rezim pemerintahannya mencapai angka 100.000 jiwa (nytimes.com, 26 Juni 2013).

Di negeri lain, misal Mesir, para demonstran ditembaki secara brutal dari udara dan disiram gas air mata secara massal oleh pemerintahnya, hingga 638 jiwa melayang (cbc.ca, 15 Agustus 2013). Di negeri lain, misal Mesir, ribuan demonstran mengalami luka bersimbah darah, dan terbunuh di dalam camp maupun rumah sakit yang dibombardir oleh pemerintahnya.

Suriah dan Mesir
Adalah dua negara Islam dari deretan negara-negara lain yang sudah lebih dulu mengalami aksi kebengisan pemerintah mereka, yang konon diberitakan media « pemberontak pemerintah ». Mungkin maksud penyebutan yang tidak patut itu adalah « pemberontak kezhaliman rezim pemerintah », yang patut kita ambil pelajaran.

Wahai Indonesiaku, mari, bersama-sama kita dengan sigap mempertahankan rasa aman yang sekarang kita miliki. Rasa tentram di lingkungan negeri. Rasa nyaman di tanah air sendiri. Rasa bahagia dengan kebaikan pemimpin negeri.

Caranya? Mari, kokohkan iman di hati kita masing-masing. Karena sesungguhnya negara-negara yang sedang dibombardir dan dibantai dengan keji itu bukanlah agenda pemusnahan teroris. Tetapi pemusnahan umat islam secara massal. Genocide. Sungguh, untuk memerangi teroris bukan dengan cara memberanguskan negara Timur Tengah atau membuat negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia kita dan Malaysia bersiteru masalah klaim budaya. Sungguh, memerangi teroris adalah memperketat sistem keamanan negara dan membekali masing-masing individu dengan ilmu agama yang benar.

Bom akan terus meledak di Afghanistan, Pakistan, Palestina, Suriah, Mesir, Yaman, hingga menjadi seperti Turki yang sekular, Iran-Irak-Lebanon yang syi’ah, dan sebagainya. Bom akan terus meledak, hingga warga menjauh dari Al-Qur’an atau mati sekalian. Sungguh, tidak ada pertikaian politik yang keji selain perang keyakinan. Pembantai Yahudi yang menoreh sejarah Holocaust berdarah – Hitler pun – tak akan lagi menjadi raja pembunuh di bumi ini. Karena Presiden Suriah dan Mesir, membantai ribuan rakyatnya, di tanah air mereka sendiri. Ironi.

Mari, wahai Indonesiaku. Jangan lagi disibukkan berdemonstrasi menuntut kenaikan gaji. Jangan lagi disibukkan menghujat pemerintah di kolom oponi media massa. Sudah saatnya kita membenahi diri, membenahi agama, mengenal penciptamu, mengetahui kebenaran dan penyimpangan, agar mampu membentuk pribadi bangsa yang beriman, agar mampu melahirkan pemimpin yang cinta kepada rakyatnya, agar Indonesia bisa lebih baik, dan agar Indonesia tidak bernasib sama seperti pemerintahan berdarah Suriah dan Mesir.

#Preparation #PresidentialElection2014
#SyiahBukanIslam #SayNoToWar #Istiqomah #IslamIsn’tTerorist #AgainstDevilWar

20130824-004900.jpg

Pic by : http://www.blogs.rj.org

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s