Jerat Pernikahan

Sejenak saya tersenyum membaca beberapa status « Anak Baru Gede » alias remaja tanggung, atau perempuan remaja yang hendak menuju usia dewasa : « Ihhh…suamikuuuu ganteng bangeeeeet » jeritnya pada caption sebuah foto artis pria dewasa. Atau, « met makan calon suamiku » tulisnya pada caption sebuah foto artis pria remaja.

 

Tak heran, menikah menjadi suatu kebutuhan khusus di dalam jiwa masing-masing manusia, termasuk perempuan. Ada banyak hal yang mendorong pernikahan menjadi sebuah cita-cita yang begitu agung untuk dilakukan. Misal, anjuran agama untuk mengikuti sunnah nabi menikah, melestarikan generasi melalui keturunan yang didapat pasca pernikahan, atau yang paling tak bisa dipungkiri : memiliki sahabat jiwa yang mampu mencintai satu sama lain dengan sejuta kebahagiaan batin yang tak tergambarkan.

 

Tapi, disadari atau tidak, diakui atau tidak, cita-cita mulia dan agung tersebut, yang telah dirangkai khusus dengan pesta meriah yang membahana, dengan cincin berkilau yang tersemat di jari manis, dengan foto kemesraan yang terumbar di setiap sudut ruangan, menjadi sebuah kenangan manis yang hanya tersimpan rapi di dalam sebuah album foto berukuran besar. Ketika khayalan telah sirna dan kenyataan semakin jelas, maka si pengantin ini lupa bersyukur terhadap kebahagiaan yang telah diberikan.

 

Di mulai dari kebiasaan buruk yang menengadah perlahan ke permukaan, disusul dengan keletihan di masing-masing pihak, hingga membuat rasa cinta dan sayang hanya menjadi patung di dalam hati. Beku.

 

Di satu sisi, suami mendapati pada kenyataannya perempuan idamannya pemalas dan tak pandai memasak. Di satu sisi lain, si istri mendapati pada kenyataannya suami idamannya bersikap manja, kasar, tempramental, dan hobi bertengkar dengan orangtuanya. Fakta-fakta pahit seperti inilah yang membuat si perempuan merasa pernikahannya tak sesuai kenyataan. Lalu tak mau ambil pusing, ia meminta cerai agar semuanya cepat berakhir.

Image

Ketahuilah, bahwa di dunia ini tidaklah ada satupun pernikahan yang tak ada celahnya. Pasti akan ada pertengkaran, perbedaan pendapat, segudang kekurangan, dan berjuta-juta fakta lain yang baru kita ketahui setelah kita menikah. Tidak ada yang murni sempurna indah di dunia ini, wahai perempuan. Selama engkau hidup, masih akan ada banyak ujian yang datang menghampirimu. Jadi jangan pernah merasa bahwa pernikahanmu abnormal. Tidak, itu normal. Yang abnormal itu khayalanmu yang menghendaki pernikahanmu seperti kisah Cinderella atau Snow White yang berakhir bahagia tanpa air mata. Jadi jika engkau menginginkan pernikahan seindah itu, hiduplah di negeri dongeng, karena ini negeri Sang Khalik, seluruhnya fakta dan bukan rekayasa. Mari bangunlah, wahai perempuan. Dan jangan pernah menyesali pernikahanmu. Sungguh cerai bukan jalan terakhir untuk memecahkan masalah. Sabarlah yang menyelesaikan masalah. Mari bersabar…

Surat dari ku untuk saudari seimanku yang sedang menangis meratapi kekejaman suaminya yang tukang pukul,

18Nov2013, Lebong Siarang, Palembang

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s