Vaginal Birth : Persalinan Normal (dengan Adegan Drama H+4 HPL, 4 hari bukaan stagnan)

Nggak seru rasanya kalau moment persalinan nggak pake adegan drama. Selalu ada drama di setiap persalinan saya, dari anak pertama, lalu ke dua. Superb!

Setelah dinyatakan hamil oleh dokter di sebuah rumah sakit ibu dan anak yang cukup terkenal namanya di beberapa kota, saya memutuskan untuk kontrol kehamilan rutin di rumah sakit tersebut karena ceritanya ini rumah sakit khusus ibu dan anak, kemudian dokter obgyn nya pun baik dan super ramah. Lanjut lah, pikir saya.

Di kehamilan anak ke dua ini saya cukup hati-hati. Karena saya punya kisah drama yang aduhai di kehamilan anak pertama. Maka dari itu, saya harus memastikan kondisi janin saya ini tidak masuk daftar « gawat janin » (na’udzubillah min dzaalik).

Saya bercerita kepada dokter tentang riwayat melahirkan normal anak pertama blablablabla. Lalu dokter memutuskan untuk memberikan saya antibiotik dengan harapan : pencegahan infeksi pada plasenta dan janin (yang menyebabkan janin kekurangan supply oksigen dan darah jadi beratnya kurang). Dokter juga menganjurkan saya cek keseluruhan plasenta dan janin ke dokter obgyn yang memang ahlinya (bener dong, pasiennya antri 2 jam dan dokternya memang pintar). Beliau cek detail apakah ada lilitan tali pusat, bagaimana letak plasenta, dicek satu per satu organ dalam tubuh janin seperti paru-paru, jantung, lambung, jari jemari, tangan, kaki, kepala dan tempurung, semuanya deh pokoknya sampai jenis kelamin. Dan hasilnya alhamdulillah baik. Pemeriksaan dilakukan saat janin saya 5 bulan.

Mendekati kehamilan bulan ke 9 saya mulai tertarik bertanya : « jadi HPL saya kapan dok? »
Dokter melihat kalender, berhitung, dan keluarlah tanggal perkiraan persalinan. Beliau menghitung HPL saya persis di usia kehamilan 40 minggu, dengan toleransi « keterlambatan » waktu persalinan sampai di usia 41 minggu. Beliau pun melingkarkan 2 tanggal tersebut sebagai penanda HPL pasien.

Usia janin 37 minggu, saya diminta untuk CTG alias cek detak jantung janin. Dokter sumringah karena hasilnya bagus. Hasil USG pun bagus. Jumlah ketuban saya diangka 9. Dokter bilang, ketuban kurang jika berada diangka 7 kebawah. « Berarti saya aman ya dok? » Kata saya. Dokter bilang, « insyaa allah ».

Dari awal kehamilan saya sampai detik-detik menjelang HPL, dokter obgyn terlihat sangat optimis kalau kandungan saya baik-baik saja, dan karena riwayat anak pertama melahirkan normal maka dia meyakinkan saya dengan baik kalau insyaa allah bisa normal. Beliau bilang melahirkan dengan opsi operasi kalau ada indikasi : pembukaan persalinan macet, indikasi gawat janin, ketuban keruh, dll. Jadi selama semua masih baik-baik saja insyaa allah bisa persalinan normal.

Di sisi lain, flashback di kehamilan 34 minggu, saya punya second opinion ke rumah sakit Siloam Hospital, untuk cek kondisi janin dan organ dalamnya, plus memastikan persyaratan melahirkan normal. Qoddarullah saya dapat dokter obgyn yang sekolah lagi di kawasan Salemba-Jakarta Pusat (saya curiga UI hehehe). Beliau menghitung tinggi badan dan berat badan saya. Katanya, kalau saya mau melahirkan normal, BB janin jangan lebih dari 3,5kg karena saya tidak terlalu tinggi. Syarat lain, hasil USG jika terlihat baik, tidak ada indikasi gawat janin atau terlilit tali pusat, insyaa allah bisa melahirkan normal. Terima kasih untuk informasinya, dok🙂

Setiap hasil USG saya minta print out nya. Untuk bukti bahwa semua baik-baik saja.

Pas di tanggal HPL, kehamilan 40 minggu. Dokter menyuruh saya ke RS. Kontrol. Padahal beliau tidak ada jam praktek malam itu. Saya disuruh cek detak jantung janin/CTG di ruang bersalin. Setelah CTG, hasilnya bagus. Tidak ada masalah dengan jantung janin. Bidan tersebut juga bertanya tentang HPL saya dan mengecek perut saya. Katanya, toleransi kehamilan sampai 42 minggu. Jadi kalau sekarang belum mules ya nggak apa-apa. Tapi dari hasil CTG dalam per 30 menit ada 4 kontraksi, katanya.

Di ruang dokter obgyn, saya ditemani ibu saya, melihat hasil USG. Dokter bilang bagus. Sama sekali tidak ada masalah. Kecuali air ketuban agak sedikit ada bintik-bintik (keruh) tapi kata beliau nggak masalah. Lalu ibu saya yang panik karena saya belum menunjukkan tanda-tanda persalinan bertanya : « apa di induksi dok? Biar cepat keluar bayinya karena anak saya sudah berat sekali kalau jalan »

Dokter : « memang rencana saya induksi »

Lalu Dokter cek dalam. Beliau bilang : « sudah lunak »
Benar-benar meyakinkan saya bahwa akan terjadi persalinan normal.

Lalu suami saya dipanggil. Untuk diterangkan soal induksi. Jujur suami saya nggak ridho. Karena dia yakin ketika Allah menakdirkan bayi itu keluar, si bayi akan membuat kontraksi sendiri. Apalagi ini baru HPL. Banyak ibu-ibu di luar sana sudah lewat HPL baru melahirkan, dan semua fine alhamdulillah. Saya hanya disuruh sabar oleh suami. Tapi saya entah kerasukan apa, saya jadi seenaknya sendiri memutuskan untuk mengikuti saran dokter. Saya merasa dokter obgyn ini pro normal. Sementara suami saya sudah curiga kalau saya dipersiapkan untuk operasi cesar.

Malam itu saya di instruksikan induksi. Pesan kamar rawat inap di rumah sakit. Cek darah dan urin. Tapi saya flek. Kabar ini saya beritahukan bidan di ruang bersalin.

Jumat, jam 9 malam, 12 Nov 2015, saya masuk ruang bersalin, obat induksi siap dimasukkan, tiba-tiba hasil CTG : jantung janin 170. Normalnya 120-160. Tidak bisa diberi obat induksi, kata bidan. Kemudian dia melapor ke dokter.

Lalu saya dipasangkan oksigen dan infus. Saya kepo, « Kenapa di infus? » Bidan bilang, « petugas infusnya mumpung lagi datang, ini nggak dimasukin obat apapun kok, biar ibu tidak lemas saja ». Saya cuma mengerutkan dahi, berpikir, mules saja belum kok saya disuruh nambah tenaga?

15 menit kemudian detak jantung bayi menurun, menjadi 160. Tapi masih tinggi. Belum bisa induksi. Saya bilang : « Saya sudah ada flek darah sus. Apa masih perlu induksi? »

Bidan kemudian cek. « Sudah bukaan 1 bu »

Oke saya lega. Saya bilang : « Kalau gitu nggak perlu induksi dan CTG terus. Biarkan pembukaan saya berjalan alami sus. Kecuali ada hambatan ditengah jalan untuk segera diinduksi ya gak masalah »

Bidan diam. « Sebentar ya saya tanya dokter »

Anehnya, setiap per sekian jam saya harus CTG dan hasil jantung bayi normal di angka 140. Entah 5 atau 6x saya CTG. Yang jelas saya nggak nyenyak tidur diganggu bidan untuk CTG. Karena dokternya nelpon bidan terus. Dan berkali-kali saya bilang : « Gak perlu induksi kalau saya sudah bukaan. Saya kan rencana induksi karena dokter melihat di tanggal HPL saya belum ada tanda persalinan »

Tapi bidannya selalu bilang : ini sudah usia kehamilan 40 minggu bu. Blablablabla. Karena saya terus berdebat. Bidannya lelah. « Ibu tanda tangan surat penolakan induksi saja ya. Biar dokternya nggak marahin bidan »

Ya, saya tanda tangan…

Oh ya, saya juga dilarang berjalan-jalan. Bahkan tidak boleh tidur di kamar inap. Hanya boleh berada disekitar ruang bersalin yang sempit. Jadi mau ngotot kaya apa, saya nggak dibolehin jalan-jalan.

Sabtu, jam 6 pagi. Saya cek bukaan. Sudah bukaan 2!
Dokter terengah-engah datang mengunjungi saya. Ngotot menginstruksikan bidan memasukkan obat induksi.

Dokter : « Mumpung jantung janin di angka 140 bu »

Saya : « Tapi saya sudah ada pembukaan dok. Flek juga. Apa nggak boleh membiarkan pembukaan saya alami? »

Dokter diam..
Cek dalam. Dia pasti tahu saya sudah bukaan 2!

« Usia kehamilan ibu sudah 40 minggu. Kelihatan USG ketuban sedikit keruh kan? Ada baiknya kita induksi tapi nanti ditengah jalan kalau jantung bayi tinggi kita stop induksi. Langsung operasi »

Saya : « Kenapa operasi? Nggak bisa stop induksinya saja? »

Dokter : « wah nggak bisa main-main bu. Kasihan bayinya »

Saya : « kalau begitu biarkan pembukaan saya alami dok. Gak perlu induksi. Ditunggu saja sampai pembukaan lengkap »

Dokter diam. Pandang-pandangan dengan bidan.

« Oke. Ibu boleh menunggu. Bapaknya silahkan tanda tangan penolakan induksi »

Langsung bidan spontan nyeletuk : « ibu sekarang boleh jalan-jalan untuk menambah bukaan.
(Rasanya mau nyolot : dari kemaren kemane aje guwe nggak boleh jalan-jalan?! Rembes ketuban juga enggak alhamdulillah)

Setelah sarapan…

Para bidan kembali memohon agar saya jangan pergi jauh-jauh. Kembali 1 jam lagi untuk cek CTG dengan shift pagi. Tapi saya nggak peduli. Saya tetap jalan mondar-mandir dan mengabaikan telpon kamar inap yang berdering. Saya mulai muak dengan prosedur yang berbelit.

Perawat memanggil saya untuk kembali ke ruang bersalin. CTG! Duh mau apa lagi sih?

Alhamdulillah, hasil CTG yang entah kesekian kali ini stabil di angka 140. Saya mulai menampakkan jengah.

« Sus, saya nggak mau induksi. Mau pembukaannya alami saja karena sudah bukaan 2. Lagian ini msh lewat 1 hari HPL. Toleransi bidan sampai kapan? »

« Minggu ke 42 bu. Lagian bayi ibu msh diatas pas cek bukaan. Belum tipis bgt »

« Jadi gimana sus, saya bisa tanda tangan pindah persalinan via bidan di RS ini? »

Bidan kaget. Diam.

« Di meja registrasi kan ada paket persalinan bidan sus? » Kata saya.

Bidan diam. Kembali bertanya, « ibu mau sama bidan? »

« Iya »

« Tapi ibu pasien dokter »

« Emang kenapa? Saya mau normal kok »

« Nanti saya tanya »

—–
Sudah 2 bidan yang saya teror masalah ini. Mereka nggak ngasih jawaban pasti. Akhirnya suami saya tegas : « jadi bidan sini bisa apa tidak? Kalau tidak kami pulang hari ini »

Mereka kaget. Dan bilang : « maaf tidak bisa. Tidak ada bidan yang berani menangani pasien usia kehamilan 40 minggu karena riskan »

Suami saya : « oh riskan. Nggak enak hati ya rebut pasien dokter? Oke kami minta pulang. Bisa saya minta surat2 administrasinya? »

(gue cuma ngakak aja dalam hati alasan bidan di rumah sakit ini sungguh konyol).

« Maaf pak pembayaran tidak bisa via kantor bapak. Karena pasien minta pulang sebelum bersalin. Jadi dikenakan biaya pribadi »

Jujur suami saya nggak terlalu masalah meski sempat kaget lihat nominal angka rupiahnya. Namanya juga rumah sakit komersil. Tapi saya rasanya mau gebrak meja dan bilang : gue dipaksa induksi sama itu dokter juga karena gue belom mules. Pas gue mules bukaan alami kenapa dipaksa induksi dan persiapan operasi? Akad macam apa ini?

Sayang.. Saya nggak bisa jadi Hulk. Cuma mau pulang saja saat itu. Nggak sedih. Muak saja rasanya.

Selesai membayar semua bill, suami saya bilang : « kita kena charge persiapan operasi di kwitansi, Rp300.000 »

Saya juga disuruh tanda tangan ini itu sebelum cabut dari rumah sakit.

Tertulis : diagnosa – ketuban keruh, detak jantung bayi tinggi, pengapuran plasenta, indikasi ketuban hijau dan bayi bab di dalam.

Dan saya harus tanda tangan diagnosa palsu tersebut. Ya saya tanda tangan saja sambil tertawa :

« Sus, hasil USG saya tadi malam bagus loh. Plasenta bagus, ketuban bagus ya paling agak keruh dikit tapi kata dokter nggak masalah. Sisanya pengapuran plasenta dan lain-lain nggak ada »

« Oh mungkin plasenta bagus letaknya bu tapi hasil USG nya mungkin pengapuran? »

« Oh yah nggak apa-apa lah. Tapi diagnosa jantung bayi tinggi coba sus lihat rekap CTG, hanya 1x diangka 170 pas banget disaat saya flek bukaan 1 itu timingnya »

Bidan muda itu kaget. Cek bolak-balik kertas rekap CTG. Dia bergumam kecil, iya bagus.. « Tapi bu ada angka 170 dan 160 »

« Iya cuma 2 lah ya. Sisanya berlembar2 diangka 140 » (entah 5-6x CTG, overdosis sekali).

Bidannya gelagapan bilang iya. Karena ya memang hasilnya bagus. Masa dia mau menentang hati nuraninya bilang yang bukan fakta?

CraZy..
Saya nggak salahin rumah sakitnya serius deh.. Saya yakin saya ditakdirkan dapet dokter obgyn oknum. Karena teman senior saya dihari yang sama, diusia kehamilan 40 minggu belum kontraksi belum flek, induksi. Normal. Di rumah sakit yang sama. Kalau rumah sakit lain? Wah, senior saya berhasil induksi-normal, bahkan disuruh pulang dulu, balik ke RS setelah dia pecah ketuban. Lah wong emang tidak ada indikasi gawat janin gawat bunda juga, mau gimana dong? Tapi saya nggak pilih RS tersebut waktu itu karena tidak terdaftar di list kantor suami. Hiks.

« Jadi alasan ibu keluar rumahsakit kenapa bu? » TAnya bidan itu lagi.

« Saya nunggu kontraksi teratur. Nunggu kontraksi hebat. Baru mau bersalin »

Bidannya bersuara rendah, « kalau sudah per 10 menit sekali pergi kesini ya bu. Atau kalau nggak keburu, ke klinik terdekat dari rumah »

Dia ngomong instruksi ini 2x dengan suara rendah. Disebelahnya banyak tim operasi cesar yang baru saja berhasil cesar, tertawa bahagia berebut gorengan, dan senyum-senyum membuat laporan.

Dalam hati saya berterima kasih, karena bidan muda tersebut masih memiliki nurani seorang bidan, ditengah desakan instruksi dokter oknum..

—-

Malamnya saya ke klinik bidan rekomendasi seorang kenalan. Cek pembukaan. Stagnan di bukaan 2. Air ketuban masih utuh dan ini baru H+2 HPL. Bidan bilang saya harus santai. Masih kontraksi per 30 menit. Besoknya, saya kembali ke bidan di kontraksi per 15 Menit. Masih stagnan di bukaan 2. Padahal saya sudah lelah berjalan mondar mandir, jongkok-berdiri, dll. Kata bidan otot saya tegang. Saya stres. Jadi PR saya : harus relax. Jadi saya mulai menjauhkan pikiran : bayi stres di dalam, ketuban keruh, pengapuran plasenta, bayi minum ketuban, dll dsb.

H+4 HPL, masih kontraksi per 15 menit. Dengan dukungan penuh dari teman-teman ummahaat shaalihat dan lain-lain, saya minum zamzam, zaitun, merangkak, jongkok-berdiri, jalan bolak balik, sambil banyak istighfar. Ashar, saya minta maaf ke suami, ayah, dan adik-adik. Karena merasa banyak dosa. Qoddarullah, langsung saat itu juga, setelah sungkeman minta maaf, saya kontraksi hebat per 10 menit kemudian per 5 menit. Ba’da maghrib, bukaan 5-6. Detak jantung bayi 154. Ba’da isya, persiapan persalinan. Kemudian alhamdulillah melahirkan pervaginam alias normal bok!

Hal pertama yang saya tanya :
« Kondisi ketuban saya gimana bu bidan? »

« Jernih ibu »

« Plasenta saya pengapuran nggak? »

« Bagus sekali ibu mau lihat? »
Lalu saya lihat. Bagus. Licin. Empuk lah.

« Bayi saya apa minum ketuban? »

« Tidak bu » kata bidan.

« Apa dia poop di dalam? »

« Dia poop persis setelah keluar dari perut ibu. Hehehehe »

Alhamdulillah…

———–

Hikmah :

– Tulisan ini saya share bukan untuk menjelek-jelekkan rumah sakit, atau profesi dokter obgyn. Bukan. Serius beneran.

– Saya bukan oknum anti cesarean section alias anti operasi sesar.

– Saya hidup di era revolusi mental pak Jokowi Dodo, bukan di era Dinosaurus, dimana teknologi sudah maju, canggih, mumpuni, meski RI satu masih kalah saing jauh sama teknologi jepang hehehe. Apalagi saya ibu rumah tangga pengguna gadjet. Saya cinta teknologi. Jadi, nggak bener kalau saya di cap anti operasi cesar.

– Saya pasien awam. Non medis. Cuma mantan wartawan pinggir jalan yang pernah ngajar anak-anak SD. Jadi kocak banget kalau saya mau sok pintar daripada obgyn lulusan Unsri, UI, dan PTN lain.

– Di era multimedia seperti sekarang, lucu kalau kita nggak belajar. Nggak perlu ke Gramedia untuk merogoh kocek. Ada beberapa situs resmi yang dikelola dokter dan bidan beneran untuk dibaca. Ada banyak sarjana lulusan keperawatan, praktisi perawat/bidan, dan dokter-dokter teman semasa kita sekolah dulu. Ada kartu indonesia sehat pak Jokowi, BPJS dari Pak SBY, untuk bisa gratis cek ke dokter A, B, C untuk second opinion, third opinion, dll dan bisa mendapat ilmu dari para dokter yang men-check up kita insyaa allah. Jadi, ada sejuta cara untuk belajar tentang kehamilan dan persalinan sebelum due date tiba.

– Membaca terlalu banyak teori juga gak oke, bikin stres sendiri sih kalau saya pribadi. Hehehe. Jadi saya lebih suka membaca secukupnya, lalu bertanya kepada teman-teman medis dan praktisi medis. Biar infonya akurat insyaa allah. Harus berjuang menjadi ibu yang bijak lah di jaman sekarang, jadi nggak asal ngotot.

– Kenapa harus lahiran normal, Gha?

Kenapa ya? Entah lah. Hehehe.. Kan nggak mau kalah sama Kate Middleton. Hahahahaha *toyor *kidding

Persalinan normal padahal sakit banget. Horornya diatas level Annabelle atau Paranormal Activity. Benar2 merasakan antara hidup dan mati. Tapi adalah hak pasien ketika pasien tidak punya indikasi gawat janin, untuk mencoba persalinan normal. Iya dong ya, hehehe. Kecuali, pasien sendiri yang nggak kuat kontraksi terus minta operasi, atau pingsan, atau mata minus tebal, atau ada indikasi2 gawat baik gawat di bayi maupun ibu (ciri-ciri gawat janin atau ibu yang nggak bisa pervaginam bisa tanya dokter lah kalau nggak mau baca di web resmi tenaga medis hehehehe).

– Untuk para dokter, saya mohon dengan hati yang teramat dalam, agar menjadikan profesimu yang mulia, tetap mulia. Jangan kotori profesi muliamu dengan jalan mengambil kesempatan diatas penderitaan pasien. Ingat lah untuk selalu berbuat ma’ruf. Dan berbisnis dengan cara yang halal dan thayyib. Rejeki nggak kemana. Ada banyak pasien pre eklamsia, mata minus tebel, panggul ibu kecil tapi bayi besar, bayi kekurangan oksigen, bayi stress di dalam, ketuban habis, ketuban hijau, dll yang siap di SC. Jadi, tolonglah mereka yang memang membutuhkan SC. Jangan membuat diagnosa palsu untuk pasien yang tidak punya indikasi apa-apa, demi sebuah cesarean section. Ini bisa dikategorikan menodai fungsi asli SC juga. Jadi mencoreng fungsi asli penemuan mutakhir karena bisnis. Please, jangan.

– Sejatinya di otak saya, tidak ada Bidan vs dokter. Yang ada, bidan&dokter menjadi 1 kesatuan utuh yang saling mengokohkan. Mungkin tergantung rumah sakit, mau menjadikan bidan di posisi murni pembantu dokter atau punya hak prerogatif sampai bidan meminta pertolongan dokter. Tapi, bagi saya, rumah sakit yang oke adalah rumah sakit Islam jakarta pusat, dimana para bidan, di ruang bersalin, punya kebijakan yang kuat dalam menangani pasien. Ketika dokter tidak mau lama menunggu persalinan normal kemudian datang instruksi macam-macam, para bidan bisa dengan tegas menyatakan ke pasien : mau ikut atau tidak? Kalau tidak kami bantu pervaginam karena kami yakin ini masih bisa. (semacam menguatkan pasien kalau mau pervaginam). Tentunya bidan di RS tersebut mumpuni insyaa allah. Yang turun bidan senior.
Jadi, mohonlah saling mengokohkan. Bukan membuat jurang…

Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tersinggung. Saya tidak bermaksud menjelekkan nama baik siapa pun. Sungguh.

*jangan tanya RS mana yang ada dokter oknumnya. Saya tidak mau menjelekkan nama baik siapapun. Cuma berbagi kisah saja, agar para ibu / calon ibu, belajar sungguh-sungguh tentang kehamilan dan persalinan, serta bijak memilih tenaga medis pembantu persalinan🙂

*peace, love, and gaul

#pervaginam #vaginalbirth

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s